ALENA

ALENA
61. Aku Lemah Tanpamu



*


*


*


Hari-hari berjalan seperti biasa. Tak ada yang berbeda. Alena menjalani hidupnya nya senormal mungkin. Pergi bekerja, menitipkan putranya di daycare, kemudian pulang kerumah pada sore hari. Dan pada akhir pekan, Dilan dalam pengasuhan Arya seperti biasa.


Akhir pekan. Biasanya Hardi datang pada saat jam makan siang. Mengambil putranya di daycare, makan spageti bolognese ditemani segelas orange jus kesukaannya. Kadang sambil menyuapi balita menggemaskan itu diselingi tawa riang keduanya.


Sudah sebulan pria 26 tahun itu tak hadir. Dia menghilang setelah pertemuan mereka yang terakhir.


Kafe terasa sepi, padahal pengunjung sedang membludak siang itu. Hanya saja ada hati yang hampa.


Sesekali Alena keluar dari meja kasir membantu waiters yang agak kewalahan melayani pengunjung kafe yang mengantri.


Beberapa kali gadis itu melewati meja yang berada di sudut ruangan tempat Hardi dan putranya biasa menghabiskan waktunya bersama. Terasa ada kehilangan yang meliputi hatinya. Vania sering mendapatinya tak fokus dan tengah melamun.


*


*


*


Arya datang pada sore hari ketika kafe agak sepi. Membawa Dilan dalam gendongannya.


"Mama!!!" bocah itu berteriak riang sambil mengulurkan tangannya.


Alena tersenyum, menyambut tubuh kecil itu ke pelukannya. Menciumi kepalanya dengan penuh rindu, seakan lama tak bertemu.


"Pulang sekarang?" Arya menyela.


Alena mengangguk. "Udah ada yang ngisi sift sore." katanya.


"Ayo." ajak Arya, melangkah keluar dari kafe.


"Van, aku pulang." Alena berteriak kepada sahabatnya, dijawab dengan lambaian Vania dari balik meja kasir.


Tak ada percakapan ataupun obrolan seperti biasanya. Hanya celoteh bocah di pangkuan Alena yang mengisi keheningan di dalam mobil yang mereka tumpangi.


Duapuluh menit kemudian mereka sampai di depan rumah yang sepi. Mereka keluar dari dalam mobil, melangkah masuk kedalam rumah. Bersamaan dengan itu, tiba pula sebuah mobil Mercedes hitam yang Alena kenali.


Si pemilik mobil keluar. Berjalan tersuruk-saruk menghampiri mereka.


Arya segera merebut Dilan dari pelukan ibunya. Menyerahkan nya kepada Anna yang keluar dari rumah beberapa saat setelah mereka tiba. Dan menyuruhnya kembali masuk.


Hardi sampai di tangga teras, wajahnya pucat, rambutnya agak berantakan. Kedua matanya menghitam dengan cekungan yang tampak jelas.


"Kak Hardi?"


Pria itu tiba dihadapannya.


"Aku nggak bisa," katanya, sendu.


Alena tertegun.


Tiba-tiba Hardi berlutut, meraih tangan Alena, menarik tubuh gadis itu.


Membenamkan wajahnya di perut Alena. Menangis sesenggukan.


"Aku mohon ... Aku nggak bisa.!" katanya, memeluk pinggang gadis itu yang masih tertegun.


"Aku butuh kalian, Al!!"


Alena merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. Matanya mulai berkabut.


Kedua tangannya meraih kepala pemuda itu.


"Kakak jangan begini!" katanya,


Alena menggelengkan kepala. "Jangan begini, kak!!" katanya lagi.


Tiba-tiba Arya meraih tangan gadis itu hingga tautan mereka terlepas. Ditariknya Alena kebelakang, sementara dia berdiri dihadapan Hardi dengan kemarahan yang siap meledak.


"Sudah jelas dia tak mau ikut denganmu! Kenapa kamu masih memaksa?!" Arya dengan tatapan menusuk. Kedua rahangnya mengeras menahan amarah.


"Aku hanya ingin melakukan apa yang seharusnya nya aku lakukan!" Hardi bangkit dengan perlahan. Tubuhnya tampak lemah.


"Kamu tahu, kamu beruntung aku masih mampu menahan diri, kalau aku mau aku bisa saja melenyapkanmu saat ini juga." Arya mengancam.


"Kalau itu lebih baik, lakukanlah. Aku memang layak mendapatkannya." Hardi seolah menantang.


Arya mendengus, wajahnya memerah. Kemarahan sudah berada di puncaknya.


Alena menggelengkan kepalanya di belakang Arya, ketakutan menyelimuti hatinya.


