
Perkataan Hana selalu terngiang di benak Arya meski telah beberapa hari berlalu. Namun dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakannya tidak keliru.
Aku hanya melindungi adikku. Batinnya.
Dan setelah beberapa waktu, memang tak ada perubahan yang ditunjukkan Alena. Dia tetap bersikap biasa. Pergi bekerja, mengurus putra semata wayangnya, dan berdiam diri dirumah. Tak ada yang lain.
Hingga suatu hari Arya memergoki adik bungsunya tersebut tengah terisak di dapur ketika dia tengah mencuci piring. Namun buru-buru mengusap pipinya ketika menyadari sedang ada yang memperhatikan.
Atau dilain waktu ketika Alena tengah membawa putranya bermain di taman belakang rumah. Gadis itu tampak melamun.
Dan lagi sering ketika malam hari saat dia sedang menidurkan Dilan. Gadis itu memeluk tubuh kecil putranya dengan berlinang air mata. Dia menangis dalam diam.
Tapi Alena tak memperlihatkannya di depan siapapun. Gadis itu selalu ceria. Adiknya itu tengah berpura-pura.
Apa yang paling menyakitkan selain melihat orang yang kau sayangi ternyata tak bahagia?
Arya menghela napas pelan.
Apa dengan membiarkannya pergi aku sudah melakukan hal yang benar? Tapi dia tanggung jawabku! Aku harus melindunginya dan memastikan dia baik-baik saja.
Pria 37 tahun itu mengusap wajahnya dengan kasar.
*
*
*
"Pergilah ..." Arya ketika usai makan malam saat itu.
Kedua adik perempuannya terdiam saling pandang.
"Kalau kamu memang ingin pergi." katanya lagi, menatap wajah Alena lekat-lekat.
"Abang ..." Alena merasa tenggorokan nya tercekat.
"Abang tidak akan menahan mu lebih lama. Pergilah."
Gadis itu kembali terdiam.
"Setidaknya beban Abang akan berkurang," katanya dengan suara bergetar.
"Be-beban??" Alena terperangah. Yang dia tahu, Arya selalu menyebut dirinya dan saudaranya yang lain sebagai tanggung jawabnya, bukan beban.
"Ringankanlah beban kakak mu ini. Pergilah." ucapnya, berulang. Wajahnya datar dan dingin. Tanpa ekspresi.
Seketika airmata meleleh di pipi Alena. Bagai jutaan pisau menghujam jantungnya. Tanpa pikir panjang dia bangkit segera menuju ke kamarnya.
Meraih tas diatas lemari, memasukkan beberapa pakaian miliknya juga putranya. Dia tergesa memasukkan sebanyak yang dia bisa.
Kemudian dia turun kembali ke ruang makan. Meraih tubuh kecil Dilan yang asyik melahap makan malamnya.
"Maaf kalau selama ini aku ternyata hanya menjadi beban buat Abang. Maaf aku belum bisa berbuat hal yang berguna buat Abang. Maaf karena aku selalu merepotkan Abang. Maaf aku tak bisa menjadi apa yang Abang inginkan." Isakan lolos dari bibirnya. Airmata mengalir membasahi kedua pipinya.
"Aku ... pamit." katanya, seraya beranjak pergi dari ruangan itu, menuju pintu keluar.
Alena berhenti sejenak di teras. Memandangi sekeliling rumah yang selama 23 tahun ini menjadi tempatnya bernaung. Melindunginya dari panas dan hujan. Tempat teraman bagi dirinya.
Dengan travel bag di tangan kanan, dan Dilan di sebelah kirinya, dia berjalan keluar dari pekarangan. Dengan berderai air mata.
Langkahnya terhenti di halte tempat biasa dia menunggu angkutan dulu.
Sekarang, kemana aku akan pergi? Batinnya.
Sebuah taksi berhenti didepannya. Menawarkan jasa tumpangan. Alena bergegas masuk. Meletakkan travel bag d sisi kanan jok dan meraih Dilan dipangkuannya.
Taksi melaju setelah dirinya menyebutkan tempat tujuannya. Rumah sakit tempat Hardi dirawat. Berharap mereka masih disana.
