
🍃 Flashback on 🍃
Seorang gadis cantik tengah menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Akhir-akhir ini ayahnya sering terlambat menjemputnya karena tokonya sedang ramai pembeli.
Beberapa kali seorang siswa laki-laki mendapatinya tengah sendirian saat jam pulang telah lewat dari jadwal.
Hardi, siswa pindahan dari Jakarta yang baru dua Minggu masuk ke sekolah tersebut. Mencoba mendekati Lasya yang tengah menunggu jemputan.
"Hai ..., kamu nunggu jemputan ya?" sapanya, agak canggung.
Lasya menoleh, tatapan mereka bersirobok. Mata coklat sayu, senyumnya yang manis, dan tentu saja wajahnya yang tampan. Lasya gugup.
"Aku Hardi," katanya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Lasya menatap tangan yang terulur itu, kemudian beralih ke wajah si empunya tangan. Senyum Hardi masih tersungging disana.
"Lasya," jawab gadis itu, malu-malu menyambut uluran tangan Hardi. Rasa hangat menjalar hingga kehatinya.
Hardi kemudian berdiri sejajar denganya, menemani Lasya hingga jemputan yang ditunggunya tiba.
Sejak saat itu mereka berteman. Sering menghabiskan waktu bersama. Belajar bersama, berdiskusi walaupun kelas dan jurusan mereka berbeda. Hingga akhirnya satu hubungan dekat tercipta diantara mereka berdua.
Hardi adalah cinta pertama Lasya, begitupun sebaliknya. Sama-sama baru merasakan indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sejak kelas dua SMA mereka bersama. Tak ada pasangan lain yang lebih serasi selain mereka berdua. Tampan dan cantik. Mereka adalah pasangan paling terkenal diantara para siswa di sekolah itu.
Keduanya selalu bersama kemanapun mereka pergi. Hingga kuliah pun di kampus yang sama, walau berbeda jurusan.
Hardi selalu memperlakukannya dengan baik. Tak pernah melebihi batas. Pemuda itu selalu menjaga apa yang ada pada dirinya.
Mengantar kemanapun Lasya ingin pergi. Mendukung apapun yang gadis itu lakukan, selama itu hal positif.
Tak pernah mengatur apapun dalam hidupnya. Dan mereka bisa bersama dalam waktu yang sangat lama. Lima tahun.
Hingga satu hari, ada yang berubah dari sikap kekasihnya itu. Ada sesuatu. Hardi mulai menjauh. Berkali-kali dia menepis pikiran buruk tentang kekasihnya itu, namun sikap yang ditunjukkannya tak bisa menutupinya.
Hardi sering menghilang. Tanpa seorang pun tahu. Walaupun pemuda itu tak pernah absen mengantar jemput ya setiap hari, atau mengantarkannya pergi audisi ke Jakarta selama berhari-hari. Ada yang berubah.
Hardi seperti menjaga jarak dengannya. Sentuhannya ketika dia menggandeng tangan atau memeluknya terasa berbeda. Tak selembut dan tak senyaman biasanya.
Hingga suatu sore saat Lasya pulang dari Jakarta tanpa memberitahu Hardi. Gadis itu tak sengaja melihat kekasihnya itu bersama seseorang.
🍃 Flashback off 🍃
Dan kini dia benar-benar sudah jadi milik orang lain. Bukan lagi Hardi-ku.
Berpaling kepada laki-laki lain ternyata tak membuat perasaannya lebih baik. Pernah menerima kasih sayang yang begitu manis, namun itu hanya sementara. Selebihnya hanya rasa tersiksa.
Lasya merasakan hatinya remuk. Tak ada lagi yang bisa dijadikan alasan agar Hardi mau mendekat kembali kepadanya. Sudah ada dia. Ya, perempuan itu, yang telah merebut Hardi darinya.
Lasya menapaki tangga satu demi satu. Menuju atap rumahsakit tanpa sepengetahuan ibunya. Gadis itu tampak kacau setelah beberapa saat yang lalu histeris lagi karena tak menemukan Hardi saat dia terbangun dari tidurnya. Yang dia inginkan hanya pergi.
Lasya hampir sampai di ujung rooftop. Di tatapnya bagian ujung itu. Dia berhenti.
"Lasya!!" ibunya berteriak dari arah belakang. Setelah menyadari putrinya yang tak berada di ruangannya.
Gadis itu menoleh, namun kemudian fokus lagi ke ujung rooftop.
