ALENA

ALENA
Alena-18



Hari ini Alena sendirian. Helena tidak masuk sebab cewek itu merasa tidak enak badan, padahal kemarin dia baik-baik saja cuma katanya perutnya sakit dan kepengen muntah. Rana, cewek itu entah kemana, tidak ada kabar sama sekali tentang dirinya hari ini, Alena yakin pasti dia ketiduran. Sedangkan Gatra, cowok itu pasti sedang bolos. Bangku Pandu saja ikutan kosong.


Saking tidak ada teman, Alena terpaksa pergi ke kantin sendirian. Ini pertama kalinya, jadi Alena merasa agak sedikit aneh. Ah, tadinya Alena ingin mengajak Asdel atau Dinda, tapi Asdel juga sedang tidak hadir dan Dinda sedang ngapel sama Bagas.


Alena berjalan menuju kantin Bude yang beberapa minggu lalu sudah ia kenal dengan baik. Tadinya Alena ingin ke kantin Mbah Geng tapi ia sedang tidak bersama Gatra jadi Alena masih berpikir banyak kali lagi untuk kesana tanpa Gatra disampingnya.


"Bude, cilok sama teh kotak kayak biasanya, yah?" pesan Alena yang langsung diangguki oleh Bude.


"Mau makan disini, neng?"


Alena menggeleng sambil tersenyum. "Aku bawa ke kelas aja, Bude."


Bude mengangguk lalu memberikan pesanan Alena.


"Makasih, Bude." kata Alena dengan sopan sehabis memberikan selembar uang 20 ribu pada Bude.


Setelah itu, Alena mulai melangkahkan kakinya lagi untuk kembali ke kelas. Dalam perjalanan, Alena lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya pelan. Bisikan-bisikan itu kembali terdengar lagi, tatapan-tatapan jahat itu terus mengawasi setiap gerak-gerik Alena. Huft, mereka berani seperti itu jika Gatra tidak ada.


"Heh!"


Badan Alena terdorong begitu saja saat Jenny datang dan mendorong bahu Alena cukup kuat.


Alena menatap Jenny dengan pandangan bertanya. Dahinya mengernyit heran.


"Ikut gue!" tukas Jenny. Tangannya menginterupsi kedua pengikutnya untuk menarik Alena.


"Apa-apaan, nih!" Alena memberontak. Tangannya terus bergerak agar terlepas dari pegangan kedua pengikut Jenny.


...****************...


Sesampainya mereka di toilet perempuan, Jenny langsung mengunci pintunya agar tidak ada yang masuk. Kedua pengikutnya mendorong Alena hingga cewek itu terjatuh ke lantai, bungkusan yang berisi cilok dan teh kotak yang ia beli terlempar begitu saja.


"Aw..." ringisan Alena terdengar menggema di dalam toilet.


Jenny berdecih. "Ternyata gini, yah? Giliran gak ada Gatra sama kedua sahabat lo aja lemah banget, kalo ada mereka lo sok kuat, ih!"


Alena berusaha berdiri seraya menahan sakit pada pergelangan kakinya akibat keseleo sewaktu didorong secara kasar tadi.


"Kamu mau apa?" tanya Alena, dilihatnya Jenny yang berjalan mendekat padanya sambil memperlihatkan sebuah gunting dipegangannya.


"Bagusnya, gue mau apa?" Jenny tersenyum sinis. Dengan begitu cepat tangannya menarik rambut Alena hingga membuat cewek itu meringis kesakitan.


"Sakit, Jen.. Lepasin!" Alena berusaha melepaskan tangan Jenny dari rambutnya tapi sepertinya itu sia-sia. Tenaga Alena tidak begitu kuat, Alena menyesal tidak menyukai olahraga.


"Sakit?!" Jenny berdecih. "Asal lo tau, sakit yang lo rasa gak sebanding sama sakit hati yang gue rasa! Lo pikir, hati gue gak sakit liat lo sama Gatra setiap hari berduaan? Lo pikir hati gue gak sakit, ngeliat lo sama Gatra jalan berduaan di mall, hah?!"