Apa mereka akan menerimaku? Setelah semua yang terjadi? Tuhan, aku tak punya siapa-siapa lagi. Kemana aku harus pergi.. Jeritnya dalam hati, sementara air mata tak henti berderai.
*
*
*
Pintu tiba-tiba terbuka saat Hardi dibantu ayah dan kakaknya untuk turun dari tempat tidur. Ketiganya menoleh. Tampak sosok bertubuh mungil itu berdiri di ambang pintu, dengan travel bag yang d jinjing dan tangan kirinya yang memeluk erat bocah kecil yang tengah terlelap di pundaknya.
"Dia bilang aku bebannya ..." Alena terisak. Airmata kembali mengalir dari kedua sudut matanya.
Hana segera meraih Dilan dari pelukan ibunya. Membawa kedua nya masuk kedalam ruang rawat. Menggiring gadis itu untuk duduk di sofa dekat tempat tidur.
"Ada apa? kamu pergi dari rumah? Bertengkar lagi dengan Arya?" Hana menghujaninya dengan pertanyaan.
"Dia bilang aku bebannya. Kalau aku pergi, setidaknya bebannya akan berkurang." Alena sesenggukan. Betapa kata-kata itu melukainya dengan sangat dalam.
Linda menghampiri nya, meraih pundak gadis itu, kemudian memeluknya dengan hangat. Mengusap punggungnya pelan.
"Sudahlah, kamu berada di tempat aman sekarang." katanya, menenangkan.
Hardi juga tertatih menghampirinya. Mengusap puncak kepala Alena.
"Maaf." katanya, hanya itu yang mampu terucap.
Alena makin sesenggukan.
*
*
Selama satu jam penuh gadis itu meluapkan rasa sedihnya hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya.
"Sebaiknya kamu pulang ke apartemen. Kasian Dilan kalau harus tidur disini." Linda yang tengah memeluk cucu laki-lakinya.
Alena mendongak, menatap mata teduh wanita paruh baya tersebut.
"Besok Hardi sudah boleh pulang, jadi kamu bisa menunggu dia d apartemen." sambung Hana, melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah malam, ayo, aku antar. Kebetulan aku juga mau pulang." katanya lagi.
Alena beralih menatap Hardi yang juga memandanginya dengan posisi berbaring. Pria itu menganggukan kepalanya.
Tanpa banyak bicara, akhirnya Hana memutuskan untuk segera mengantar Alena juga putranya pulang ke apartemen Hardi.
*
*
*
Matahari telah terbit beberapa jam lalu. Memancarkan sinarnya yang hangat menyapa seluruh dunia.
Alena masih bergelung dibawah selimut bersama putranya yang masih terlelap.
Semalaman dia tak bisa tidur. Entah efek dari kesedihan yang dirasakannya karena telah terusir dari rumahnya, seperti yang dirasakannya. Atau entah karena tempat ini. Kamar Hardi yang dulu telah menjadi saksi bisu pergumulan mereka saat itu. Yang terus berkelebat sejak beberapa saat yang lalu.
Sudah jam 9, Alena memutuskan turun dari tempat tidur sesaat setelah si kecil terbangun. Segera mebersihkan dirinya dan juga Dilan.
Rasa lapar menderanya, dia memutuskan untuk pergi ke dapur. Membuka pintu lemari yang biasanya tersimpan beberapa bahan makanan. Setidaknya, itu yang dia ingat dulu ketika sering berkunjung kesini.
Yang dia temukan hanya beberapa mie instan. Terpaksa itu yang dia masak untuk sarapan dirinya juga anaknya.
Seketika di ingatannya muncul wajah Arya yang marah ketika mengetahui putra nya tanpa sengaja memakan mie instan buatannya.
"Jangan kasih Dilan mie instan!!"
"Dilan belum bisa makan itu!!"
"Awas kalau kamu kasih dia makanan itu!!"
"Kamu mau meracuni Dilan?"
Kata-kata itu terngiang di telinga seakan orang yang mengucapkannya ada di depan wajahnya.
Alena menghela napasnya pelan. Menetralisir kegundahan dalam hatinya.
Setidaknya beban Abang akan berkurang dengan kepergian aku.
*
*
Bersambung* ...