
Teriakan frustasi menggema diruang perawatan VIP sebuah rumahsakit di kota Bandung. Suara benda jatuh terdengar nyaring. Dokter dan beberapa suster berlarian menuju kamar perawatan tersebut.
Hardi dan Alena baru saja tiba pagi tadi ketika di area itu para perawat terlihat sibuk karena seorang pasien yang mengamuk.
Jerit keputusasaan terdengar lagi. Beberapa orang coba menenangkan.
Pasangan muda tersebut sampai di ambang pintu dan mendapati kekacauan diruang perawatan Lasya. Beberapa barang berserakan dilantai. Obat-obatan berhamburan.
Lasya mengamuk.
Langkah Hardi tertahan diambang pintu. Menatap kekacauan yang sedang terjadi dengan mantan tunangannya itu.
"Kamu mau berjanji satu hal, Al?" Hardi berbisik sebelum masuk ke ruangan itu.
"Ap-apa?" Alena tergagap.
"Apapun yang terjadi, kamu harus tetap mendampingi aku." katanya, menatap mata bulat yang mulai terlihat sendu.
Dia tahu Lasya akan berbuat diluar kendali. Dia mengenal mantan tunangannya itu seperti apa ketika depresi. Apapun akan dilakukan gadis itu, termasuk melakukan hal memalukan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Hardi meraih tangan istrinya, menautkan jari-jari mereka dengan erat.
"Berjanjilah." katanya lagi.
Alena mengangguk pelan. "Iya. Aku janji."
Ibunya Lasya menyadari kehadiran mereka, "Hardi ..." sapanya, dengan air mata yang berlinang di pelupuk matanya.
Hardi dan Alena berjalan memasuki ruangan tersebut. Tampak Lasya menoleh, kemudian menghentikan kegilaannya.
"Maaf Tante harus menelpon kamu," sekilas melirik ke arah Alena. "Maaf." katanya.
"Lasya terus mengamuk, dia tidak mau mendengarkan kami." katanya lagi, berurai air mata. "Dia hanya mau ketemu kamu."
Hardi menghela napas dalam. Melirik ke arah Lasya yang terlihat kacau. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di kedua matanya tampak kentara. Air mata masih tampak membasahi kedua pipinya. Pergelangan tangannya dibungkus verban, pasti dia menyayat urat nadinya lagi.
"Kamu kenapa, Sya?" Hardi berdiri di samping tempat tidur. Menatap mantan tunangannya itu dengan iba.
"Aku kira kamu baik-baik aja. Kenapa begini?" tanya nya lagi.
Lasya kembali terisak. Mengulurkan tangannya ke arah Hardi.
"Aku butuh kamu, ..." katanya. Terisak.
Reflek Hardi mundur dua langkah ke belakang, ke dekat istrinya yang diam membeku.
"Aku butuh kamu ....." katanya lagi, mengiba.
Hardi menggeleng.
"Aku sudah menikah, keadaannya sudah beda sekarang." meraih tangan Alena yang berada tepat di belakangnya. Mensejajarkan posisi mereka hingga sekarang berdiri bersisian.
Tangis Lasya pecah. Gadis itu meraung. Menarik selang infus yang terhubung ke urat nadi di tangannya. Berusaha melepaskannya. Frustasi.
Alena mendorong tubuh suaminya agar menghentikan perbuatannya Lasya yang tak terkendali.
Dengan terpaksa pria itu maju mendekati Lasya, kemudian mencengkeram tangan gadis itu hingga ia menghentikan aksinya.
Tanpa aba-aba, Lasya merangsek ke pelukan Hardi dan melingkarkan kedua tangannya dengan erat di pinggangnya. Mengunci tubuh tinggi itu seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Hardi berusaha melepaskan pelukan itu dengan tergesa.
"Aku mohon, aku mohon!!!" Lasya mengiba, membenamkan wajahnya di dada pemuda itu.
Ratapan nya terdengar pilu. Akhirnya Hardi tak tega melepaskan dirinya. Bagaimanapun, dulu mereka pernah saling menyayangi.
Lasya diam setelah Hardi berhenti berusaha melepaskan tangannya. Hanya isakan yang terdengar sementara wajah itu masih terbenam di dadanya.
Semua orang terdiam. Suasana terasa canggung.
Alena menggigit bibirnya dengan keras hingga terasa sakit. Menguatkan hatinya untuk melihat suaminya sendiri dipeluk oleh wanita lain di depan matanya.
