ALENA

ALENA
32. Begin



Hujan yang begitu lebat mengguyur kota Bandung petang itu. Air seakan tak berhenti mengalir dari langit. Hingga jalanpun tak terlihat akibat lebatnya air yang turun.


Alena membiarkan tubuhnya basah kuyup diterpa hujan yang melanda. Dia berharap semuanya menghilang terbawa air hujan yang mengalir deras.


Semuanya sudah tak berarti lagi. Hidupnya, masa depannya, cita-citanya, hancur sudah. Kini yang tersisa hanyalah penyesalan mendalam.


Bagaimana kamu menjadi begitu bodoh, Alena!! Setelah sehancur ini kini siapa lagi yang akan peduli padamu? Bahkan dia yang menyebut dirinya sebagai milikmu pun tak mempedulikan kamu dan anaknya. Yang ada dalam pikirannya hanya dia dan cita-citanya yang harus tercapai.


Alena memejamkan mata, menengadahkan wajahnya ke langit. Membiarkan air hujan menjatuhi kulit wajahnya yang sudah hampir membeku.


Ya Tuhan!! Setelah begini dia baru mengingat Tuhan. Air mata kembali mengalir berlomba dengan derasnya hujan yang kian membekukan.


*******


Alena tiba di depan pagar rumah yang setinggi dada orang dewasa itu. Tak biasanya lampu rumah sudah menyala. Dua mobil sudah berjejer rapi di garasi samping. Rupanya ketiga kakaknya sudah sampai dirumah.


Hujan masih asyik mengguyur bumi meskipun suhu udara sudah hampir di titik beku.


Alena melangkah dengan gontai menuju pintu depan. Dadanya berdebar hebat. Entah dia harus mulai dari mana membuka masalah ini terhadap ketiga kakaknya.


Klek!! pintu dibuka.


Terlihat ketiga kakaknya tengah duduk di ruang keluarga. Arya, Alya, dan Anna duduk saling berhadapan dalam diam seperti menunggu sesuatu.


Arya bangkit, namun ditahan oleh Alya yang meraih lengannya. Alya menggeleng pelan.


Namun Arya menepisnya. Kakak tertuanya itu berjalan menghampiri Alena.


"Darimana saja kamu?" tanyanya dengan kemarahan tertahan.


Alena menggigil, entah kedinginan atau ketakutan.


"Jawab!!" Arya dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan.


Alena tersentak. Seumur hidupnya dia tak pernah dibentak sekeras itu oleh Kakaknya semarah apapun dia.


Barusaja Alena akan membuka mulutnya untuk menjawab, sebuah benda melayang dilemparkan Arya ke wajahnya. Dan terjatuh tepat di kaki gadis itu.


Alena menunduk, menatap benda tersebut. Tubuhnya seketika terkesiap manakala matanya dengan jelas menangkap sebuah testpack tergeletak di samping kakinya.


Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ragu-ragu dia mengangkat kepalanya kembali. Memberanikan diri menatap ke arah kakak laki-lakinya itu.


"Milik siapa itu, Alena?" tanya Arya dengan suara yang menakutkan.


Alena tak menjawab.


"Jawab!!" bentaknya lagi.


"Abang, aku ...."


"Kurang ajar!!" Arya melayangkan tangannya hendak memukul, namun secepat kilat Alya menarik tubuh ringkih Alena dan menyembunyikan nya dalam pelukannya.


"Jangan!!" Alya berteriak.


"Alya, minggir!!" Arya memerintah.


"Nggak!! Kamu nggak boleh pukul dia! Dia adik kita!" Alya melindungi Alena dengan posesif.


"Minggir, Alya!!" Arya menarik lengan Alena yang tak terlindungi, seketika gadis itu sudah berada dalam genggamannya.


Alena merasakan kepalanya berputar tak karuan. tubuhnya terasa ringan. Pandangannya gelap. Dia ambruk. Terakhir yang di dengar ya adalah suara teriakan Alya dan Anna.


