ALENA

ALENA
79. Balas Dendam



*


*


"Aku capek," gumam Alena ketika Hardi kembali menciumi tengkuknya. Gadis itu merasakan tulang-tulang di tubuhnya seakan terlepas setelah suaminya menerjangnya berkali-kali.


Hardi terkekeh, "Aku nggak." katanya, berbisik ditelinga istrinya yang meringkuk seperti bayi. Tubuh Alena kembali meremang.


"Kakak kejam!!" keluhnya, dengan suara serak. Namun Alena membalikkan tubuhnya, kemudian tangan kecilnya meraih leher Hardi, memeluknya dengan posesif.


"Itu hukuman karena kamu sudah mengabaikan aku semalaman." jawab Hardi, mulai menciumi wajah istrinya, lagi.


"Hmm ..." Alena menggumam.


"Kamu nggak tau rasanya tersiksa seperti itu." kembali menggerayangi tubuh istrinya.


"Jadi itu balas dendam?" Wajah Alena mendongak, menatap wajah suaminya yang tengah menyeringai.


"Aku bilang itu hukuman. Bukan balas dendam." Hardi terkekeh. " karena balas dendam akan jauh lebih berat dari itu." katanya lagi, tergelak.


"Kalau begitu, aku minta ampun!!" Alena meladeni ketengilan suaminya.


"Terlambat," Hardi kembali menempelkan bibirnya di bibir mungil Alena. Menyesapnya penuh hasrat seperti baru pertama merasakannya. Tangannya sudah menjelajah kemana-mana.


Alena mendorong dada suaminya dengan susah payah.


"Aku bilang aku minta ampun!!" gadis itu merengek.


"Hukuman belum selesai!!" tukas Hardi, seraya melanjutkan cumbuannya.


"Aku haus, ... dan lapar." keluh Alena, berhasil menghentikan ulah suaminya pada tubuhnya.


Hardi memicingkan matanya. Melirik jam di atas nakas. Sudah jam 5 sore.


Pria itu terkekeh, kemudian melepaskan istrinya yang sudah tak berdaya.


Hardi bangkit, turun dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri.


Sepuluh menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, sambil mengibas-ngibaskan rambut basahnya dengan telapak tangannya.


Handuk melilit di pinggangnya. Roti sobek kembali terpampang nyata. Alena memalingkan wajahnya sambil menghela napas.


Seharusnya aku sudah terbiasa, setiap hari aku kan melihat itu. Gumamnya dalam hati. Meredam rasa gugup yang kembali menerpa dirinya ketika melihat suaminya dengan santainya melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, kemudian memakai pakaian di hadapannya.


*


*


Hardi keluar dari kamarnya, berjalan menuruni tangga, langsung menuju ke arah dapur.


Matanya memicing, memindai keadaan rumah yang terasa sepi. Semua ruangan Masih gelap, padahal biasanya Linda sudah menyalakan beberapa lampu ketika hari mulai petang. Gorden pun masih terbuka, menampakkan pemandangan luar dengan jelas.


Hardi bergegas ke dapur, berniat mengambilkan makanan untuk istrinya yang merengek karena lapar.


Dia menemukan nasi dan sayuran beserta beberapa potong ikan di meja makan, sepertinya ibunya telah menyiapkan makan malam untuk mereka.


Dan ada secarik kertas berisi pesan singkat di dalamnya.


Mama sama papa ke Bandung, mau menyepi dulu ya. Begitu isinya. Membuat Hardi tergelak, menyadari penyebab kepergian kedua orang tuanya.


Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat, dan menyalakan semua lampu, Hardi kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Dengan nampan yang di penuhi makanan dan air minum di atasnya.


"Banyak amat," ketika suaminya meletakan nampan penuh makan di atas ranjang. Alena menghampirinya setelah dia selesai membersihkan tubuhnya. Mengenakan piyama kaos kedodoran milik Hardi. Dengan rambut basah yang menguarkan aroma sampo yang segar.


Hardi tersenyum, menarik lengan istrinya agar duduk di pinggir tempat tidur seperti dirinya.


"Makanlah, kamu butuh energi yang banyak." katanya, dengan seringai jahilnya.


"Energi buat apa?" dengan polosnya, sambil menyuapkan sesendok nasi dan sayuran kedalam mulut kecilnya.


