
Arya telah berada di dalam kafe ketika Alena sampai. Dengan tergesa dia memasuki ruangan yang mulai dipenuhi pengunjung.
Melihat buah hatinya yang tengah berada dalam pangkuan Vania mbuat Alena melupakan kekalutannya barusan.
"Darimana saja kamu?" Arya yang telah menunggu.
"Tadi ada urusan sebentar." jawabnya, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Dilan yang tengah melahap es krim vanila bersama Vania.
"Hey sayang ... mama kangen!!" katanya seraya meraih balita itu, kemudian memeluknya dengan posesif. Menciumi kepala dan wajah nya yang menggemaskan.
"Hari ini pulang jam berapa?" Arya bertanya.
"Jam 8 kayaknya." Alena melirik jam yang menempel di dinding.
"Ya sudah. Ayo, .." meraih keponakan kesayangannya dari pelukan Alena. "Kita pulang duluan."
"Yakin?" Alena yang enggan melepaskan putra nya.
"Yakin lah. Kasian dia kalau diajak kerja terus." jawab Arya sekenanya.
"Ya udah." menyerahkan Dilan pada kakak laki-lakinya tersebut. Menciumi kepalanya yang tersuruk di pundak Arya.
"Dadah sayang. Tunggu mama dirumah ya." katanya lagi.
Arya pun keluar dengan membawa Dilan dalam pelukannya. Masuk kedalam mobil dan segera membawa balita itu pulang kerumah.
Sementara tak jauh dari sana, dari dalam sebuah mobil hitam persis di depan kafe Hardi mengamati adegan tersebut.
Lagi, perih terasa menggerogoti hatinya.
Entah kenapa apa yang dia lihat tersebut membuat hatinya bergemuruh. Dilanda amarah tak terkira.
Melihat balita yang dia yakini sebagai darah dagingnya berada dalam pelukan orang lain yang disebutnya sebagai ayah.
Menatap perempuan yang telah membuatnya hampir gila begitu dekat dengan seorang pria.
Rasa cemburu melanda hatinya.
Harusnya aku yang memeluk anak itu.
Harusnya aku yang membawanya pulang kerumah. Harusnya aku yang ada disana. Bukan dia. Bukan laki-laki itu.
Hardi memutuskan untuk mengikuti kemana mobil Arya pergi. Mencari tahu apa yang telah berubah selama dua tahun belakangan.
Tiga puluh menit kemudian mobil sampai di depan gerbang sebuah rumah. Rumah yang sama yang Alena tempati selama ini. Arya keluar dari mobil, membuka pintu gerbang, kemudian membawa mobilnya masuk ke dalam halaman rumah tersebut. Lalu pria itu keluar dari mobil dan memasuki rumah sembari menggendong si kecil Dilan yang terlelap.
Hardi menyandarkan kepalanya, memperhatikan kejadian tersebut.
Pria itu bahkan dengan bebas memasuki rumahnya. Bisiknya dalam hati.
Hardi memejamkan matanya, menghirup udara yang terasa pengap. Meredam perih dalam dada.
Setelah puas menikmati prasangka dalam hatinya, pemuda itu memutuskan untuk pergi dari sana. Membawa sesak yang kian menyeruak dalam dada.
*******
Malam menjelang ketika kafe mulai di bersihkan. Kursi-kursi dinaikkan keatas meja agar memudahkan pembersihan. Semua pegawai bekerjasama membereskan segala apa yang harus di bereskan. Setelah pengunjung terakhir pergi, pintu depan kafe segera dikunci. Dan ketika semuanya telah rapi, merekapun memutuskan untuk pulang.
Alena berdiri menunggu ojek online pesanannya setelah setengah jam yang lalu menolak tawaran Arya untuk menjemputnya.
Setelah beberapa menit, bukannya ojek online pesanannya yang datang, melainkan sebuah mobil Mercedes Benz hitam yang telah dikenalinya berhenti tepat dihadapannya.
Alena menghela napas berat.
Hardi keluar dari dalam mobil, menghampiri gadis itu yang enggan menatap kearahnya.
