ALENA

ALENA
31. Batas



Alena tertegun. Ditatapnya lagi testpack yang menunjukkan dua garis merah. Dia bandingkan dengan hasil kemarin pagi. Tetap sama, bahkan lebih jelas hasil tes pagi ini.


Diremasnya alat itu dalam kegundahan.


Kenapa begini?? Kenapa harus sekarang??


"Arrghh...!!" Alena frustasi. "Apa yang harus aku lakukan?!" mengacak rambutnya kasar.


Dirabanya perut nya, "kenapa sekarang??!!" berbicara pada dirinya sendiri. Pusing dan mual masih menguasai dirinya.


Berkali-kali Alena melakukan panggilan telpon ke nomer Hardi, namun tak ada jawaban. Sepertinya dia sedang sangat sibuk sekarang. Sampai-sampai tak sempat bahkan hanya sekedar menerima panggilan telpon.


Alena duduk di sudut kamar memeluk kakinya yang terlipat dengan kepala bersandar ke tembok.


Ponselnya berbunyi nyaring. Dilihatnya layar tertera id dan gambar penelpon. Vania.


"Kamu nggak masuk lagi?" katanya dari seberang sana.


"Aku masih belum pulih." jawabnya lemah.


"Apa aku perlu kesana? Kamu dirumah sama siapa?"


"Aku sendiri. nggak usah, Van. Aku nggak apa-apa."


"Oke." panggilan pun berakhir.


Lagi, Alena bergelung di tempat tidur. Memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sementara Hardi sedang sulit dihubungi.


Hingga sore menjelang setelah dia terbangun karena dering telpon yang terdengar nyaring di telinganya.


"Hallo?"


"Kamu nelpon tadi pagi? Maaf aku banyak krjaan." jawab Hardi dari seberang sana.


"Kakak, aku ...." Alena ragu. Bagaiman reaksi Hardi mendengar kabar mengejutkan darinya dalam keadaan yang sulit seperti sekarang ini.


Apakah dia akan menerima atau menolak? Secara dia ingat obrolan mereka tempo hari soal kehamilan. Jelas-jelas ini bukan hal yang diharapkan Hardi terjadi untuk sekarang ini.


Alena takut. Tapi tak mungkin dia menyimpannya sendirian.


Dia tidak mungkin menolak, kan? Inikan anaknya. Tidak mungkin dia menolak. Sesulit apapun keadaan nya. Dia pasti akan menerima. Dia pasti tahu apa yang harus aku lakukan. Dia pasti tahu aku harus bagaimana. Batinnya.


"Kakak, aku ..."


"Bisa kita ketemu sore ini? Ini penting. Kita harus ketemu." suara dari seberang sana terdengar agak bergetar.


"Oke."


Telpon ditutup.


Alena menghela napas dalam.


************


🌺Flashback on🌺


Hardi melewati koridor menuju kamar perawatan Lasya siang itu. Seperti biasa dia harus datang untuk menemani Lasya makan dan minum obat.


Hardi terkejut mendapati kedua orangtuanya yang ternyata sudah terlebih dahulu ada di dalam ruangan menemani Lasya.


"Mama,Papa?" Hardi menghambur ke pelukan kedua orangtua nya.


"Kamu tega nggak kasih tau Mama soal Lasya." Menepuk pundak anak bungsunya yang masih terkejut dengan kehadiran mereka.


"Aku nggak sempat, aku ..."


******


Hardi tak mampu menolak apa yang direncanakan kedua orang tua nya yang ingin segera meresmikan hubungan keduanya.


"Sudah lima tahun dan Mama rasa itu cukup untuk kalian" Mama menegaskan.


"Tapi aku belum siap, Ma!!, Aku masih magang. Belum kerja beneran!!" Hardi mengelak.


"Minimal tunangan, lah. Biar pikiran Mama tenang." Mama bersikukuh.


"Tapi aku ...." menoleh ke arah Lasya yang matanya berbinar penuh harap.


"Mama sama Papa nggak tenang melihat berita tentang kalian. Mama nggak percaya kamu bisa berbuat begitu. Jadi untuk menghindari hal-hal yang nggak baik, Mama harap kamu mau menuruti semua rencana Mama sama Papa. Kami sudah berembuk pertunangan kalian akan dilangsungkan besok disini. Nggak apa-apa sederhana. Minimal kalian sudah resmi bertunangan. Iyakan, Sya?" Mama menoleh ke arah Lasya.


Lasya hanya mengangguk. Harapannya tumbuh kembali setelah sebelumnya hancur berkeping. Dia merasa menang karena mendapat dukungan dari kedua orangtua Hardi yang memang sudah sangat megenalnya sejak lama.


