
Vania sering berkunjung ke tempat Alena setiap akhir pakan sejak dia menemukan sahabatnya itu dua bukan lalu.
Suatu siang Vania dikejutkan dengan panggilan telpon dari nomer Alena. Seseorang mengatakan sang sahabat pingsan saat jam kerja berlangsung.
Saat itu juga Vania memutuskan untuk menghubungi Alya, dan memberitahu keberadaan adik bungsunya tersebut. Dan dengan segera mereka berdua meluncur ke tempat dimana Alena berada.
Alena tampak terbaring di ruangan sebuah klinik tak jauh dari tempat dia bekerja. Selang infus menggantung, mengalirkan cairan kedalam tubuh gadis itu.
Alya menghela napas, dirinya tergugu menatap tubuh kurus adiknya yang tak berdaya.
"kakak ..." Alena dengan suara lemah menyambut sang kakak yang berdiri terpaku di ambang pintu.
Alya menghambur memeluk tubuh lemah adiknya sambil berurai air mata.
Seorang dokter masuk ke ruang perawatan dan segera memeriksa keadaan gadis itu.
"Ibu Alena sangat kelelahan, kondisinya lemah dan kekurangan nutrisi... jika memaksakan terus bekerja bisa berakibat fatal. Bisa membahayakan ibu dan janinnya." dokter memberi keterangan.
"Apa bayinya baik-baik aja, dokter?" Alena dengan suara bergetar menahan tangis.
"Untuk memastikan bisa dilakukan USG, agar lebih mengetahui keadaan janin." jawab dokter tersebut, kemudian berpamitan.
Dan pemeriksaan pun dilakukan untuk mengetahui keadaan si bayi.
Alena memasuki ruang USG ditemani Alya, sementara Vania menunggu di luar.
"Baik kita cek detak jantung nya dulu ya. Sudah pernah cek sebelumnya?" dokter itu bertanya.
Alena menggeleng karena memang selama ini dia belum pernah memeriksakan diri lagi, setelah terakhir kali ke rumah sakit bersama Alya, sebelum dia kabur.
Sebuah alat seperti mik kecil yang terhubung dengan alat berbentuk kotak seperti speaker di tempelkan ke perut Alena yang telah di olesi cairan berupa jel sebelumnya.
Alat itu di gerakkan ke kiri dan ke kanan. Keatas dan kebawah, kemudian ke tengah. Mencari keberadaan makhluk kecil di dalam perut Alena.
Hingga menemukan satu titik dimana terdengar bunyi detakan halus. Alat berbentuk mik itu agak di tekan hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat.
Detak jantung si bayi.
Suara detak jantung itu terdengar begitu nyaring. Berdegup mengikuti irama detak jantung ibunya.
Tetesan air lolos dari sudut mata Alena.
"Baby ..." katanya, hampir sesenggukan.
Ada bahagia juga rasa sedih yang merayap dalam hatinya.
"Baik sekarang kita ke USG nya ya, Bu." dokter beralih ke alat lainnya yang terhubung ke monitor di samping.
Alena mengangguk.
Dokter itu mengulangi gerakan tadi di perut Alena. Kali ini sebuah gambar tampil di layar monitor. Gambar hitam dan sedikit abu-abu.
Tampak ada bulatan yang tak dimengerti oleh dua orang selain dokter.
"Bayinya sehat, beratnya pas, ...usianya memasuki tujuh bulan."
"Jenis kelaminnya sepertinya laki-laki, Bu. Ini monasnya sudah kelihatan." si dokter menunjuk sebuah titik di tengah monitor.
Alena dan Alya yang kurang faham dengan gambar di depan mereka hanya saling tatap, kemudian tertawa.
"Baik, setelah ini diharapkan ibu Alena menjaga tubuh agar selalu sehat, tidak boleh kelelahan lagi seperti hari ini. Makanan makanan sehat dan bergizi, juga ditambah vitamin...."
Panjang lebar nasihat dokter tersebut kepada dua wanita di hadapannya tersebut.
*******
Alena menatap gambar hasil USG ditangannya dengan penuh haru.
"Ternyata kamu kuat. Maafkan Mama sempat mengabadikan kamu, sayang!" gumamnya diikuti tetesan air yang mengalir dari kedua matanya.
Mobil melaju kencang membawa tiga perempuan meninggalkan kosan tempat Alena selama ini tinggal.
Dengan sedikit berdebat dan memaksa akhirnya Alya mampu membujuk Alena untuk ikut pulang bersamanya. Tapi adiknya itu bersikeras tak mau pulang kerumahnya. Dia akan ikut kalau di ijinkan pulang kerumah Vania.
Alya pun mengalah. Setelah Vania menelpon ibunya dan memberi tahu Alena akan tinggal di rumah mereka untuk sementara, dan ibunya pun dengan gembira mengijinkan kan sahabat anaknya tersebut untuk tinggal bersama mereka.
*****
Alya sampai dirumahnya tepat tengah malam. Dengan berdebar dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Lampu ruang tengah masih menyala. Tampak Arya sedang duduk termenung di depan televisi. Alya berusaha tak menghiraukan keberadaan kakaknya tersebut, dan bermaksud langsung menuju ke kamarnya.
"Apa dia baik-baik saja?" Arya tanpa menoleh ke arah adiknya yang baru saja akan masuk kedalam kamar.
Alena tertegun, kemudian berbalik.
"Kamu tahu?" katanya, agak terkejut karena dia tak bicara pada siapapun perihal kepergiannya untuk menemui Alena.
Arya hanya diam.
Alya menghampiri kakaknya, menatap wajah dingin itu lekat-lekat. Kesedihan tampak di disana.
"Alena hanya kelelahan. Dia bekerja keras dalam kondisi hamil besar."
Arya mendongak. Bibirnya agak bergetar.
"Tapi bayinya sehat. Tadi siang habis USG."
Arya masih terdiam.
"Bayinya laki-laki." kemudian segera masuk kedalam kamar. Meninggalkan kakak laki-lakinya tersebut termenung sendirian.
Buliran air lolos dari kedua mata Arya yang terpejam. Dia sandarkan kepalanya di sofa. Hati dan pikirannya berkecamuk. Marah,benci dan kesedihan terus bergumul dalam hatinya.
"Ayah, Ibu, maaf. Aku tak bisa menjaga adikku."
*******