
Arya mengikuti langkah kecil balita itu hingga ke meja resepsionis. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran sikecil tampan dan menggemaskan itu di kantor tiap akhir pekan.
Semua pegawai selalu menyambutnya dengan penuh kasih sayang.
Dilan berlari menuju lift diikuti Arya yang menenteng tas kecil berisi semua kebutuhan balita itu selama dalam pengawasannya.
Pagi itu Arya sudah ada janji dengan Hardi untuk bertemu membahas kerjasama mereka.
Bruukk!!!
Langkah balita berumur dua tahun itu terhenti saat menabrak kaki seseorang yang tengah berdiri di depan pintu lift.
Tubuh kecilnya hampir terjungkal ke belakang sebelum diraih tangan kokoh pria itu.
"Hey ..." Hardi merangkul balita itu dalam pelukannya. Mata keduanya bersirobok. Ada perasaan yang aneh berdesir dalam dadanya.
"Ya ampun!!" Arya yang segera menghampiri mereka berdua. "Udah ayah bilang jangan lari-lari, nak!!" katanya setengah berteriak.
"Yayang lip, yayah. Yayang lip!!" katanya dengan imutnya menunjuk ke arah lift.
"Maaf, dia selalu tidak sabar kalau tahu akan masuk lift." Arya menjelaskan.
Hardi tersenyum melihat tingkah dan ocehan mengegemaskan balita itu. Ditatapnya wajah si kecil yang masih dalam pelukannya.
Seperti pernah bertemu, tapi ... dimana ya? Batinnya.
Hardi mengerutkan keningnya, membuat kedua alis tebalnya bertemu.
"Yayah, lip yayah!!" katanya, membuyarkan lamunan Hardi.
Pemuda itu menengok ke arah Arya. "Dia bilang apa?" tanyanya, sambil menahan senyum karena tingkah imut banget balita itu.
"Dia mau masuk lift katanya." Arya menjelaskan.
"Oohh ..." Hardi tersenyum, kembali menatap sikecil yang masih dalam pelukannya.
"Ayo, nak. Sini sama Ayah. Om nya berat." Arya mengulurkan kedua tangannya hendak meraih Dilan dari gendongan Hardi.
"Noooo.... " Dilan menggeleng tanda menolak. "Om, lip om!!" rengeknya pada Hardi, membuat pemuda itu tergelak.
"Kamu mau masuk lift?" Hardi bertanya, terus menatap wajah yang dia rasa pernah dikenalnya entah dimana.
"Hu'um ..." Dilan mengangguk sambil memanyunkan bibir mungilnya.
Deg!!
Mengingatkannya pada seseorang.
"Om ...lip om!!" Dilan menepuk wajah Hardi yang tengah menatapnya.
Pemuda itu tergagap. "Oke oke. Kita masuk!" segera pemuda itu menuruti keinginan si kecil dalam pelukannya.
Sementara Arya hanya menggeleng keheranan. Tak biasanya keponakannya itu akrab dengan orang asing yang baru ditemuinya. Apalagi sampai di gendong. Disentuh pun balita itu akan langsung mengamuk.
"Maaf merepotkan." Arya memulai pembicaraan ketika lift sudah bergerak naik.
"Oh .. nggak apa-apa." Hardi menanggapinya dengan senyum. "Anak Bapak?" tanya nya.
"Iya." Arya meng iyakan saja, toh selama ini memang dia selalu mengakui Dilan sebagai anaknya kepada siapapun.
Hardi mengangguk.
Ting!!
Lift berhenti, mereka sudah sampai di lantai 10 dimana kantor Arya berada.
Kedua pria itu keluar dari dalam lift kemudian menuju ruangan Arya.
"Silahkan." Arya mempersilahkan Hardi untuk duduk di sofa di sisi lain ruangannya.
Hardi menjatuhkan bokongnya di sofa dengan Dilan yang masih dalam gendongannya.
Ini pertama kalinya pemuda itu menggendong balita. Tapi entah kenapa rasanya sangat nyaman. Merasakan kedua tangan mungil itu melingkar di lehernya membuat hatinya terasa hangat.
"Turun, sayang. Omnya pegal." Arya menyadarkan Hardi dari lamunannya.
Dilan kecil menurut, melepaskan kedua tangan mungilnya dari leher Hardi. Kemudian turun menghampiri Arya. Entah mengapa ada perasaan tak rela menyeruak dalam dada pemuda itu.
"Duduk sini ya." Arya menepuk bagian sofa disampingnya. Dilan menurut.
Hardi belum melepaskan pandangannya dari bocah kecil itu. Rambutnya hitam, alisnya tebal, mata cokelatnya bulat, bibirnya mungil. Dia seperti mengingatkannya pada seseorang. Tapi siapa dia tak tahu.
Dilan anteng dengan mainan robot yang dibawanya dari rumah. Tak tergoda untuk mengganggu dua orang dewasa yang tengah membahas pekerjaan di sampingnya.
Hampir setiap detik Hardi melirik ke arah bocah imut itu. Dan ketika itu pula senyumnya selalu terbit disudut bibirnya.
"Kamu sepertinya suka anak-anak. Sudah menikah?" Arya setelah pekerjaan mereka selesai. Sementara Hardi tengah membereskan beberapa dokumen yang tadi telah ditandatangani tangani kliennya tersebut.