 


Seorang dokter tengah memeriksa keadaan Alena. Menempelkan stetoskop pada dada dan leher gadis itu. Memeriksa denyut nadinya.


"Bisa dipastikan kalau dia saat ini sedang mengandung." dokter tersebut menjelaskan.


Semua yang berada di ruangan begitu terkejut dengan kebenaran yang barusaja mereka duga sebelumnya.


Arya terkulai lemas, dia hampir terjatuh kalau saja tak ada lemari pakaian di belakang tubuh tingginya.


Sementara Alya dan Anna terisak.


"Bagaimana bisa begini, Alena?!" geram Arya, sesaat setelah dokter berpamitan.


Alena menunduk dalam diam. Hanya airmata yang terus memerus keluar.


"Kamu membuat pengorbanan Abang sia-sia! Kamu mengecewakan Abang!!" Arya bangkit dari duduknya.


"Maaf." Alena dengan suara parau.


Arya mendengus, menghampiri Alena. Mencengkeram pundak gadis itu.


"Siapa pelakunya?" katanya, jelas kemarahan tengah menguasainya.


Alena diam.


"Katakan siapa pelakunya." Arya mengulangi kata-katanya.


Alena tetap bungkam.


"Alena!!!" Arya berteriak.


Alena kembali menggigil, kali ini ketakutan.


"Aku ... dia ..."


Sebuah bayangan muncul di memori Alena. Ketika suatu hari di sekolah saat dia SMP. Ada seseorang yang mengganggunya. Lebih tepat melecehkannya. Tanpa berpikir panjang Arya bertindak segera setelah mendengar gadis itu mengadu sambil menangis. Keesokan harinya, si pengganggu masuk rumah sakit dan Arya terpaksa di panggil pihak kepolisian karena sudah menghajar seseorang hingga hampir mati.


Deg!!


Arya tak mungkin tinggal diam. Dia pasti akan bertindak sesuatu. Mungkin hal yang sama, atau bahkan lebih dari itu.


"Katakan Alena!!" Arya menggeram.


Kemarahan benar-benar tampak pada dirinya.


"Aku akan menyeret dia dan menghajarnya sampai dia akan merasa menyesal telah hidup dan mengganggumu!!" katanya dengan amarah yang tak bisa dibayangkan.


Alena tergugu. Tangisnya pecah.


"Katakan!!" Arya berteriak.


Alena makin tergugu. Arya mengguncangkan tubuhnya. Hingga gadis itu kembali tak sadarkan diri.


************


Alena terbangun karena rasa mual yang menyeruak dari dalam tubuhnya. Cepat-cepat dia berlari ke kamar mandi memuntahkan segala yang ada dalam perutnya. Setelah itu dia jatuh terduduk lemas di sudut kamar mandi.


Oh ... betapa menyiksanya keadaan ini!!


Dia baru ingat kejadian semalam.


Apa yang harus aku lakukan setelah ini?? Bagaimana aku akan menjalani hidup setelah ini? Kehamilan ini. Oh ...


Terdengar suara pintu dibuka dari luar. Ada yang masuk.


"Besiap lah. Kita akan kerumah sakit." Arya yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.


Alena mendongak. Kemarahan masih tampak jelas di wajah kakak laki-lakinya tersebut.


Saat ini tak ada yang bisa dilakukan oleh Alena selain menuruti kata-kata kakaknya.


Dia bangkit dan segera membersihkan diri.




Seorang dokter perempuan dengan serius menatap layar monitor di hadapan Alena, dengan alat yang di tempelkan pada perutnya yang masih rata.



Terlihat gambar yang tak dimengerti gadis itu. Bulatan hitam dan abu\-abu. Dadanya berdebar menatap kehidupan yang sedang berproses dalam rahimnya. Ada rasa yang tak ia mengerti.



Dokter itu menghentikan kegiatannya.



