ALENA

ALENA
Alena-15



Gatra, Rega, Firly dan Zidan keluar bersama dari ruang BP. Tadi setelah kejadian di kantin, tiba-tiba saja ada guru yang masuk-masuk diantara mereka, menarik Gatra dan ketiga kawannya itu menghadap pada Pak Hendro. Jelas saja mereka ditangkap, mereka sedang dalam masa diskors tapi malah muncul di sekolah.


Diluar ruangan masih ada Alena dan Pandu yang menunggu mereka. Asdel sudah pergi entah kemana.


"Alena," panggil Gatra.


Alena hanya menatap kearah Gatra dengan tatapan bertanya.


Gatra tersenyum. "Yang tadi itu.. Maaf, yah?"


Dahi Alena berkerut. "Maaf?"


"Iya, maaf. Gue ngelakuin itu biar orang-orang pada tau kalo gue sama lo itu udah jadian, jadi gak ada lagi yang gangguin lo terutama Jenny."


Selesainya ucapan Gatra, tiba-tiba saja sebuah tamparan melayang pada pipi kiri Gatra. Membuat mereka semua yang ada disana kaget luar biasa.


Rana langsung menarik kerah seragam Gatra. "Berengsek!"


Alena yang panik langsung menarik Rana dibantu oleh Asdel yang kala itu memang datang bersama Rana.


"Bajingan lo, sialan!" Rana mendorong tubuh Gatra hingga cowok itu hampir saja terjatuh jika tidak ada Rega dan Zidan yang menahannya.


"Apa-apaan sih, lo?!" kata Rega.


"Temen lo yang apa-apaan! Dia pikir, dengan dia ngelakuin kayak gitu ke Alena, semuanya langsung beres?" Rana mengepalkan tangannya. "Enggak sama sekali!"


"Rana, udah!" Alena berusaha menarik Rana agar menjauh dari Gatra.


"Na, kita bisa bicarain ini baik-baik." Pandu membantu Alena untuk menarik Rana. Mengelus punggung cewek itu agar segera tenang.


"Maaf sebelumnya, gue tau ini gak langsung clear, tapi gue bakal janji sama lo, semua ini bakal terus berlanjut sampai Jenny atau siapapun gak bakal gangguin Alena lagi. Dan lo bisa percayain keamanan Alena sama gue," ucap Gatra dengan serius.


Rana menghela nafasnya kasar. "Gue gak butuh janji dari cowok berengsek kayak lo! Gue mau lo buktiin kalo Alena gak bakal kenapa-napa,"


Gatra sempat terdiam untuk beberapa saat sampai kemudian cowok itu mengangguk mantap. "Oke, bakal gue buktiin."


...****************...


Rana mengantar Alena sampai ke parkiran untuk menemui Gatra yang akan mengantar Alena pulang, mulai hari ini hingga masalah mereka selesai.


Begitu mereka sampai didekat motor Gatra, Rana berdehem membuat Gatra melihat kearahnya.


"Jangan sampai lecet, sedikitpun!"


Gatra tertawa pelan. "Lo benci banget kayaknya sama gue, yah?"


"Gak perlu dipertanyakan." balas Rana judes. Kemudian dia menepuk bahu Alena pelan. "Gue balik, yah? Lo hati-hati, kalo ada apa-apa telpon gue. Oke?"


Alena hanya mengangguk saja seraya tersenyum. Setelah itu Rana mulai pergi meninggalkan mereka berdua.


"Mau langsung pulang?" tanya Gatra.


Alena mengangguk. "Kemana lagi emang?"


"Gak mau makan dulu?"


"Enggak," Alena menggeleng. "Bunda aku udah masak di rumah."


Gatra manggut-manggut kemudian hendak memakai helmnya sebelum akhirnya aksinya terhenti saat ponsel Gatra berdering.


"Bentar, yah." Gatra berjalan menjauh dari Alena saat akan mengangkat panggilan itu.


Cukup lama Alena menunggu, kira-kira sampai 15 menit. Entah apa yang dibicarakan Gatra dengan si penelepon.


"Sori lama," Gatra kembali dengan tersenyum tipis yang hanya Alena balas dengan anggukan.


Setelah itu Gatra benar-benar memakai helmnya dan menyuruh Alena untuk segera naik. Sebelumnya Gatra menyuruh Alena untuk tidak usah perduli pada orang-orang yang melihat dan berbisik tentang mereka. Dan Alena hanya mengangguk saja sambil menguatkan pegangannya pada jaket Gatra.


"Makasih yah, Gatra,"


Gatra mengangguk. "Sama-sama."


"Eh iya, besok gue jemput, yah?" tawar Gatra saat Alena hendak membuka pagar.


"Gak usah deh kayaknya," tolak Alena.


Gatra terkekeh. "Masa gitu? Gimana mereka mau percaya?"


"Emang harus gitu?" heran Alena.


Gatra hanya mengangguk tiga kali. Membuat Alena menghela nafas pelan dan mengangguk pelan. "Yaudah, jangan telat tapi, yah?"


"Iya tenang aja, besok hari terakhir gue diskors jadi pasti gue bakal semangat."


Alena mengangguk lagi. "Yaudah, aku masuk, yah?"


Gatra hanya membalasnya dengan anggukan sekali lalu tersenyum lebar.


Setelah Alena sudah masuk, Gatra mengeluarkan ponselnya dari saku celananya kemudian mengetikkan sesuatu disana. Saat pesan itu sudah terkirim, Gatra mulai menyalakan motornya dan membawa kendaraan itu dengan kecepatan yang bisa dibilang lumayan.


...****************...


"Gimana tadi?" tanya Rana seraya membaringkan badannya diatas kasur Alena.


"Gak gimana-gimana." jawab Alena tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel.


Rana hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban Alena. Kemudian, cewek itu mulai membuka ponselnya.


"Oh ya, gak ada komentar jahat lagi, kan?"


Alena menggeleng meskipun ia tahu Rana tidak melihatnya karena cewek itu juga sudah fokus pada benda pipih ditangannya. "Gak ada, kok."


"Bagus deh,"


"Na," panggil Alena setelah melepaskan ponselnya diatas meja belajar.


"Hm?"


"Kalo aku boleh tau," Alena menjeda ucapannya.


"Tau apa?" tanya Rana penasaran. Pandangannya beralih pada Alena.


"Kamu benci banget yah sama Gatra? Dia ada salah apa sama kamu?"


Rana diam untuk beberapa detik.


"Na?"


"Eh-- itu," Rana menggaruk hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Ada lah, lo gak perlu tau."


"Hm?" Alena mengernyit. "Kok gitu?"


Rana menghela nafasnya sepelan mungkin. "Intinya, gue mohon sama lo jangan pernah bawa perasaan kalo sewaktu-waktu ada perlakuan atau kata-kata manis dari Gatra. Yah?"


"Ke.. Napa?" tanya Alena masih tidak mengerti dengan ucapan Rana.


"Gue mohon Al, ini demi lo juga,"


Alena masih diam. Tatapan Rana yang terlihat memohon dan khawatir membuat tanda tanya begitu banyak dikepala Alena. Dia sama sekali tidak mengerti, semua ucapan Rana itu seperti teka-teki yang sulit dipecahkan. Apa dia tanya Helena saja? Tapi mungkin tidak, Helena pasti tidak pernah menilai jelek pada Gatra.


Setelah lama berdiam, Alena akhirnya hanya mengangguk saja. Untuk saat ini ia hanya perlu seperti itu agar Rana bisa tenang. Tapi untuk nanti, Alena harus tahu, arti dari semua ucapan Rana. Yah, Alena harus tahu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...