
Matahari di hari senin kali ini sangat tidak bersahabat dengan murid-murid SMA Taruna, panasnya begitu menusuk dikulit para peserta upacara yang tak henti-hentinya mengeluh.
"Hey, diam kalian. Gak denger orang didepan lagi baca undang-undang?" tegur Bu Endang, yang memang terkenal galaknya. Murid-murid yang mengeluh tadi langsung terdiam saat suara Bu Endang terdengar.
Alena berusaha menahan pegal dan panasnya matahari yang memang berpapasan dengan wajahnya. Iya, Alena berbaris paling depan. Sebab tidak ada yang mau diposisi itu dan Bu Endang sudah keburu marah-marah, jadilah Alena mengalah. Dan disampingnya ada Pandu, yang tetap berdiri tegap. Dibelakang Alena ada Helena, cewek itu terus saja mengeluh kepanasan dan pegal, dia pikir hanya dia saja yang rasakan. Lalu Rana, ada di UKS, katanya perutnya sakit. Padahal Alena tahu, Rana hanya pura-pura.
"Panas, njir!" keluh Helena lagi. Topinya ia lepas dan dia gunakan untuk mengipas wajahnya.
"Hey, kamu! Pake topinya, jangan dibuka-buka, ini masih upacara!"
Helena langsung memakai topinya kembali saat suara Bu Endang terdengar menegur tingkahnya. Cewek itu mulai mengomel-ngomel pelan.
"Dasar guru, tau ngomel aja, mentang-mentang bisa enak-enakan neduh! Dia pikir ini gak panas, apa? Mana pegel lagi, bisa bengkak nih betis gue yang udah kayak Kylie Jenner!"
Alena menghembuskan nafasnya, lalu mengusap keringat yang mulai bercucuran dipelipisnya. "Udah, diem. Ntar kena teguran lagi." kata Alena dengan pelan tapi mampu didengar oleh Helena.
...****************...
Setelah itu, amanat kepala sekolah mulai berlangsung yang malah membuat murid-murid semakin mengeluh.
"Apa gue pura-pura pingsan aja, ya?" Helena berbisik pada Alena yang langsung membuat Alena menengok sekilas kebelakang.
"Apaan deh," balas Alena.
"Lo pura-pura pingsan, siapa yang mau angkat?" sahut Pandu. Cowok itu jadi ikut ngobrol sama Alena dan Helena.
"Banyak umat disini, gak mungkin gak ada yang nolongin gue." balas Helena. "Kenapa? Lo pikir gue berharap lo yang nolongin gue? Lo yang ngangkat gue? Iya?"
Pandu memasang ekspresi ingin muntah. "Idih, males banget, badan berat kayak gitu lo pikir gue mau susah-susah ngangkat?"
Alena hanya menghela nafasnya kasar, apa-apaan mereka berdua malah jadi berdebat. Jika kedengeran pasti masalahnya bakal panjang, belum lagi Pandu yang berbaris paling depan. Bisa-bisanya dia dengan santai meladeni Helena.
"Apaan?!" geram Helena, berusaha untuk tidak bersuara keras. "Lo tau darimana gue berat?!"
Pandu mengangkat bahunya. "Keliatan, gak perlu lagi tau darimana."
"Ish! Nyebelin banget sih, gue gak berat ya, timbangan gue cuma 50!"
"Apanya yang gak berat? 50 buat lo itu berapa? 15?"
Helena ingin melayangkan tangannya untuk memukul Pandu, tapi suara kepala sekolah yang terdengar marah membuat Helena menghentikan aksinya dan mulai menghadap kedepan saat dilihatnya juga Pandu melakukan hal yang sama.
"Jangan pernah contohi mereka ini!" kata Kepala Sekolah dengan tegas beserta amarahnya yang tersimpan.
Dari sebelah kanan, datang Gatra, Zidan, Rega dan Firly yang diawasi oleh Pak Hendro guru BP sekolah mereka dari belakang.
Mereka berempat berdiri tepat ditengah lapangan, dihadapan seluruh murid SMA Taruna yang berjumlah seribu lebih.
Pandu memejamkan matanya dan meringis saat melihat keempat sahabatnya itu lagi-lagi tertangkap. Sedangkan Alena mengernyit heran, apa yang sebenarnya terjadi? Dan mengapa ada Gatra?
"Mereka ini lah anak-anak perusak bangsa! Disaat semua orang upacara pada hari senin, mereka hanya menongkrong di belakang sekolah sambil merokok." tukas kepala sekolah membuat semua murid-murid peserta upacara menunduk, bukan karena merenung dengan ucapan kepala sekolah, melainkan menghindari sinar matahari sebab jika mereka menatap kepala sekolah sama saja mereka menyerahkan diri pada matahari secara cuma-cuma.
