ALENA

ALENA
48. Pertemuan#3



Hardi segera datang ketika mendapat panggilan dari Arya yang menyuruhnya datang ke kantor siang itu. Mereka berencana meninjau lokasi pembangunan gedung pemerintahan baru yang sudah direncanakan sebelumnya.


Dengan bersemangat pemuda itu memasuki ruangan Arya diikuti Raja, sahabat sekaligus partner kerja nya.


Hardi ingat akhir pekan yang lalu dia bertemu dengan bocah menggemaskan itu disini. Entah kenapa ada rasa rindu yang memenuhi rongga hatinya. Rasanya ingin bertemu lagi dengannya. Dan ini akhir pekan, biasanya Arya akan membawa serta si kecil bersamanya.


Mereka memasuki ruangan yang Arya tengah menunggu disana. Diedarkan pandangan keseluruhan ruangan, namun Hardi tak menemukan yang dia cari. Hatinya agak kecewa.


"Dilan tidak ikut hari ini, pak?" tanyanya, setelah obrolan bisnis mereka selesai.


Arya menoleh, menatap wajah pemuda itu agak lama. "Saya nggak bawa, soalnya kita mau cek lokasi. Dia sangat aktif. Saya takut tidak bisa mengawasi dia dengan benar." jawabnya.


Hardi manggut-manggut.


"Kenapa? Kangen?" Arya tergelak.


Hardi terkekeh. "Haha,.. sepertinya iya."


"Tidak heran. Anak itu memang gampang membuat orang jatuh hati. Terus bikin kangen." Arya menambahkan.


"Saya bahkan bisa menangis nahan kangen kalau sedang ada tugas ke luar dan tak bisa pulang." katanya lagi.


"Sampai segitunya, pak." Raja menyela.


"Kalian akan mengerti kalau nanti sudah punya anak." Ketiganya tertawa.


"Kan kalau akhir pekan begini ibunya bekerja, Pak. Terus siapa yang jaga?" Hardi penasaran.


"Dibawa kerja." jawab Arya.


"Lho? Bisa?"


"Bisa. Kebetulan ibunya kerja di tempat temannya. Jadi ada kelonggaran."


"Oh ..." lagi, Hardi manggut-manggut.


"Oke, sebaiknya kita pergi sekarang, karena sore ini saya ada janji dengan Dilan dan ibunya." Arya seraya bangkit. Diikuti kedua partner kerjanya keluar dari area kantor menuju lokasi pembangunan.


****


Sore menjelang ketika ketiga pria dan beberapa orang staf selesai melakukan pengecekan lokasi pembangunan gedung . Alat berat dan bahan bangunan sudah mulai didatangkan.


Arya terlihat puas dengan pekerjaan para bawahannya yang bekerja cepat.


"Kalau semua barang sudang masuk mungkin Minggu ini kita sudah mulai, pak." Hardi menggulung kertas bergambar rancangan gedung yang siap dibangun di tempat itu.


"Iya. Semoga semuanya lancar sampai pembangunan selesai." Arya menimpali.


Dua pria didepannya manggut-manggut.


Ketiganya hendak keluar dari area pembangunan ketika dikejutkan oleh teriakan nyaring dari arah depan.


Seorang balita berlari kencang, sementara dibelakangnya seorang perempuan mengejar dengan paniknya.


"Jangan lari, sayang. Nanti kamu jatuh.!!" katanya.


"Ck!! Malah kesini!" Arya menggumam.


"Yayah!! Yayang mau yayah!!" bocah itu berteriak.


Arya berlutut kemudian merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan bocah kecil kesayangannya itu.


"Sudah ayah bilang tunggu di restoran.!" Arya setengah berteriak.


Dilan sampai di pelukannya.


Kedua pria dibelakang Arya mengalihkan perhatiannya kepada sosok yang tengah berlari menghampiri mereka.


Deg!!


Keduanya terhenyak. Hardi dan Raja hampir menahan napas setelah mengenali sosok perempuan itu.


Alena?? Benarkan itu dia?


Simata bulat dengan rambut sepunggung berlari dengan raut wajah panik. Rambut coklat yang digerai terlihat berhamburan tertiup angin.


Sekarang dia mewarnai rambutnya? Batin keduanya.


Raja bahkan harus mengucek kedua matanya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya datang memang benar Alena. Sementara Hardi membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Darahnya terasa berhenti mengalir.


Alena berlari kecil. Rambut coklatnya yang terburai bersinar diterpa matahari sore. Pipinya yang merona menambah kesan manis pada wajahnya.


Tubuh mungilnya tak sekurus dulu. Kini bahkan lebih berisi.


Dengan skinny jeans yang pas sekali membungkus kakinya, sepatu kets berwarna putih yang biasa dipakainya ketika pergi keluar rumah.