"Oh ... belum, pak. Hanya saja .... dedek tadi siapa namanya, om lupa nanya!" Hardi mengarahkan pandangannya pada Dilan yang tengah melahap camilan yang dibawa dari rumah.
Mata bulat itu beralih menatapnya. Lagi, perasaan aneh menjalar dalam hatinya.
"Om nya nanya,sayang. Siapa namanya?" Arya mengelus rambut bocah imut itu.
"Yayang." katanya dengan mata bening yang membulat.
"Yayang?" Hardi melirik ke arah Arya.
Arya tersenyum. "Namanya Dilan. Dia biasa menyebut dirinya begitu."
"Biasanya dia tidak seakrab ini dengan orang baru. Tapi ini aneh, begitu bertemu kamu langsung nempel." Arya mengusap puncak kepala keponakannya tersebut.
"Oh iya?"
"Bahkan dia bisa histeris kalau ada orang asing yang menyapanya." Arya menjelaskan lagi.
Hardi hanya mengangguk.
"Dia cuma nempel sama saya atau ibunya. Selain orang rumah dia tidak mau." lagi, Arya menjelaskan.
"Oh iya.. apa ibunya bekerja juga?" Hardi mulai penasaran.
"Hanya di akhir pekan,"
Hardi kembali mengangguk. Melirik ke arah Dilan kemudian tersenyum.
Bocah kecil itu turun dari sofa, menghampiri Hardi. Menyodorkan sekeping kue coklat yang di digenggamnya sejak tadi.
"Mamam, om?" katanya hampir menempelkan kue coklat tersebut ke mulut Hardi.
Hardi terhenyak. Mata bulat nan bening itu menatapnya. Lagi-lagi perasaan aneh menjalari hatinya.
"Mamam Weh!" katanya, menjejalkan kue ditangannya kemulut Hardi yang tertutup rapat.
Hardi terpaksa mengunyah kue tersebut dimulutnya. Wajah imut itu berbinar kegirangan. Dua tangan mungil nya bertepuk pelan.
Kembali, senyuman terbit disudut bibir Hardi.
"Lucu banget sih kamu! Anak siapa sih ..." Hardi mengusap puncak kepala Dilan.
"Mama Na." bocah itu menjawab.
"Mama Na?" Hardi tergelak.
"Hu'um ... Mama Na." Dilan mengangguk sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
Itu lagi. Batinnya.
Arya hanya tersenyum melihat interaksi dua orang dihadapannya. Seperti yang telah lama saling mengenal.
**********
Sore menjelang ketika Arya sampai di restoran milik ibunya Vania. Pengunjung makin sore semakin terlihat padat. Terlihat dari kursi yang hampir semua sudah terisi.
Matanya menyisir seluruh ruangan, mencari sosok yang dikenalinya.
"Hallo ganteng!!!" seseorang mengagetkannya. Vania.
"Ish ...!" Arya mencibir.
"Aku nyapa Dilan lho, bukan Abang!" Vania yang menyadari kekesalan pria di depannya tersebut.
"Ayo sayang, sama Tante!! kita makan es krim!" rayunya, kepada bocah kecil itu yang tentunya ditanggapi dengan girang setelah mendengar kata 'es krim'.
Dilan merentangkan tangannya kepada Vania.
"Jangan banyak-banyak! Nanti giginya rusak!" Arya mengingatkan.
"Helleh ... paling banyak juga dua scoop. nggak se ember!" Vania memutar bola matanya.
Arya melotot.
"Dasar Daddy compleks!" gumamnya, pelan.
"Apa?" Arya yang mendengar kata itu jelas.
"Ng... ayo sayang. Mau vanila atau sttoberry?" katanya segera kabur dari hadapan pria yang telah dibuat kesal olehnya.
Alena menghampiri Arya sambil tertawa, melihat kelakuan dua orang itu.
"Mau makan?" katanya setelah Arya menemukan tempat duduk kosong untuk dia tempati.
"Kopi aja. Tadi udah makan di kantor."
"Tumben?" Alena mengernyit. Biasanya kakaknya itu selalu menyempatkan diri makan siang di tempat nya bekerja saat ini.
"Tadi tiba-tiba Dilan mau makan pas Abang lagi ada kerjaan. Ya udah, pesen online aja." menjelaskan.
"Oh ..." menganggukkan kepala. "Weekend gini ada kerjaan juga?"
"Cuma tanda tangan dokumen aja."
Alena kembali mengangguk.
"Tadi ada orang dari tim design dari Jakarta itu, terus aneh lho Dilan langsung aja akrab sama orangnya." Arya menceritakan kejadian dari pagi hingga siang tadi di kantornya.
"Oh ya?" mungkin dia orang baik, jadi Dilan langsung suka."
"Iya. Mungkin."
Arya menyeruput kopi yang dibawakan adiknya itu. Menikmati tiap tegukannya sambil menatap ke arah gadis di sisi lain restoran yang sedang menyuapi keponakannya es krim. Senyuman terbit disudut bibirnya.
Bersambung ....
Jangan lupa like koment sama vote nya ya.
I love you full😘😘😘