
*
Alena terbangun dari tidurnya ketika dia merasakan pusing di kepalanya. Perempuan 23 tahun itu mengerjap-ngerjapkan mata, mengumpulkan kesadarannya.
"Hissstt!!" memegangi kepalanya sambil meringis.
"Kenapa?" Hardi yang terbangun mendengar desisan disampingnya. Bangkit dan meraup tubuh Alena yang masih terbaring.
"Aku pusing." tetap memegangi kepalanya. Lalu bangkit.
Seketika rasa mual menyerangnya, menimbulkan rasa ingin muntah.
Alena bangkit, kemudian berlari ke kamar mandi. Barusaja sampai diambang pintu, dia langsung memuntahkan isi perutnya.
Hardi segera berlari menghampiri istrinya yang sedang teesiksa rasa mual yang hebat. Memijit tengkuknya dengan telaten.
Alena ambruk di ambang pintu setelah semua isi perutnya keluar. Lemas.
Hardi menyodorkan segelas air hangat, yang disambut Alena dengan malas, kemudian meminumnya segera untuk menghilangkan rasa mual yang tersisa.
"Kamu sakit?" tanya Hardi, menyentuh kening Alena yang berkeringat.
Alena menggeleng, "Mungkin masuk angin."
"Kamu pucat. Mau kedokter?" tanya nya lagi, nada khawatir terdengar dari suaranya.
Alena menggeleng lagi. Dia mencoba bangkit, namun tubuhnya malah ambruk lagi ke lantai.
Segera Hardi mengangkat tubuh kecil istrinya, dan membawanya ke tempat tidur.
"Kamu sakit, kita ke dokter ya?" bujuknya, walau tetap dengan jawaban yang sama seperti tadi, Alena hanya menggeleng.
Hardi menatap wajah pucat Alena, sebuah pikiran melintas dikepalanya.
"Jangan-jangan kamu hamil?" katanya, satu sudut bibirnya terangkat keatas.
Alena mendongak, "Masa? Memangnya yang muntah-muntah begini cuma gejala hamil?" menjawab dengan lemas.
Hardi terkekeh, "Mungkin." katanya.
Alena terdiam. "Tolong ambilkan kalender," menunjuk kalender kecil diatas nakas. Hardi menurut mengambilkan benda yang di tunjuk istrinya.
Alena menatap kalender dalam diam. Melihat angka-angka tanggal bulan itu.
"Hampir akhir bulan, ..." menoleh ke arah suaminya, "Dan aku belum datang bulan." katanya, menelan ludahnya kasar.
Hardi menyeringai, entah kenapa jantungnya bertalu-talu. Ada rasa bahagia yang menyeruak dalam dadanya.
"Senyum kakak aneh!!" Alena menyela lamunan suaminya.
"Ayo kita periksa ke dokter!!" ajaknya, antusias.
"Kalau aku hamil gimana?" Alena malah merasa ragu, seketika otaknya memutar peristiwa penolakan Hardi ketika awal dirinya mengandung Dilan.
"Ya bagus." Hardi dengan girangnya.
"Kakak tidak akan menolaknya?" Alena takut-takut.
Kemudian pikirannya langsung mengingat kelakuannya tiga tahun lalu yang menolak mentah-mentah kehamilan Alena yang tak diduga.
Hardi terdiam, kemudian meraih tangan Alena, menggenggamnya dengan lembut.
"Maaf dengan semua yang terjadi dulu, aku bodoh." mengecup telapak tangan istrinya dengan penuh perasaan.
Alena tersenyum sekilas.
"Tapi gimana kalau ternyata bukan hamil?" Alena menggigit bibir bawahnya.
"Ya nggak apa-apa. Kita punya banyak waktu untuk membuat kamu hamil." Hardi terkekeh, otaknya langsung merancang rencana hebat untuk dirinya dan Alena.
Alena mencibir.
*
*
Hardi menunggu di depan pintu kamar mandi dengan gelisah. Alena tengah menggunakan alat tes kehamilan yang dibelinya barusan di minimarket di samping gedung apartemen mereka.
Sementara didalam pun keadaannya sama. Alena merasakan jantungnya berdebar begitu kencang menatap benda kecil yang di celupkan di dalam gelas kaca berisi air seninya.
Pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Hardi mendorongnya dengan tak sabar. Tampak Alena yang tertunduk sendu.
"Gimana?" tanyanya, tergesa.
Alena mendongak kemudian menggeleng pelan.
"Hhhh ..." Hardi menghela napas pelan. Raut wajahnya berubah kecewa.
Alena meraih tangan Hardi, membalikkannya hingga telapak tangannya menghadap keatas. Menaruh benda kecil itu diatas telapak tangan suaminya.
Hardi mengerutkan dahi. Menatap benda itu dengan teliti. Meraihnya dengan tangan satunya, membawa benda itu ke depan matanya agar dia bisa melihat hasilnya dengan jelas.
"Dua garis ...?" dahinya masih berkerut, sesaat kemudian kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman lebar.
"Positif." sambung Alena yang juga tengah tersenyum ke arah suaminya.
Hardi menoleh, dan dengan tiba-tiba merangkul Alena hingga tubuh mungil istrinya itu terangkat ke atas. Memeluknya dengan erat.
"Dilan akan punya adik!! Dan aku jadi papa lagi!!" teriaknya, girang.
*
*
**Hai gaess ... Aku belum move on dari mereka ... 🤣🤣
Semoga ada yang masih mau baca**.
**Mungkin akan ada beberapa ekstra part lagi setelah ini.
peluk jauh dari author ... 😘😘😘**
Like komen sama vote nya juga boleh kok 😂😂