Air mata Alena mengalir begitu saja saat rasa sakit dikepalanya semakin menjadi akibat rambutnya yang ditarik begitu kuat. Belum lagi pergelangan kakinya yang terasa begitu sangat sakit karena dipaksa berdiri.


"Jen... A-- aku minta ma-- maaf," Alena mulai sesenggukan.


Jenny hanya tertawa jahat melihat itu. Kemudian, dia menyuruh kedua pengikutnya untuk mengambil segayung air.


"Siram!" perintah Jenny.


Alena menggeleng. "Enggak, jangan!"


Tanpa perlu diperintah dua kali, salah satu pengikut Jenny langsung menyiram Alena. Merasa tubuhnya sudah dibasahi oleh air, Alena hanya bisa pasrah. Air matanya semakin banyak mengalir.


"Lagi!"


Alena hanya pasrah lagi saat gayung kedua menyiram dirinya. Alena hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ada orang yang bisa menolongnya. Tapi, mengingat pintu yang sudah Jenny kunci, pupus lah harapan Alena.


"Gue sering liat Gatra ngelus rambut lo," ucap Jenny disertai senyuman liciknya. "Gue gak suka liat itu. Gimana kalo rambut lo gue potong?"


Alena sontak terkesiap. Cewek itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak. Aku mohon Jen, jangan lakuin itu!"


Jenny tertawa jahat lagi. "Tapi gue mau!"


Alena kembali menangis saat Jenny berhasil memotong rambut bagian ujung Alena, cewek itu langsung menginjak kaki Jenny menggunakan kaki kirinya saat gunting itu akan Jenny gunakan untuk memotong rambut Alena lebih banyak. Dan itu berhasil, Alena terlepas dari Jenny.


"Sialan!" maki Jenny. Kembali dia mendekati Alena yang berjalan mundur dengan tertatih.


Jenny menyuruh kedua pengikutnya untuk menahan Alena dan dengan segera mereka langsung patuh. Alena kembali memberontak saat ia sadar bahwa Jenny ingin menggunting seragamnya. Untuk apa dia melakukan itu?


Sayangnya, Alena begitu tidak berdaya dalam tahanan kedua pengikut Jenny. Alena hanya bisa menangis dengan kencang dan bermohon pada Jenny untuk berhenti. Dan pada akhirnya Alena hanya pasrah saat seragam bagian lengan serta bagian perutnya digunting oleh Jenny tak lupa juga roknya yang menjadi semakin pendek.


Sebelum Jenny pergi, dia kembali menjambak rambut Alena hingga posisi Alena jadi terduduk dengan paksa, kalian bisa bayangkan bagaimana kuat dan kasarnya Jenny menarik rambut Alena. Setelah mengucapkan beberapa patah kalimat, Jenny menampar Alena karena Alena sempat membantah, kemudian cewek gila itu langsung pergi mengunci Alena di dalam toilet.


...****************...


"Iye, ah! Nanya mulu lo, lagian gue mau ngambil mobil gue sama jemput Alena,"


Gatra langsung keluar dari mobil Rega tanpa mau mendengar kalimat yang akan keluar lagi dari mulut sahabatnya sejak SMP itu.


Mobil Rega langsung melesat dengan lajunya saat Gatra sudah masuk melewati gerbang sekolah. Gatra berjalan dengan santai masuk ke dalam sekolah yang sudah sepi. Memang, sekarang sudah pukul tiga, orang-orang pasti sudah pada pulang.


Gatra berjalan menuju kelas Alena sambil menenteng sebuah jaket warna putih yang kembar dengan jaket yang ia pakai, bedanya yang Gatra pakai berwarna hitam. Cowok itu tersenyum melihat jaket putih yang sengaja ia beli untuk Alena agar berpasangan dengannya.


Dahi Gatra langsung berkerut saat melihat kelas Alena yang kosong, tapi pandangannya tertuju pada tas berwarna pink milik Alena.


"Ini tasnya, orangnya kemana?" Gatra mengambil tas Alena dan keluar dari kelas IPA1 itu. Kepalanya menengok kesana kemari untuk menemukan sosok Alena. Seingat Gatra, dia sudah mengirimi pesan pada Alena sejak jam dua siang tadi, pesannya ia akan menjemput Alena sepulang sekolah.


