ALENA

ALENA
58. Aku Mau dipanggil Papa!!



*


*


*


Sore menjelang, saatnya jam pulang. Alena bergegas memasuki area daycare tempat dimana Dilan dititipkan. Dia segera meraih tubuh kecil putranya tersebut begitu anak itu keluar dari ruang bermain bersama anak-anak yang lainnya. Memeluknya dengan penuh kerinduan seakan sudah lama tak bertemu.


"Om Ddiiii!!" balita itu melambaikan tangan nya kearaha belakang Alena.


"Kita pulang , ya." Alena yang belum menyadari kehadiran orang di belakangnya.


Hardi berjalan pelan dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Kemudian berhenti beberapa langkah di belakang Alena.


Anaknya terus melambaikan tangan kearahnya. Dan di balasnya lagi dengan lambaian tanpa suara.


"Kamu kangen om Hardi, huh?" Alena yang masih belum menyadari keberadaan orang di belakangnya. "Nanti, ya. Sekarang kita pulang dulu." kemudian berbalik. Namun langkah nya segera terhenti oleh kehadiran pria di belakangnya.


Hardi masih tersenyum ceria. "Dilan aja kangen, apalagi aku." katanya, meraih tubuh mungil itu dari pelukan ibunya.


Dilan segera melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Hardi, memeluknya dengan erat.


Ada perasaan hangat yang menjalar di hati Alena. Tanpa sadar gadis itu tersenyum melihat kebersamaan ayah dan anak ini.


"Bikin kaget!" Alena yang kemudian tersadar dari lamunannya.


Hardi hanya tersenyum. "Kamu harus mulai membiasakan diri, mungkin aku akan sering datang mengunjungi kalian setelah ini." katanya, mulai melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.


"Hmm ..." Alena hanya menggumam.


"Kenapa, kamu nggak seneng aku datang? Aku jauh-jauh lho dari Jakarta cuma ingin ketemu kalian." Hardi dengan bangganya seolah telah melakukan hal besar.


Alena hanya mencebik.


"Nggak kangen emang?" Hardi menoleh sambil menyeringai.


"Dilan yang kangen. Aku sih nggak."


"Beneran? .. oh .. aku patah hati!! Padahal aku kangen kalian berdua!" katanya, menempelkan kepalanya dengan milik balita dalam pelukannya.


Alena menggelengkan kepala.


Mereka masuk kedalam mobil, kemudian melaju membelah jalanan sore itu.


*


*


*


Hardi mengusap rambut anaknya dengan gemas saat mereka menghabiskan sore itu di kafe dekat kampus mereka dulu. Semangkuk es krim vanilla kesukaan Dilan tengah dilahapnya.


"Om Ddiiii...mamam eklim!!" Dilan mengacungkan sendok kedepannya mulut Hardi, memintanya makan es krim juga. Hardi tersenyum, menyambut suapan kecil dari sendok di tangan anak nya itu.


Sikecil bertepuk tangan kegirangan ketika berhasil menyuapkan kudapan dingin itu ke mulut ayahnya. Matanya membulat sempurna dengan tawa yang tergelak.


Hardi merasakan ada kehangatan menjalari hatinya. Rasa bahagia terus menyeruak dalam dada.


"Om Diiiiiii!!!" Balita itu kembali mengacungkan sendok penuh es krim kepada Hardi.


Hardi menggeleng, meraih sendok itu dan menyuapkannya ke mulut anaknya.


"Panggil Papa, sayang!!" katanya saat balita itu selesai menghabiskan eskrim dari mangkuk di depannya.


"Ayo, panggil Papa!" katanya lagi.


Dilan menatap ke wajah Hardi, kemudian menoleh kepada Alena bergantian.


"Mama?" katanya. Seolah meminta penjelasan.


"No, Papa. Panggil Papa!" katanya lagi.


Sikecil terdiam masih menatap wajah di depannya.


"Noooo!!! Om Ddiiii!!!!!" katanya menepuk lengan Hardi.


"No! Panggil Paa-paa!!" katanya lagi,


Dilan terdiam lagi, "Papa?" katanya, membuat Hardi mengangguk sambil tertawa gembira.


"Noooo! Om Ddiiii!!!" kata bocah itu, dengan menggemaskannya.


"Panggil Papa, sayang!!" Hardi mulai kesal. "Mama," menunjuk ke arah Alena, "Papa." menunjuk dirinya sendiri, "Dilan," menunjuk ke dada balita tampan itu.


"Noooo!!!" Dilan menggelengkan kepalanya, juga agak kesal. "Om Ddiiii!!!" katanya, kembali menepuk lengan ayahnya itu.


"Pelan-pelan, nanti dia bingung!!" Alena akhirnya menyela setelah menyimak apa yang dua orang dihadapannya lakukan.


"Kamu nggak pernah menyebut aku papa didepan dia, jadinya dia panggil aku om terus." Hardi cemberut tak senang dengan reaksi anaknya.


Alena memutar bola matanya, pria ini tampaknya sedang merajuk.


"Dia belum terbiasa. Nanti juga kalau udah ngerti dia sendiri nyebut Papa!"


