ALENA

ALENA
53. Ketahuan!!



Persiapan pernikahan Alya telah rampung. Semuanya berjalan sesuai rencana, seperti keinginan sang mempelai wanita.


Acara dilangsungkan di kafe Melly, ibu Vania.


Ruangan utama kafe disulap menjadi taman yang indah dengan dekorasi tradisional yang kental sesuai dengan tema kafe sebelumnya.


Pengantin wanita tengah dirias diruang tunggu. Dengan make up elegan yang dikenakannya, dan dengan baju kebaya putih semi tradisional membuat Alya terlihat bak seorang putri.


Rambut yang disanggul keatas dengan hiasan rangkaian bunga sedap malam, mahkota siger beserta kembang goyang menambah kesan tradisiobal sunda yang kental.


Alena masuk keruang tunggu, memberi tahu kakak perempuannya tersebut bahwa pihak pengantin pria beserta rombongannya telah tiba.


Gurat kebahagiaan tergambar jelas diwajah sang mempelai wanita. Namun tak dapat menyembunyikan kegugupannya.


Setelah prosesi penyambutan berlangsung, kini tibalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu sesi ijab kabul.


Alena membawa kakak perempuannya itu keluar dari ruang tunggu. Mendudukkannya di depan penghulu bersama sang mempelai pria yang tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Alya.


Arya sebagai wali nikah dan seorang saksi dari pihak mempelai pria.


Ijab kabul berlangsung secara khidmat dan lancar didepan penghulu.


"Rasya, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan adik saya, Alya Paramitha Binti Suryapradja dengan mas kawin 25 gram emas dibayar tunai,"


"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Paramitha Binti Suryapradja dengan mas kawin tersebut, tunai."


Hampir semua orang berseru "Sah!!" dibarengi tepuk tangan meriah. Kebahagiaan meliputi seluruh orang yang hadir siang itu.


Keharuan tampak jelas diwajah sang wali nikah, Arya. Tetesan air lolos dari sudut matanya. Dia telah mengantarkan satu adik perempuannya menikah.


Rasa haru pun tampak tergambar jelas diwajah tamu yang hadir, yang mengetahui keadaan keluarga mempelai perempuan yang tak memiliki orangtua.


Dan begitulah semua acara berlangsung dengan khidmatnya.


.


.


.


.


Hardi dan keluarganya tiba di pelataran parkir. Pemuda itu menatap ke sekeliling. Dengan kemeja batik berwarna cokelat membuatnya terlihat tampan.


Mereka segera memasuki ruang resepsi. Menghampiri mempelai di pelaminan dan bersalaman mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


"Lancar?" Hardi menggoda sang mempelai pria. Dibalas dengan anggukkan dan dua jempol yang terangkat keatas. Mereka tertawa.


"Kapan nyusul?" si mempelai balik menggoda.


"Nanti kapan-kapan." jawab Hardi sekenanya. Kemudian keduanya tertawa.


Hardi menuruni tangga pelaminan ketika matanya menangkap sosok yang tak diduganya berada dalam keriuhan acara resepsi tersebut.


Alena dengan balutan kebaya semi tradisional berwarna pastel dan kain batik selutut. Rambut yang disanggul keatas, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi rambut halus yang dibiarkan begitu saja. Dengan mqke up sederhana namun elegan, membuatnya terlihat cantik.


Hardi menelan ludah kasar.Dadanya berdegup kencang. Bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Tersenyum.


"Alena?" katanya, agak berteriak. Membuat orang yang dimaksud menoleh.


Alena mengerutkan dahi.


Hardi segera menghampiri gadis itu yang tengah berdiri di dekat pelaminan.


"Kamu disini?" sapanya, sumringah.


Alena hanya mengangguk, tak menduga akan bertemu dengan Hardi dalam acara ini.


"Kakak diundang?" tanyannya.


"Rasya sepupu aku. Harusnya tadi aku ikut seserahan, tapi telat. Jam segini baru sampai." katanya.


Alena mengangguk, mulutnya membulat membentuk huruf o.


"Hardi ..." sebuah panggilan menyela dari belakang. Hardi menoleh.


Seketika raut wajah Mamanya berubah. Tubuhnya agak menegang.


"Oh ....Alena." katanya, segera menghampiri Alena yang menunjukkan raut wajah bingung.


Linda mengulurkan tangannya dan disambut dengan canggung oleh gadis itu.


"Saya mamanya Hardi." katanya, dengan suara agak bergetar.


"Alena, tante." sambil mengangguk, masih kebingungan.


Kemudian orang berikutnya tiba.


"Pa, ini Alena." seru Hardi lagi kepada ayahnya. Dan Hal yang sama pun berulang.


"Mereka tahu," Hardi berbisik di telinga Alena, membuat wajah gadis itu bersemu merah. Menatap kedua orangtua Hardi secara bergantian. Yang juga tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Dilan ikut?" tanya Hardi, mengedarkan pandangannya je sekeliling.


"Ikut. Lagi sama Vania." jawabnya, sambil mengangguk.


"Kamu kerja di WO juga?" tanya Hardi lagi.


Alena menggeleng. "Yang nikah kakak aku." jawabnya, gugup.


"Oh iya?" Hardi terperangah.


"Hardi, ..." sang mama memanggil, menyela percakapan antara kedua orang itu.


"Mama sama Papa duluan aja. Hardi nanti nyusul." katanya.


Kedua orang tuanya itu menurut, setelah sebelumnya menatap ke arah Alena terlebih dahulu, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun urung dilakukan.


" Nggak nyangka!" Hardi berseru riang. Sementara Alena agak canggung.


"Om Ddiiiiii!!!" teriakan nyaring terdengar dari arah belakang Alena.


Si balita tampan dengan kemeja batik yang entah kenapa berwarna senada dengan dirinya.


Senyum sumringah terbit di bibir Hardi, namun kemudian segera menghilang segera setelah matanya menangkap sosok yang sedang menggendong anak itu.


Arya menghampiri mereka berdua.


"Pak," sapanya, mengangguk sopan.


Arya sedikit tersenyum membalas anggukkan pemuda itu.


"Dilan mau mama katanya." Arya menyela.


Alena segera meraih putranya tersebut dari pelukan sang kakak.


Ingin rasanya Hardi merengkuh tubuh mungil itu dan mendekapnya dalam pelukan. Namun ditahannnya sekuat tenaga. Akhirnya dia hanya mengusap kepala bocah imut itu.


"Mamam" katanya, menunjuk stand makanan di depan yang langsung dituruti oleh Alena. Dia meninggalkan dua pria yang entah sedang memikirkan apa dalam kepalanya.


"Kamu disini?" Arya memulai percakapan.


"Rasya sepupu saya, pak." jawabnya, agak gugup.


Arya menganggukkan kepalnya pelan.


"Pengantin perempuanya ....." Hardi menggantung kata-katanya.


"Adik saya." Arya cepat menyela.


Tubuh Hardi menegang. Memcerna kata-kata yang keluar dari mulut pria di hadapannya.


Baru saja dia membuka mulutnya hendak berbicara, seseorang memanggil Arya untuk naik ke pelaminan. Melakukan sesi pemotretan dengan kedua mempelai.


"Adik?" gumamnya.


Bersambung ...