ALENA

ALENA
63. Bertahan



Alena berlutut dihadapan kedua orang tua Hardi. Tangisanya pecah.


"Aku mohon ... Maafkan Abang aku!!" Katanya, mengiba dengan kedua tangannya yang di tangkupkan di depan dada


"Dia tidak bermaksud menyakiti kak Hardi, dia hanya mencoba melindungi aku!!" Katanya lagi.


"Alena!!" Linda juga suaminya bersamaan. Meraih pundak gadis itu.


"Aku mohon, maafkan dia. jangan laporkan Abang aku ke polisi!!" Tangisnya menggema.


"Hanya dia yang aku punya. Kami tak punya siapa-siapa lagi selain bang Arya. Aku mohon Tante, Om!!" Katanya, menatap kedua orang tua tersebut bergantian dengan mata bulatnya yang telah basah.


🌻Flashback On🌻


Alena meronta ketika beberapa orang teman dari kelasnya menyeret dia ke gudang belakang sekolah sesaat setelah bel tanda pulang berbunyi. Memperlakukan dirinya bagai boneka mainan yang tak berdaya. Meraba, menyentuh tiap bagian ditubuhnya. Melecehkannya.


Hingga ketika seseorang dari mereka hampir melepaskan seragam bagian atasnya, pintu gudang yang terkunci di dobrak dari luar.


Pria tinggi merangsek masuk dengan amarah yang terpancar nyata di wajahnya. Napasnya menderu. Kedua matanya menatap nyalang setiap wajah pelaku pelecehan terhadap adiknya.


Tanpa aba-aba, Arya melayangkan pukulan mematikannya terhadap tiap orang yang berada disana. Tak ada yang lolos dari hantaman tangan kosongnya.


Diantara mereka ada yang melakukan perlawanan, namun berakhir sia-sia karena hanya membuat amarah pria itu makin menjadi. Arya mengamuk.


Keributan terdengar hingga keluar gudang. Beberapa orang datang menghentikan kericuhan.


Beberapa orang terkapar tak sadarkan diri. Bakan ada diantara mereka yang harus dirawat dirumah sakit selama beberapa Minggu karena kerusakan pada organ tubuhnya akibat pukulan Arya.


Pria itu dituduh melakukan penganiayaan terhadap anak dibawah umur. Meski dirinya telah menyatakan melakukan hal tersebut karena membela kehormatan adiknya yang tengah dilecehkan. Namun tak ada yang menerima.


Akhirnya Arya harus meringkuk di tahanan selama beberapa bulan.


🌻 Flashback Off 🌻


*


*


Suasana ruang tunggu rumah sakit begitu hening. Tak ada yang berbicara sedikitpun. semua orang diam dengan pikirannya masing-masing.


Sesekali isakan terdengar keluar dari mulut Alena. Air mata pun masih merembes tak tertahankan. Memikirkan betapa selama ini bukan hanya dirinya yang tersakiti. Pada kenyataannya Hardi pun sama tersiksa seperti dirinya.


Apa pergi bersamanya adalah hal yang terbaik bagi mereka? Lalu bagaimana keluarganya? Apa mereka akan bisa menerima dirinya nya juga Dilan? Meskipun faktanya bocah itu memang anak kandung Hardi, tapi tak bisa dipungkiri bahwa kehadirannya yang tak diduga pasti akan menyisakan banyak perdebatan.


Gadis itu takut. Jika dia memilih pergi bersama Hardi apa keadaannya akan sama seperti sekarang? Apa Hardi akan terus menginginkan dia dan anaknya? Apa pemuda itu akan terus mencintainya?


Cinta? Apa itu yang akan menyatukan mereka?


Yang dia tahu, keluarganya yang selalu ada di belakangnya. Mendukung segala yang dia pilih. Bersama saling melindungi. Saling mencintai tanpa syarat apapun. Baik ataupun buruk dirinya, keluarganya selalu mencintainya.


Alena takut harus berpisah dari keluarga tempat dia bernaung selama ini.


Linda mengelus lembut punggung Alena yang membungkuk. Gadis itu mengangkat wajahnya, menengok ke arah samping. Wajah tua itu masih cantik walaupun usianya sudah tak muda lagi. Kerutan halus disudut mata dan bibirnya justru menambah kecantikannya.


