ALENA

ALENA
84. Rasa Yang Sebenarnya



*


*


Hardi segera mengangkat tubuh Lasya di gendongan, membawanya turun ke ruang rawat dengan hampir berlari. Membaringkannya di tempat tidur, membiarkan dokter dan perawat melakukan tugasnya.


"Kamu nggak apa-apa?" Hardi ketika mendapati istrinya yang berjalan menghampirinya dengan Dilan diperlukan. Memeriksa tubuh Alena, takut terjadi sesuatu.


Alena menggeleng pelan. Dia menatap sendu wajah panik suaminya.


Hardi segera meraih tubuh kecil putranya. Menatap mata bulatnya yang sayu.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" mengusap kepala bocah itu dengan lembut. "Oh ... dia pasti shock harus melihat ini." Hardi memeluk tubuh kecil putranya dengan perasaan menyesal.


"Harusnya aku nggak membawa kalian kesini. Maaf ..." penyesalan tampak di wajahnya.


Alena masih terdiam menatap adegan di depan matanya.


"Kalau Dilan nggak ada, kalian pasti masih sama-sama." kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Alena.


Hardi menoleh. "Kamu ngomong apa sih?" mengerutkan dahinya.


"Kalau kami nggak ada, kakak pasti masih sama kak Lasya," ucap Alena lagi.


Hardi menelan ludahnya kasar. Kepalanya menggeleng pelan. Meraih tangan kurus Alea agar mengikutinya duduk di kursi tunggu.


"Aku sudah pernah bilang, percayalah kepadaku. Semua yang terjadi hari ini dan hari-hari sebelumnya itu diluar kehendak aku. Aku melakukannya sebagai sesama manusia. Karena rasa empati yang aku punya." Hardi menjelaskan.


"Kamu istri aku. Dilan anakku. Aku hanya milik kalian berdua sekarang, nggak akan ada yang mampu merubah itu. Apapun yang terjadi."


Alena menatap mata coklat itu lebih dalam lagi untuk mencari celah keraguan disana.


"Aku minta, jangan pernah meragukan sikap aku." seperti mampu membaca pikiran perempuan di hadapannya.


*


*


Satu jam lamanya mereka menunggu hingga dokter keluar dari ruang perawatan.


Kedua orangtuanya Lasya segera menghampiri dokter.


"Lasya mengalami shock berat. Tapi secara keseluruhan dia baik-baik saja. Luka di tangannya sudah pulih. Hanya tinggal menunggu dia siuman, dan melihat reaksi nya baru kita bisa menentukan penanganan selanjutnya." Dokter panjang lebar menjelaskan, dijawab dengan anggukkan dari kedua orang tua Lasya.


Hardi menghela napas pelan kemudian menghampiri dua orang tua di depan.


"Kalau begitu, saya pamit om, Tante." katanya.


"Oh, ... iya. Terimakasih, dan ... maaf karena selalu merepotkan kamu, Hardi." ibunya Lasya dengan mata yang berkaca-kaca.


Hardi mengangguk pelan dengan tersenyum lembut. Kemudian meraih tangan Alena, membawa gadis itu keluar dari rumah sakit.


"Kakak gak mau nunggu dulu sampai kak Lasya siuman?" Alena berbicara ketika mereka telah masuk kedalam mobil.


Hardi menyandarkan kepalanya, "Buat apa?"


"Siapa tahu kak Lasya cepat siuman."


"Terus, kalau Lasya udah siuman?" Hardi mengerutkan dahinya, melirik Alena.


"Mungkin kak Lasya maunya pas dia bangun itu orang pertama yang dia lihat ya kakak. Makanya dia sering ngamuk setiap kali dia bangun entah sehabis tidur atau pingsan."


Hardi menghela napasnya dalam-dalam. "Kamu sadar nggak, apa yang mungkin akan terjadi kalau aku bersikap seperti itu?" Hardi merubah posisi duduknya.


"Apa?"


"Akan timbul harapan yang makin besar dihati Lasya." menatap wajah tirus di kursi penumpang.