"Mana mungkin terbiasa, kamu juga selalu nyebut aku Om kalau lagi ngobrol sama Dilan," mulai protes.


Alena terkekeh. "Kakak lucu kalau lagi ngambek."


"Eh??!"


"Kakak datang sebagai orang asing dalam hidupnya Dilan," Alena menatap wajah tampan didepannya, kemudian menoleh ke arah putranya yang sedang asyik menatap layar ponsel, menonton video kesukaannya.


Hardi terdiam.


"Jadi, pelan-pelan saja! Jangan bikin dia bingung.!"


Hardi mengerucutkan bibirnya, membuat Alena tergelak.


"Aku mau Dilan panggil Papa!!" katanya, mendelik.


Alena tersenyum, "Iya!! Nanti dia pasti manggil papa." Alena tertawa.


*


*


*


*


"Bulan ini kerjaanku di tempat Arya selesai." Hardi memulai lagi percakapan setelah terdiam beberapa saat.


"Oh iya,? Udah beres?" Alena sedikit antusias.


"Hmm ..." Hardi hanya menggumam.


Alena mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyeruput jus jeruk yang tinggal setengah gelas.


"Jadi, kapan?" Hardi yang tiba-tiba meraih tangan Alena yang tertumpu di meja, menautkan jari-jari mereka berdua.


"Apanya?" Alena menoleh.


"Kita bilang ke Arya,"


Ppttfffhhh!!


Gadis itu hampir menyemburkan minuman yang tengah di sesapnya. Kemudian terbatuk.


Hardi meraih tisyu di tengah meja, menyerahkan nya kepada Alena. Sementara tangan yang lainnya menepuk-nepuk punggung gadis itu.


"Pelan-pelan kenapa sih??" Hardi menggerutu.


"Kenapa tiap ketemu yang dibahas itu melulu.!!" Alena setelah batuknya mereda.


"Memangnya kenapa? Memang itu tujuan aku datang lagi kesini, kan?!"


"Sabar sedikit, kenapa?" Alena mendongak, menatap kedalam mata coklat Hardi yang juga tengah menatap wajahnya.


"Sampai aku siap, Bang Arya siap. Keadaannya kondusif. Aku nggak mau masalah ini sampai mengganggu konsentrasinya di kerjaannya dia." Alena melanjutkan.


"Ck!!" Hardi berdecak sebal, menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran kursi.


"Lagian, kenapa sih harus repot-repot membuka lagi masalah ini? Padahal aku udah nyaman hidup begini. Udah dua tahun nggak ada yang mempermasalahkan siapa ayahnya Dilan. Udah nggak ada yang bahas itu lagi di keluarga aku."


"Kamu yang nyaman. Aku nggak." Hardi menyela.


"Kenapa kita nggak bersikap biasa aja?" Alena agak mencondongkan tubuhnya ke dekat Hardi. Pemuda itu mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?"


"Kita bersikap seperti nggak ada yang terjadi sebelum pertemuan ini. Kakak berpura-pura nggak tau siapa Ayahnya Dilan. Selayaknya pasangan lain. Nggak usah mengungkit hal yang terjadi dulu."


"Akun nggak ngerti jalan pikiran kamu." Hardi mendengus kesal. Menatap bocah disampingnya yang tak terganggu dengan ponsel yang memutar tayangan kartun favoritnya.


"Aku nggak mau pura-pura. Itu sama saja aku bersikap pengecut. Jadi pecundang selamanya." matanya menerawang menatap langit-langit kafe yang dipenuhi lampu hias yang cantik.


"Tapi kak ...


"Aku pernah jadi pengecut. Dengan meminta kamu membuang janin itu dulu," kembali menatap Dilan yang masih anteng dengan ponselnya.


"Aku juga pernah menjadi pecundang yang memilih egoku sendiri daripada bertanggung jawab dengan semua yang terjadi dengan kamu setelah kita berpisah." Hardi menghela napas dalam.


"Kamu tau rasanya seperti apa?" mengalihkan pandangannya ke gadis di sampingnya.


Alena menggeleng.


"Aku tersiksa." memejamkan matanya.


"Aku pikir dengan memilih egoku untuk mewujudkan cita-citaku dulu akan membuat aku lebih bahagia." Hardi menjeda kata-katanya. "Tapi aku salah."


Alena terus menatap wajah tampan itu yang kini berubah sendu.


"Aku mungkin berhasil. Tapi aku kalah. Aku jadi pecundang dengan meninggalkan kamu sendirian menghadapi kehamilan yang bahkan aku nggak tau."


"Dan selama itu hidup aku nggak tenang. Aku bahkan harus mengkonsumsi anti depresan biar aku bisa bertahan selama mungkin." Hardi merubah posisi duduknya. "Dan setelah aku menemukan kalian, aku sudah bisa hidup tanpa obat itu lagi. Aku merasa lebih tenang, aku lebih bersemangat." mengeratkan tautan jari mereka. "Jadi aku mohon, ... Biarkan aku memperbaiki semuanya. Biarkan aku ...."


"Alena?? Kenapa kalian belum pulang?!" sebuah suara yang tak asing menyela pembicaraan antara mereka berdua.


Keduanya menoleh.


"Abang? ....


*


*


*


Bersambung ...