"Lasya, kamu mau apa, nak?" ibunya berteriak lagi. Namun Lasya tak bergeming. Dia malah semakin mendekati ujung rooftop.
"Mama, kalau aku loncat dari sini apa Hardi akan kembali kepadaku?" katanya.
Wajah ibunya memucat. "Kamu bicara apa?"
"Mama, apa aku jelek?" Lasya menoleh.
"Apa? kenapa kamu bicara begitu?" ibunya mendekat.
"Kenapa Hardi pergi? kenapa dia tidak mau kembali? pasti karena aku jelek." katanya.
"Lasya," ibunya memanggil.
"Oh tidak, ... bukan karena aku jelek kan Ma?? itu karena perempuan itu!! Dia yang sudah mengambil Hardi dari aku!! Ya!! Hardi pergi karena dia!!" Lasya kali ini meracau, sementara dia telah berdiri di ujung rooftop.
"Dulu Hardi langsung datang kalau aku panggil. Tapi sekarang dia bahkan tak peduli kalau aku sedang membutuhkan nya. Dia memilih pergi bersama perempuan itu. Meninggalkan aku!!" teriaknya lagi,
"Menurut mama, kalau aku lompat dari sini, dan aku terluka parah, Hardi akan datang tidak?" Lasya dengan suara dinginnya.
"Jangan sayang, jangan lakukan itu!!" ibunya berteriak.
Petugas mulai berdatangan. Beberapa dari mereka mencoba mendekat.
Lasya makin dekat di ujung. Kepalanya menunduk, melihat sejauh sepuluh lantai ke bawah. Tubuhnya mulai berguncang di terpa angin yang berhembus kencang. Sekali saja melangkah sudah siap-siap tubuh semampai itu akan langsung terjun bebas ke bawah dan membentur area parkir. Hancur.
"Aku terbiasa mendapatkan apa yang aku butuhkan, ma." teriaknya lagi dari ujung, sementara orang-orang terus mencoba mendekat.
"Aku nggak rela milikku berpindah ke orang lain."
"Jika aku tak bisa memiliki dia lagi, maka orang lainpun tidak boleh, atau ... kalau dia tidak bisa kembali, maka aku akan pergi.!!" katanya, bersiap menjatuhkan dirinya dari tempat dia berpijak.
Hampir semua orang yang ada di area itu berteriak. Mencoba mencegah gadis itu yang sudah kehilangan akal sehatnya.
Tubuh ramping itu hampir melayang di udara ketika sebuah tangan kekar menariknya secepat kilat ke tengah area. Dan ...
PLAK, PLAK!!
"Kakak!!" Alena berteriak seraya berlari menghampiri dua orang di depan.
Napas Hardi terengah, menatap nanar tubuh yang hampir tertelungkup itu. "Apa yang kamu pikirkan?!" geramnya.
Lasya mendongak setelah mampu mengumpulkan kesadarannya kembali. Tampak lah dalam pandangannya wajah tampan itu, yang berhari-hari dia nantikan kedatangannya.
"Kamu datang, ..." sebuah senyuman terbit di sudut bibir tipisnya.
Hardi mendengus kasar. Dadanya naik turun menahan amarah. Dia berlari menaiki tangga dari bawah setelah beberapa saat yang lalu menerima telfon dari ibunya Lasya, lagi.
"Aku tahu kamu pasti datang." Lasya mengulurkan tangannya ke arah Hardi. "Kamu selalu tahu waktu aku membutuhkan kamu." katanya lagi.
Hardi mundur dua langkah ke belakang. Kepalanya menggeleng pelan.
"Kenapa kamu begini, Lasya?"
"Aku ..." pandangan Lasya beralih kepada sosok dibelakang Hardi.
Gadis mungil bermata bulat yang sedang menatap iba kearahnya.
"Karena dia!! Kamu meninggalkan aku karena dia!!" Lasya bangkit. Dengan terhuyung dia berjalan melewati Hardi, menghampiri Alena yang berdiri mematung.
Pria itu mundur, menjadikan dirinya sebagai tameng, menghalangi istrinya dari jangkauan Lasya.
Gadis itu terus berputar, berusaha mencapai tubuh mungil di belakang Hardi. Namun segala usahanya sia-sia. Dia tak mampu meraih Alena walau hanya seujung rambutnya.
Sementara Alena tetap mematung di belakang suaminya. Menyaksikan betapa hancurnya Lasya dihadapan mereka berdua. Rasa bersalah makin menyeruak dalam hatinya.
