ALENA

ALENA
67. Bersama



Sudah dua Minggu sejak kepulangan Hardi dari rumah sakit. Selama itu pula lah mereka telah tinggal bersama.


Ada yang aneh. Tinggal bersama dengan orang yang kamu inginkan rasanya sangat aneh. Setidaknya begitu pikir Alena.


Setiap hari bertemu dan bertatap muka dengan Hardi. Orang pertama yang dilihatnya saat bangun tidur di pagi hari, selain anaknya. Atau seharian berada ditempat yang sama dengannya.


Pada awalnya Alena selalu merasa was-was, ketika menyadari dia berada di satu ruangan dengan Hardi. Tak bisa dipungkiri keberadaan Hardi selalu membuat dirinya gugup dan kadang merasa tak aman. Mengingat bagaimana hubungan mereka sebelumnya.


Tapi seiring waktu berjalan Alena mulai terbiasa tinggal satu atap dengan pemuda itu.


*


*


Alena berdiri di dekat sofa, memandangi wajah damai Hardi yang masih tertidur pulas pagi itu. Dia berniat membangunkan nya, namun merasa tak tega setelah menatap wajah polosnya yang tampak masih nyenyak.


Dua Minggu ini Hardi memilih untuk tidur di sofa di depan televisi. Kamar di apartemennya yang memang hanya ada satu, digunakan seluruhnya oleh Alena dan Dilan. Pria 26 tahun itu sesekali masuk kamar hanya untuk mandi dan mengganti pakaian. Selebihnya, dia menghabiskan hari-harinya di sofa tersebut.


Rekor yang baik menurutnya. Selama itu dia bisa menahan diri dari keinginan menyentuh Alena yang kini tinggal seatap dengannya. Walau tak dipungkiri pula keinginan itu sangat kuat menguasai hatinya.


Setiap hari melihat Alena mondar mandir di depannya. Beraktifitas dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari, namun dia mampu mengatasinya, walau terasa menyiksa.


Berkali-kali Hardi menahan gejolak dalam dirinya ketika menatap ibu dari anaknya itu. Walau sedang berdiam diri, Alena tampak menggoda baginya.


Sering kali dirinya masuk kedalam kamar saat tengah malam ketika gadis itu tengah terlelap dengan memeluk putranya. Sekedar untuk menatap mereka berdua dalam diam.


Beruntung Hardi dalam keadaan cedera, menjadikan dia lebih bisa mengontrol dirinya sendiri. Kalau tidak, mungkin saja dirinya akan dengan mudahnya menerjang gadis itu kapanpun dia menginginkannya. Apalagi interaksi diantara mereka terjadi cukup intens, mengingat Alena yang selalu berperan sebagai perawat pribadinya dalam mengurus segala hal. Dari mulai makan, mandi, berganti pakaian, gadis itu yang melakukannya untuk Hardi. Meski susah payah dan selalu dalam keadaan gugup setengah mati karena harus selalu menatap tubuh polosnya setiap waktu.


"Ehmm ..." Hardi berdeham mendapati gadis di depannya tengah menatapnya lekat.


Seketika Alena tersadar dan menjadi salah tingkah.


"E ... kakak udah bangun?" Alena terbata.


"Udah dari tadi." Hardi menjawab dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mau mandi?" tanya nya, dengan pipi merona seolah tertangkap basah telah melakukan hal memalukan.


Hardi mengangguk. Kemudian perlahan bangkit.


Alena segera menghampirinya bermaksud membantunya untuk bangun. Tapi Hardi mengangkat tangannya memberi tanda Alena jangan mendekat. Gadis itu berhenti.


"Kenapa?" tanya nya, heran.


"Aku bisa sendiri." jawab Hardi.


Tangannya bertumpu pada pegangan sofa. Perlahan bangkit. Wajahnya meringis menahan sakit yang masih saja terasa. Erangan lolos dari bibirnya. Tapi tak urung diapun berhasil bangkit tanpa bantuan Alena.


Setelah terdiam sejenak mengatur napas yang sempat tersengal, Hardi berjalan pelan ke kamar mandi disudut kamarnya. Melirik sekilas Dilan yang masih terlelap dibawah selimut. Dia tersenyum.


Alena mengikutinya hingga ke dalam kamar mandi. Air hangat sudah siap di bak mandinya.


Seperti biasa Alena membantu Hardi melepaskan pakaian nya. Kali ini dia sudah terbiasa. Namun Hardi menolak ketika gadis itu bermaksud memandikannya.


"Aku bisa." katanya.


"Kakak yakin?" Alena tampak khawatir.


Hardi mengangguk.