"Ayo pulang." ajaknya.
"Aku udah pesen ojek." jawab Alena, tanpa menatap wajah di hadapannya.
"Cansel aja." pinta Hardi dengan entengnya.
"Nggak bisa."
"Cansel." pintanya lagi.
"Nggak bisa. Kasian drivernya bisa kena suspend." kali ini menoleh ke arah Hardi.
Hardi terdiam, dia menyandarkan tubuh tingginya ke mobil. Sementara Alena menatap kesal.
Ojek pesanan Alena pun datang. Hardi segera menghampiri sang driver, sebelum Alena mencapainya. Kemudian memberikan selembar uang berwarna biru dan membisikkan sesuatu kepadanya. Driver tersebut mengangguk tanda mengerti, kemudian segera pergi dari sana.
"Lho, aku kan mau pulang!" Alena setengah berteriak.
"Sudah aku bilang aku yang antar!" jawab Hardi segera menghampiri.
"Drivernya nggak akan kena suspend. Udah aku bayar juga." katanya lagi.
Alena menghela napas.
"Ayolah, kita harus bicara." Hardi menatap kedua mata bulat yang dia rindukan itu. "Kali ini bicara yang benar. Aku janji." katanya, memohon.
Setelah berpikir sejenak, Alena memutuskan untuk mengikuti kemauan pria di hadapannya. Mungkin dengan berbicara dengan benar akan membuat keadaan sedikit membaik.
Mobil melaju ke arah pinggir kota, menuju sebuah tempat yang lebih sepi dari sebelumnya.
Suasana dalam mobil begitu hening. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah kafe di satu area bukit yang sunyi. Suasana temaram dengan lampu-lampu kecil dan obor yang berjejer di sisi kiri dan kanan area. Terlihat banyak pengunjung tapi suasana terdengar sunyi. Tak seperti kafe di tengah kota dengan hingar bingar yang cenderung berisik.
Mereka memasuki are kafe, dan memilih duduk di area teras yang langsung menghadap pemandangan indah diluar sana. Lampu kecil terlihat berkelap-kelip di kejauhan.
"Mau pesan apa?" Hardi menawarkan ketika seorang waiters menghampiri mereka.
"Kakak aja. Aku udah makan tadi." Alena tanpa menoleh.
"Spaghetti bolognese dua, orange jus dua." katanya, kepada waiter yang dijawab dengan anggukan oleh waiter tersebut kemudian pergi membuatkan pesanan.
Alena menatap tajam.
"Aku lapar." Hardi balik menatap gadis itu. Alena tak menjawab.
"Ayolah ... kakak mau bicara apa?" Alena memulai percakapan.
"Nunggu makanan dulu." jawab Hardi, melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kamu udah dewasa. Bukan anak SMP lagi. Mau pulang tengah malam pun sebenarnya kamu berhak." Hardi membalas dengan enteng.
"Aku bukan orang semacam itu. Bahkan ada anak yang sedang menunggu aku di rumah. Aku bukan si lajang yang bisa bebas pergi hingga larut malam dan berpura-pura nggak ada yang menunggu dirumah." katanya, panjang lebar.
Hardi menyeringai. "Menunggu dirumah. Anak? atau yang sedang menemani anak itu?" katanya, penuh penekanan.
Alena mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"
Hardi hanya mendengus.
Pesanan datang, membuat percakapan mereka terjeda. Hardi memutuskan segera melahap makanan di hadapannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan percakapan mereka. Sementara Alena hanya terdiam menatap kelakuan pria di hadapannya.
"Makanlah." Hardi yang mendapati makanan di hadapan Alena yang tak disentuhnya sedikitpun.
"Aku masih kenyang." Alena dengan jengahnya.
"Itu makanan favorit kita, ingat?" Hardi membuka memori semasa kebersamaan mereka sebelum berpisah.
"Terus?"
"Aku masih suka makan itu tiap hari."
"Yasudah," Alena menggeser piring makanan miliknya kedepan Hardi.
