ALENA

ALENA
MABUK



"diamana ini?" Alena tersadar dari mabuknya, ia bingung kenapa dia berada di ruang kamar yang terasa asing ini.


Alena membuka selimutnya untuk mengecek apakah pakaiannya masih lengkap atau tidak karena ia takut ada pria brengsek yang memanfaatkan dirinya saat mabuk.


Alena memukul kepalanya berkali kali agar dia mengingat kejadian semalam saat ia mabuk.


"berhenti memukul kepala mu bodoh" seorang pria berjalan masuk yang membuat alena terkejut.


pria itu menaruh nampan yang berisi sarapan lengkap dengan buah dan susu untuk Alena.


Alena mengerutkan dahinya dan memperhatikan pria tersebut.


"tunggu dulu" tangan Alena menyantuh kepalanya. sedikit demi sedikit ingatannya terkumpul saat melihat pria tersebut.


"ada apa?" pria tersebut melihat Alena kebingungan


"aaa jangan melihatku" Alena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu


"kau tentara itu?" Alena bertanya dengan telapak tangan yang masih menutupi wajahnya.


"ya. semalam aku melihatmu mabuk berat di pinggir jalan, aku berencana mengantarmu pulang tapi aku tak tahu rumah mu jadi aku membawamu kerumah sepupu ku"


pria tersebut menyodorkan segelas susu pada Alena.


" aah kenalkan namaku Daniel" Daniel mengulurkan tangannya pada Alena


"aku Alena" mereka berjabat tangan namun Alena memalingkan wajahnya karena malu.


"eh mba sudah bangun" seoarang gadis mungil yang manis datang.


"Alena kenalkan dia sepupuku Rachel"


Rachel mengulurkan tangan untuk berjabatan begitu juga dengan Alen


"jadi kau pemilik rumah ini Rachel?"


Rachel mengangguk sambil tersenyum kepada Alena.


"ah iya aku harus pulang. Terimakasih kalian sudah menolongku"


Alena mengambil tasnya dan keluar dari kamar


"mari ku antar" daniel memberikan tawaran pada Alena


"aah tak usah, aku membawa mobil kok" Daniel dan Rachel tertawa mendengar ucapan Alena.


"dimana mobilmu?" tanya Rachel yang masih berusaha menahan tawanya


"ah sial, aku meninggalkannya. Baiklah antar aku ke bar untuk mengambil mobilku"


Daniel menyiapkan mobilnya dan mereka menuju bar tempat Alena memarkirkan mobilnya semalam. sesampainya di bar, Alena langsung mengendarai mobilnya untuk pulang.


Sementara itu di dalam mobil Daniel menyentuh dadanya karena detak jantung yang tak normal saat melihat Alena


"kenapa aku tertarik dengan wanita liar itu?" Daniel memukul kepalanya karena terbayang wajah Alena.


"Alen kau dari mana? kenapa semalam tidak pulang? kau baik baik saja?" pertanyaan mama yang beruntun kepada Alena karena khawatir


"semalam aku tidur di apartemen ma"


mama mengenduskan hidungnya kearah Alena.


"kau mabuk?" mama menatap tajam alena, dia tahu bahwa Alena hanya akan mabuk saat dirinya mendapat masalah besar.


"tenang ma, aku hanya sedikit minum karena bosan" Alena berusaha meyakinkan sang mama dengan senyum lebarnya.


"sudahlah segera mandi lalu kita ke mall untuk membeli pakaian yang terbaik dan merias wajah kita dengan sempurna di salon terbaik karena, semalam calon mertuamu mengundang kita untuk makan malam di restotan termahal malam ini"


Alena mengernyitkan dahinya melihat sorotan mata mama yang sudah berubah menjadi bersinar bahagia saat menceritakan undangan makan malam keluarga Raka.


Alena melangkah menuju kamarnya untuk segera mandi. setelah selesai mereka pergi ke mall dan memilih pakaian dengan harga yang sangat mahal. satu persatu pakaian di coba oleh Alena dan akhirnya Alena memantapkan diri untuk membeli dress berwarna merah.


setelah selesai dengan urusannya memilih pakaian mereka pergi ke salon untuk merias diri. Alena memilih make up yang natural dengan rambut tergerai sedikit bergelombang, namun berbeda dengan sang mama yang bermake up mencolok dan rambut yang di sanggul.


Alena menatap wajahnya yang terpantul di cermin seraya berkata dalam hati "apakah Raka akan menyukai penampilanku hari ini?"


setelah persiapan yang melelahkan akhirnya tiba waktu makan malam bersama keluarga Raka. Alena duduk tepat disebrang Raka, Alena melihat raut wajah Raka yang sangat tegang serta gelisah pada acara makan malam tersebut.


"wah Alen kau terlihat semakin cantik" Tante Rita yang merupakan ibu Raka sangat kagum melihat kecantikan Alena.


"ahh tante juga sangat cantik malam ini" Tante Rita tersipu malu mendengar pujian dari Alena.


kedua orang tua raka sangat baik terhadap Alena karena Om Bimo yang merupakan ayah Raka adalah sahabat almarhum Ayah Alena. Om Bimo juga merupakan direktur Rumah Sakit milik keluarga Alena yang juga tempat Raka bekerja. Om Bimo juga sangat berjasa karena dialah salah satu orang yang memajukan Rumah Sakit itu.


"ahh maaf sebelumnya saya ingin menyinggung terkait pernikahan anak kita"


Raka tersedak mendengar ucapan Mama Alena.


"yaa yaa silahkan, kapan waktu yang tepat? lebih cepat lebih baik" ucap Om Bimo dengan bersemangat


"bagaimana jika bulan depan? gimana Alen...Raka?" sahut tante Rita


"maa kenapa buru-buru, aku belum menyiapkan segala sesuatu" ucap Raka


"biar Mama dan Papa yang akan menyiapkannya. bagaimana Alen siap?" tante Rita menginjak kaki Raka yang berada di sampingnya.


"Alen sih bagaimana Raka saja tante"


saat ini hati Alena terasa sakit mengingat kejadian sebelumnya, namun kini dia membicarakan pernikahan dengan keluarga Raka.


"Alen mama setuju bulan depan seperti yang dikatakan Tante Rita, jadi mama mau besok kalian berdua pergi memilih gaun pernikahan"


mama melirik tajam kearah Raka yang sepertinya keberatan dengan keputusan pernikahan ini, dan lagi dia teringat Alena yang tidak pulang karna mabuk.


"ada apa dengan kalian berdua?" tanya Mama dalam hati"


***apa yang akan terjadi selanjutnya*?


terimakasih teman-temansudah menyempatkan untuk membaca cerita ini🤗**