
Alena setengah berlari ketika mendengar suara pintu ada yang membuka dari luar.
Tampak Hana dengan menenteng tas berukuran sedang, milik Hardi. Diikuti pemuda itu yang mengekor di belakangnya. Dengan masih mengenakan armsling yang menahan tangan kirinya.
"Sudah pulang??" katanya, sumringah.
Dibalas senyuman oleh Hana. Yang kemudian meletakkan tas yang dibawanya di lantai dekat sofa.
"Aku nggak bisa lama ya, Mas Bram dan Lana udah nunggu. Kamu bisa mengurus dia sendiri, kan?" katanya kepada Alena.
Alena mengangguk.
"Oh iya, ... kalau adikku ini berbuat macam-macam, pukul saja kepalanya biar dia sadar." Hana sesaat sebelum melangkah keluar, kemudian tersenyum.
Alena hanya mengerutkan dahinya, tak faham dengan apa yang dimaksud.
"Pesan macam apa itu?!" Hardi mendelik kesal. Hana hanya tergelak, kemudian menutup pintu.
Suasana hening.
Mereka masih berdiri mematung dengan perasaan canggung. Ini jarak terdekat mereka setelah bertemu lagi beberapa bulan yang lalu.
Hardi mendekati sofa, berniat duduk namun mengalami kesulitan karena cedera di tulang rusuknya yang masih terasa sakit.
"Kakak mau duduk?" Alena bertanya.
Pertanyaan yang konyol!! Batinnya.
Hardi hanya mengangguk. Kemudian mengulurkan tangannya ke arah sandaran sofa, mencari pegangan. Tubuhnya agak condong. Tapi tak berhasil. Dia masih kesulitan.
Alena segera mendekat, meraih tangan kanan pemuda itu, melingkarkan ya di pundaknya, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang Hardi, menjadi penyangga tubuh tinggi itu.
Tatapan mereka bersirobok. Hati keduanya sama-sama bergetar.
Perasaan bodoh ini lagi!! Alena bergumam dalam hati.
Perlahan Alena membawa tubuh tinggi Hardi untuk duduk di sofa, dengan sedikit meringis dan mengerang, akhirnya Hardi berhasil mendudukkan dirinya di sofa tersebut.
Alena segera meletakkan beberapa bantal di belakang tubuh pemuda itu agar dia bisa bersandar.
"Sudah nyaman?" katanya, menetralisir debaran di dada.
Hardi kembali mengangguk.
"Oke." Alena menghembuskan napas lega. "Kakak mau minum?" tanyanya, menatap wajah yang sedang mendongak ke arahnya.
"Boleh." akhirnya suara bariton itu terdengar keluar dari mulut Hardi.
Alena segera berlari kearah dapur, mengambil segelas air minum untuknya. Kemudian kembali dan segera menyerahkan gelas ditangannya yang langsung di sesap Hardi hingga tandas.
"Lagi?" Alena mencondongkan tubuhnya ke arah Hardi.
"Nggak usah. Makasih." jawabnya, pelan.
Alena tersenyum ringan.
"Dilan kemana?" Hardi setelah sadar tak mendapat sambutan dari putranya.
"Lagi tidur."
Hardi mengangguk dengan mulutnya yang membentuk huruf O.
"Tangan kakak juga patah?" Alena menatap tangan kiri Hardi yang disangga oleh armsling.
"Nggak." jawab Hardi, menggelengkan kepala.
"Kenapa pakai armsling?" tanya Alena lagi.
"Biar nggak banyak gerak."
"Oo ..." Alena manggut-manggut.
"Padahal aku udah pakai rib belt," menyingkap kaus yang dikenakannya, memperlihatkan penyangga iganya. "Dan ini rasanya sesak." keluhnya.
Alena terdiam menatap wajah Hardi yang masih pucat.
"Apa rasanya sangat sakit?" Alena kembali bertanya.
