ALENA

ALENA
75. The Day



💐💐💐💐💐💐💐💐


Alena menyusuri tiap ruang yang ada dirumah itu, mencari keberadaan putra semata wayangnya, yang dari semalam tak bersamanya.


Terdengar teriakan Hardi dari belakang rumah.


Terlihat calon suaminya tersebut tengah bermain bola dengan putranya. Alena tersenyum lega.


Gadis itu berjalan menghampiri mereka, kemudian duduk di kursi taman dekat teras luar.


Hardi melirik sekilas, kemudian tersenyum. Lalu kembali melemparkan bola ke arah Dilan.


"Udah sore!!" Alena setengah berteriak ke arah ayah dan anak yang sedang asyik bermain di taman dengan bolanya yang menggelinding kesana kemari.


Hardi menoleh, diam sebentar kemudian menggendong tubuh kecil putranya yang sedang memeluk bola. Membawanya menghampiri Alena.


"Udah sore, mandi dulu!" katanya lagi, meraih Dilan dari pelukan papanya.


"Mama sama Papa belum pulang, ya?" Hardi mengalihkan pembicaraan.


"Belum kayaknya." jawab Alena, menggendikkan bahu.


"Kemana ya mereka?" Hardi bertanya lagi.


"Mana aku tahu, kan gak laporan sama aku. Lagian hari ini aku kan sibuk." menjawab dengan mendelik kan matanya.


"Sibuk apa?" Hardi terkekeh.


"Luluran." Alena tergelak. Mengingat dari pagi dirinya di tawan di kamar oleh terapist panggilan calon ibu mertuanya untuk menjalani perawatan tubuh.


Hardi mencibir. "Sekarang udah selesai?" tak urung juga dia bertanya.


"Udah, makannya aku bisa keluar kamar." Alena menganggukkan kepalanya.


Hardi menyeringai dengan anehnya.


"Kenapa?" Alena mengerutkan dahi hingga kedua alisnya bertemu.


"Kak Hana udah balik dari belanjanya belum?" bertanya, mengalihkan perhatian.


"Belum kayaknya." Alena masih mengerutkan keningnya.


Hardi tersenyum, mengangkat kedua alisnya bergantian.


"Apaan?" Alena membulatkan matanya, mencurigai kelakuan sang calon suami.


Sedetik kemudian dia menyadari apa yang sedang ada dalam pikiran Hardi.


"Dasar mesum!!" katanya, memutar bola matanya. Kemudian merebut Dilan dari pelukan Papanya. Dan segera berlari memasuki rumah.


Hardi hanya tergelak menatap punggung calon istrinya hingga dia menghilang dibalik pintu.


*


*


*


Rumah sudah ramai sejak subuh. Semua orang tengah bersiap-siap. Keriuhan mulai terdengar dari ruang tengah saat Hardi barusaja keluar dari kamar sudah dengan berpakaian lengkap. Stelan jas berwarna abu-abu muda melekat pas di tubuh atletisnya. Dengan kemeja putih melapisi bagian dalamnya.


Rambut hitamnya yang telah dicukur rapi kemarin sore mempertegas ketampanannya hingga bertambah berkali lipat. Ditambah aura kebahagian yang terpancar jelas dari wajahnya.


Begitupun dengan anak laki-laki kesayangannya, yang memakai stelan serupa dengan dirinya, terlihat menggemaskan dengan ditambah dasi kupu-kupu berwarna merah melekat di lehernya.


Sesekali Hardi melirik ke arah tangga dimana kamarnya terletak. Tempat calon istrinya tengah di dandani oleh perias panggilan ibunya.


Dadanya berdegup kencang. Kegugupannya mulai melandanya.


"Kalau udah beres juga pasti turun." kata salah satu tantenya yang dari tadi memperhatikan gelagat dari keponakannya tersebut.


"Nggak usah gugup gitu kali, kayak baru pertama kali aja." sahut yang lainnya, menimpali. Kemudian gelak tawa menggema di seluruh ruangan itu.


Tepat jam 8 seorang penghulu tiba di kediaman orang tua Hardi. Disusul kehadiran Alya dan suaminya, Vania juga ibunya yang mewakili keluarga Alena. Membuat pria itu semakin gugup.


Karena permintaan Linda, ijab kabul yang tadinya akan dilangsungkan di kantor KUA menjadi di alihkan ke rumahnya. Tanpa ada yang bisa mencegah jika ibu negara sudah mengeluarkan perintahnya. Semua orang hanya bisa menurut.


*


*


Dengan pelan, Alena melangkahkan kaki kecilnya keluar dari kamar Hardi yang beberapa hari ini ditempatinya.


Dadanya berdegup begitu kencang. Kedua telapak tangannya bahkan sampai berkeringat saking gugupnya gadis itu.


