ALENA

ALENA
71. Obrolan Orang Dewasa



*


*


"Kalau begitu, kita terpaksa pakai wali hakim," Papanya Hardi saat ayah dan anak itu bertemu.


"Memangnya bisa?" Hardi sambil menyeruput kopi pesanannya.


"Ya karena kakaknya tidak mau jadi wali, terpaksa kita pakai wali hakim. Sah kok" katanya lagi.


"Aku nggak tega, pah. Begitu sedihnya Alena." Hardi mengusap wajahnya kasar, menyandarkan punggung kokohnya ke sandaran kursi. Masih terbayang bagaimana tangisan gadis itu setelah mendapat penolakan dari kakaknya. Dia bahkan harus menenangkan Alena semalaman sesampainya mereka di apartemen karena gadis itu tak henti-hentinya menangis. Dia terpuruk karena merasa telah benar-benar dibuang olek kakaknya.


"Mungkin aku harus kesana sekali lagi, siapa tahu kali ini dia mau." katanya lagi.


"Nanti dulu," pria paruh baya tersebut menggeleng. "Takutnya Arya emosi lagi, nanti kamu di hajar lagi. Malah gagal nikah nanti."


Hardi menghela napasnya dalam-dalam.


"Tenang dulu lah. Sabar."


Hardi mendengus. Papanya hanya tertawa melihat tingkah anak bungsunya tersebut.


"Papa nggak tau rasanya hidup sama dia setiap hari. Nggak tau aku bisa sabar atau nggak." Hardi menyugar rambutnya kebelakang, frustasi.


Papanya terkekeh. "Carikan lah dia rumah lain, atau kos kosan. Kalau kamu nggak kuat. Biar kalian terpisah dulu sementara." katanya, dengan entengnya.


"Apa? Nggak mungkin. Aku nggak bisa membiarkan dia dan Dilan lepas dari pengawasan aku." Hardi berapi-api.


"Ah ... susah memang kalau ngobrol dengan orang yang lagi kebelet." pria paruh baya itu menggeleng.


Hardi mendelik.


*


*


Hardi sampai di apartemen pada petang hari. Dia memasuki ruangan, seketika aroma masakan menguar di Indra penciumannya. Sepertinya gadis itu telah pulih dari kesedihannya.


Pria itu tersenyum ketika Alena datang menghampiri. Meletakkan tas kerjanya di atas meja, sekilas melirik sang anak yang tengah bermain dengan robot dan mobil-mobilannya. Mengulurkan tangan kemudian meminta Alena datang kepadanya.


Gadis itu menyambut uluran tangan Hardi, yang kemudian ditariknya sehingga tubuh mereka bertemu. Berpelukan.


"Aku kangen." Hardi berbisik. Mengecup puncak kepala Alena. Meraup wajah tirus itu hingga pandangan mereka bertemu.


"Udah baikan?" tanyanya, memindai wajah Alena yang masih terlihat agak sendu.


Gadis itu mengangguk dengan senyuman lembut.


Hardi menempelkan kening mereka berdua. Kemudian mengecup bibir mungil itu sekejap. Membuat kedua pipi Alena merona.


Pria itu terkekeh. Hal yang menyenangkan melihat ekspresi Alena yang seperti itu.


"Mandi dulu sana." Ketika Alena melepaskan pelukan mereka.


Hardi kembali terkekeh, namun akhirnya dia menurut juga.


*


*


"Tadi kak Anna kesini." Alena memulai percakapan saat mereka selesai dengan makan malamnya.


"Oh iya? Mau apa?" Hardi yang membereskan meja, kemudian menaruh piring bekas mereka makan di bak cuci.


"Tadi pagi aku telfon. Minta kartu keluarga sama akte kelahiran aku yang gak sempat aku bawa." sambil tangannya mengelap meja makan hingga bersih.


Hardi manggut-manggut.


"Bang Arya tetep nggak mau ..." Alena merasa tenggorokan nya seperti tercekat.


Hardi cepat menggeleng, menghentikan pembicaraan. "Jangan ngomongin itu!!" menariknya keruang tivi.


"Mungkin kita nggak perlu menikah," Alena kembali melanjutkan pembicaraan saat mereka tengah duduk di ruang tivi.


Hardi tak merespon, hanya napasnya saja yang berhembus agak kasar.


"Begini saja sudah cukup." Alena melanjutkan.


"Kamu pikir begitu?" Hardi mulai mengalihkan perhatian.


Alena mengangguk. "Pernikahan hanya hukum yang tertulis diatas sebuah kertas. Selebihnya hanya basa-basi belaka." katanya lagi.