Alena berpikir untuk keluar, membiarkan keadaan seperti itu untuk sementara. Membiarkan suaminya menenangkan mantan tunangannya yang tengah jatuh depresi.
Alena membalikkan tubuhnya bermaksud keluar dari sana, namun secepat kilat Hardi meraih lengan kurusnya sementara Lasya masih memeluknya dengan erat.
"Stay!!" Hardi setengah berbisik. Kedua rahangnya tampak mengeras.
"Kalian butuh waktu, ..."
"I said stay!!" katanya lagi. "Kamu sudah janji." Hardi mengingatkan.
Alena menghela napas pelan. Terpaksa menuruti kehendak suaminya untuk tetap tinggal di ruangan itu. Walau dadanya terasa sesak.
*
*
Suasana ruang rawat begitu hening. Alena duduk termangu di sudut sofa di sisi lain ruangan, sementara Hardi masih terduduk di tepi ranjang menemani Lasya yang tak mau ditinggalkan. Walaupun kini mereka tak lagi berpelukan, tapi tangan Lasya masih mengunci tangan Hardi dengan posesif.
Sesekali Hardi melirik ke arah istrinya yang termenung. Dia menghela napasnya berat.
Pintu terbuka dari luar. Seorang perawat masuk membawa nampan makanan. Hardi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir jam 12 siang.
"Siang, pak." dengan senyum ramah.
Perawat meletakan nampan di nakas si samping tempat tidur.
"Sudah waktunya makan, dan minum obat buat ibu Lasya," katanya lagi. Kemudian segera pergi dari sana.
Hardi bangkit, mengambil nampan dari nakas tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Lasya.
"Kamu makan ya. Habis itu minum obatnya, biar cepat sembuh." katanya, menaruh nampan tersebut di tepi ranjang.
Ibunya Lasya datang menghampiri.
"Biar mama suapi, Ya.?" mengusap pundak Lasya dan meraih nampan berisi nasi dan sayuran.
"Kamu kalau mau keluar dulu silahkan, biar Tante yang jaga Lasya," ujarnya kepada Hardi. Pria itu mengangguk dan bermaksud bangkit, namun genggaman Lasya menguat.
"Aku mau makan dengan kamu." katanya, menatap wajah mantan kekasihnya. Hardi menghela napas, menoleh ke arah Alena yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Sayang, Hardi juga perlu makan. Dari pagi dia disini nemenin kamu, kan?" ibunya Lasya memberi pengertian, namun seketika putrinya itu menatapnya dengan raut tak suka.
"Aku nggak mau makan kalau Hardi pergi." katanya, dengan airmata yang mulai mengalir lagi.
Alena bangkit dari sofa. "Biar aku keluar sendiri. Kakak mau dibawain apa?" katanya, pada suaminya yang terpaku dengan pikiran bingung.
Hardi menatap wajah istrinya, "Kamu makan aja. Aku nggak apa-apa." katanya, sendu.
"Nanti aku bawain." Alena sambil berlalu.
"Nggak usah. Hardi makan dengan aku!" Lasya menyela. Membuat Alena berhenti sejenak, mencerna kata-kata gadis itu, namun kemudian melanjutkan niatnya keluar dari ruangan yang setiap detiknya terasa pengap.
"Al!!" Hardi memanggil.
Gadis itu berbalik, "Iya kak?" matanya sudah berkaca-kaca.
"Cepat kembali.!!" Hardi merasakan kerongkongannya mengering.
Alena tak menjawab, dia bergegas keluar dari ruang rawat menuju kemanapun asal bukan ruangan pengap itu.
Oh... betapa lemahnya kamu Alena!!
*Kenapa harus mengalah?? Kak Hardi kan suamiku. harusnya aku bertahan disana.
Tapi aku tak kuat*.
Batinnya berkecamuk.
Alena menyandarkan punggungnya di tembok. Hawa dingin merasuk ke tulang punggungnya, terasa tembus sampai hati.
Rasa bersalah mulai merayap dihatinya.
Kalau dulu aku tak mendekat, mungkin sekarang mereka sudah bahagia bersama.
Apa aku bersalah telah hadir diantara mereka?
Alena meraba dadanya yang terasa sesak. Rasa sakit di bagian itu menyeruak hingga ke ulu hati. Perih.
🍁
🍁
Bersambung ...