ALENA

ALENA
Alena-20



Alena sudah duduk di teras rumahnya dengan sekotak tupperware berwarna pink dipangkuannya. Cewek itu terus tersenyum manis menatap bekal sarapan yang ia bikin untuk Gatra. Sesekali matanya melihat ke arah gerbang, siapa tahu mobil Gatra sudah ada disana.


"Tumben banget kamu, bangun pagi tanpa dibangunin. Bikin sandwich, dibawa ke sekolah lagi."


Alena menengok pada Nova yang berdiri disampingnya. Cewek itu semakin tersenyum lebar.


"Iya deh, Bunda paham. Anak lagi mabuk cinta emang gitu,"


"Apaan sih, Bunda."


Nova tersenyum. Mengelus puncak kepala Alena dengan sayang. "Bunda suka loh sama Gatra, anaknya baik. Ayah aja penasaran karena Bunda sering cerita,"


Alena terkekeh. Asal Bundanya tahu saja, Gatra yang sebenarnya itu seperti apa.


"Pasti Ayah mau ajak main futsal, kan?"


"Iya lah, kamu tau sendiri Ayah kamu itu gimana."


Alena tertawa. "Tapi Bunda tetep cinta."


"Iya, dong." Nova tersenyum lalu tertawa pelan.


"Sayangnya, Gatra lebih jago main basket. Tau deh kalo futsal,"


"Gapapa, Ayah cuma mau ngobrol sama Gatra. Bilangin ya ke Gatra, selagi Ayah masih di rumah, main kesini keburu Ayah pergi bertugas lagi." kata Nova bersamaan dengan klakson mobil milik Gatra berbunyi.


Alena langsung berdiri. Senyumnya semakin lebar saat Gatra sudah berada dihadapannya dan Nova.


"Pagi Bunda, Pagi Al." Gatra tersenyum dan menunduk sopan.


"Pagi," balas Nova. "Berangkat gih, nanti kalian pada telat."


Gatra mengangguk kemudian melihat kearah Alena dan memberinya kode untuk segera berangkat. Seakan mengerti, Alena langsung mencium tangan Nova diikuti oleh Gatra. Lalu, keduanya pamit dan segera berangkat ke sekolah.


...****************...


Alena bersenandung mengikuti lagu yang mengalun dalam mobil Gatra. Senyuman dibibirnya tidak pernah luntur sedari tadi, pandangannya tertuju pada jalanan di depan, sesekali ke samping.


"Seneng banget kayaknya," tegur Gatra.


Alena menengok. Cewek itu hanya cengengesan yang malah membuat Gatra terkekeh.


"Bawa apaan, tuh?" Gatra menunjuk kotak tupperware dipangkuan Alena dengan dagunya.


"Oh, ini. Astaga, untung kamu nanya. Aku hampir lupa," Alena membuka tupperwarenya dan memperlihatkan beberapa sandwich itu pada Gatra.


"Uuu..."


Alena terkekeh. "Ini bekal sarapan buat kamu, kamu udah sarapan?"


Gatra menggeleng. "Belum nih, gak sempet tadi."


"Yaudah, ini aja ya?"


Gatra mengangguk semangat. Kemudian mulai membuka mulutnya menyuruh Alena untuk menyuapkan sandwich tersebut.


"Aku loh yang buat,"


Gatra manggut-manggut sembari mengunyah sandwich buatan Alena yang memang bisa dibilang enak.


"Pengen jadi chef, ya?" tanya Gatra begitu makanannya sudah ia telan dan kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan Alena.


"Enggak sih, pengennya jadi dokter."


"Amin." tambah Gatra disela-sela ia mengunyah.


Begitu semua sandwich sudah habis disantap oleh Gatra dan sesekali juga Alena ikut makan, Gatra memanggil Alena bertepatan dengan berhentinya mobil Gatra karena sudah sampai di sekolah.


"Kenapa?" tanya Alena saat mereka berdua mulai berjalan masuk ke dalam sekolah.


Alena tidak lagi mengindahkan tatapan-tatapan murid yang lain. Bahkan Alena tidak peduli lagi soal Jenny, toh sekarang ada Gatra disampingnya. Siapa yang berani mengganggunya jika ada Gatra.


"Gania besok mau balik lagi ke London, dosennya manggil tiba-tiba."


"Terus?" Alis Alena terangkat sebelah.


"Dia pengen jalan ntar sore, dia nyuruh gue buat manggil lo nemenin dia jalan. Bisa, nggak?"


Alena mengangguk paham. "Bisa, kok. Aku gak ada acara apa-apa ntar sore,"


Gatra tersenyum. "Yaudah, ntar sore gue jemput ya jam stengah lima."


Alena mengangguk seraya ikut tersenyum. Tak lama kemudian mereka berdua sampai di kelas Alena.


"Masuk gih, belajar yang bener biar bisa jadi dokter."


Gatra tertawa pelan dan mengacak rambut Alena, setelah memastikan Alena sudah duduk dengan aman dibangkunya, Gatra mulai melangkah dengan rahang yang mengeras menuju kelas XII IPS1. Kelas Jenny.


...****************...


"Gue gak tau lagi harus gimana ngomong sama lo biar lo tuh ngerti, capek nih mulut gue!"


Jenny menangis tersedu-sedu dihadapan Gatra. Cewek itu perlahan menggapai tangan Gatra untuk dia genggam.


"Jangan sentuh gue!" bentak Gatra dan menarik tangannya kasar. "Apalagi sih, Jen? Kenapa lo terus gangguin Alena? Apa kurang jelas hubungan gue sama Alena selama ini?"


"Kenapa lo lebih pilih dia, Gat? Kenapa lo gak pilih gue yang udah deket sama lo dari kelas 10?! Sedangkan dia, lo bahkan belum sampe setahun kenal sama dia, Gat!"


