
*
*
Akhir-akhir ini Alena semakin manja di usia kandungan nya yang menginjak 7 bulan. Sering merajuk karena tak mau ditinggal sendirian. Ditambah emosinya yang sering naik turun. Membuatnya sangat mudah menangis ketika kemauannya tak dituruti. Mungkin karena hormon kalau kata dokter, atau bawaan bayi kalau kata ibunya ketika Hardi mengadu tentang kemanjaan istrinya.
"Yang sabar, Ddi. Mama mu juga dulu gitu waktu lagi mengandung kamu." Sang papa menenangkan ketika Hardi mengeluh saat mereka bertemu.
"Masa sampai segitunya, apa-apa nangis, apa-apa ngambek. Padahal aslinya Alena nggak gitu dulu." Hardi merebahkan punggung lebarnya di sandaran kursi.
"Dua bulan lagi ... setelah lahiran, dia pasti kembali ke keadaan semula." papanya lagi.
"Hhhh ... lama."
"Syukur-syukur dia nggak kenal babyblues." sang papa menambahkan.
"Apalagi itu?" Hardi mengerutkan dahinya.
"Nanti juga tahu, ..." Papa terkekeh.
*
*
"Sudah!! Stop sayang!! aku nanti kesiangan!!" Hardi melepaskan kedua tangan Alena yang memeluknya dengan posesif. Mereka masih bergumul dibawah selimut pagi itu.
"Kakak nggak bisa bolos hari ini? Aku masih kangen!!" ucap istrinya dengan manja.
"Kerjaan aku banyak, Al." Hardi berusaha melepaskan dirinya dengan perlahan. Berusaha turun dari tempat tidur. "Nanti Dilan keburu bangun." katanya lagi.
Namun Alena segera memeluk pinggangnya dari belakang.
"Kaaak??" suara istrinya terdengar mendayu-dayu, membuat tubuhnya meremang.
Terasa sesuatu yang kenyal menempel dipunggung telanjangnya. "Astaga!!" gumamnya dalam hati. Merasakan lagi jantungnya yang berdegup tak karuan. Sesuatu kembali mengeras dibawah sana.
Wajah Alena menempel persis dipundaknya. Napasnya berhembus hangat menerpa telinganya.
Sialan!!
"Al, .. udah jam 6!!" katanya, dengan suara serak. Tiba-tiba tenggorokan nya terasa mengering.
"Aku tahu ..." Alena berbisik di telinga Hardi, hampir menggigitnya.
"Ngh ..." Hardi bergumam, menahan hasrat yang kembali bangkit.
"Aku masih kangen." berbisik lagi. Semakin menempelkan tubuhnya dipunggung suaminya yang mulai gelisah.
Hardi menelan ludah kasar. "Kita kan gak pernah berjauhan, aku cuma kerja. tar sore juga pulang." Hardi mencoba mengelak dari godaan istrinya yang tak mau melepaskannya.
"Lama kak." Alena menggerakkan wajahnya ke leher sang suami, membuatnya semakin gelisah.
"Al, ..."
"Hmmm ..." Alena mulai menciumi tengkuk suaminya.
"Can you stop it?" Hardi hampir menahan napasnya.
"No i can't. ... aku nggak bisa!!!" suara istrinya terdengar semakin mendayu-dayu.
Sial**an!! Aku tak tahan lagi!!
Tiba-tiba saja Hardi berbalik, membuat Alena dibelakangnya terkejut.
"Kamu akan menyesal sudah menggoda aku!!" mendorong pelan tubuh Alena hingga perempuan itu hampir terjungkal ke belakang. Mengungkung tubuh kecil yang perutnya telah membuncit itu yang terlihat menggemaskan dari atas sini. Dan kegiatan panas mereka terulang lagi pagi itu.
*
*
Alena terlihat murung, namun dia tetap menyiapkan kebutuhan Hardi. Pakaian kerja lengkap dengan dasinya, juga sarapan berupa nasi goreng ayam sosis kesukaan mereka bertiga.
"Aku cepet pulang kok nanti." Hardi mengerti kemurungan istrinya.
Alena hanya mengangguk.
"Maaf," katanya.
"Kenapa minta maaf?" Hardi mengerutkan dahi.
"Akhir-akhir ini emosiku nggak stabil. Kakak pasti kesal." keluhnya.
Hardi terkekeh, mendekatkan wajahnya kemudian mengecup puncak kepala istrinya sangat lama.
"Padahal dulu waktu mengandung Dilan rasanya nggak seberat ini."
"Dilan ngerti kalau kamu dulu sendirian, jadi dia nggak rewel. Sekarang babynya tahu kalau papanya ada, jadi dia maunya dimanja." Hardi terkekeh lagi.
*
*
*
Hardi mengemudikan mobilnya bagai orang kesetanan. Pikirannya panik setelah mendapat telpon dari istrinya yang terdengar histeris diiringi isak tangis memilukan.
Dalam waktu sepuluh menit saja pria 27 tahun itu telah sampai di depan pintu. Langsung menerobos kedalam apartemen yang dia tinggali.
"Al, apa yang ...." kalimatnya menggantung setelah sampai didalam.
Arya telah berdiri didepannya dengan tatapan menyelidik.
"Bang ..."
"Apa yang sudah kamu lakukan?" Arya merangsek, tangannya langsung mencengkeram kerah kemeja adik iparnya tersebut, mendorongnya ke dinding.
"Ma-maksudnya?" Hardi bingung.
"Alena sudah menangis waktu aku baru sampai disini." Arya yang emosi ketika mendapati adik bungsunya tengah terisak saat dia berkunjung di jam makan siang bermaksud membawa Dilan di akhir pekan itu. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Alena selain isakan dan gumaman, "Kak Hardi nggak jawab telpon aku, bang!!"
"Aku ..."
"Jangan bilang kamu sudah berani menyakiti dia!!" Arya dengan geramannya.
Hardi menggeleng pelan.
"Gimana aku menyakiti dia, kami baik-baik saja, tadi pagi bahkan ...." hampir saja mulutnya membuka aib mereka. Namun Hardi seketika tersadar.
"Dilan nggak mau makan, ..." Alena bergumam.
"Ap-apa?" Arya dan Hardi bersamaan.
"Dilan nggak mau makan siang, aku dari tadi membujuk dia tapi dia tetap nggak mau. Aku sedih!!!" katanya lagi, kemudian kembali terisak.
"Astaga!!" Dua pria itu kembali bersamaan.
Arya seketika melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja Hardi.
"Kamu bikin panik, Al!!" Hardi dengan gemasnya.
Arya hanya menggeleng sambil menahan tawa.
"Selamat menikmati, aku pergi." Arya sambil meraih tubuh keponakannya kemudian segera keluar dari sana.
*
*
Ckckck ... Alena kebangetan!! 🤣🤣🤣