ALENA

ALENA
81. Sesuatu Yang Tertinggal



🍃


🍃


🍃


"Tidak ada yang memperlakukan aku sebaik kamu. Tidak ada yang menjagaku sebaik kamu. Kamu yang paling mengerti dan memahami aku." Lasya.


Alena menatap interaksi menyenangkan antara Hardi dan Lasya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Awalnya dia mau masuk membawakan makanan dan minuman untuk suaminya, namun hal itu urung dilakukan ketika dirinya mendengar tawa ceria Lasya.


Gadis itu makan dengan lahap. Hardi menyuapinya dengan telaten, sesekali diselingi candaan yang membuat derai tawanya menggema di seluruh ruangan.


Seperti tak pernah terjadi sesuatu yang buruk.


Ada yang terasa nyeri di sudut hatinya.


Alena mundur kebelakang, membalikkan badannya. Langkahnya terhenti ketika mendapati wanita paruh baya yang tengah berdiri menatapnya dengan sendu. Ibunya Lasya.


Alena berjalan menunduk, tak mampu membalas tatapan seorang ibu yang tengah bersedih.


"Maaf." ucapnya, setengah berbisik.


Alena mendongak, dia mengatupkan bibirnya dengan rapat. Menahan sesuatu yang mungkin akan mengalir dari sudut matanya.


Gadis itu memutuskan untuk duduk diruang tunggu hingga kegiatan di dalam kamar rawat itu usai.


Lima menit


Sepuluh menit


Tiga puluh menit


Pintu kamar rawat Lasya tak kunjung terbuka. Mungkin penghuninya masih asyik bercengkerama.


"Lasya baru saja putus dari pacarnya," ibunya Lasya memulai pembicaraan.


Alena menoleh.


"Hidupnya terkekang, Rangga begitu posesif. Mengatur segala yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh Lasya. Alasannya karena dia juga sebagai managernya, jadi merasa berhak mengatur segala yang berhubungan dengan Lasya." menghela napasnya pelan.


"Dia menentukan apa yang harus dipakai, dimakan dan apapun harus sesuai dengan keinginannya. Tanpa memperdulikan Lasya setuju atau tidak."


"Lasya tak terbiasa hidup seperti itu. Dia terbiasa bebas menentukan apa yang dia mau. Bebas memakai apa yang dia suka."


"Hardi tak pernah mendikte nya tentang apapun. Makanan, pakaian, gayanya dalam melakukan segala hal, Hardi selalu membebaskan segala yang diinginkan Lasya. Hardi bahkan mendukung ketika Lasya memutuskan masuk dunia modeling dan ingin mengikuti audisi untuk sinetron."


"Kamu tahu, dia selalu menjadi orang pertama yang mendukung apapun keinginan Lasya."


"Tapi semuanya berubah ketika Lasya mulai sibuk di Jakarta, mereka jarang berinteraksi. Hubungan mereka mulai merenggang, apalagi stelah Hardi mengakui hubungannya dengan seseorang." wanita itu menatap Alena lekat-lekat.


"Tapi itu hal biasa, bukan? Dalam sebuah hubungan pasti akan ada masa dimana kita merasa bosan satu sama lain. Seharusnya itu tak terlalu mempengaruhi Lasya. Tapi kali ini keadaannya lain."


"Kami mendengar kabar bahwa Hardi akan menikah, Kami tidak percaya dan ingin meyakinkan hal itu. Makanya kami sengaja berkunjung, tapi itu malah membuat dia terpuruk."


"Kamu tahu, mereka berpacaran sejak kelas dua SMA. Mungkin itu yang membuat Lasya merasa terikat dengan Hardi."


Alena tetap terdiam.


"Saya minta maaf kalau kejadian ini menyakiti kamu. Sungguh, ini diluar kendali. Tapi, ijinkan Hardi sebentar saja menemani Lasya hingga dia pulih dan bisa menerima keadaan ini."


Alena tetap bungkam, hingga ibunya Lasya bangkit dan berlalu dari hadapannya.


*


*


Ting!!


Notifikasi chat berbunyi nyaring dalam kesepian ruang tunggu siang itu.


Alena merogoh tasnya, mengambil ponsel pintar dari dalam.


Tampak beberapa pesan masuk. Sebagian besar dari nomor Hardi.


[Al..]


[Kamu dimana?]


[Alena ...]


[Cepat kembali!!]


[Alena, jangan tinggalkan aku!!]


Dan beberapa pesan panik lainnya masuk bertubi-tubi.


[Aku disini, kak] dikirimnya balasan setelah beberapa lama.


