
Tiba-tiba sosok tinggi semampai berlari menghambur ke pelukan Hardi yang masih diliputi emosi.
Sebagian besar penonton menahan napas melihat adegan tersebut. Tak terkecuali yang tengah menatap layar ponsel di sebuah ruangan temaram.
*****
[Ya ya, kamu berhasil bikin acara yang dramatis. Kamu sukses, Van.] sebuah pesan masuk di ponsel Vania beberapa detik setelah adegan dramatis tersebut berlangsung.
"Hhhhh ....." Vania menghela napas frustasi. Rencananya bersama Raja untuk meruntuhkan pertahanan Alena pupus sudah.
"Dasar idiot!!" Vania menggeram menatap kerumunan yang bersorak melihat pertunjukan dramatis dua sejoli yang telah dinobatkan sebagai couple or the year tahun lalu itu.
🌹 Flashback on 🌹
"Yang gue pikirin tuh anaknya, bakal gimana hidupnya kedepannya kalau mereka gini terus." Raja menemui Vania beberapa hari sebelum acara dimulai.
"Lagian, kenapa nggak kita kasih tau aja langsung Hardi nya." Raja kesal harus memegang rahasia yang cukup besar dari sahabatnya sendiri.
"Kalau kita langsung kasih tahu kak Hardi, dia nggak bakalan bisa nahan diri. Dia pasti bakalan langsung datang kerumahnya Alena. Dan aku yakin itu bakalan bikin keadaan yang mulai tenang jadi lebih kacau." Vania menyela.
"Tapi kalau Alena yg datang sendiri kesini, itu artinya dia sendiri yang membuka diri dan aku yakin semuanya akan terkendali." katanya lagi.
"Serah elu deh. Main drama-dramaan gini bukan keahlian gue." Raja menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
🌹 Flashback off 🌹
Hidup kakak akan lebih baik tanpa kami. Kakak akan sukses, semua yang kakak impikan akan tercapai. Aku akan selalu mendoakan semua yang terbaik untuk kakak. Maafkan aku. Maafkan kami.
Alena menatap wajah polos bayi dalam pangkuannya. Perpaduan gen antara Hardi dan dirinya. Tapi wajah Hardi tampak lebih mendominasi bayi mungil tersebut.
Alis yang tebal, mata bulat yang cokelat, rambut yang sehitam malam.
Tangan Dilan kecil menggapai wajah ibu yang sedang menatapnya. Senyum terukir dibibir mungil bayi itu. Mata coklat bulatnya berbinar, seolah berbicara, semua akan baik-baik saja, Ma.
Alena menciumi wajah polos bayi itu.
"Ya sayang, kita akan baik-baik saja. Mama janji. Kita akan hidup bahagia." katanya, dengan airmata yang tiba-tiba mengalir.
******
Dua tahun berlalu ....
Keadaan tak seburuk yang dibayangkan. Segalanya berjalan tanpa masalah besar. Kehidupan terus berjalan sebagaimana mestinya, tak ada yang berubah. Mereka tetap hidup normal seperti sebelumnya.
Alena dan keluarganya membesarkan sikecil Dilan yang kini berusia dua tahun. Melewati masa-masa pertumbuhan balita itu tanpa hambatan berarti.
Setiap momen pertumbuhannya tak pernah lepas dari perhatian. Dari mulai pertama kali makan, pertama kali merangkak, duduk apalagi saat pertama kali bayi itu berjalan.
Bayi kecil itu tumbuh sehat. Semakin hari menjadi semakin tampan dan lucu. Membuat semua orang selalu mencurahkan kasih sayang yang besar padanya.
Tak ada lagi pertanyaan tentang siapa Ayahnya, atau dimana pria itu saat anaknya tumbuh besar. Atau bagaimana mereka akan menjalani hidup. Semuanya berjalan biasa saja. Dan mereka hanya mengikuti alur kehidupan sebagaimana mestinya.
"Jadi, sudah kamu putuskan?" Arya ketika mereka mulia sarapan di pagi hari.
"Aku kayaknya ambil kursus aja." Alena memberi jawaban tentang tawaran Arya untuk kembali melanjutkan kuliah di kampusnya dulu.
"Kenapa kursus? Mungkin melanjutkan kuliah yang sempat tertunda lebih baik." menyeruput kopi di hadapannya. " lagipula, kamu nggak ada catatan jelek di kampus, Abang udah pastikan kemarin." katanya lagi.