Beberapa kali dia berhenti untuk mengambil napas dan menenangkan dirinya sendiri.


Gaun berwarna putih gading selutut berlengan pendek yang dia kenakan. Dengan area pundak ke belakang yang agak terbuka sedikit.


Rambut sepunggungnya yang kini kembali menghitam di gerai begitu saja dengan sedikit gelombang di bagian bawahnya. Dengan makeup tipis, pemulas pipi berwarna soft peach dan lipstick cenderung nude membuat wajah tirusnya terlihat segar. Alena tampak cantik sekali.


Senyum agak canggung terbit dari bibir mungilnya. Semua orang pun ikut tersenyum ke arahnya. Hanya satu orang yang terdiam.


Si pengantin pria tampak membeku menatap gadis yang beberapa jam lagi akan segera sah menjadi istrinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Darahnya seperti berhenti mengalir. Sejenak dia bahkan sepertinya lupa untuk bernapas.


"Lebay." Raja yang baru saja tiba, membuyarkan imajinasi dalam kepala Hardi. Membuat calon pengantin pria itu tersadar dari lamunannya.


"Ck!!" Hardi berdecak dengan sebal nya. Semua orang yang ada dalam ruangan itu tertawa.


Alena berjalan ke ruangan itu, dimana hampir semua orang tengah berkumpul, menunggu dimulainya acara.


"Baik, kalau semua sudah hadir, bisa kita mulai acaranya?" sang penghulu berucap, membuat semua perhatian tertuju kepadanya.


"Tunggu sebentar lagi, pak." Linda menjawab dengan tergesa.


"Memangnya siapa yang belum datang? Kayaknya semua udah ada deh." Hardi protes.


"Tunggu sebentar lagi," Linda kembali berujar. Matanya terus melirik ke arah pintu. Seperti menunggu kehadiran seseorang. Kedua tangannya berpegangan pada lengan suaminya, seperti meminta kekuatan.


Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, yang ditunggu tak kunjung datang. Sang penghulu melihat jam di pergelangan tangannya.


"Hampir jam sepuluh, Bu." katanya, mengingatkan.


"Saya tahu, pak. Tunggulah sebentar lagi." Ujar Linda, dengan dada yang berdegup kencang.


"Mama nunggu siapa sih?" Hardi berbisik kepada Hana. Yang dimaksud hanya menggelengkan kepalanya.


"HH..." pemuda itu mendengus kasar.


Suasana agak riuh dengan bisik-bisik dari kerabat yang hadir. Dengan pikiran mereka yang menerka-nerka.


"Sudah jam sepuluh, Bu." penghulu berujar lagi.


Linda menghela napasnya dalam. Rasa kecewa merayap dalam dadanya. Kedua mata sayunya berkaca-kaca. Orang yang diharapkan ternyata tak muncul.


Suaminya meremas kedua tangan yang saling bertumpu, menguatkan istrinya.


"Its ok, Ma." katanya, setengah berbisik.


"Tapi, pa?" Linda hampir menangis.


Suaminya menggelengkan kepala. Mengusap punggungnya dengan lembut. Kembali tersenyum walau hatinyapun agak kecewa. Usahanya terasa sia-sia.


"Bagaimana?" penghulu bertanya lagi.


"Baiklah, silahkan dimulai." katanya dengan suara lemah.


Kedua mempelai duduk berdampingan di depan penghulu.


Kemudian penghulu memulai acara dengan beberapa kata pembuka. Diselingi doa, dan segala tek-tek bengeknya tentang pernikahan.


"Baik, karena tidak adanya wali nikah untuk saudari Alena disini, saya menyatakan diri sebagai wali hakim yang akan menikahkan ananda berdua, dengan saksi orang tua, atau saudara dan pihak keluarga saudari Alena." penghulu memulai prosesi.


Papanya Hardi dan Raja maju sebagai saksi dari mempelai pria, sementara Alya dan suaminya sebagai wakil keluarga Alena.


"Baik, kita mulai."


Semua orang menyimak dengan jantung berdebar.


Penghulu mengulurkan tangan kanannya, disambut Hardi dengan posisi bersalaman.


"Saudara Hardi Pradipta, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Alena Prameswari dengan mas kawin 20 gram emas dibayar tunai."


Semua orang seperti tengah menahan napas untuk Hardi.


Pria 26 tahun itu baru saja membuka mulutnya hendak mengulang kata-kata yang keluar dari penghulu, namun suara yang tak asing terdengar berteriak dari arah belakang memecah kesunyian ruang ijab kabul pagi itu.


*


*


Bersambung...


Satu episode lagi gaess, ... kalian masih mau diem aja gak mau komen gitu?


Okelah ... 😖


tapi karena kalian udah mau mampir dan baca tulisan gaje ini, aku tetep love you full 😘😘😘