"Kemana, sih?" Gatra mengambil ponselnya dari kantung jaket, kemudian mendial nomor Alena.


Suara deringan yang terdengar berasal dari dalam tas Alena membuat cowok itu berdecak. "Hobi banget gak bawa hp,"


Akhirnya, Gatra memilih mencari cewek itu ke seluruh kelas. Ke kantin, lab, ruang guru, perpustakaan, gudang, dan toilet. Ah ya, mungkin toilet. Bisa saja disaat sedang menunggu Gatra, Alena kebelet pipis.


Gatra mengetuk pintu toilet perempuan dengan keras. "Alena!" panggilnya.


"Al?" panggil Gatra lagi saat tidak ada jawaban.


"Al? Lo di dalem?"


"Gatra..."


Gatra melotot kaget. "Al?!" dahi Gatra berkerut saat pintu toilet tidak bisa terbuka. Berulang-ulang kali knopnya Gatra putar, tapi hasilnya tetap sama.


"Al, pintunya gak bisa dibuka. Ada yang ngunci lo dari luar?"


Bukannya sebuah jawaban yang Gatra dapat malah hanya sebuah suara tangisan yang Gatra dengar. Suara tangisan yang begitu memilukan hati. Suara tangisan orang yang seperti habis dianiaya.


"Lo mundur, biar gue dobrak pintunya!" Gatra mendorong pintu toilet itu dengan kuat dan kasar. Jika tidak berhasil maka Gatra terus mengulangnya hingga pintu itu terbuka.


Brak


Pintu terbuka, pemandangan yang Gatra temukan sebagai sambutan adalah Alena yang terduduk bersandar pada tembok dengan rambut acak-acakan dan seragam yang sudah tidak tahu bagaimana bentuknya. Mata cewek itu bengkak, Gatra tahu dia pasti terus menangis bahkan sampai sekarang, sampai Gatra berada dihadapannya.


Dengan segera Gatra mendekati Alena, menarik tubuh cewek itu ke dalam pelukannya. Tangis Alena makin menjadi.


"Ada gue..." bisik Gatra ditelinga Alena.


"Aku... Gak mau lagi, Gat, aku gak sanggup, a-- aku..."


Gatra semakin mempererat pelukannya membuat wajah Alena semakin tenggelam pada dadanya dan suara tangisan Alena teredam. Tangan Gatra tak henti-hentinya mengelus rambut Alena, dan entah dorongan dari mana ia berani mencium puncak kepala Alena.


Rahang Gatra mengeras, ia tahu siapa pelaku dibalik kejadian ini. Sangat tahu.


"Udah, ya," Gatra melepas pelukan mereka, mengusap air mata yang masih mengalir deras dikedua pipi Alena. Hati Gatra serasa seperti diremas kuat melihat Alena yang menangis. Gatra tidak suka melihat Alena menangis.


Gatra berdiri seraya membantu Alena juga untuk berdiri.


"Aw..." ringis Alena saat merasakan sakit dikakinya. Dia benar-benar keseleo.


"Apa yang sakit? Dimana?" panik Gatra.


Alena menggeleng pelan. Kembali air matanya mengalir.


"Jangan nangis," Gatra menghapus air mata yang akan segera meluncur itu. Jaket putih ditangannya ia pakaikan pada Alena untuk menutupi tubuh cewek itu.


Saat jaket itu sudah terpakai ditubuh Alena, Gatra tersenyum. "Gue beli pasangan sama punya gue. Nih," tunjuk Gatra pada jaket hitam yang ia pakai.


Sesaat Alena melihat jaket yang ia pakai dan beralih pada jaket yang Gatra pakai. Matanya kembali berair, dan dengan cepat dia kembali memeluk Gatra dengan erat. Sangat erat seakan takut Gatra akan pergi jauh darinya.


Gatra tersenyum dan membalas pelukan Alena.


"Aku sayang kamu, Gatra." ucap Alena begitu pelan dan lembut.


Gatra yang mendengar itu langsung terdiam. Senyumnya menghilang. Debaran jantungnya begitu cepat. Pikirannya mulai kacau. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...