Hardi melangkah maju, hendak mencapai sosok dibelakang Arya. Namun segera, kedua tangan pria itu menghalanginya. "Jangan coba-coba,!!" katanya.


Namun pemuda itu tak berhenti. Dia tetap merangsek. Mengulurkan tangan kirinya ke arah gadis itu. Membuat amarah Arya kian tersulut.


"Kurang ajar!!" Arya meraih kerah kemeja Hardi, mencengkeramnya kuat. Mendorong tubuh pemuda itu hingga terhuyung ke belakang.


Hardi kembali melangkah maju, Arya segera menghalaunya dengan melayang kan pukulan. Pemuda itu tak menduga, hingga tinju Arya mendarat tepat di pipi kirinya. Hardi tersungkur.


Terdiam beberapa detik, merasakan kepalanya yang berdenging. Kemudian mencoba bangkit.


Alena tersentak.


"Dari awal aku sudah memperingatkan! Menjauh selagi aku bisa mengendalikan diri. Tapi kamu tak medengarkan.!" Arya berteriak.


"Bertahun-tahun aku mencari tahu tentang siapa yang telah menghancurkan adikku hingga seperti sekarang ini, bahkan semua orang yang tau tentang ini tetap bungkam sampai sekarang!!" Arya dengan napas yang menderu.


"Tapi kamu tahu? Tuhan begitu baik. Setelah aku mengikhlaskan semua, mencoba menerima segala yang telah terjadi, walaupun rasanya sakit melihat keluargaku mengalami hal buruk semacam ini. Menerima cibiran orang-orang, gunjingan orang tentang adikku yang punya anak tanpa suami." Arya mengingat tahun-tahun tersulit dalam hidupnya melihat adiknya dalam keadaan terhina dimata orang-orang.


"Kamu tahu rasanya seperti apa?" Arya mendekati Hardi yang tengah berusaha keras untuk bangkit ditengah rasa sakit yang menyerang tubuhnya.


"Rasanya seperti kamu ingin segera melenyapkan orang itu hingga tak tersisa apapun dari dirinya." Arya mencengkeram wajah Hardi yang mendongak, menatap ke arahnya tanpa rasa takut. Membuatnya gusar setengah mati.


"Aku sudah merelakan semuanya. Tapi lihat, kamu malah mengantarkan nyawamu sendiri kepadaku. Seharusnya kamu lari selagi masih bisa. Tapi kamu terlalu bodoh dan menganggap kata-kataku hanya bualan semata!!" Arya menghempaskan wajah itu ketanah. Menekannya kuat.


Hardi mencoba bergerak. Dengan tenaga yang tersisa. Entah kenapa tubuhnya begitu lemah.


Oh ... obat sialan!! Umpatnya dalam hati.


Arya melepaskan tangannya dari wajah pemuda itu. Hardi bergerak bangkit, namun tiba-tiba saja kaki Arya melayang dan mendarat di ulu hatinya. Membuat pemuda itu terjengkang ke belakang dengan posisi terlentang.


Alena menjerit. "Abang stop!!" katanya, berlari menghampiri dua pria yang sedang bertikai tersebut. Menahan tubuh Arya yang tengah bergerak maju menghampiri Hardi yang tengah terlentang, meraba perutnya yang terasa sakit.


Bau anyir menguar, asin terasa di mulutnya Hardi. Diseka nya ujung bibir yang terasa basah, terlihat cairan merah kental menempel di punggung tangannya.


"Saat itu aku bersumpah, akan membuat kamu menyesal telah menghancurkan adikku." Arya meletakkan sebelah kakinya diatas tubuh Hardi, menekannya kuat-kuat hingga pemuda itu menggeram, keningnya berkerut menahan sakit.


Semakin lama semakin kuat hingga terdengar bunyi berderak. Teriakan Hardi menggema di pekarangan rumah itu. Kesakitan.


"Abang!!!" Alena kembali menjerit. Mencoba menyingkirkan kaki Arya dari tubuh Hardi.


Kaki Arya tertumpu sangat kuat diatas tubuh Hardi, hingga Alena harus bekerja sangat keras untuk melepaskannya. Sebelum akhirnya Arya sendiri yang menurunkan kakinya tersebut.


"Alena, masuk!" Arya memerintah. Namun gadis itu tak mendengarkan.


Wajah Hardi mulai pias, napasnya tersengal, dia meringis kesakitan. Alena segera berlutut mencapai tubuh pemuda itu.


"Kalau dengan cara ini dia bisa memaafkan aku, apa kamu mau ikut dengan aku?" Hardi berbisik.


Alena tak menjawab. Hanya airmata yang mengalir deras dipipinya.


Bersambung ...