
Mereka sampai dirumah Arya pada sore hari. Kedatangannya disambut teriakan nyaring si bocah imut kesayangan semua orang. Dilan, yang berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Mama, Mama, Mama!!" katanya, memeluk tubuh ibunya.
"Kangennnn!!" gumam Alena, menghirup aroma tubuh khas anaknya yang sangat dia rindukan.
Hardi ikut memeluk mereka berdua bersamaan. "Kamu nggak rewel?" tanyanya, menciumi kepala bocah itu.
"Noo..." Dilan menggeleng.
"Pinter." dielusnya kepala bocah itu.
"Kok sampainya sore? Katanya berangkat pagi-pagi?" Arya yang baru saja keluar.
"Iya. Habis dari rumahsakit dulu." Hardi menjawab.
"Siapa yang sakit?" Arya mengernyit.
"Temen aku." jawab Hardi.
"Raja? Sakit apa?" Arya penasaran.
Hardi menggeleng, "Bukan, teman yang lain." jawabnya, agak ragu.
Arya hanya manggut-manggut. Kemudian mereka berempat masuk ke dalam rumah.
Mereka memutuskan untuk menginap di rumah Arya malam itu.
"Maaf, kamarnya kecil," Alena yang duduk ditepi ranjang saat Hardi baru keluar dari kamar mandi. Suaminya itu hanya tersenyum, kemudian mendekatinya.
"Kasurnya juga nggak sebesar punya kakak diapartemen. Aku bilang untuk pulang ke apartemen malah nggak mau." katanya, menerima handuk yang disodorkan Hardi. Kemudian menaikkan kedua kakinya ke tempat tidur saat Hardi duduk ditepi ranjang, minta dia mengeringkan rambut basahnya.
"Dilan kemana lagi?" Hardi yang tengah menikmati perawatan di kepalanya.
"Sama Abang, kemana lagi? Dia kalau dirumah nggak mau jauh dari bang Arya."
"Mereka sedekat itu, ya?" gumam Hardi.
"Hu'um," Alena mengangguk. "Aku juga dulu waktu kecil gitu."
"Dih, sekarang juga masih. Kayak bayi!" Hardi mencibir.
Hardi menatap sekeliling ruangan. Kamar khas remaja. Banyak foto menempel di dinding. Sebagian besar foto masa kecil Alena. Dan beberapa foto saat remaja.
Hardi tertawa ketika pandangannya jatuh pada sebuah foto. Seorang gadis kecil berseragam putih biru dengan rambut di kuncir dua. Seragamnya nampak kedodoran. Dan foto lainnya juga dengan penampilan yang sama. Baju yang kedodoran.
"Kamu sepertinya suka pakai baju yang kegedean, ya?" Hardi tergelak saat mendekati dinding yang ada foto-foto Alena.
"Hah? mana?" Alena menghampiri.
"Ini. ini . ini juga," Hardi menunjuk banyak foto. "Badan kecil begitu, pakai bajunya kedodoran." katanya, tertawa lagi sambil menatap tubuh istrinya sekarang.
Alena tersenyum. "Abang dulu kalau beliin baju memang sukanya yang kegedean begitu. Aku dilarang pakai baju yang pas di badan. Baru pas udah kuliah aku boleh pakai baju apa aja yang aku mau."
Tawa mengejek itu surut dari bibir Hardi. "Abang kamu itu sepertinya mengatur segalanya buat kamu?"
Alena mengangguk. "Bukan cuma aku, sama kak Alya dan kak Anna juga begitu."
Hardi terdiam menatap wajah Alena.
"Umur berapa kamu ditinggal kedua orang tua kamu?" tiba-tiba ingin tahu setelah selama ini mereka berhubungan. Hardi baru sadar, banyak yang dia tak tahu tentang hidup Alena selain seputar menjelajah tubuh istrinya tersebut.
Alena terdiam sebentar.
"Kata Abang, ayah meninggal waktu aku masih dalam kandungan. Ayah supir taksi. Kena tabrakan beruntun waktu lagi narik penumpang." terdiam sebentar, mengingat-ingat.
"Kalau ibu meninggalnya waktu aku seumuran Dilan. Kalau nggak salah. Aku nggak ingat lagi. Nggak banyak yang di ceritain Abang."
Hardi menghela napas. Merangkul pundak Alena hingga merapat dengan dirinya.