"Darimana kamu dapat pemikiran semacam itu?" Hardi menatap mata bulat yang juga tengah menatap wajahnya.


"Menikah ataupun tidak, kita sudah seperti ini, kan. Nggak ada bedanya buat aku." Alena menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Buat aku beda." Hardi turut bersandar.


"Kamu tahu, pernikahan itu bentuk lain dari rasa ingin saling memiliki. Secara nyata."


kalau kakak sudah memiliki aku jauh sebelum hari ini. Jadi, menikah ataupun nggak, sama aja, kan.?"


"Beda." Hardi bangkit, menoleh ke arah gadis disampingnya.


"Bedanya?" mata bulat nan bening itu menatapnya dengan intens.


Hardi tertegun. "Buat aku, menikah itu bentuk tanggung jawab aku kepada kamu dan Dilan. Selain karena sayang," pria 26 tahun itu tergelak. Otaknya secara otomatis memutar masa-masa dimana dirinya tak mampu mengendalikan diri ketika berada dekat dengan Alena yang menyebabkan kejadian demi kejadian menimpa mereka berdua. Sebenarnya dia takut mengalami hal semacam itu lagi. Dia juga takut tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.


"Apa kamu lebih senang hidup seperti ini? kalau aku, nggak. Aku ingin lebih baik. Dan cara lebih baik untuk hidup bersama itu ya menikah."


Alena terdiam.


"Ayo kita menikah Minggu depan!!" Hardi mengucapkannya seringan bernapas.


"Gila!!" Alena tergelak.


"Apanya yang gila?"


"Nggak bisa secepat itu, tuan!!"


"Bisa lah. Tinggal datang ke KUA, daftar terus nikah. Beres."


Alena menggeleng.


"Kenapa lagi?" Hardi mulai protes.


"Siapa yang akan jadi wali nikah aku. Sementara orang yang seharusnya menikahkan aku malah menolak aku mentah-mentah." Alena mengeluh.


Hardi tersenyum. "Ada pak hakim, sayang!!" meraup wajah gadis disampingnya. "Kalau si gunung es itu nggak mau menikahkan kita, biarlah. Kita minta pak hakim yang menikahkan kita." Hardi dengan entengnya.


"Gunung es?" Alena mengerutkan dahinya.


"Iya. Abang kamu. Gunung es. Yang dingin, sombong, dan nggak mau ngalah sama adiknya sendiri." Hardi menyeringai.


"Sembarangan!!" Alena menepuk tangan Hardi yang merayap di tubuhnya.


"Emang bisa?"


"Bisa lah. Siapa yang bakal melarang? Kita sama-sama sudah dewasa. Ada anak juga diantara kita." Hardi dengan percaya dirinya.


"Senjata!" Alena mencibir.


"Ayolah, kita menikah Minggu depan. Atau besok." Hardi merengek.


"Apaan? ... kakak minta nikah seperti Dilan merengek minta eskrim!!" Alena tertawa, berusaha melepaskan tangan jahil yang mulai tak bisa dikendalikan.


"Ayolah, Al..." menarik tubuh mungil Alena agar merapat kepadanya.


"Nggak!!" Alena berusaha menjauh.


"Ck!! Kamu lebih suka aku yang lepas kontrol sembarangan, ya?" Hardi mencibir.


Alena tergelak. "Kakak ngaco!!"


"Kamu yang bikin aku semakin ngaco." Hardi mengeratkan rangkulannya.


"Ayolah ... kita menikah. ya, ya." rayunya, yang kini berhasil mengunci tubuh mungil Alena di bawahnya.


Alena menghela napasnya pelan. Menatap si mata coklat diatasnya.


Sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya yang mungil.


"Oke?" Hardi kembali membujuk.


Dengan pelan Alena menganggukan kepalanya. "Oke." katanya. Membuat yang mendengarnya berteriak kegirangan.


Tanpa bisa ditahan lagi, Hardi mengecup bibir mungil itu bertubi-tubi. Memagutnya dengan penuh gairah. Segala bentuk kebahagiaan menguasai tubuh, otak dan hatinya.


"Mama?" tanpa mereka sadari sikecil Dilan sudah berdiri di pinggir sofa tempat mereka bercumbu. Menatap heran kedua orang tuanya.


"Astaga!!" mereka terhenyak, buru-buru melepaskan diri.


Hardi segera meraih tubuh kecil putranya ke pangkuan. Menggelitik dan menciumi putranya dengan penuh kasih sayang. Membuat balita tampan itu tertawa.


*


*


Bersambung ....


Huh!!! Dasar emang, mereka suka sembarangan!! Mentang-mentang sebentar lagi ending.


Jangan lupa like komen sama vote nya ya.


I love you full 😘😘