"Stop Lasya, stop!!" Hardi berteriak. Sementara Lasya tak menggubris. Dengan tangisan dan amarah, gadis itu terus berusaha mendapatkan Alena.
Hingga akhirnya dengan terpaksa Hardi merangkul tubuh semampai itu kedalam pelukannya. Berusaha menenangkannya.
Lasya meronta, namun perlahan dia menyerah. Kemudian dia menangis dalam pelukan Hardi. Meraung sejadi jadinya.
"Aku nggak bisa!!!" Lasya meracau dalam tangisannya.
"Semuanya sudah berubah, Lasya." Hardi berbisik ditelinga Lasya yang memeluk erat tubuhnya.
"Semuanya sudah berakhir. Maaf." katanya lagi.
"Aku nggak mau!! aku nggak bisa!!" Lasya makin membenamkan wajahnya di dada Hardi. Berharap pria itu merasakan kepedihan dalam tangisnya.
"Aku sudah pernah berbuat salah, aku tak ingin berbuat salah lagi."
"Aku memaafkan kesalahan kamu, Di!!" Lasya setelah beberapa saat menangis.
Hardi terdiam. Lasya mendongak, menatap wajah cinta pertamanya. "Aku akan memaafkan semuanya. Asal kita bisa kembali ... bersama." katanya terbata.
Hardi menghela napas dalam-dalam. Kemudian menggeleng pelan. "Ini bukan soal memaafkan, kemudian kembali," ada yang berdenyut dalam dada.
"Keadaannya tidak seperti itu, Sya."
Airmata kembali berderai di pipi Lasya.
"Aku sudah menikah. Terlebih lagi, ..." sejenak Hardi menoleh ke arah Alena yang menyimak dalam diam di belakangnya. "Aku sudah punya anak." katanya.
Tangisan Lasya tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah pias. Keningnya agak berkerut. Gadis itu menjauhkan wajahnya dari Hardi, menciptakan jarak diantara mereka.
Hardi kembali menatap Lasya dengan sendu. Kepalanya mengangguk pelan. "Iya, Lasya. Aku ... sebrengsek itu." ungkapnya, pasti.
"Nggak mungkin!!" Lasya tak percaya apa yang telah didengarnya. "Kamu bohong!!" ucap Lasya lagi.
Hardi menggeleng, "Aku nggak bohong." mulai melepaskan pelukannya dari tubuh Lasya. Menoleh lagi kearah Alena, yang entah sejak kapan telah menggandeng tangan bocah lucu di sampingnya.
"Kamu hanya ingin membuat aku menjauh." Lasya masih tak percaya. Namun ikut mengalihkan perhatiannya ke belakang Hardi.
"Itu anakku. Umurnya dua tahun." Hardi tak peduli dengan sanggahan dari gadis di hadapannya.
Lasya terdiam. Namun airmata masih mengalir di pipinya.
"Waktu kita tunangan, ternyata Alena sudah mengandung." Hardi memulai ceritanya. "Kami terpaksa berpisah karena ... kamu depresi." Lasya kembali menatap wajah pria di depannya.
"Kami baru bertemu lagi beberapa bulan ini. Jauh setelah kita putus." Hardi kembali berujar.
"Aku baru bertemu anakku setelah dia berumur dua tahun. Dan selama itu aku nggak tahu kalau dia ada. Aku fikir Alena sudah menggugurkan kandungannya begitu kami berpisah waktu itu."
"Aku meninggalkan mereka, aku membiarkan Alena sendirian menjalani kehamilannya, dia sendirian melahirkan dan mengurus anak kami."
"Semua sudah benar-benar berubah Lasya, tak sesederhana seperti yang kamu pikirkan."
"Semua hal tak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Ada beberapa hal yang tak sesuai dengan harapan kamu, dan kamu harus menerima itu semua dengan ikhlas. Karena itu tak bisa dipaksakan. Atau kamu akan menyakiti banyak orang ketika kamu memaksakan kehendak agar sesuai dengan keinginan kamu."
"Maafkan aku." Hardi mengakhiri penjelasannya.
Lasya terdiam. Menatap wajah Hardi, lalu wajah Alena, kemudian wajah anak kecil disamping Alena secara bergantian.
Namun pandangannya mulai kabur. Sedetik kemudian tubuhnya limbung. Pandangannya kemudian menggelap. Lasya ambruk di pelukan Hardi.
*
*
Bersambung ...