Hardi ingin menolak tapi ingat apa yang dikatakan dokter tentang depresi yang Lasya alami.


Jiwa dan raganya lemah tak berdaya.


🌺Flashback off🌺


Tubuh Alena lemas bagai tak bertulang mendengar penuturan Hardi. Langit bagaikan runtuh diatas kepalanya. Dunia seolah berakhir dihadapannya.


"Terus aku harus bagaimana?" air mata yang berderai tak terbendung.


"Lasya depresi... sampai Lasya sembuh ..."


"Aku hamil, kak." kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Deg!!


Bagai jutaan ton besi menimpa tubuh Hardi. Pemuda itu tiba-tiba merasa tubuhnya kaku.


"Ap-apa?" Hardi terbata. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Aku ... hamil." dan tangis itupun pecah disela gerimis yang turun sore itu.


"Bagaimana bisa?! Nggak mungkin!! Nggak mungkin Alena!!"


"Kenapa begini!!"


"Apa yang kamu lakukan?! Alena!!" Hardi meremas kepalanya kasar seakan ingin mencabuti semua rambut yang ada.


"Kamu .. Alena!!" teriaknya, frustasi.


Alena menyadari yang terjadi tak sesuai dengan yang dia pikirkan.


"Bagaimana ini semua terjadi?" Hardi menggeram menahan amarah.


"Kamu, sengaja, Alena?!" dengan napas yang menderu.


"Maksud kakak?" Alena terperangah.


"Bagaimana semua nya terjadi, padahal aku sudah merencanakannnya dengan matang. Menyusunnya sebaik mungkin agar aku tidak kecolongan. Mengaturnya agar tak terjadi hal tak terduga semacam ini.." Hardi meracau kemana-mana. Akal sehatnya mulai hilang.


Kedua tangannya mencengkeram bahu Alena yang terkulai.


"Bisakah kamu melakukan sesuatu, Alena?"


Hardi yang dibutakan amarah karena segala hal kini tak sesuai rencana nya.


"Apa?"


Hardi menatap wajah yang basah oleh airmata dan gerimis hujan itu dengan kilatan marah.


"Aku belum siap. Aku masih magang. Kamu masih kuliah. Kita sama-sama belum siap!!" kata-kata Hardi menegaskan sesuatu.


"Kakak menolak anak ini?" Alena mencicit dalam tangis.


"Aku belum siap!!" teriaknya lagi.


"Jadi aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan, kak?"


Dada Hardi naik turun. Napasnya memburu. Dia berpikir keras.


"Gugurkanlah. Bisa?"


Alena mundur dua langkah ke belakang. Kepalanya menggeleng.


"Oh ... ayolah ... ini akan menghambat kita! Semua yang aku rencanakan akan hancur berantakan!! tidakkah kamu mengerti Alena!!" Hardi berteriak lagi.


Bagai ada jutaan pedang yang di hunuskan ke tubuhnya, rasanya sakit. Alena tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya keluar dari mulut Hardi.


Si pria pujaan hati yang selama ini menjadi tumpuan harapan nya. Segala yang di miliki dia percayakan padanya. Tanpa terkecuali.


Namun kenyataan nya tak sesuai dengan yang ada dalam pikirannya selama ini.


"Alena!" bentak Hardi membuat gadis itu terhenyak. Dari sekian bulan kebersamaan, baru hari itulah dia mendapatkan bentakkan bertubi-tubi dari pria yang selama ini di puja nya.


Airmata terus mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Dadanya perih bagaikan disayat sembilu.


Semua terasa tak berarti kini.


"Kalau hidup dengan aku membuat kakak merasa terhambat, maka lepaskanlah." Alena berucap dalam derai hujan dan air mata.


"Alena??" Hardi mencengkeram bahu Alena dengan kuat.


Gadis itu coba melepaskan diri.


"Pergilah, pilih kak Lasya. Dia tidak akan menghambat kakak!!" Alena dengan wajah datar dan suara bergetar.


Menghentakkan tangan nya sekali, lepas lah cengkeraman Hardi di bahunya.


Alena mundur lalu berbalik. Meninggalkan Hardi sendiri dalam kekalutan.


Airmatanya terus berderai tak henti. Makin lama hatinya makin terasa perih.


"Sial!! Alena!!" Hardi berteriak, berlari mengejar dan meraih lengan Alena yang mulai menjauh, Namun ditepis nya oleh gadis itu.


"Don't!!" Alena menggeram. "Jangan lagi sentuh aku!!"


Bersambung...