"Sana, kalau mau ngerjain yang lain." katanya.


Alena terdiam sebentar. Kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar mandi setelah yakin Hardi sudah bisa membersihkan dirinya sendiri.


Hardi keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian. Dia berhasil membersihkan dirinya sendiri, walaupun rasa sakit sesekali menderanya.


Hari ini Hardi memutuskan untuk kembali bekerja.


Stelan jas berwarna navy menjadi pilihan Hardi pagi itu. Dengan kemeja putih fit in menjadi lapisan di dalamnya. Membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Tak lupa dasi dengan warna senada dengan jasnya.


"Nggak pakai ini?" Alena menunjukkan rib belt yang biasa dipakai Hardi beberapa Minggu ini.


"Nggak usah. Udah baikan." Jawab Hardi sambil memasangkan dasi di lehernya.


"Kakak yakin?" Alena menatap wajah tampan itu dengan agak khawatir.


Hardi mengangguk pelan.


"Udah nggak sakit?" Alena kembali bertanya.


"Sedikit."


*


*


"Kakak yakin udah mau kerja?" Alena mengekor dibelakang Hardi saat pemuda itu hendak pergi. Merasa khawatir dengan keadaan nya yang masih belum pulih benar.


"Iya." jawabnya, pendek.


"Yakin?" tanya nya lagi.


Hardi tersenyum. Berhenti di depan pintu, kemudian berbalik. Menatap sosok di depannya. Si mata bulat yang telah menjadi perawatnya dua minggu ini.


"Aku harus kerja. kalau cuti terus kita mau makan apa?" katanya.


"Aku cuma khawatir." Alena menimpali.


Hardi tersenyum lagi. "Aku baik-baik aja." kemudian mendekatkan dirinya ke tubuh Alena. Merangkul tubuh gadis itu dalam dekapannya.


"Terimakasih sudah merawatku." katanya, kemudian mengecup puncak kepala gadis itu cukup lama.


Alena membeku. Wajahnya terbenam persis di dada Hardi. Aroma maskulin menguar dari tubuh tingginya. Entah kenapa rasa rindu tiba-tiba menyeruak. Tanpa disadarinya, kedua tangannya melingkar di pinggang kokoh Hardi dengan erat.


"Dih, pagi-pagi masih nempel aja!" Raja yang barusaja tiba langsung menerobos masuk, tak menyangka akan disuguhi pemandangan itu.


Keduanya terpaksa melepaskan pelukan dan bergeser agak menjauh.


"Masuk rumah orang ketuk dulu pintu kek, main nyelonong aja!!" Hardi yang kesal momen romantisnya terganggu.


"Gue lupa kalau lu sekarang nggak sendirian." Raja nyengir menanggapi kekesalan sahabatnya tersebut.


Sementara Alena tertunduk malu.


"Mama ..." terdengar suara Dilan dari kamar. Bocah itu terbangun karena tak mendapati ibunya.


Alena segera menghampiri anaknya, meraih tubuh kecilnya, membawanya keluar dari kamar.


"Pergi dulu ya!" Hardi yang telah siap pergi memilih kembali menghampiri dua orang kesayangannya.


Alena hanya mengangguk.


"Papa pergi dulu ya, sayang. Jangan nakal!" mengusap punggung putra kesayangannya, kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Om Ddiiii!!" anaknya itu mengulurkan tangan minta di gendong.


"Om Hardi nya mau kerja, sayang." Alena menenangkan putranya.


"Ck!!" Hardi berdecak kesal mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alena.


"Kenapa?" Alena dengan polosnya.


"Panggil aku papa kalau di depan Dilan!!" katanya, masih kesal.


"Heleh..." Alena mendelik.


"Biasakan dia menyebut aku Papa!" pintanya lagi.


"Iya." jawab Alena pendek.


"Iya apa?" Hardi menunggu.


"Iya, Papa." Alena dengan senyum canggung nya, melirik ke arah Raja yang sedang menahan tawa menyimak percakapan kedua pasangan ini.


"Begitu kan manis," katanya, mengusap pipi Alena dengan punggung tangannya.


"Papa pergi dulu ya sayang." Hardi kembali mengecup kepala Dilan yang langsung melingkarkan tangan kecilnya di lehernya.


"Ikut." katanya anak kecil itu, manja.


"Papanya mau kerja, sayang." akhirnya Alena berujar, walau tenggorokan nya terasa tercekat. Belum terbiasa dengan sapaan semacam itu.


Hardi terkekeh.


Akhirnya, dengan sedikit bujukan Dilan mau melepaskan dirinya dan dia pun bisa pergi bekerja dengan tenang.


*


*


Bersambung ....