ALENA

ALENA
52.Sunny



Ada yang berdesir hangat dalam hati setiap kali menatap wajah polos anak kecil di depannya. Hardi seperti melihat dirinya dalam tubuh anak kecil itu. Oh bukan, tepatnya perpaduan dirinya dan Alena. Rambut hitam, mata bulat berwarna coklat, bulu mata yang lentik. Dan bibir mungil milik Alena.


"Om Diiiiiii!!!" Dilan menghambur ke pelukan Hardi yang berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan balita lucu itu.


Setelah empat kali berturut-turut mereka bertemu setiap hari Jum'at siang di kafe.


Hardi memeluk erat tubuh mungil Dilan dalam dekapannya. Menghirup aroma bayi dalam setiap jengkal tubuhnya yang selalu dia rindukan.


Hardi mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya duduk di kursi pojok dekat jendela, agar putranya itu dapat melihat mobil yang berlalu lalang dijalanan.


Mobil adalah hal yang paling disukai Dilan, terutama Bus dan truk. Anak itu selalu berteriak kegirangan ketika ada bus dan truk yang lewat didepan matanya.


Hardi selalu menatap ekspresi itu dengan binar bahagia.


Sepiring spageti bolognese dan satu gelas jus jeruk menjadi teman makan siangnya, seperti biasa. Sambil sesekali menyuapkan sebagian kecil makanan tersebut ke mulut mungil Dilan, yang selalu mengunyahnya dengan mata bulat yang berbinar. Dan Hardi selalu menanggapinya dengan gelak tawa yang riang.


"Anakku." gumamnya sambil mengusap puncak kepala balita itu dengan gemas.


Alena menatap dari balik meja kasir dengan perasaan yang tak dapat di deskripsikan. Bahagia sekaligus sedih. Tak menyangka akan bertemu lagi dengan ayah dari anaknya dalam keadaan seperti sekarang.


"Kelihatan banget kalau mereka itu bapak sama anak." Vania yang juga tengah menatap ke arah yang sama.


"Eh ..." Alena tergagap, seperti tertangkap basah tengah melakukan kejahatan.


"Biasa aja kali." Vania menyeringai.


"Ck!! Apa sih." Alena mendelik.


"Jadi, kamu belum jujur soal bang Arya yang sebenarnya kakak kamu itu?" Vania menoleh, mengikuti gerakan sahabatnya itu yang sedang membereskan meja kasir.


Alena menggeleng.


"Kenapa membiarkan Kak Hardi salah faham terus.?" katanya lagi.


"Kalau nggak gitu, Kak Hardi akan berbuat nekad. Aku tau seperti apa sifat dia yang kadang lepas kontrol, .." baru membayangkannya saja sudah bergidig ngeri. Seolah itu adalah hal yang paling menakutkan di muka bumi.


"Tapi lama-lama aku kasihan sama dia." Vania kembali menatap ke arah ayah dan anak yang sedang asyik bercengkerama.


"Hmm ..." Alena menggumam.


"Hukuman yang kamu berikan menurut aku keterlaluan." katanya lagi.


"Aku nggak lagi menghukum siapapun." Alena berhenti sejenak, kemudian berpikir. "Memang kelihatannya begitu ya?" katanya, menoleh ke arah Vania.


Sahabatnya itu hanya menggendikkan bahu.


"Adduhh...." Vania bereaksi ketika dia menangkap sesosok yang dikenalnya hendak memasuki kafe.


"Kenapa?" Alena menoleh.


"Bang Arya." katanya, sembari menggendikkan dagunya ke arah depan.


Wajah Alena memucat.


Gadis itu baru saja berniat akan memberitahu Hardi soal kedatangan kakaknya tersebut, namun diurungkannya karena ternyata Arya telah berdiri di depan meja tempat Hardi dan Dilan berada.


"Kamu?" Arya yang terheran dengan keberadaan Hardi disana. Bercengkerama bersama keponakan tersayangnya.


Hardi terhenyak.


"Yayah!!!" sikecil berteriak kegirangan dan merentangkan tangannya kearah Arya, yang langsung disambut pelukan hangat oleh pria itu.


"Anak ayah lagi apa?" katanya, menciumi kepala bocah itu.


"Om Diiiiiii!!" katanya menunjuk kearah Hardi. Pemuda itu tersenyum canggung.


"Abang mau makan siang?" Alena segera menghampiri kakaknya tersebut.


Arya menoleh. "Kopi." jawabnya, datar. Menatap tajam ke arah adiknya.


"Oke." Alena segera membuatkan pesanan kakaknya itu.


Tanpa disangka Arya duduk di tempat Hardi dan Dilan duduk.


"Saya lewat tadi. Ternyata Dilan ada disini." katanya.


"Oo ..." Arya mengangguk.


"Yayang udah makan?" tanyanya kepada anak kecil dipangkuannya.


"Hu'um ..." si kecil mengangguk sambil memanyunkan bibir mungilnya, gemas.


"Makan apa?" tanya Arya lagi.


"Miiiiii ....." jawab Dilan,


"Mi?"


"Hu'um .. mi ... om D-iii" katanya lagi.


Arya segera menoleh ke arah Hardi yang tengah menatap anak kecil itu. Mengerutkan dahinya.


"Kamu sudah lama disini?" kini beralih ke arah Hardi.


"Oh .. baru aja tadi, pak." jawabnya, gelagapan.


Alena datang membawa kopi hitam kesukaan Arya, menaruhnya di meja.


"Kamu kasih Dilan mi?" Arya langsung bertanya kepada adiknya.


"Hah? nggak."


"Tadi Dilan bilang begitu." ada nada marah dalam suaranya.


"Mungkin maksudnya spageti, pak. Tadi saya makan spageti soalnya." Hardi menyela.


"Lain kali jangan kasih lagi, Dilan belum bisa.!" katanya, tetap menatap tajam ke arah adiknya.


Alena mengangguk pelan.


"Tapi tadi dia bisa kok, pak. Dilan ..."


"Saya belum pernah memberi dia makanan semacam itu. Dan saya juga bahkan melarang ibunya memberikan makanan macam-macam." protektif mode on dengan wajah tak suka.


Hardi segera menutup mulutnya kala menangkap gerakan kepala Alena yang menggeleng pelan. Seperti berkata " diamlah, atau kamu mati!!" seperti itu kira-kira.


"Lain kali jangan kasih anak saya makanan sembarangan!" katanya, mendengus kasar dan segera bangkit meraih tubuh kecil keponakannya.


"Abang mau pergi?" Alena mengikuti langkah Arya.


"Pulang. Terlalu lama disini membuat Dilan dalam bahaya." katanya, tanpa menoleh sedikitpun. Sementara Si kecil Dilan melambaikan tangan ke arah semua orang di belakang.


Alena menghela napas berat. Ditatapnya kepergian kakak laki-lakinya tersebut dengan hati risau. Rasanya seperti telah melakukan kesalahan.


Gadis itu kemudian berbalik dan mendapati Hardi yang juga tengah terpaku menatap kepergian Arya dengan membawa anaknya.


Alena berjalan menghampiri pemuda itu.


"Bang Arya memang suka begitu. Maaf." katanya.


Hardi tak menjawab. Dia merogoh dompet di saku celananya, mengeluarkan selembar uang berwarna biru, meletakkannya dimeja. Kemudian bangkit.


Dengan langkah gontai keluar dari kafe tanpa sepatah katapun.


Sementara Alena kembali menghela napas pelan.


Ini akan berat!! Batinnya.


Bersambung ....


Like koment sama vote nya dong, biar aku tau kalo kalian udah mampir.


I love you full 😘😘😘