"Sekarang aku udah nggak minat. Lagian nanti siapa yang jaga Dilan. Abang tahu sendiri dia nggak mau dipegang orang lain." katanya mengingatkan ketika anak balitanya tersebut mengamuk saat dititipkan di sebuah baby day care karena Alena harus pergi mengurus beberapa dokumen untuknya dan Dilan.
"Kamu bisa ambil kelas karyawan, kuliahnya kan bisa disesuaikan dengan waktu kita. Abang bisa jaga Dilan di akhir pekan." Arya masih meyakinkan.
Alena menggeleng. "Nggak. Masalahnya aku udah nggak minat." katanya lagi.
Arya menghela napas dengan kecewa. Adik bungsunya itu kini sudah dewasa. Tak lagi mempan dengan bujukan atau penawaran yang sering dia lontarkan seperti biasanya.
Ditambah, keras kepalanya kini mulai muncul, seperti dirinya.
Arya mendelik.
"Oh iya, gimana kamu udah urus masalah catering sama Tante Melly (ibunya Vania)?" Alya yang tengah disibukkan oleh rencana pernikahannya beberapa bulan lagi.
Alena mengangguk. "Udah. Konsepnya royal tradisional. Kakak pasti suka."
"Terserah deh, kakak percaya aja. Bikinan Tante Melly pasti bagus."
"Kamu seriusan mau kerja sama Tante Melly?" Arya menyelidik.
Alena mengangguk. "Sekalian kursus gratis. Plus dapet gaji pula. Kan enak."
"click! Dasar mata duitan!" Arya mencibir. "Terus Dilan?"
"Tante Melly suruh dibawa kok. Katanya nggak apa-apa." Alena dengan mata berbinar.
"Serius? masa kerja bisa bawa anak." Alya menimpali.
"Bisa lah. Kerja di neneknya ini." Alena dengan ringannya.
"Maksudnya?"
Gadis itu tersenyum. "Anggap aja begitu, apalagi kalau anaknya jodoh sama Abang, kan udah otomatis bakal jadi neneknya Dilan juga." kemudian tergelak, mengalihkan pandangan matanya kearah pria yang dimaksud.
"Ngaco!!" Arya melempar tisyu ke wajah Alena yang masih tertawa.
"Emang jadi ya?" Anna yang sedari tadi hanya menyimak obrolan ketiga saudaranya tak tahan untuk berkomentar.
"Mana ada? itu khayalan Alena doang." Arya menghindar, wajahnya mulai bersemu merah.
"Cie ... bentar lagi nyusul aku.." sahut Alya, mulai menggoda. "Atau Abang aja duluan akadnya, kan enak jadinya aku nggak ngelangkahin Abang." katanya mulai membahas kemana-mana.
"Apaan sih, kalian mulai ngawur.!" Arya kesal, ketiga adik perempuannya mulai mengeroyoknya dengan candaan itu lagi.
"Ya udah sih, Bang. Tante Melly kayanya suka sama Abang. Nggak bakalan susah deketin Vania." Alena kembali meracau.
"Apaan? Vania tuh masih kecil, nggak cocok sama Abang." mulai menanggapi.
"Lah, Vania tuh seumuran aku lah. Kecil apanya?"
"Maksudnya Abang yang udah tua gitu? Makanya buruan nikah keburu aki-aki." Anna ikut menimpali.
"Heh?! Abang nggak tua ya, cuma mateng aja."
"Buah kali mateng. Iya, yang mateng tuh yang udah tua." Anna terbahak.
Arya hanya menggelengkan kepala. Membalas godaan mereka hanya akan membuat dirinya makin terpojok lagi.
Puasnya ketiga perempuan itu menggoda kakak laki-laki mereka yang tak kunjung punya keinginan untuk berkeluarga.
Akhir-akhir ini ketiga adik perempuannya memang sering mencandainya tentang perjodohan nya dengan Vania, sahabat Alena.
Entah ide itu muncul darimana.
Padahal setiap dirinya bertemu dengan Vania yang sering berkunjung kerumahnya, tepatnya mengunjungi balita menggemaskan itu, seringkali berujung dengan pertengkaran antara dirinya dan Vania.
Arya selalu merasa kesal ketika menatap gadis itu ada di depannya. Sifat kekanakan Vania dan spontanitas yang dimiliki gadis itu selalu membuat Arya tak tahan untuk mencela. Menjadikan mereka berdua bertengkar setiap kali bertemu.
Bersambung ...
Ayolah, like komentar sama vote nya juga aku tunggu .
I love you full😘😘😘