ALENA

ALENA
Alena-19



Gatra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang normal. Ditengoknya kearah kursi penumpang disampingnya, terlihat Alena yang sedang menatap keluar jendela.


"Al," panggil Gatra, dia kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan.


"Hm?"


"Gapapa kalo kita langsung pulang ke rumah? Nanti Bunda nanya-nanya,"


Terdengar suara helaan nafas dari Alena. "Terus, kita kemana?"


Gatra nampak berpikir, kemudian senyumnya mengembang saat mengingat suatu tempat. Dengan segera dia menambah kecepatan mobilnya membuat Alena sempat menatap heran padanya tapi tidak lama sebelum dia kembali melihat ke arah luar jendela.


...****************...


Alena bingung begitu melihat sebuah bangunan apartemen dihadapannya. Dia menunggu Gatra keluar dari mobil dan akan bertanya soal ini.


"Ngapain kita kesini?" tanya Alena saat Gatra mulai menarik tangannya untuk masuk ke dalam apartemen yang entah milik siapa.


Gatra tersenyum tanpa menjawab. Dia menekan tombol 6 pada lift untuk menuju kamarnya. Alena yang melihat itu kembali bertanya lagi saat pintu lift sudah tertutup.


"Gatra!"


"Apa, Al?"


"Kita ngapain kesini? Ini apartemen siapa? Kamu gak akan macem-macem, kan? Jangan mentang-mentang seragam aku udah kayak gini, kamu jadi ngerasa ada akses."


Gatra yang mendengar celotehan Alena itu hanya terkekeh. "Ya enggak, lah. Tugas gue kan mau buat lo aman,"


Pintu lift terbuka bersamaan dengan selesainya ucapan Gatra. Cowok itu kembali menarik tangan Alena. Begitu mereka sudah sampai didepan pintu, Gatra mengeluarkan sebuah kunci dari kantung celana abu-abunya.


"Ini apartemen Kakak gue," kata Gatra yang sudah cukup jelas menjawab pertanyaan dikepala Alena.


Alena langsung mengangguk mengerti. Dia terus menunggu Gatra untuk membuka pintunya.


Setelah memutar kuncinya, baru saja Gatra ingin membuka pintu, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka lebih dulu dari dalam. Gatra yang melihat itu tentu saja kaget, terlebih lagi Alena yang langsung sembunyi dibelakang tubuh Gatra saat melihat seorang perempuan menatap kaget kearahnya dan juga Gatra.


...****************...


Alena hanya duduk diam disofa mendengar perdebatan antara Kakak Adik itu dari arah dapur. Sesekali dia meringis saat suara Kakak Gatra terdengar memekik. Alena hanya menghela nafasnya pelan. Sembari menunggu Gatra dia melihat kearah roknya yang digunting oleh Jenny.


"Dasar. Perempuan gila!" batin Alena.


Lalu, dia kembali mendengar suara Kakak Gatra.


"Ya itu, kenapa penampilannya bisa begitu? Roknya sobek sana sini. Lo habis apain anak orang, Gatra?!"


"Gue laporin lo sama Mama dan Papa. Belajar dari mana sih, gituin anak orang?!"


"Eh, apa? Kapan gue begituan sama dia? Lo kalo mau ngomong cari kebenarannya dulu, dong!"


"Terus, roknya kenapa? Kalo gak lo apa-apain pasti gak bakal sobek!"


"Kan tadi udah gue bilang, udah gue ceritain kalo dia dibully, kok lo gak ngerti-ngerti, sih?!"


Alena terkekeh mendengar perdebatan mereka. Tak lama kemudian, dua orang itu muncul dihadapan Alena.


Gatra langsung duduk disofa yang berhadapan dengan Alena, sedangkan Kakaknya duduk disamping Alena.


"Maaf yah, kita berisik banget." ucap Kakak Gatra dengan lembut.


Alena hanya mengangguk seraya tersenyum manis.


"Oh ya, kita kenalan dulu. Gue Gania, Kakaknya Gatra."


"Alena, Kak."


Gania tersenyum. Senyumnya sangat manis sangat mirip dengan senyuman Gatra.