"Perkiraan umur janin sudah delapan minggu." katanya, meletakkan alat yang dia pegang tadi.



Terdengar Arya menghela napas dalam. Dia mengangguk.



"Baik, terimakasih dokter." katanya setelah mendapat ceramah panjang lebar seolah dia adalah ayah dari bayi dalam perut adiknya.



Alena masih terdiam sepanjang perjalanan dari rumah sakit. Arya tampak berpikir keras.



"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Arya memulai pembicaraan.



Alena masih tertegun.



"Dia tau??" Arya menggeram harus mengingat pria mana yang telah menjamah tubuh adik kecilnya.



Alena mengangguk.



"Lalu apa reaksinya?" Arya mencengkeram keras kemudi hingga urat ditangannya terlihat menonjol.



Alena mengeleng.



Wajah Arya memerah menahan marah. Dia menginjak rem tiba\-tiba. Mobilpun berhenti.



"Kalau begitu katakan siapa pelakunya. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya."



Alena terdiam.



*Apa semua akan lebih baik*?



"Katakan Alena!!" Arya berteriak.



Alena mulai terisak lagi.



Arya mengobrak abrik kamar Alena. Semua barang dia keluarkan demi mencari tahu siapa dalang dibalik kehamilan adiknya. Sedangkan Alena tetap bungkam. Gadis itu memilih dibentak dan diteriaki daripada harus buka suara.


"Hp kamu mana?" Arya baru ingat.


Alena menyerahkan ponsel miliknya dengan tangan gemetar. Takut-takut Arya menemukan sesuatu. Namun pria itu semakin marah karena tak menemukan apapun dari ponsel adiknya.


Rupanya Alena telah menghapus segala yang berhubungan dengan Hardi. Foto, video, bahkan gadis itu telah memblokir nomer Hardi dari ponselnya.


"Terus saja kamu bungkam seperti itu. Aku akan mencari tahu sendiri. Dan tidak akan berhenti sampai menemukan pecundang yang telah berani menghancurkan hidupmu!!" Arya dengan geraman yang menakutkan. Kemudian pergi.


Tak lama kemudian Alya masuk dan mendapati Alena tengah menangisi sebuah gambar di tangannya. Foto USG.


"Kenapa kamu membuat ini semakin sulit? Harusnya kamu bilang siapa pelakunya agar masalah cepat selesai!!"


"Kakak pikir ini akan selesai dengan aku bilang ke Abang?"


Alya mengangguk.


"Nggak. Akan ada banyak korban yang jatuh." Alena masih terisak.


"Maksud kamu?"


"Kakak kira abang hanya akan meminta pertanggung jawaban saja setelah tau siapa orangnya?"


Alena menatap wajah kakak perempuannya.


"Abang akan melakukan hal yang lebih buruk."


Alya pun ingat dulu ketika masih remaja saat dia mengalami perundungan di sekolah. Tanpa ampun Arya menghajar si pelaku hingga tak berdaya. Dan lagi-lagi harus berurusan dengan polisi.


"Kalau kakak pikir aku melindungi laki-laki itu kakak salah. Yang aku lindungi adalah abang. Aku takut abang bertindak diluar kendali, sehingga membuat abang masuk penjara. Aku takut!!" tangis Alena pecah.


"Dia tidak akan berhenti, Al!! Dia akan terus mencari sampai dapat."


"Biarkanlah. Tapi tetap saja abang nggak akan menemukan apapun. Nggak ada yang tahu aku berhubungan dengan orang ini."


"Kamu yakin?"


Alena mengangguk.


"Apa kamu berhubungan dengan suami orang?" Alya ngeri dengan pertanyaan nya sendiri.


Alena menggeleng.


"Teman kuliah?" Alya memancing.


Alena terdiam.


Kakak perempuannya itu terus saja mengorek keterangan, sementara Alena tetap bungkam.


Bersambung ...