ALENA

ALENA
PENGKHIANATAN



Hari ini Alena berencana melihat keadaan rumah sakit yang sejak lama dia abaikan. ia menuju ruang direktur namun langkahnya terhenti tepat di depan ruangan Raka


"Metha maafkan sikap Alen kemarin ya" Raka mengusap lembut kepala Ametha.


"bagaimana kelanjutan hubungan kita? sekalrang Alen sudah datang bisa saja dia akan mengajakmu menikah secepatnya" Ametha berteriak sambil menitihkan air mata


"aku pastikan hal itu tidak akan terjadi"


Ametha menepis tangan Raka dari kepalanya.


"bagaimana bisa? Alena adalah tunanganmu, sedangkan aku hanya kekasihmu yang bahkan orang tuamu tidak mengenalku" Ametha menangis tersedu sedu sedangkan Raka berusaha menenangkannya sambil memeluk hangat Ametha.


BRAK!!! terdengar suara pindu yang di tendang oleh Alena. Alena sudah melihat kejadian tersebut dari kaca tembus pandang yang terdapat di pintu ruangan Raka.


Alena dengan penuh amarahnya masuk kedalam ruangan Raka


"A...Alen aku bisa jelaskan" Raka dan Ametha terkejut, lagi-lagi Alena memergoki mereka berdua.


"dasar wanita ******" Alena menarik rambut Ametha dengan emosi yang tak terbendung. Ametha sama sekali tidak bisa melawannya karena gerakan Alena yang sangat gesit. Beruntung Raka yang ada di situ mencoba melerai dan menarik Alena agar melepaskan tangannya dari rambut Ametha.


"Alen berhenti, kita bisa bicarakan ini baik-baik" Raka membentak Alena sambil membuka kelopak matanya dengan lebar


"apa hal seperti ini bisa dibicarakan baik-baik ha?" ucap alena yang tak kalah lantangnya dengan Raka.


Raka merasa kacau, dia sangat menyayangi Ametha namun di sisi lain ia sadar bahwa dirinya salah karena sudah mengkhianati tunangannya.


"Alena maafkan aku" Raka menggenggam tangan Alena


"lepaskan aku, aku tak akan membiarkan kalian berdua. Aku akan segera mengurus pernikahan kita" Alena melirik tajam kearah Ametha sebelum dirinya pergi meninggalkan ruangan.


Mendengar ucapan Alena tadi, Raka hanya berdiam diri seolah tubuhnya terpaku di tempat itu, ia menatap Ametha dan sesekali melihat Alena yang berjalan pergi meninggalkannya.


"apa yang harus aku lakukan?" Raka bertanya tanya dalam hati.


setelah pertemuan keduanya yang amat menyakitkan, perasaan amarahnya tak terbendung. Alena berusaha menenangkan diri, namun sayang amarahnya belum juga hilang hingga akhirnya dia memutuskan untuk melakukan kebiasaan lamanya yang buruk yaitu pergi ke bar.


Alena sudah lama berhenti minum alkohol, namun kini dia meminumnya lagi hanya karna Raka.


Alena menghabiskan banyak sekali alkohol dan tampak botol kosong di atas meja.


tak jarang alena memaki tunangannya karena kesal dengan perbuatan tunangannya.


setelah merasa mabuk berat Alena berjalan keluar dari bar sambil sempoyongan, bahkan Alena pergi tanpa membawa mobil akibat dirinya yang sudah sangat mabuk.


saat sedang menunggu taksi tiba-tiba Alena terjatuh, namun ternyata ada seorang pria yang menangkapnya. pria tersebut berseragam rapih yang sepertinya seorang tentara.


"aaa pak tentara tolong saya...tolong pak hukum tunangan saya dan wanita ****** itu pak...tolong" Alena memohon-mohon pada pria tersebut sambil menangis.


"hey wanita bodoh, apa yang kamu lakukan?" pria tersebut menggoyang-goyang tubuh Alena agar tersadar dari mabuknya.


"dimana rumahmu? Aku antar kamu pulang" Alena menunjuk arah belakang pria tersebut. Tak selang lama pria tersebut menyeret alena yang sedang merangkul tiang menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lokasi.


saat di dalam mobil pria tersebut menanyakan arah rumah Alena, namun satyangnya Alena yang mabuk berat malah menunjuk kesegala arah yang membuat pria tersebut memutuskan untuk membawa Alena ke rumah sepupunya.


***kira-kira apa yang akan di lakukan alena saat sadar*?


teman-teman jangan lupa pantengi terus ceritaku yaa


jangan lupa like dan komen yaa** :)


**penulis berharap saran dari teman-trman semua demi membangun cerita ini menjadi lebih baik lagi


Terima kasih🤗**