"Dia akan merasa bahwa diantara kami masih ada harapan. Dia akan mengira kalau aku masih punya perasaan sama dia."


"Emangnya kakak udah nggak ..."


"Ck!!" Hardi berdecak kesal. "Aku nggak mau bahas itu lagi. Aku capek. Mau pulang. Mau makan karena aku lapar. Mau tidur juga!!" tegasnya, menghidupkan mesin, kemudian menjalankan mobilnya menuju apartemen miliknya.


Alena terpaksa harus membungkam mulutnya tiap kali dia ingin bicara. Melihat raut wajah Hardi yang tampak gusar.


*


*


Petang telah menyapa ketika pasangan suami istri ini sampai di apartemen.


Hardi membaringkan Dilan yang terlelap di kasur yang baru saja dibelinya kemarin sebelum mereka pulang. Kasur yang terpisah dengan miliknya dan Alena, tapi masih berada di satu ruangan di kamar itu.


"Waktu aku ke Jakarta kasur ini belum ada?" Alena agak terkejut dengan keberadaan kasur mini di dekat jendela di samping tempat tidurnya bersama Hardi.


Suaminya hanya tersenyum menyeringai.


"Dilan udah dua tahun, masa mau tidur terus sama kita?!" katanya, sambil mengulum senyum.


Alena memicingkan mata, melihat gelagat mencurigakan dari sikap suaminya.


"Mencurigakan!!" gumamnya, pelan.


"Ck!! kasian kalau dia tidur dengan kita, nanti dia terganggu." senyum aneh mulai muncul.


Hardi terkekeh, kemudian mendekat.


"Nah itu tahu," katanya, meraih pinggang perempuan mungil dihadapannya.


Kepalanya menunduk agar sampai di wajah manis istrinya, dan segera meraup bibir mungil itu dengan hangat.


"Masih sore," Alena menjauhkan wajahnya, megap-megap.


Hardi tak menjawab, hanya tersenyum kemudian melanjutkan cumbuannya.


"Katanya capek, lapar, ngantuk ..." Alena mengingatkan omelan suaminya ketika di rumahsakit.


"Kamu berisik!! Bikin aku makin lapar.!" mengangkat tubuh mungil istrinya dengan mudah, membawanya ke tempat tidur miliknya. Membungkam bibir mungil Alena tiap kali gadis itu membuka mulutnya untuk berbicara.


Akhirnya Alena pun terdiam menerima sentuhan dan cumbuan yang dilakukan suaminya. Sesekali membalas, membuat keduanya sama-sama terhanyut dalam syahdunya suasana petang itu.


*


*


Aroma gosong tercium ketika Hardi keluar dari kamarnya, setelah beberapa menit lalu membersihkan diri.


Pria itu bergegas melihat ke dapur, takut ada benda tebakar disana. Didapatinya Alena tengah berdiri mematung di depan kompor, dengan tangan yang menggenggam spatula yang terhubung ke wajan diatasnya. Memasak makan malam mereka. Sementara matanya tertuju ke luar jendela. Menatap lampu jalanan yang berkelap-kelip di kejauhan. Pikirannya sedang mengembara jauh dari kepalanya. Dia bahkan tak menyadari benda gosong di hadapannya.


"Al, telurnya gosong!!" Hardi memadamkan api yang menyala, menjauhkan tubuh gadis itu dari wajan yang sedang mengepulkan asap pekat.


Alena tersadar ketika merasakan tubuhnya di tarik ke belakang. "Astaga!!"


Hardi segera membuka jendela agar asap keluar dan tak nenyebar ke seluruh ruangan. Kepanikan tampak kentara di wajah keduanya.


"Kamu kenapa, Al?!" Hardi setengah berteriak, memasukkan wajan gosong kedalam bak cuci dan mengalirkan air dari kran. "Jangan melamun! Kalau kebakaran gimana?" katanya.


Alena membeku, pikirannya baru terkumpul setelah beberapa menit lalu terberai entah kemana.


