ALENA

ALENA
46. Pertemuan



Meeting dadakan hari ini cukup menguras tenaga. Selain ini pertama kalinya Hardi dan Raja sebagai partner mendapatkan kerjasama dengan perusahaan dari luar Jakarta, juga karena perusahaan satu ini memang sulit ditaklukan.


Apalagi yang turun tangan kali ini adalah kepala cabang yang memang sulit sekali dipuaskan dengan kinerja se sempurna apapun.


"Jauh-jauh ke Bandung lagi, gue nggak mau gagal. Ini kesempatan bagus buat kita." Raja menetralisir ketegangan dalam dadanya.


"Lu tenang aja kenapa sih. Gelisah amat. Kayak sapi mau lahiran tau nggak?!" Hardi bersungut-sungut dengan kelakuan sahabat sekaligus partner kerjanya itu yang selalu gugup ketika menghadapi klien seakan tak punya kepercayaan diri.


"Tapi yang satu ini beda, bro. Kepala cabangnya ngalahin pimpinan pusat. Kalo dia nggak puas, orang pusat nggak bakalan setuju." Raja tambah gugup.


"Lu kayak baru seminggu kerja aja." Hardi protes.


"Ya, gugup mah wajar lah. Gue takut gagal." Raja membela diri.


"Coba lu itungin, dari mulai kita kerja bareng, berapa banyak tender yang gagal kita dapet setelah meeting?" Hardi menatap wajah tegang sahabatnya itu.


"Belum pernah. Semua selalu kita dapet." Raja dengan kening berkerut.


"Nah itu elu inget."


Raja mengangguk-angguk.


Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu memasuki ruang rapat. Langkah lebarnya menghentak lantai dengan mantap. Aura yang menguar darinya memenuhi ruangan. Hening.


Pria itu segera duduk di ujung.


"Selamat pagi." sapanya, disertai anggukkan, dan dibalas anggukkan lagi dari beberapa orang yang sudah menunggu sejak beberapa saat yang lalu.


Sekilas pria itu mengernyitkan dahi ketika tatapannya singgah di wajah Hardi.


Rapat pun dimulai. Hardi menjadi pembicara dalam rapat itu. Menawarkan kerjasama yang akan menguntungkan kedua belah pihak.


Panjang lebar penjelasan yang terlontar dari mulut pemuda itu. Menunjukkan betapa menjanjikannya kerja sama yang akan mereka dapatkan.


Berbagai video dan gambar pun tak luput dari segala penjelasannya. Semua orang di ruangan itu mengangguk-angguk. Ada yang faham, ada yang hanya ikut-ikutan sang pemimpin rapat.


Kecakapan Hardi dalam berbicara di tengah khalayak memang tak bisa dianggap sepele. Dia mampu menarik minat lawan bicaranya sehingga mereka tertarik dengan apa yang sedang jadi topik bahasan siang itu.


"Jadi, kami harap kerjasama ini akan berlanjut ke arah yang lebih baik, pak. Dengan hasil yang memuaskan bagi kedua belah pihak." Hardi mengakhiri presentasi nya dengan senyum sumringah.


Arya mengangguk. "Baik. Mungkin untuk tahap selanjutnya bisa diselesaikan di ruangan saya setelah makan siang ini." katanya, yang juga segera mengakhiri rapat siang itu.


Semua orang tampak lega, terlebih lagi dua orang designer arsitektur yang telah mempersiapkan bahan rapat hari ini sejak jauh-jauh hari.


"Iya. Terimakasih, pak." Hardi dengan puasnya.


Kemudian semua peserta rapat siang itu keluar dari ruangan.


Hardi dan Raja segera membereskan peralatan presentasi mereka ketika seorang staf kantor menghampiri.


"Maaf, pak. Pak Arya mengundang anda berdua untuk makan siang." katanya menyampaikan pesan.


"Oh?? Iya. Sebentar lagi kami keluar." Jawab Hardi, kaget bercampur senang. Tak disangka meeting siang itu membuahkan hasil yang memuaskan.


Setelah memberi tahu tempat yang akan dituju, staf itu pun pergi meninggalkan mereka.


Makan siang diadakan di restoran yang letaknya beberapa blok dari kantor. Suasana yang nyaman dan asri dengan konsep rumah kayu tradisional Sunda mendominasi, membuat pengunjung serasa tengah berada di rumah.


Arya mempersilahkan dua eksekutif muda itu untuk duduk. Setelah berbasa-basi sebentar, makanan pun segera terhidang di meja.


Suasana terasa santai tak setegang seperti saat rapat tadi.


"Saya puas dengan presentasi kalian tadi, membuat saya tertarik untuk melakukan kerjasama ini." Arya berusaha terdengar ramah meski ini tidak seperti dirinya yang biasanya tak mudah dipuaskan dengan kinerja anak kemarin sore yang baru memasuki dunia kerja semacam ini.