"Ada hubungan apa sama Gatra?" tanya Gania, matanya melirik sinis pada Gatra. Dia hanya ingin memastikan, apa jawaban dari perempuan yang dibawa adiknya ini dengan kondisi berantakan.


"Aku... Pacarnya Gatra, Kak."


"Bukannya-- lo udah p--"


"Eh, iya. Nia, tolong pinjemin baju lo dong. Kasian Alena seragamnya juga berantakan makanya gue tutupin jaket aja tadi," sela Gatra. Dia menatap Gania dengan arti; 'bakal gue ceritain nanti.'


Gania yang mengerti itu, dengan segera tersenyum pada Alena dan mulai mengajak Alena untuk ke kamarnya.


"Ayo. Gue punya baju yang pas dibadan lo, kayaknya." Gania merangkul Alena dan terus tersenyum.


Alena mengangguk. "Makasih, Kak."


...****************...


"Kamu emang gak tau kalo dia lagi disana tadi?"


Gatra berdehem sebelum menjawab. "Setau gue dia lagi di luar negeri, kunci apartemen dia gue pegang juga. Gue gak tau kalo dia udah pulang, makanya gue ikutan kaget pas dia buka pintu dari dalem."


Alena tertawa, sejenak ia melupakan kejadian di sekolah tadi.


"Kok, ketawa?"


"Lucu lah, kalo gak lucu aku gak akan ketawa."


Gatra terkekeh. "Iya juga, yah,"


Mobil Gatra telah sampai di depan rumah Alena. Cowok itu tersenyum saat melihat Alena tengah melepaskan seat beltnya.


"Makasih, yah?"


Gatra mengangguk. "Istirahat, jangan lupa makan."


"Iya-iya." Alena tersenyum dan akan segera keluar dari mobil Gatra tapi cowok itu menahannya.


"Kenapa?" tanya Alena saat Gatra memegang tangannya.


Gatra tersenyum memandang wajah Alena yang memang sangat cantik. "Lo beneran sayang sama gue?"


Alena diam. Untuk beberapa detik ia berpikir, apa Alena sudah yakin dengan perasaannya atau belum. Tapi, mengingat dia sudah mengatakan bahwa dia sayang pada Gatra saat di toilet tadi, Alena rasa ia sudah yakin.


"Iya."


Gatra menggenggam tangan Alena. Dia menunduk, wajahnya terlihat seperti sedang berpikir. Lalu, dia kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Alena.


"Jangan terlalu sayang, yah?"


Alena mengernyit bingung. Ada kah yang seperti itu?


"Kenapa?"


Gatra masih tersenyum. "Jangan aja. Karena yang terlalu bisa bikin sakit,"


Kerutan didahi Alena masih ada. Dia terus menatap Gatra dengan bingung. "Tapi, kamu udah janji, kamu akan selalu bikin aku aman. Artinya, kamu gak akan biarin aku sakit, kan?"


Gatra terdiam. Senyumnya menghilang. Tapi genggaman tangannya pada tangan Alena semakin menguat.


Alena tersenyum. "Aku percaya, kamu gak akan bikin aku sakit. Kamu sayang aku, kan?"


Gatra menatap Alena tepat dimata cewek itu. Ada sebuah harapan yang Gatra temukan dimata cokelat Alena. Tiba-tiba saja Gatra menjadi takut. Sebuah pikiran tentang dirinya yang tidak bisa menepati janji mulai menghantui. Apa dia akan membuat Alena sakit nantinya?


"Gatra?"


Gatra kembali ke alam sadarnya. Matanya masih menatap mata Alena.


"Kamu sayang aku, kan?" tanya Alena lagi.


Perlahan, Gatra tersenyum tipis. Matanya turun menatap bibir Alena. Entah setan dari mana, wajah Gatra dengan pelan mendekati wajah Alena. Pelan tapi pasti. Itu terjadi. Ciuman pertama Alena ada pada Gatra. Dan itu semakin membuat Alena yakin, bahwa perasaannya terhadap Gatra sudahlah benar.


Ciuman itu Alena anggap adalah sebuah jawaban dari Gatra bahwa cowok itu juga menyayanginya. Jadi, apa boleh Alena anggap bahwa hubungan mereka bukanlah sandiwara? Melainkan nyata?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...