Hardi mendongak.
"Lumayan." dia menjawab dengan enteng.
"Maaf." Alena tertunduk lesu.
"Kenapa minta maaf?" Hardi mengerutkan dahinya.
"Gara-gara aku, Bang Arya melakukan itu sama kakak." katanya, meremas ujung kaus yang dikenakannya.
Hardi terkekeh pelan sambil menahan sakit. Kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah Alena.
Gadis itu menatap uluran tangan Hardi, kemudian beralih ke wajah yang sedang tersenyum di depannya.
Alena meraih tangan yang terulur itu. Hardi menariknya hingga gadis itu terduduk di sofa di sisi kanannya.
"Aku pasti cepat pulih. jangan khawatir." katanya, menenangkan.
Alena kembali mengangguk, kemudian tersenyum.
"Aku lapar. Bisa buatkan sesuatu?" katanya, tersenyum malu, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Oh, ... itu, anu ..." Alena bingung. Tak ada apapun selain mie instan di lemari.
"Apa?"
"Di dapur cuma ada mie instan. Nggak apa-apa?" tanya nya, ragu.
Hardi terdiam.
"Tadi pagi kamu makan mie instan?"
Alena mengangguk.
"Dilan juga?"
Gadis itu mengangguk lagi.
Hardi menghela napasnya pelan. Dia merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Segera memesan makanan di aplikasi online.
Selang tiga puluh menit, makanan pun datang.
Alena tertegun menatap beberapa bungkusan yang isinya beragam jenis makanan. Dari mulai daging, sayur, roti hingga camilan dan makanan berat lainnya.
"Ini kebanyakan." katanya, agak bingung.
"Kita kan bertiga." tukas Hardi yang bersandar ke bantal di belakangnya.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara tangis dari dalam kamar. Rupanya sikecil Dilan terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Alena di sisinya.
Alena segera berlari menghampiri putranya tersebut,menggendongnya di pelukan, kemudian membawanya keluar dari kamar.
Hardi mengulurkan tangannya.
"Sini, sama papa sayang." katanya, mbuat kedua orang di depannya melirik.
"Om Diiii!!!!" bocah itu tiba-tiba saja berteriak kencang. Meronta mencoba turun dari gendongan ibunya, dan segera berlari menghampiri Hardi.
Pria itu tersenyum sambil merentangkan tangan kanannya menyambut anak itu.
Dilan menghambur ke pelukan Hardi dengan tergesa hingga tubuh kecilnya tanpa sengaja membentur sedikit bagian tubuh Hardi yang cedera.
Pria itu mengaduh kesakitan, namun tak melepaskan pelukan tangannya dari tubuh kecil putranya.
"Jangan begitu, sayang. Om Hardinya lagi sakit!!" Alena setengah berteriak. Mencoba melepaskan Dilan dari pelukan ayahnya.
"Noooo... Om Ddiiii!!" anak itu tak mau melepaskan dirinya. Berulang kali Alena membujuknya untuk lepas, namun dia terus menolak.
"Dia juga kangen aku!!" Hardi dengan bangganya seperti telah menangkan sebuah peperangan.
Alena terdiam.
"Kamu nggak kangen aku, Al?" sikap tengilnya mulai muncul.
Alena hanya mencebik. Sementara pria itu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
*
*
*
Hardi tertegun di kamar mandi, bingung karena dia kesulitan melepaskan pakaiannya saat berniat membersihkan dirinya sore itu.
"Al, bisa bantu aku?" katanya, berteriak.
Alena tergopoh-gopoh menghampirinya di kamar mandi.
"Kenapa?"
"Aku nggak bisa buka bajunya." Hardi merengek.
"Terus?" gadis itu mengerutkan dahi.
"Bantu aku buka baju!" Hardi dengan polosnya.
Glek!!
Alena menelan ludah kasar. Kemudian menarik napas dalam.