"Terimakasih, pak. Kami akan berusaha yang terbaik." Hardi menanggapi.


"Oh iya, saya dengar dulu kalian kuliah di Bandung juga?" Arya yang mulai mengalihkan obrolan.


"Betul, pak. Kami lulusan kampus XX Bandung." Raja menimpali.


"Oh iya? Bagus dong, jadi kalian sudah mengenal daerah yang akan kita bangun. Semuanya akan lebih mudah." Arya dengan bersemangat.


Kedua orang pemuda dihadapannya mengangguk-angguk sambil tersenyum.


Makan siang pun berakhir, kini mereka kembali menuju kantor untuk melanjutkan perjanjian kerjasama yang akan berlangsung sampai beberapa bulan kedepan.


"Tunggu," Arya menahan Hardi saat kedua pemuda itu hendak pamit keluar dari ruangannya.


"Iya, pak?" Hardi yang agak kaget dengan sikap Arya.


"Saya boleh bertanya?" Arya mendekat.


"Silahkan, Pak." Hardi mengangguk sopan.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Saya kok sepertinya pernah melihat kamu, tapi dimana, ya." Arya dengan agak canggung akhirnya mengeluarkan unek-unek yang sejak pagi dipendamnya.


Hardi dan Raja saling berpandangan.


"Saya rasa belum pernah, pak. Ini pertama kali saya masuk kantor ini, dan juga ini juga pertama kali saya bertemu bapak." Hardi yang sedikit kikuk.


"Tapi saya rasanya pernah lihat kamu. Tapi dimana, ya." Arya berusaha keras mengingat, tapi gagal. Dia tak ingat apa-apa selain dirinya yang merasa pernah bertemu dengan pemuda di hadapannya.


"Mungkin dijalan, pak. Selama kita kuliah disini mungkin saja kita pernah berpapasan dijalan." Raja menyela.


"Ah, ... iya. mungkin itu." Arya tersenyum canggung.


"Yasudah, pak. Kalau begitu kami pamit." Hardi mengakhiri pertemuan siang itu.


*****


"Udah dua tahun, kota ini udah banyak yang berubah," Raja menghempaskan punggungnya di sandaran kursi di sebuah kafe yang mereka ingat dulu itu adalah tempat tongkrongan mereka semasa kuliah.


"Apa yang lu harap? Semua nggak berubah setelah kita pergi?" Hardi menyahut sambil menyeruput kopi di hadapannya.


"Tapi gue seneng bisa balik lagi kesini." Raja tersenyum penuh arti.


"Jelas elu seneng, ada tujuan lain elu kesini." Hardi mencibir.


"Helleh, kayak elu kagak punya tujuan lain aja." Raja membalas cibiran sahabatnya itu.


Hardi hanya tersenyum sekilas, kemudian menyeruput lagi kopi ditangannya.


Apa ini keputusan yang benar? Atau aku hanya terobsesi saja? Ah ... aku tak bisa melepaskan dia!!


Batin Hardi seraya pikirannya berkelana ke masa hampir tiga tahun yang lalu.


Setiap hari memori di otaknya terus memutar segala yang pernah terjadi antara dirinya dan gadis kurus bermata bulat itu.


Dia telah berusaha untuk melupakan, dari mulai menekuni hobby baru, traveling ketika masa libur tiba, bahkan hingga mengunjungi psikiater guna menyembuhkan mentalnya yang dirasakan sangat tersiksa. Tapi semuanya tak membuahkan hasil.


Perkataan Vania selalu terngiang-ngiang di telinganya sampai sekarang.


Selamat menikmati rasa bersalah seumur hidup kakak karena sudah menghancurkan hidup seseorang!!


Bulu kuduknya terasa meremang, tubuhnya tiba-tiba merinding.


Hardi menggelengkan kepalanya. Dirogohnya saku jas hitam yang dia kenakan. Satu botol mini pil penenang dikeluarkan, dibuka kemudian diambilnya satu butir, kemudian meminumnya dengan segelas air mineral.


Raja menatap sahabatnya iba.


"Masih aja lu minum tuh obat?" Raja yang sedari tadi memperhatikan.


"Daripada gue nyabu!!" Hardi menjawab.


"Hhhhh... apa bedanya sama nyabu. Sama-sama ketergantungan lu." Raja protes.


"jelas beda lah."


Raja hanya menggeleng. Prihatin dengan keputusasaan sahabatnya itu.


"Sumpah, gue bakal nemuin Alena. Gimanapun caranya.!!" Hardi menggeram menahan sesak yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.


"Gue nggak peduli dia bakal gimana, atau keluarganya mau bunuh gue sekalipun. Gue nggak peduli!!"


Bersambung ...


Like koment sama vote nya please, biar aku tau kamu udah mampir.


I love you full😘😘😘😘