Semenit kemudian pintu terbuka dari dalam. Tampak Hardi keluar dengan tergesa. Namun kemudian langkah nya terhenti ketika mendapati sang istri yang tengah terduduk di kursi tunggu.


Dengan langkah lebarnya Hardi segera mencapai sang istri yang terduduk lesu. Menarik tangan kurusnya hingga gadis itu bangkit.


"Kita pergi," katanya.


"Kak Lasya?" Alena mendongak.


"Dia tidur. Mungkin untuk waktu yang agak lama," jawab Hardi, balas menatap istrinya.


Alena terdiam. Hanya mengikuti langkah lebar suaminya dengan tergesa.


*


*


"Maaf." Hardi merasa harus mengucapkan sesuatu untuk menghilangkan kecanggungan.


"Kenapa minta maaf?" Alena menoleh.


"Kita harus berada di situasi seperti ini lagi." katanya, sendu.


Alena menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


"Cuma sebentar, kan? Sampai kak Lasya pulih." katanya, berusaha ceria.


"Kenapa kita nggak pergi aja? kabur gitu." Hardi setengah frustasi.


Alena terkekeh. "Kenapa harus kabur?"


"Kamu tahu, seharusnya ini bukan tanggung jawab aku, hubungan ku dengan Lasya sudah selesai lama sekali. Jadi kenapa aku harus ikut memulihkan dia dari depresinya? Dia depresi kan bukan gara-gara aku." Hardi bersungut-sungut.


"Tapi yang di rasakan kak Lasya itu berbeda, kak."


"Ck!! Aku nggak mau mikir kesana. Biar saja dia dengan pikirannya, kita dengan hidup kita yang sekarang. Apa masalahnya?"


"Jangan begitu lah,"


"Terus?? aaaa... ini memusingkan!! Kenapa aku harus berurusan lagi dengan Lasya?!!" meremas kepalanya kasar.


Alena kembali terkekeh. Tangannya terulur mengusap pundak suaminya yang frustasi. Memberi kekuatan.


"Kamu janji ya. Jangan salah faham. Apapun yang terjadi disana itu diluar kendali aku." Hardi meyakinkan.


Alena mengangguk.


"Kamu percaya aku, kan?" Hardi menoleh sekilas.


Alena mengangguk lagi. "Yeah ... Aku percaya."


"Nanti jangan ngambek!!" Hardi memperingatkan. "Kita nikah belum seminggu masa udah ada masalah seperti ini?!"


"Aku nggak akan ngambek." Alena tergelak.


"Kamu janji?" Hardi meyakinkan.


"Iya, aku janji."


Hardi tersenyum lega.


"Tapi aku agak merasa bersalah sama kak Lasya," Alena tiba-tiba, membuat senyuman dari bibir Hardi menghilang.


"Kenapa?"


"Andai dulu aku nggak mendekat, kita nggak mungkin kenal. Dan nggak mungkin bisa seakrab itu sampai ... " beberapa kejadian berkelebat di kepalanya.


"Jangan ngomong sembarangan!!" Hardi menyela.


"Aku cuma berandai-andai."


Hardi menggelengkan kepalanya.


"Aku merasa seperti perebut kekasih orang." Alena mengejek dirinya sendiri.


"Nggak ada yang merebut siapa-siapa. Aku yang memutuskan ingin bersama siapa."


"Tapi menurut kak Lasya nggak seperti itu." Alena mengulang pernyataannya.


"Mungkin jalannya harus seperti itu. Lagian kenapa sih harus selalu memikirkan apa yang Lasya rasakan?"


"Ya karena kenyataannya seperti itu. Kak Lasya masih merasa terikat dengan Kakak."


Hardi menoleh. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


Alena menghela napas, "Ya buktinya, dia selalu mencari kakak waktu dia lagi ada masalah seperti ini."


"Dia yang begitu. Aku nggak."


"Nah itu masalahnya. kakak menganggap semuanya sudah selesai sementara kak Lasya masih berharap."


"Seharusnya dia tahu, kita sudah menikah. Sudah nggak ada harapan lagi. Ngapain masih berharap?"


"Karena kakak belum menyelesaikannya."


"Iyakah?" Hardi menoleh lagi, dengan kening berkerut.


Alena kembali mengangguk.


"Selesaikanlah, beri kak Lasya pengertian yang jelas. Biar masalah ini nggak berlarut-larut. Aku capek!! Rasanya aku ingin menghilang saja!!" menyandarkan kepalanya ke belakang. Kemudian memejamkan matanya. Menanti perjalanan mereka sampai di rumah.


"Tidak akan!!"


Aku pernah kehilangan kamu satu kali, dan takkan membiarkanmu menghilang lagi!!


*


*


Bersambung ...


like koment sama vote nya gaess..


i need you!!!