Akhirnya dengan sedikit berat hati, Alena mengalah.
Ditariknya kaus yang dikenakan Hardi di sebelah kanannya setelah sebelumnya melepaskan armsling terlebih dahulu. Sementara pria itu diam memegangi tangan kirinya agar tetap menekuk di depan rusuknya yang cedera.
"Pelan-pelan, Al!!" pintanya, agak ngeri karena Alena melakukannya dengan tergesa.
Alena mendelik.
Kausnya telah terlepas. Kini beralih ke rib belt yang melingkar ketat menyangga bagian rusuk yang cedera.
"Ini dilepas?" tanya Alena, ragu.
Hardi mengangguk. "Coba lepas, biar bisa dibersihkan, dua Minggu ini nggak dibersihkan soalnya." katanya.
"Masa?"
Hardi mengangguk lagi.
Alena menarik tali yang menautkan ujung rib beltnya satu persatu. Hingga semuanya terlepas.
Hardi sedikit menggeram merasakan sakit di bagian yang cedera. Dia menahan napasnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Dan berhasil.
Kini bagian yang sulit untuk dilakukan, ...
melepaskan celana pendek yang dikenakan Hardi.
Alena harus menghirup udara berkali-kali untuk menenangkan kegugupannya.
"Kakak bisa melepaskan sendiri, kan?" Alena berniat menghindar.
"Susah, Al." jawab pemuda itu, pendek.
"Hhh.... " Alena mendengus.
Kedua tangannya bergetar ketika telah sampai di ujung resleting dan hendak membukanya. Walaupun akhirnya tetap dilakukannya.
Alena harus memalingkan wajahnya yang memerah ketika menurunkan celana dari pinggang Hardi. Dia merasa ini adalah hari paling memalukan dalam hidupnya.
Selesai dengan celana, Alena bisa bernapas lega. Kini dia beringsut bermaksud keluar dari kamar mandi. Namun kemudian Hardi mencekal tangannya.
"Apa lagi?!" katanya, gusar.
"Mandikan!" Hardi dengan ekspresi datar.
"Apa?" setengah berteriak. "Kakak mandi sendiri lah!!" katanya.
"Nggak bisa!" tangan kanannya masih menyangga tangan kirinya yang terlipat di dada.
"Aih.....!!" Alena mengumpat dalam hati.
Akhirnya gadis itu kembali mengalah.
Alena mengguyurkan air dari shower ke tubuh Hardi yang terduduk di closet. Membasahinya dari kepala hingga kaki. Membubuhkan shampo di rambut hitam pemuda itu yang kini agak gondrong. Mengusaknya hingga kepalanya penuh dengan busa.
Kemudian menyabuni tubuh Hardi, menggosok nya dari bagian punggung hingga ke depan.
Beberapa kali gadis itu menghela napas dan menelan ludahnya kasar. Dia tak dapat menutupi rasa gugupnya. Wajahnya semakin memerah setiap kali tangannya menyentuh bagian tubuh Hardi.
Maluu!! Aku malu!! Batinnya berteriak.
Sementara orang yang tengah dimandikan hanya terdiam, sesekali sudut bibirnya menerbitkan senyum kecil.
Alena harus menutup matanya setiap kali pandangannya tertuju kesana. Ke area itu.
"Kakak cuci sendiri, ya?" katanya, setelah terdiam cukup lama.
"Hah, apa?" Hardi tersadar dari lamunannya.
"Kakak cuci 'itu' nya sendiri aja." menunjuk bagian sensitif di tubuh Hardi. Kedua pipinya semakin memerah. Begitupun Hardi. Pemuda itu merasakan wajahnya memanas.
Dia mengangguk, kemudian melakukan apa yang diperintahkan gadis di hadapannya. Sementara Alena menengadahkan wajahnya menghindar dari menatap bagian itu.
Astaga!! Kenapa aku melakukan ini?!!
*
*
Bersambung ...