
Tak ada kabar buruk yang tersiar pasca putusnya Hardi dan Lasya. Dia yakin gadis itu baik-baik saja. Bahkan mungkin sekarang Lasya sedang sibuk-sibuknya syuting sinetron kejar tayang yang sedang booming di televisi.
Lasya sudah banyak berubah sekarang. Syukurlah. Aku tak perlu khawatir lagi. Batinnya.
Kini dirinya bisa fokus pada magang dan Alena tentunya. Tinggal menyusun rencana kedepan akan seperti apa.
Seseorang memeluk pinggang Hardi dari belakang.
Alena yang baru bangun tidur sejak tadi siang. Mencium aroma masakan yang sedang dimasak Hardi di dapur apartemennya.
"Udah bangun?" tangan sebelah kirinya mengusap lengan Alena yang melingkar di perutnya.
"Hu'um..." mengangguk seolah-olah Hardi dapat melihatnya dibelakang. Menghirup aroma tubuh pemuda itu yang selalu dia rindukan.
"Tapi masih ngantuk." dengan suara serak khas bangun tidur. Membuat yang mendengar merinding.
"Tidur lagi aja." Hardi yang mencoba mempertahankan konsentrasinya.
"Tapi aku lapar!" masih menempel di punggung kokoh Hardi.
"Iya ini sebentar lagi." agak gugup merasakan sesuatu yang hangat menempel di punggungnya.
Alena tak mau melepaskan diri dari punggung Hardi. Terus mengikutinya kesana kemari.
Bahkan saat makan pun gadis itu tak mau melepaskan diri. Alena sengaja duduk di pangkuan Hardi sambil pemuda itu menyuapinya makan seperti balita yang menempel pada ibunya.
"Ck!!" Hardi agak kesal dengan gadis kesayangannya itu yang tak mau lepas sedikitpun.
"Aku jadi susah ngapa-ngapain ini!!" dia bersungut-sungut.
"Memangnya mau apa?? Aku maunya sama kakak terus. Gimana dong?" Alena merengek.
"Ish ... untung sayang!!" mencubit hidung Alena dengan gemasnya.
"Kamu kenapa jadi semanja ini?" Hardi mengomel.
"Aku cuma lagi pengen jadi cewek manja hari ini." bangkit setelah minum dan mengelap mulutnya dengan tisyu.
Alena berjalan ke sofa di depan televisi, kemudian menjatuhkan tubuhnya disana.
"Aku ngantuk." katanya, padahal dia telah tertidur beberapa jam sejak kedatangannya di tengah hari tadi saat Hardi tengah membereskan peralatan kerjanya untuk esok hari Senin.
Hardi membereskan meja makan dan mbersihkan peralatan yang tadi dipakainya memasak.
Menghampiri Alena yang berbaring di sofa. Meringkuk seperti bayi, tertidur lagi.
"Ck!! Sulit dipercaya!! Ini anak benar-benar tidur lagi." gumamnya, tatkala menatap keadaan Alena seperti itu.
Dia mengambil selimut dari dalam kamar, kemudian menutupi tubuh mungil Alena. Orang yang dimaksud nampak tak terganggu.
"Kakak." tiba-tiba Alena terjaga.
"Iya?"
"Mau dipeluk!!" rengeknya, merentangkan kedua tangannya.
Hardi mengernyit, namun kemudian tersenyum.
"Kakak sibuk?" Alena yang kesal tak segera mendapat tanggapan.
"Nggak."
"Mau peluk.!!" katanya lagi.
Tak urung juga membuat pemuda itu ikut naik ke sofa. Merebahkan tubuh tingginya di sisi Alena yang meringkuk. Segera gadis itu menyusup ke dada bidang Hardi yang telah berbaring di sisinya.
"Lama-lama aku jadi nggak tahan kalau gini terus." gumam Hardi ditelinga Alena yang sudah meringkuk didadanya.
"Aku mau tidur."
"Ck. Dari tadi tidur melulu."
Tak terdengar jawaban. Hanya dengkuran halus yang keluar dari mulut Alena.
"Luar biasa. Dia mendadak jadi bayi besar yang manja." gumamnya lagi, melingkarkan kedua tangannya di tubuh Alena.
"Kakak?" Alena bergumam.
"Iya? Katanya mau tidur."
"Maaf." katanya tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf?"
"Gara-gara aku, kakak putus sama kak Lasya." dengan nada menyesal.
"Ngomong apa sih." menyisir rambut gadis itu dengan jari tangannya.
"Aku penyebab kalian putus." Alena bergumam lagi.
"Dih, ke gr an!!" kini membelai punggungnya.
"Memangnya apa yang bikin kakak putus sama kak Lasya?" Alena mendongak. Menatap Hardi dengan mata nya yang sayu.
Pemuda itu mengerjap beberapa kali. "Udah nggak cocok." katanya, melanjutkan belaian nya di punggung Alena.
"Tapi kak Lasya tau kalau kakak sering jalan sama aku." Alena merapatkan lagi wajahnya di dada bidang Hardi. Menikmati degupan jantung pemuda itu yang terasa berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Udah waktunya." katanya.
"Jadi sekarang aku nggak harus nunggu lagi?" menyentuh tangan sebelah kiri Hardi, menautkan jari-jari mereka.
"Aku milik kamu sekarang."
Alena mendongak. Menatap lagi wajah tampan dihadapannya. Kemudian tersenyum. Tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Cup!! Sebuah ciuman mendarat di bibir Hardi. Membuat pemuda itu gelagapan. Alena tertawa.
