ALENA

ALENA
85. Selamanya



*


*


Alena menatap wajah damai Hardi yang telah tenggelam dalam lelapnya tidur setelah tuntasnya kegiatan malam mereka. Guratan kelelahan tampak kentara disana. Tangannya terulur menyentuh wajah tampan yang bertahun-tahun menghiasi kepalanya itu. Mengusapnya dari rahang keatas, kemudian kebawah lagi.


Hardi tampak sesekali menggerakkan kepalanya karena gangguan kecil tersebut, namun pria itu tetap lelap dalam mimpinya. Alena hanya tersenyum geli.


"Apa ini mimpi? Karena kalau mimpi aku pastikan aku tidak akan terbangun. Aku tak ingin kehilangan semua ini. Tidak lagi!!" gumamnya.


"Kakak hanya milikku, dan akan aku pastikan seperti itu selamanya, aku akan terus menempel sampai kakak bosan!"


Alena mendekatkan wajahnya, kemudian, Cup!! Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir suaminya yang tertutup rapat. Jantungnya malah bergegup kencang, kemudian gadis itu terkikik geli menyadari kelakuan konyolnya. Namun diulanginya lagi perbuatan mengelus wajah dan mengecup bibir suaminya tersebut hingga tiba-tiba Hardi bergumam.


"Apa kamu sedang menggoda aku lagi?" katanya, dengan mata masih terpejam.


Tubuh Alena menegang, dia menghentikan kegiatannya, kemudian terdiam.


Alena menurunkan tangannya dari wajah Hardi, namun tangan pria itu menahannya agar tetap berada disana. Kemudian tiba-tiba matanya terbuka. Mata coklat yang menghanyutkan setiap kali Alena memandangnya.


"Mati aku!! Ini akan jadi malam panjang yang melelahkan!!" gumamnya dalam hati.


Alena tersenyum canggung, mencoba menetralisir debaran dalam dadanya.


Sial!!


Kenapa jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia sendiri merasakan seolah-olah benda itu akan terlepas. Hal yang memang selalu dia rasakan ketika berdekatan dengan suaminya, apalagi dalam keadaan dan posisi seperti sekarang ini.


Hardi mengulurkan tangannya, menyentuh dada Alena yang benda di dalamnya tengah berdetak lebih kencang dari biasanya. Pria itu tersenyum.


"Kenapa jantung kamu berdebar abnormal seperti ini? Menakutkan!!" katanya, mendekatkan wajahnya ke dada Alena yang membuat jantung gadis itu berdebar semakin kencang. Hardi terkekeh.


"Itu yang selalu aku alami setiap kali dekat dengan kakak." jawab Alena, gugup.


"Oh ya?" Hardi mendongakkan wajahnya. Tampak wajah Alena yang bersemu merah dalam keremangan lampu tidur mereka.


"Apa jantung kamu sakit?" tanya Hardi, membuat Alena mengerutkan dahinya. Gadis itu menggeleng pelan.


"Hanya kalau kita berpisah," jawabnya, lemah.


Hardi kembali tersenyum.


"Rasanya, ... menyenangkan." lanjut Alena, dengan pipi yang kian merona. Malu dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Tapi sudah kepalang tanggung, batinnya.


"Tahu apa yang lebih menyenangkan dari ini?" Hardi menatap mata bulat yang bening di terpa cahaya itu.


"Apa?" Alena dengan polosnya.


Hardi malah tersenyum. Otaknya sedang merencanakan sesuatu.


"Mendengar kamu menyebut nama aku." Hardi berbisik di telinga Alena, membuat wajah istrinya itu semakin merona.


Tangannya turun dari dada, menyentuh benda kenyal dibawahnya, merematnya dengan lembut. Namun membuat istrinya melenguh pelan dengan ekspresi yang indah dalam pandangannya.


"Kakak!!" Alena dengan napas tertahan.


Hardi menyeringai. Kemudian bangkit dari tidurnya, mengungkung tubuh kecil Alena dibawah selimut.


"Dilan, ..." sebuah ciuman membungkam kata yang barusaja akan keluar dari mulutnya.


"Dia nyenyak. Nggak akan bangun," berbisik dan sekilas melirik ranjang tempat anak mereka terlelap begitu damai. Kemudian melanjutkan cumbuannya.


Kulit mereka saling bersentuhan, membuat jantung keduanya sama-sama berdegup kencang.