Alena terus saja memperhatikan keempat cowok itu yang hanya berdiri dengan santai dengan wajah yang sama sekali seperti orang tak punya dosa. Pandu yang disebelahnya terus saling berkode-kode dengan keempat sahabatnya itu.
"Kenapa bisa?" tanya Pandu hanya melalui gerakan mulutnya.
Zidan mengangkat bahunya. "Ketangkap," jawab Zidan, juga hanya menggerakan mulutnya.
Firly melambaikan tangannya pada Alena. "Hai, ibu peri!" sapanya, hanya menggunakan gerakan mulut juga.
Alena hanya menanggapinya dengan senyuman. Matanya beralih pada Gatra yang saat itu juga melambaikan tangannya menyapa Alena. Sedangkan Rega, cowok itu memberi kecupan jauh untuk cewek-cewek yang melihat kearahnya.
"Hey, kalian! Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak sadar kalau kalian sedang diberi hukuman?!" Akhirnya, kepala sekolah berhasil mengeluarkan kemarahannya begitu melihat keempat cowok itu hanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
...****************...
"Asli, parah! Bisa banget mereka berlagak seakan-akan kayak gak punya salah," cerocos Helena selama perjalanan mereka menuju kelas seusai upacara.
Alena hanya mengipaskan wajahnya menggunakan topi tanpa mau menanggapi ucapan Helena.
"Gila! Sekarang mereka masuk BP lagi, pasti Pandu yang sibuk bicara sama ketos,"
Alena mengernyit, saat mereka sudah duduk, Alena menengok kesamping dimana Helena duduk. "Kenapa jadi berhubungan sama ketos?"
"Ih, makanya, kalo gue ajak ke kantin itu ikut, kalo gue undang digrup itu gabung. Gini kan sekarang, lo gak ada hits-hitsnya, gak tau apa-apa, tentang si cogan-cogan aja lo gak tau!"
Alena hanya menyengir dan menggaruk kepalanya. "Ya, maaf."
Semenit setelah obrolan antara Alena dan Helena, Pak Irsyad—guru Agama masuk kedalam kelas. Lengkap dengan beberapa buku paket dipegangannya.
Ah, iya, sekedar informasi, Rana masih di UKS.
...****************...
Pandu berlari menuju ruang OSIS, mencari Bagas— sang ketua. Untuk hari ini, Pandu rela meninggalkan pelajaran Agama lagi demi keempat sahabatnya.
"Ada Bagas?" tanya Pandu begitu ia sampai di ambang pintu ruang OSIS. Anggota-anggota OSIS yang sedang mengademkan diri sontak langsung menatap kearah Pandu.
Pandu berdecak kesal saat cewek-cewek itu hanya menatap memuja pada dirinya. "Heh! Gue nanya, pada bisu lo semua?!"
Cewek yang satu tersadar. "Eh—Bagas, lagi kemana, ya?" tanyanya pada temannya yang duduk disebelahnya.
"Malah nanya lagi," kesal Pandu. Baru dirinya akan berbalik untuk meninggalkan ruang OSIS, Bagas muncul dihadapannya.
"Eh, kenapa Pan? Ada urusan?" tanya Bagas.
Pandu langsung menarik Bagas dibagian kerah seragamnya. Membenturkan tubuh bagas ketembok dan mencengkram kerah seragam Bagas.
"Kenapa lo, nyet?!" Bagas berusaha melepaskan cengkraman Pandu yang begitu kuat.
Rahang Pandu mengeras. "Bantuin temen gue!"
"Pan, gue.. gak bisa, gak gampang. Sekarang, guru gak bakal percaya lagi sama gue."
"Bacot!" sela Pandu. Cengrakamannya semakin menguat membuat wajah Bagas memerah akibat merasa tercekik.
"Bantuin atau jabatan lo cuma sampe disini?" desis Pandu, sorot matanya begitu tajam. Sisi Pandu yang seperti ini sangat jarang bahkan hampir tidak pernah terlihat. Mengingat Pandu adalah ketua kelas yang ramah, anak teladan, juga suka bercanda, maka tidak akan ada yang percaya bahwa Pandu semenyeramkan ini apalagi sudah menyangkut sahabatnya.
Bagas langsung mengangguk dan memukul-mukul tangan Pandu karena sudah merasa sesak. Pandu langsung melepaskan cengkramannya, menarik Bagas dan mendorongnya agar segera berjalan ke ruang BP.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...