"Pulanglah, Dilan membutuhkan kamu." katanya, dengan senyum lembut. Menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Alena menyeka sudut matanya yang basah.


"Hardi pasti baik-baik saja." Katanya lagi.


"Maaf." Alena berbisik lirih.


"Sudahlah. Jangan difikirkan. Mungkin dengan begitu kakak kamu akan memaafkan anak kami." Papanya Hardi menimpali.


"Meski di sanggah dengan cara apapun kesalahan awal tetap ada pada Hardi. Kami tidak akan menyangkal. Mengenai masalah ini, kami tidak akan lapor polisi. Kamu jangan khawatir." Sambungnya, menenangkan.


"Om janji?" Alena mendongak.


Pria paruh baya tersebut tersenyum kemudian mengangguk.


Linda memeluknya dengan hangat.


*


*


*


Raja mengantar gadis itu sampai di depan pagar hampir jam 10 malam. Lampu rumah tampak masih menyala. Mungkin mereka menunggu kepulangan Alena.


"Perlu gue anterin sampai ke dalam?" Raja menawarkan.


Alena menggeleng. "Nggak usah." Katanya, lemah.


"Lu yakin?" Raja sambil menatap rumah yang memang masih terang benderang.


Alena mengangguk.


"Oke. Kalau ada apa-apa telpon aja." Katanya.


"Iya kak. Makasih." Alena keluar dari dalam mobil. Berjalan pelan memasuki pekarangan rumah.


Raja masih memperhatikan gadis itu hingga ia menghilang dibalik pintu. Selang beberapa menit, tak terjadi apa-apa. Kemudian dia memutuskan untuk pulang.


*


*


Alena memasuki rumah yang lampunya masih menyala. Menghela napas pelan. Menyiapkan diri menghadapi kemarahan Arya yang mungkin akan meledak lagi.


Tampak kakak laki-lakinya tersebut tengah duduk bersandar di sofa ruang televisi. Dengan kedua tangannya yang dilipat dada. Menatap ke arah dimana Alena muncul.


Tatapan mereka bersirobok.


"Apa dia mati? Atau hanya koma?" Arya dengan penuh penekanan.


Alena tertegun. Setengah tak percaya kakak laki-lakinya mampu berkata sekasar itu.


"Abang ..." Dia hampir menangis. "Aku mengerti kebencian Abang kepada kak Hardi. Aku nggak bisa memaksa Abang untuk memaafkan dia. Tapi dia tetap ayah dari anak aku, Bang."


"Cih!! Ayah...." Arya mendengus kasar. Dia bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Alena yang berdiri di bawah tangga.


"Laki-laki macam apa yang meninggalkan perempuan yang mengandung anaknya begitu saja?" Dia berdiri menatap adiknya dengan tatapan penuh kekecewaan. Merasakan pendirian Alena akan segera goyah.


"Dia juga hancur, Bang." Alena mencicit.


"Hancurnya laki-laki takan mungkin sehancur perempuan. Laki-laki takan banyak mendapat kerugian dari kebodohan yang dilakukannya di masa lalu. Sedangkan kamu, apa kamu sudah lupa bagaimana sulitnya menghadapi ini semua.? Bagaimana sakit dan perihnya menahan cibiran orang yg kita kenal mengetahui kamu melahirkan anak tanpa suami? Karena Abang belum lupa. Dan tidak akan pernah lupa!!"


"Lalu aku harus bagaimana?" Alena sesenggukan.


"Menjauh dari dia, jangan temui dia lagi." Katanya, seraya berbalik, "Itupun jika kamu menyayangi keluargamu. Ingat siapa yang mendampingimu di d saat-saat paling sulit dalam hidupmu!!" Katanya, meninggalkan gadis itu sendirian.


*


*


*


Alena duduk termenung diatas tempat tidurnya disamping putra kesayangannya yang tengah terlelap dalam pelukan Anna.


Air mata kembali meleleh di pipinya. Dia ingin bersama Hardi tapi tak ingin lepas dari keluarganya.


*


*


Bersambung ...