ALENA

ALENA
73. Menghitung Hari



*


*


Kalau ditanya soal apa yang paling dibenci Hardi saat ini, jawabannya adalah sudah pasti menunggu. Ya, menunggu tibanya hari dimana dirinya akan mempersunting Alena di depan penghulu. Tinggal beberapa hari lagi, namun rasanya seperti begitu lama. Baginya waktu terasa berjalan begitu lambat.


Sudah 10 hari dirinya terpisah dari dua orang yang paling dicintainya. Dan hal itu terasa menyiksa. Terbiasa bangun di pagi hari saat membuka mata pertama kali yang dilihatnya adalah si wajah tirus pemilik mata bulat yang telah menjungkirbalikkan dunianya. Juga balita tampan menggemaskan yang selalu membuat hari-harinya ceria penuh warna. Moodbooster nya.


Kalau aku tahu berpisah dengan mereka semenyiksa ini, sudah aku lakukan dari dulu untuk memilikinya. Takan aku pikirkan tentang apapun yang menghalangi. Entah kuliah, pekerjaan, atau si gunung es itu. Mati sekalipun akan aku lakukan asal mereka ada disisiku.


Raja memasuki ruangan partnernya tersebut dan mendapati ruangan itu tampak tak karuan.


Banyak kertas bertebaran seperti bekas diremas dan dilempar ke sembarang tempat. Alat tulis pun berceceran dimana-mana. Sementara Hardi tengah berdiri di depan papan gambarnya, mengerjakan gambar rancangannya yang harus dia selesaikan Minggu itu.


"Abis ada tsunami ya?" sindirnya, menatap seluruh ruangan yang berantakan.


Hardi tak menghiraukan, hanya menoleh sekilas.


Raja menghampirinya, melihat gambar yang sedang di kerjakan oleh Hardi.


Harus dia akui, sakacau dan seberantakan apapun keadaannya, sahabatnya itu tak pernah kehilangan fokus untuk pekerjaannya. Dia selalu bersikap profesional dan total dengan apa yang dikerjakannya. Walaupun dia tahu, sekeras apa Hardi berusaha untuk mampu seperti itu.


"Ckck,! Calon pengantin, ngebut pak?" ejekan seketika keluar dari mulut Raja ketika melihat gambar rancangan Hardi yang hampir rampung.


Hardi hanya melirik.


"Padahal waktunya masih lama, sampai akhir bulan lho." katanya lagi.


"Waktu gue yang nggak banyak," Hardi akhirnya menanggapi. Masih tetap fokus ke gambar di depannya.


"Tenang bro. Alena nggak akan pergi kemana-mana." Raja menggoda sahabatnya.


"Berisik. Lu bikin konsentrasi gue ambyar dengan menyebut nama dia." Hardi menghentikan pekerjaannya. Mengusap wajahnya kasar. Terbayang wajah Alena dengan mata bulat dan bibir mungilnya yang selalu membuat dirinya tak bisa menahan diri.


Raja terkekeh. "Lebay!!" melempar kertas yang telah diremas hingga membentuk bola kecil ditangannya ke punggung Hardi.


"Udah waktunya makan siang bro. Lu kagak lapar?" Raja mengingatkan.


Hardi melihat jam di pergelangan tangannya. Hampir jam setengah satu siang.


Memang sudah beberapa hari ini dirinya melewatkan makan siangnya demi menyelesaikan pekerjaannya. Dan tampaknya hari ini juga begitu. Hanya tersisa dua hari kedepan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Lu duluan deh. Gue tar nyusul, beresin dulu ini." jawabnya tanpa menoleh.


Raja memutar bola matanya. "Deadline nya akhir bulan ini bro. Lu masih punya banyak waktu." Raja mengingatkan.


"Nggak apa-apa, kalau udah beres kan gue tenang." berhenti sebentar, "Ambil cuti yang banyak." katanya lagi, sambil tersenyum.


"Heleh ..." Raja mencibir. Tau apa yang kini tengah berputar di otak sahabatnya tersebut.


"Serah lu deh. Gue mah laper dan masih waras. Nggak segila elu." katanya, sambil berjakan keluar dari ruangan Hardi.


"Apa semua calon pengantin sesinting elu ya? nggak ngerti gue." Raja bergumam pelan, namun gumamannya tersebut masih dapat di dengar dengan jelas oleh Hardi. Membuat pria yang hampir berusia 27 tahun itu mencebik.


*


*


Alena, berjalan diapit dua wanita dewasa disisinya. Linda dan Hana. Calon mertua dan kakak iparnya yang bersemangat mencari pakaian untuk hari pernikahan nya di butik yang cukup terkenal di Jakarta.