"Kamu mau jadi balita yang mesum sekarang?" Hardi mengeratkan pelukan.
"Kakak lucu kalau lagi kaget." tertawa lagi.
"Hmm.. nanti gak lucu lagi kalau udah ..." menarik wajah Alena hingga hampir tak berjarak dengan dirinya. Hampir menempelkan bibir keduanya, sebelum akhirnya suara ponsel memekakan telinga mereka berdua.
"Hissstt.... mengganggu saja!!" bergumam kesal.
"Angkat aja. Siapa tau penting." Alena mengerti.
Diusapnya tombol hijau dan tersambunglah dengan si penelpon.
"Hallo ..?"
Terdengar suara lirih dari seberang sana. Wajah Hardi memucat. Hampir saja ponsel yang menempel ditelinganya terjatuh ke lantai. Kemudian sambungan telpon terputus.
Hardi bangkit, kemudian terduduk.
"Kenapa?" Alena keheranan dengan raut wajah kekasih yang tak enak dilihat.
"Lasya masuk rumah sakit."
"Apa?"
"Barusan Mamanya yang nelpon."
"Kakak mau kesana?"
"Boleh?"
"Apa aku harus ikut?"
"Nggak usah. Aku sendiri dulu."
"Pergilah. Aku pulang."
"Jangan!! kamu tunggu disini. Aku cuma sebentar."
"Kakak yakin?"
"Iya. Cuma lihat keadaan nya aja. Terus abis itu aku langsung pulang."
"Oke."
Hardi beringsut. Memakai jaket, mengambil kunci mobil.
Memeluk tubuh Alena dengan erat, mengecup puncak kepalanya cukup lama.
"Jangan kemana-mana. Aku segera kembali" katanya, kemudian melepaskan pelukan dan melangkah keluar.
Alena melepas kepergian pemuda itu dengan berat hati.
*
*
"Sial!! kenapa harus begini!!" Hardi mengumpat sepanjang perjalanan kerumah sakit.
Masih terngiang di telinganya kata-kata dari ibunya Lasya.
"Tolong kamu datang kerumah sakit, Lasya mencoba bunuh diri. Sekarang dia mengamuk."
Hardi memacu mobil hitamnya dengan kecepatan tinggi. Dia sampai dalam 15 menit.
Setelah memarkirkan mobilnya, pemuda itu langsung berlari ke ruangan yang telah di beritahukan sebelumnya oleh ibunya Lasya.
Dengan masih terengah-engah Hardi sampai di lorong sebuah ruangan. Tampak ada beberapa orang yang tengah berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Keluarganya Lasya.
Kehadiran nya cepat disadari oleh mereka. Mamanya Lasya langsung menyambutnya dengan isak tangis, kemudian menghambur ke pelukan Hardi.
Pemuda itu merangkulnya.
"Kenapa?" Hardi terbata.
🌸Flashback on🌸
Dua hari Lasya mengurung diri dikamar yang terkunci. Sejak kepulangannya dari Jakarta hari Jum'at kemarin dia tak banyak bicara. Beberapa kali Mama membujuknya untuk keluar namun gadis itu tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan kedatangan kakak lelakinya yang sengaja ingin mengajaknya jalan-jalan tak sedikitpun mendapatkan respon.
Pagi ini Mama membangunkannya karena Lasya harus segera pergi lagi ke Jakarta, namun tak mendapat sahutan dari gadis itu.
Setelah beberapa kali mengggedor pintu namun tak mendapatkan respon, akhirnya mereka mendobrak pintu kamar Lasya.
Tampak berbagai barang berserakan di lantai kamar gadis itu. Namun Lasya tak ditemukan. Ada pecahan gelas yang teronggok disudut kamar.
Suara air mengalir terdengar nyaring di kamar mandi. Mereka langsung menerobos kedalam, dan menemukan gadis itu tengah terbaring di lantai kamar mandi dengan air yang mengalir dari shower. Pergelangan tangan kirinya terluka, mengeluarkan banyak darah.
🌸Flashback off🌸
Hardi terkulai lemas di kursi tunggu. Tak menyangka sedikitpun akan begini. Sementara kedua orang tua Lasya masih terisak.
Pintu ruangan terbuka. Tampak dokter keluar bersama kakak laki-laki Lasya. Mereka semua berdiri.
Setelah berbasa-basi sebentar, sang dokterpun berpamitan.
Brukk!!
Sebuah pukulan mendarat di wajah sebelah kiri Hardi, membuat pemuda itu terhuyung tak siap mendapat serangan tiba-tiba dari kakaknya Lasya.
"Kalau sesuatu terjadi sama Lasya, gue nggak bakal lepasin lu!!" katanya, kemudian pergi.
"Maafkan Lendra, dia hanya sangat khawatir." Papa Lasya membantu Hardi bangkit. "Sebaiknya kamu lihat Lasya. Mungkin dia sudah bangun. Tadi dia ngamuk menanyakan kamu."
Hardi menurut. Dia masuk ke ruang rawat.
Tampak Lasya terbaring lemah. Dengan verban yang melilit pergelangan tangan kirinya. Dan slang infus yang tersambung di tangan kanannya.
Wajah gadis itu tampak pucat. Hatinya terasa nyeri.
"Kenapa kamu begini, Lasya!!' bisiknya, dalam diam.
*
*
Bersambung ...
Ayolah...komen yang banyak... biar aku **semangat..
I love you full**😘😘