Kaus putih polos fit in yang dibalut blazer berenda berwarna navy sukses membuatnya terlihat mempesona sore itu.


"Dilan nggak sabar, dari tadi merengek terus. Bikin pusing!!" keluhnya ketika sampai di hadapan Arya, belum menyadari keberadaan dua pria yang dari tadi menahan napas karena terkejut dengan kedatangannya.


Arya mengangkat tubuh mungil Dilan dalam pangkuannya. Menciumi wajah bocah itu dengan gemasnya.


Alena menoleh.


Deg!!


Jantungnya terasa hampir meledak. Menemukan kedua sosok yang dia kenal dihadapannya. Wajahnya langsung memucat ketika menatap wajah Hardi yang tetap membeku, juga tengah menatap kearah dirinya.


Mata coklat itu ....


Seketika Alena merasa tubuhnya kaku. Lidahnya kelu. Pikirannya berhamburan entah kemana.


"Hai Alena!" Raja menyapa, memecah keheningan diantara mereka.


Sementara gadis yang disapanya tergagap mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Om Diiiiiii!!!!" tiba-tiba Dilan mengulurkan kedua tangannya ke arah Hardi. Menyadarkan pemuda itu dari kebekuannya.


"Eluk om!!" bocah itu masih merentangkan kedua tangannya. Hardi segera menyambut dengan senyum canggung yang dipaksakan.


Secepat kilat bocah itu berpindah ke pelukan Hardi. Alena makin terhenyak.


Apa dia sudah tahu? ...


"Apa kabar, Alena?" Raja menyapa lagi.


"Kalian saling kenal?" Arya dengan raut keheranan.


Alena kembali tergagap, mencari jawaban dikepalanya.


"Dulu kami satu kampus." tiba-tiba Hardi menanggapi dengan wajah datar.


Wajah Alena semakin memucat.


"Iya? Alena?" Arya mengalihkan pandangan terhadap adiknya yang entah kenapa bertingkah aneh.


"Eee ... kak Raja dulu kakak kelas aku." jawabnya, gugup.


"Oh ... kebetulan, ya." Arya terkekeh, tak menyadari dua perasaan yang sedang berkecamuk.


Alena memutar otaknya mencari cara agar dia bisa kabur dari dua orang yang beberapa tahun ini paling dihindarinya.


"Abang, nanti kita telat." serunya pada Arya.


"Oh iya? bukannya setengah jam lagi acaranya dimulai?" jawab Arya, menatap jam di pergelangan tangannya.


"Aku takut macet." Alena membujuk.


Arya berpikir sebentar.


"Oke kalau begitu." menyerahkan gulungan kertas gambar ditangannya kepada Alena. "Ayo sayang, kita harus pergi!!" hendak meraih Dilan dari pelukan Hardi.


Diluar dugaan, anak itu menolak.


"Noooo ..." Dilan menggelengkan kepalanya.


"Lho?? Ayo, Tante Anna sudah menunggu!!" Arya membujuknya lagi, namun tetap mendapat penolakan dari bocah itu.


Dilan tetap menggeleng, malah mengeratkan lilitan kedua tangan kecilnya di leher Hardi.


"Ayo, Dek. Nanti kita terlambat!" Alena dengan ragu mencoba merebut tubuh kecil putranya dari pelukan Hardi.


Dia hampir meraih tubuh Dilan saat kedua matanya bertemu dengan mata coklat milik Hardi menatapnya dengan tajam.


Dadanya berdegup kencang. Napasnya tiba-tiba terasa berat. Tubuhnya terasa melemah.


Oh ... jangan begini!! Jeritnya dalam hati.


Kedua tangannya bergetar. Lengannya menyentuh sebagian dada pemuda itu yang juga tengah meredam debaran yang menggila di dalam sana.


Alena menarik tubuh putranya dari pelukan Hardi, namun tertahan. Hardi seperti menahan tubuh kecil itu agar tetap dalam pelukannya.


Kejadian tarik menarik berlangsung beberapa menit. Membuat heran yang sedang menyaksikan. Terutama Arya.


Raja yang menyadari kejadian itu segera menepuk pundak sahabatnya itu agar segera tersadar. Dan benar, Hardi melonggarkan kungkungannya pada tubuh kecil Dilan. Akhirnya bocah itu berpindah ke pelukan ibunya.


Alena mundur beberapa langkah, menjauh dari jangkauan pemuda dihadapannya.


"Abang, nanti kita telat!" katanya, kembali mengingatkan Arya.


"Oh iya. Ayo."


Setelah berpamitan pada Hardi dan Raja, merekapun berlalu. Meninggalkan dua pria yang sama-sama masih terkejut. Terutama Hardi yang masih mematung di tempat dia berdiri, menatap punggung gadis yang selama ini menghiasi pikirannya.


Bersambung ...


Like koment sama vote nya selalu aku tunggu ya.


I love you full 😘😘😘