"Makanlah kalau kakak masih suka."
Hardi menatap nya datar. Meraih garpu di sisi piring, menggulung sedikit spageti nya, kemudian tanpa diduga menyodorkannya tepat ke depan mulut Alena. Membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya.
"Ayo makan.!" katanya agak memaksa.
Alena menggelengkan kepalanya.
Hardi tak mengubah posisi tangannya di depan wajah Alena. "Ayolah , Al!!"
"Aku nggak mau!" mendorong tangan Hardi dari depan wajahnya.
"Makanlah!" masih tetap dengan posisinya. "Kalau nggak, aku akan ...
"Apa? Kakak mau memaksa aku? Silahkan, tapi kakak nggak akan berhasil, aku nggak bisa dipaksa sekarang." Alena menegakkan kepala, menatap manik coklat yang berubah sendu.
"Kamu berubah." katanya, getir.
"Aku nggak berubah. Aku hanya mencoba kuat. Aku nggak ingin selemah dulu." jawabnya, tegas.
Hardi menyandarkan punggungnya.
"Aku mohon, ... maafkan aku!!" katanya lirih. "Kalau kamu masih marah karena sikap aku dulu, aku terima. Tapi aku mohon maafkan aku." menatap kedalam mata bulat yang kini juga tengah menatapnya dingin.
"Semuanya sudah berlalu, kak. Nggak ada yang perlu dibicarakan."
"Aku mohon ...
"Aku sudah melupakan semuanya. Aku nggak akan mengungkit apapun yang sudah terjadi."
"Melupakan semuanya?"
Alena mengangguk.
"Dilan?" Hardi berbisik menyebutkan nama itu.
"Dia hal terbaik yang aku punya. Yang bikin aku kuat sampai sekarang."
"Terus aku?"
"Kakak hiduplah seperti biasa sebelum kita ketemu lagi. Jangan ungkit apapun. Aku pernah bilang, jika suatu hari kita ketemu, aku minta kakak jangan pernah menyapa aku. Anggap kita nggak pernah saling mengenal." Alena mengatakan seolah itu hal yang paling mudah dilakukan.
"Apa Dilan benar anak aku?" Hardi mencondongkan posisinya ke arah gadis didepannya.
Alena terdiam sebentar, kemudian mengangguk. "Iya. Kalau kakak perlu jawaban itu, aku jawab iya. Dia anak kakak yang dulu hampir aku buang karena putus asa."
Hardi memejamkan mata sambil menghela napas berat.
"Tapi kakak tahu, untung aku berubah pikiran. Kalau nggak, mungkin hidup aku nggak akan sebaik sekarang."
Hardi kembali menatap wajah gadis itu dengan sendu.
"Aku bersyukur memiliki dia. Dia hal terbaik yang aku punya."
"Boleh aku menemui dia?" Hardi yang sudah kehilangan kata-kata.
"Mungkin sesekali." Alena mengangguk.
"Ijinkan aku ketemu dia setiap hari."
Seketika Alena menggeleng pelan.
"Aku bilang sesekali. Bukan tiap hari."
"Aku janji nggak akan mengusik hidup kamu. Nggak akan mengganggu rumahtangga kamu." katanya, dengan nada sedih.
Alena mengerutkan dahi. Ada yang aneh. Batinnya.
"Suami kamu nggak bakal tahu soal ini, aku janji." katanya lagi.
Alena makin mengerutkan dahinya.
Dia pikir aku sudah menikah, begitu?
Hal konyol terbit di pikirannya.
"Mungkin seminggu sekali boleh. Datang saja ke kafe setiap hari Jum'at kalau mau ketemu Dilan."
"Tapi ...
"Seminggu sekali, atau nggak sama sekali." katanya, tegas.
Dengan terpaksa Hardi menyanggupi hal itu. Setidaknya itu terasa lebih baik daripada tidak sama sekali. Nanti akan dia pikirkan cara lain, batinnya.
Bersambung ....
Like koment sama vote nya selalu aku tunggu ya.
I love you full😘😘😘