Gatra berdecih. "Terus kenapa?"


Jenny menatap Gatra dengan air matanya yang semakin banyak mengalir.


"Apa lo gak bisa liat gue disini, Gat?"


"Gue udah liat lo ini, didepan gue gak mungkin gue gak liat. Kalo gue gak liat berarti gue buta." Gatra melipatkan tangannya di depan dada.


Jenny menatap Gatra memohon. "Plis, Gat.. Gue janji bakal jadi kayak apa yang lo mau, gue janji. Tapi plis, lo tinggalin dia. Gue bisa dan gue siap untuk selalu ada buat lo,"


Gatra menghela nafasnya lalu menurunkan tangannya dan beralih memasukkan kedalam kantung celana abu-abunya, lalu mulai menatap Jenny dengan serius.


"Gue gak cari itu, Jen. Yang cantik itu banyak, yang selalu ada itu banyak, tapi, yang nyaman itu susah buat dicari. Elo cantik, gue akuin itu. Tapi, kenapa lo malah mempersulit diri lo demi ngejar gue yang jelas-jelas udah punya pacar? Banyak ikan di laut, Jen. Bukan berarti lo deket sama gue udah lama terus lo berharap bisa sama gue, coba lihat ke depan jangan lihat ke belakang lagi.


"Lo tau? Selama ini, lo nyiksa Alena yang sama sekali gak tau apa-apa itu bikin diri lo keliatan kayak monster. Cewek sepolos Alena, bukan tempat yang cocok untuk jadi tempat pembullyan lo."


Gatra menepuk bahu Jenny pelan. "Walaupun lo mau nyiksa Alena sebanyak apapun itu gak akan pernah bisa bikin dia lepasin gue, mulut dia emang bilang nyerah tapi hatinya tetep kuat. Gue gak nuntut apapun dari lo karena udah nyiksa Alena dengan sadis kemaren, gue cuma mau, lo berenti gangguin Alena lagi dan buka hati lo buat orang lain. Kan gak lucu kalo nanti sampe gue nikah lo masih suka sama gue, emang gak kasian sama hati lo yang terus-terusan sakit?"


...****************...


Alena dan Gatra berjalan beriringan menuju kantin Mbah Geng. Keduanya disambut oleh teriakan-teriakan menggoda dari Rega dan Firly lalu disusul oleh tawa Pandu dan Zidan.


"Awas!" Gatra mendorong Firly hingga cowok itu hampir terjungkal.


"Ih. Ibu Peri, liat tuh cowok lo, kasar!" adu Firly sambil memasang wajah sok kesalnya.


Gatra menjitak kepala Firly. "Jijik, goblok!"


Alena yang melihat itu hanya tertawa pelan. Kemudian mulai duduk disamping Gatra.


"Mbah, kayak biasa dua." pesan Gatra yang langsung diangguki Mbah Geng.


"Eh, Gat, tadi gue liat Jenny masuk kelas sambil nangis bombay. Lo apain?" tanya Rega sambil menyedot milo dingin milik Zidan.


"Sok-sokan ngobrol, minum gue disedot. Tai sekali," Rega hanya menyengir lebar mendengar Zidan yang mulai kesal.


Alena yang mendengar pertanyaan Rega mulai mengernyitkan dahi.


"Gak gue apain. Cuma gue kasih pengertian,"


Firly menghembuskan asap rokoknya sebentar kemudian ikut mengobrol. "Tapi, dia bilang gini 'Gatra jahat' itu mulu diulang-ulang, sampe panas kuping gue dengernya." ucapnya dengan mengikuti gaya Jenny berbicara.


Pandu berdehem membuat keempat sahabatnya melihat ke arahnya. Pandu langsung menunjuk Alena dengan dagunya membuat keempat orang itu mengikuti arah yang ditunjuk Pandu.


"Eh-- itu, Ibu Peri jangan salah sangka dulu." Rega mulai gelagapan. Masalahnya, dia adalah orang yang membahas Jenny terlebih dahulu.


"Gue cuma ngasih tau ke Jenny buat gak gangguin lo lagi. Dan gue nyuruh dia juga buat buka hati untuk orang lain," tukas Gatra yang langsung membuat hati Alena lega.


Alena mengangguk paham dan tersenyum pada Gatra.


Tak lama dari itu, makanan Alena dan Gatra sudah datang. Mereka berdua mulai sibuk dengan makanan masing-masing, sedangkan keempat sahabat Gatra sudah sibuk main ML.


"Al," panggil Gatra setelah meneguk air mineral yang ia suruh Firly ambil di kulkas Mbah Geng tadi.


"Hm?"


"Ntar pulang sekolah, kayaknya gue gak bisa anterin pulang, deh."


Alena mengernyit. "Kenapa?"


Gatra menggaruk belakang lehernya sebentar. "Itu-- anu, gue.. Ada urusan di rumah. Tapi sorenya tetep jadi, kok. Gue bakal tetep jemput,"


Setelah itu Alena hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Gapapa, kan? Lo gak marah, kan?"


Alena terkekeh. "Gapapa, kok. Ngapain aku marah, sih. Kamu kan ada urusan, masa aku mau larang. Lagian, aku gak berhak ngelarang kamu, aku kan bukan siapa-siapa kamu. Iya, kan?"


Mendengar kalimat Alena itu membuat tubuh Gatra menegang. Hatinya berasa seperti terhimpit. Apalagi saat melihat senyuman yang ia tahu hanya Alena paksakan, membuat Gatra semakin ingin memukul dirinya sendiri. Atau dia menyuruh keempat sahabatnya saja yang memukulnya, toh mereka sama-sama tukang berkelahi dan tawuran. Jadi pukulan mereka sama-sama kuat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...