Tubuh kecilnya luruh kelantai, tiba-tiba dia tergugu, dengan masih menggenggam spatula di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menutupi wajahnya yang memerah.


Alena menangis.


Sejenak Hardi terdiam, namun segera tersadar bahwa dia barusaja membentak istrinya. Pria itu segera menghampiri Alena, kemudian duduk berhadapan, mensejajarkan posisi mereka berdua.


Hardi meraih pundak Alena, mendekatkan wajahnya, menempelkan kening mereka berdua.


"Maaf." katanya, berbisik. "Aku cuma kaget." katanya lagi, yang kemudian merangkul tubuh ringkih Istrinya hingga beralih ke pelukannya. Alena makin terisak, sesenggukan di dada bidang suaminya.


"Aku ... cuma ... takut." Alena ditengah isakannya.


Hardi mengelus punggung istrinya dengan lembut, berharap mampu menenangkannya.


"Apa yang kamu takutkan?"


"Aku takut kita berpisah lagi." akhirnya pengakuan lolos dari bibir mungilnya.


"Aku takut semuanya tak seperti yang aku harapkan. Tak seperti yang aku pikirkan."


"Dulu aku bisa kuat, tapi aku nggak tahu kalau sekarang. Mungkin aku akan hancur seperti kak Lasya, ..." tangisnya pecah. Tubuh kecilnya bergetar di pelukan Hardi.


Ketakutan itu tiba-tiba menyeruak setelah apa yang dia alami beberapa hari ini. Baru saja mereka disahkan dalam ikatan pernikahan beberapa hari yang lalu, namun sesuatu kini malah hadir tanpa diduga. Kehadiran Lasya yang tiba-tiba.


Walau berulang kali hatinya menyangkal, tapi tetap saja penyesalan dan rasa takut terus saja menggelayut dalam benak nya.


Rasa bersalah kemudian hadir. Merasa telah merebut seseorang dari kekasihnya. Menghancurkan harapan orang lain. Kemudian ketakutan datang mengikuti. Takut hal yang sama terjadi padanya suatu hari nanti.


"Kamu nggak percaya aku, Al?" kedua ibu jari Hardi mengusap pipi Alena yang basah. Menatap mata bulat yang masih berkaca-kaca.


"Aku hanya takut ..." Alena hampir berbisik.


"Perasaan aku sama Lasya sudah lama hilang, bahkan jauh sebelum kita dekat. Aku nggak tahu kenapa aku masih betah menemani dia padahal hatiku sudah nggak disana."


"Yang aku lakukan hanya mengikuti keinginan dia, membiasakan diriku dengan segala kebiasaan dan kedominanannya."


Hardi menghela napas.


"Pernah sekali waktu aku mencoba mengakhiri hubungan itu, tapi gagal karena Lasya berbuat nekad seperti yang sudah kamu tahu. Dia selalu berbuat seperti itu untuk menahan aku."


"Hingga akhirnya kita ketemu. Kita mulai dekat. Saat itu aku menyadari ada hal lain yang aku rasakan waktu aku dekat dengan kamu, yang nggak aku rasakan waktu aku bersama Lasya."


"Aku fikir itu hanya perasaan sementara. Mungkin karena aku bosan. Tapi makin lama perasaan itu semakin besar. Aku bahkan nggak bisa mengontrol diriku sendiri kalau aku lagi dekat dengan kamu." Hardi tersenyum. Otaknya secara perlahan memutar segala yang pernah terjadi antara dirinya dan Alena.


"Aku nggak ngerti kenapa bisa begitu. Bisa kamu jelaskan, Al? Kenapa kalau dekat kamu aku jadi pribadi yang lain? Maksudku, aku bisa jadi diri sendiri. Aku nggak harus berpura-pura pendiam, aku nggak harus selalu mengalah. Aku bisa memegang kendali atas diriku sendiri."


"Aku nyaman dengan kamu."


kemudian memeluk erat tubuh yang hampir meringkuk itu di pekukannya.


*


*


Bersambung ...


like, komen, vote!!