"Apa kamu merasakannya?" Hardi menempelkan kening mereka berdua.


"Itu juga yang aku rasakan kalau aku dekat dengan kamu. Rasanya seperti ... aku ingin menggila dan hilang kendali. Dan itu rasanya ... menyenangkan." Hardi berbisik, kemudian tersenyum.


Kecupan demi kecupan berlangsung intens. Kemudian berubah menjadi ciuman panas yang menghanyutkan.


Keduanya saling menyentuh lagi, saling merasakan tubuh masing-masing. Hingga gairah mereka bangkit lagi, lebih


besar dari sebelumnya.


"Kakak!!" Alena selalu hampir berteriak setiap kali sesuatu dibawah menyeruak memasuki dirinya. Mencengkeram kuat pundak kokoh diatasnya seakan takut terlepas.


"Ya? Sebut aku, sebut namaku!!" Hardi menggeram merasakan penyatuan menyenangkan mereka.


Selanjutnya hentakan demi hentakan pun terjadi diantara desahan yang tertahan. Napas yang menderu saling berkejaran. Keduanya mengulangi lagi dan lagi penyatuan indah tersebut. Bersama menggapai puncak paling indah dalam percintaan mereka. Hingga setelah beberapa saat mereka sampai diujung, hentakan terakhir yang begitu dalam menyatukan tubuh keduanya. Mereka mengejang bersamaan, kemudian ambruk.


"Rasanya, ... selalu sama. Seperti ketika kita pertama kali melakukannya." bisiknya di telinga Alena yang telah lebih dulu terlelap di pelukannya. Mengecup puncak kepala istrinya itu, kemudian ikut menyusul ke alam mimpi.


*


*


*


Tiga bulan telah berlalu, tak ada kabar lagi dari Lasya maupun kedua orang tuanya.


Tak ada panggilan-panggilan mengejutkan lagi. Hardi tak berniat mencari tahu sama sekali dan tak ingin tahu. Walaupun Alena sesekali membicarakan atau berniat mencari tahu keadaan mantan kekasih dari suaminya tersebut. Hardi tetap pada pendiriannya jika itu bukanlah tanggung jawabnya lagi.


Keluarga kecil ini pun melanjutkan hidup seperti biasa. Menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan karena kini mereka benar-benar bersama sebagai sebuah keluarga yang utuh. Walau kadang ada pertengkaran kecil dan perselisihan diantara pasangan muda ini, tapi itu merupakan hal yang wajar dalam hidup berkeluarga, bukan?


Itulah pernikahan.


*


*


*


Hardi sedang memasak sarapan mereka di dapur saat hari libur nya ketika merasakan sepasang tangan kurus menyelinap di pinggang, kemudian melingkar diperutnya. Lalu sesuatu yang hangat menempel di punggungnya.


"Sudah bangun?" katanya, berdiam sebentar merasakan kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Alena mengangguk seakan Hardi bisa melihatnya di belakang. Tubuh mungilnya masih menempel di punggung suaminya.


"Dilan masih tidur." gumamnya, seakan punggung suaminya dapat mendengar suara parau nya.


Hardi tersenyum.


"Biarlah dia tidur, masih pagi ini. Diluar hujan juga," menatap keluar jendela yang tengah diguyur hujan sejak subuh.


Alena mengangguk lagi.


"Aku kangen." Alena berbisik lagi, membuat Hardi terkekeh geli.


"Kita kan selalu sama-sama, kecuali kalau aku aku lagi kerja." menghentikan kegiatannya, kemudian berbalik, merangkul tubuh mungil istrinya.


Alena tersenyum malu-malu. Merasakan tangan Hardi membelai wajahnya.


Mata coklat itu menatap lekat wajah Alena yang agak pucat.


Alena menggeleng pelan. "Cuma ngantuk." jawabnya, masih dengan senyuman lembutnya.


"Baru juga bangun??" Hardi terkekeh.


"Akhir-akhir ini aku cepat lelah, dan sering ngantuk." keluhnya, meraih tangan yang sedang membelai wajahnya.


"Mau ke rumahsakit?" Hardi dengan raut wajah yang berubah pias.


Alena kembali menggeleng, berjalan ke arah sofa, menjatuhkan dirinya disana, kemudian neringkuk seperti bayi.


"Aku lapar." gumamnya, pelan.