"Kamu sedih? Pasti hidup kamu sulit sekali. Yatim piatu sejak kecil." Hardi dengan sendunya. Mendadak dia jadi sangat bersyukur masih memiliki orang tua yang lengkap. Keluarga yang hebat. Hidupnya tak pernah sulit. Apapun yang dia inginkan bisa dia dapat dengan mudah. Walaupun orang tuanya tak sekaya orang lain, tapi mereka selalu berusaha sebaik yang mereka bisa untuk anak-anaknya.
"Nggak. Aku nggak sedih. Abang bilang kita nggak boleh sedih. Walaupun kita nggak punya orang tua tapi kita berempat saling memiliki dan harus saling menjaga. Mungkin itu yang bikin Abang jadi agak overprotektif sama kami." menghela napas nya pelan.
"Hidupku juga nggak sesulit yang dibayangkan. Karena aku punya Abang yang selalu berusaha keras memberikan semua yang kami butuhkan. kami nggak pernah kekurangan."
"Kakak tahu, Abang itu bisa jadi ayah, ibu, teman, apapun yang ...
"Ya ya ya ... dia yang terbaik kan...? gunung es itu ternyata sehebat itu, ya."
"Eh?! Dia bukan gunung es tahu!!" Alena mengacungkan telunjuknya ke arah Hardi. Pria itu tergelak.
"Buat aku dia gunung es, susah ditaklukan. Aku pasti susah menandingi dia. Pasti sulit untuk menjadi seperti Abang kamu itu." Hardi kembali sendu.
"Kenapa harus seperti Abang?" Alena mengerutkan dahi.
"Melihat cara dia merawat kamu sejak kecil sampai dewasa, melindungi kamu, melakukan segala hal buat adik-adiknya, ... kekuranganku banyak." mendadak menyadari kesalahan yang di perbuatnya.
"Mendadak aku jadi ingin seperti dia." katanya lagi, menatap foto mereka berempat.
Alena terkekeh. "Nggak usah, jadi diri sendiri aja. Aku lebih suka kakak begini daripada harus meniru orang lain."
"Beneran?" Hardi menatap wajah tirus dihadapannya.
"Hu'um." mengangguk dengan bibir yang di kerucutkan. Menggemaskan.
Sedetik kemudian kedua tangannya telah mengunci tubuh mungil Alena. Kepalanya menunduk agar bisa mencapai wajah di bawahnya. Kemudian bibir mereka bertemu.
Awalnya hanya kecupan-kecupan lembut. Kemudian meningkat menjadi pagutan yang hangat. Lama-lama berubah menjadi ciuman yang menggairahkan. Saling menyesap dengan gigitan-gigitan kecil secara bergantian.
Menit selanjutnya entah sejak kapan mereka berpindah ke tempat tidur, sudah sama-sama tak berpakaian. Saling menyentuh bagian tubuh masing-masing, mengalirkan sensasi menyenangkan bagi keduanya.
Napas mereka semakin memburu karena hasrat yang kian menuntut untuk dituntaskan. Menautkan kedua tubuh mereka dalam penyatuan yang indah.
Desahan kecil beberapa kali lolos dari mulut Alena setiap kali Hardi menyentuhnya. Tubuhnya merespon dengan sangat indah. Menggeliat dan melengkung, membuat si tersangka utama tak bisa lagi mengendalikan dirinya.
Hentakan demi hentakan berlangsung secara beraturan. Menghadirkan sensasi yang sulit di jabarkan pada tubuh keduanya.
Alena harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan desahan keras agar tak lolos dari mulutnya. Walau bagaimanapun masih ada sedikit kasadaran di pikirannya. Mereka sedang di rumah Arya.
Makin lama hentakan itu maki kuat, makin cepat. Hingga sampai di ujung, hentakan terakhir membuat keduanya hampir menjerit, namun Hardi buru-buru meraup bibir istrinya agar bisa berbagi sensasi gila itu bersama. Hingga hanya dengusan napas yang terdengar kasar.
Tubuh keduanya mengejang, menerima pelepasan yang sungguh menyenangkan.
"I love you." Hardi mengecup kening Alena yang sama-sama terengah.
Mereka berpelukan hingga keduanya jatuh tertidur, masih dalam posisi bertautan.
*
*
Bersambung ...
Astaga!! pagi-pagi ini!! 🤣🤣
like koment sama vote lagi dong gaess.. please..
I love you makin full😘😘😘