Kalau ada yang bertanya siapa yang paling bersemangat dengan pernikahannya, tentu jawabannya adalah dua orang wanita disampingnya itu. Yang begitu antusias mempersiapkan segala kebutuhan Alena untuk tampil sempurna saat ijab kabul nanti. Dari mulai perawatan tubuh, membeli beberapa pakaian baru, dan segala macam pernak pernik pernikahan sederhana ala mereka berdua. Dan percayalah, keadaannya jadi tak sesederhana yang dibayangkan.


Seorang pegawai membawakan beberapa potong kebaya dan gaun, memperlihatkannya di depan tiga wanita berbeda usia itu.


Ada kebaya modern berwarna krem yang lembut dengan beberapa manik kecil menghiasinya. Kemudian kebaya berwarna putih polos yang tak kalah indahnya. Dan terakhir, sebuah gaun berlengan pendek dengan panjang selutut berwarna putih gading. Dengan bagian pundak dan punggung yang agak terbuka.


Alena mencoba ketiga pakaian tersebut, dan merasa cocok. Model dan ukurannya begitu pas ditubuh mungilnya yang kini agak berisi. Tak lupa Hana mengabadikan momen tersebut dengan ponsel miliknya.


"Jadi mau yang mana?" Linda bertanya.


"Mau tiga-tiganya?" Hana menawarkan.


"Kamu cantik pakai tiga-tiganya." Linda yang bertepuk kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.


Alena menggeleng. "Kebanyakan, Kak. Satu aja." Alena terkekeh.


"Yasudah, terserah kamu aja mau yang mana. Kita ikut." Linda lagi.


"Aku nggak tahu, boleh tanya kak Hardi? Kita pilih mana aja yang dia suka." katanya. Dijawab anggukkan oleh dua wanita di hadapannya.


Hana mengirimkan beberapa foto ke nomer Hardi. Meminta pendapat calon pengantin pria itu.


Tak lama panggilan video berlangsung.


"Mama jangan dandanin Alena yang aneh-aneh!!" katanya, tiba-tiba. Tahu ibunya senang bereksperimen.


"Lho, aneh apanya? kan udah dikirim fotonya." Jawab Linda, kesal dengan reaksi putra nya. Dia tahu Hardi masih ngambek karena merasa dipisahkan dari calon istrinya itu.


"Pokoknya jangan dandanin Alena berlebihan, aku nggak suka!!" katanya lagi.


"Makannya kamu pilih maunya yang mana."


"Ya udah, mana Alena, kasih hapenya, sama dia!" perintahnya, sudah seperti presiden saja.


Linda mencibir, kemudian menyerahkan ponsel di genggamannya kepada calon menantunya.


"Al, ..." panggilnya begitu ponsel berpindah tangan.


"Iya kak?" wajah tampan itu terpampang di layar. Hatinya berdebar dengan tidak tahu malunya, padahal baru tadi pagi merekapun sudah melakukan panggilan video.


"Kamu maunya yang mana?" Hardi bertanya.


"Aku bingung. Makanya Nanya kakak." menjawab dengan polosnya.


"Coba lihat yang terakhir" pinta Hardi.


"Yang ini?" menunjukkan gaun yang masih menempel di tubuhnya. Menyerahkan ponsel kepada Hana agar dia bisa menunjukkan penampilannya dalam balutan gaun putih selutut itu.


Hardi menatap layar ponselnya begitu lama. Menatap calon istrinya itu yang terlihat cantik dengan gaun sederhana yang dikenakannya.


"Udah itu aja." katanya, setelah terdiam beberapa menit.


"Kakak yakin?" Alena bertanya lagi, meraih ponsel dari tangan Hana.


"Iya." jawab Hardi.


"Tadi aku juga milihnya ini." Alena tersenyum manis. Membuat yang berada di seberang sana menahan napasnya sejenak.


"Ya udah. itu aja." sambungnya.


Alena mengangguk. Kemudian menyerahkan ponsel kembali kepada Hana. Dia bermaksud berganti pakaian.


"Kakak sama Mama jangan dandanin Alena berlebihan, ya. Aku nggak suka!" Hardi mewanti-wanti ibu dan kakak perempuannya sebelum mengakhiri panggilan.


Linda nencebik. Sementara Hana hanya tertawa melihat raut wajah kesal sang Mama karena imajinasinya tentang riasan untuk calon menantunya tersebut harus diurungkan karena larangan dari Si calon pengantin pria.


*


*


Bersambung...


Ayo dong, like komen sama vote nya aku tunggu.


I love you full 😘😘😘