Hardi segera meraih piring di rak, mengisinya dengan sedikit nasi dan beberapa lauk yang dimasaknya barusan. Membawanya ke hadapan sang istri yang meringkuk lemas di sofa.


"Ayo makan dulu." menyodorkan piring he depan wajah Alena.


Istrinya menggeleng, "Suapin." pintanya, manja.


Hardi tertegun. Tak biasanya Alena bertingkah semanja itu. Namun tak urung juga dia menuruti permintaan istrinya tersebut.


"Apa kamu hamil?" tiba-tiba pikiran itu melintas di kepalanya sesaat setelah acara suap-suapan mereka selesai.


"Ppttthhh ..!!" Alena menyemburkan air yang tengah diminumnya. Kemudian terbatuk.


"Ck!! pelan-pelan!!" Hardi menepuk-nepuk punggung istrinya pelan.


"Kakak bikin kaget!!" keluh Alena, mengeringkan mulut dan wajahnya dengan tisyu yang terletak di meja.


"Kenapa!?" Hardi terkekeh.


"Pertanyaan kakak bikin kaget." keluh Alena lagi.


"Memangnya ada yang salah?"


Alena menggeleng.


"Terus kenapa bisa kaget?" Hardi bertanya.


"Kenapa kakak bisa berpikiran begitu?" Alena malah balik bertanya.


Hardi tersenyum. "Cuma ingat sesuatu."


"Apa?"


"Terakhir kali kamu bersikap semanja ini sebelum kita berpisah. Dan tau-tau kamu bilang kamu hamil." Hardi mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.


"Oh iya?" Alena seolah lupa.


Hardi mengangguk. "Kamu terus menempel dengan aku. Nggak mau lepas. Banyak tidur, banyak makan dan ... manja."


Alena mengerutkan dahinya. masih mengingat. "Ck!! Aku lupa!!"


"Huh ... " mengacak puncak kepala istrinya dengan gemas.


"Kalau aku hamil gimana?" tiba-tiba bertanya.


"Gimana apanya!? ya bagus lah." jawab Hardi, enteng.


"Bagus?" Alena mencondongkan tubuhnya ke arah suaminya.


Hardi mengangguk.


"Dilan masih kecil." Alena bergumam.


"Nggak apa-apa, biar ngurusnya sekalian." Hardi tersenyum.


"Eh tapi nggak mungkin." Alena beringsut, mengubah posisi duduknya.


"Apa yang nggak mungkin?" Hardi mengerutkan dahinya.


"Waktu aku hamil rasanya beda. perutku keras." meraba perutnya, "Terus dada aku, ..." kemudian meraba pa*udaranya, dan merematnya dengan pelan "membesar, dan keras juga." sedikit menekan-nekannya, "Sakit juga." katanya, dengan polosnya.


Sementara Hardi menelan ludahnya kasar, tiba-tiba merasa tenggorokannya mengering. Pikiran kotor baru saja melintas di kepalanya.


"Mungkin aku lagi pms." Alena kembali meringkukkan tubuh kecilnya di sofa.


*


*


Terdengar ketukan di pintu saat Hardi melangkahkan kakinya ke dapur untuk meletakkan piring kotor di bak cuci.


"Aku yang buka." ucap Alena, bangkit dan menuju pintu dengan agak malas. Meraih handle pintu, membukanya perlahan.


Wajahnya semakin memucat seketika setelah mengetahui siapa yang telah mengetuk pintu apartemen nya pagi itu. Alena tertegun.


"Siapa, sayang?" Hardi berteriak dari arah dapur.


Alena menoleh, lalu balik menatap orang yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Boleh aku masuk?" Lasya dengan suara lembutnya.


Alena mundur dua langkah kebelakang.


"Siapa?" Hardi datang menghampiri. Namun kemudian tertegun juga setelah mengetahui keberadaan Lasya.


"Hai, Ddi?!" sapa nya, ramah. Dengan senyum yang tersungging di bibir indahnya.


Seperti biasa, dia selalu tampil cantik, dengan pakaian modis yang pasti dengan harga yang tak murah.


"Boleh aku masuk?" katanya lagi.


Kedua orang dihadapannya masih tertegun ketika Lasya melangkahkan kakinya memasuki apartemen Hardi.


*


*


*


Bersambung ...


Aihhh... itu mantan kenapa datang lagi datang lagi?!! Selaluuu menganggu!!


Ini mau ending lho gaeess...


like koment sama vote nya lagi dong.


I love you full 😘😘