Hardi tertawa. "Malam ini kita begadang." katanya, menarik turunkan kedua alis tebalnya.


"Mau ngapain?" Alena menjengit, masih tak faham.


"Ck!! Malam pertama!!" Hardi mengulum senyum.


"Hah??" Alena memutar otaknya, mencerna kata-kata suaminya. Sedetik kemudian dia mencebik. "Dasar mesum."


Hardi kembali tergelak.


"Mumpung rumah sepi." katanya lagi, mengedipkan sebelah matanya.


"Memangnya Mama sama Papa kemana?" Alena menghentikan kegiatan makannya sejenak.


"Pergi."


"Kemana?"


"Menyepi."


Seketika mulut Alena terbungkam, memahami maksud kata-kata menyepi.


"Aaaaaa... memalukan!! pasti kita sangat berisik tadi!!" menutup wajahnya yang langsung memerah dengan kedua tangannya.


*


*


*


Pasangan pengantin baru ini baru saja terlelap setelah berhasil mendaki puncak surga himalaya bersama ketika suara dering telpon berbunyi memekakkan telinga mereka.


Alena meraih ponsel diatas nakas. Ada panggilan masuk ke ponsel suaminya.


Nama dan foto Lasya terpampang jelas di layar. Alena mengerutkan dahi. Sementara ponsel tak berhenti berdering.


"Kak!!" Alena mengguncangkan tubuh suaminya yang terlelap begitu dalam di punggungnya.


"Hmm ..." Hardi menggumam, masih terlelap.


"Ada telpon." Alena mendekatkan layar ponsel ke wajah suaminya.


Hardi membuka matanya, mengerjap-ngerjap menyesuaikan matanya dengan cahaya terang dari ponsel di depan wajahnya.


"Siapa?" tanyanya, matanya menyipit.


"Kak Lasya," Alena menjatuhkan ponsel ke atas kasur. Hardi mengerutkan dahi. Meraih ponsel kemudian mengusap tombol hijau di layar.


"Halo? ...


"...


Seketika raut wajahnya berubah saat mendengar orang yang berbicara diseberang sana. Matanya menatap segan ke arah istrinya yang berbaring miring menghadapnya.


Panggilan pun berakhir, kemudian Hardi menaruh ponsel miliknya di dekat bantal. Bangkit, kemudian duduk bersila.


"Kak Lasya kenapa lagi?" Alena mengikuti suaminya yang terduduk.


Hardi menghela napasnya dalam.


"Lasya masuk rumah sakit." katanya, lesu.


"Kenapa?" Alena mencondongkan tubuhnya ke arah Hardi.


"Dia melukai dirinya lagi." Hardi mengusap kasar wajahnya.


"Dan kakak diminta datang kesana karena kak Lasya mengamuk lagi ingin bertemu kakak?" Alena mengingat kejadian tiga tahun lalu.


Hardi menatap wajah istrinya penuh penyesalan. Mengapa dia harus berurusan lagi dengan mantan kekasihnya itu setelah sekian lama.


"Pergilah." Alena dengan suara lemah.


"Nggak." Hardi menolak dengan tegas.


"Aku nggak apa-apa. Pergilah." Alena mengulang kata-kata nya.


"Dia bukan siapa-siapa aku lagi, Al." sergah Hardi, dengan tegas.


"Tapi nggak buat kak Lasya,"


Hardi terdiam.


"Buat kak Lasya sepertinya ada hal yang belum selesai. Dan kakak sendiri yang harus menyelesaikannya."


Pria itu berpikir. "Kami putus karena memang dia sudah punya orang lain waktu itu. Jadi apanya yang belum selesai?"


"Entah lah, mungkin buat kak Lasya nggak seperti yang kakak pikirkan."


Hardi menatap wajah polos di depannya.


"Pergilah, ..."


"Kamu ikut." ucap Hardi, beringsut dari tempat tidur nya.


"Nggak usah, aku nunggu disini aja." Alena menolak.


"Kamu istri aku sekarang, aku minta kamu ikut. Aku nggak akan pergi kalau kamu nggak ikut aku." Hardi kembali duduk di tepi ranjangnya.


Alena menghela napas pelan.


"Aku nggak mau melakukan apapun tanpa sepengetahuan kamu. Apalagi ini menyangkut Lasya, aku nggak mau ada salah faham diantara kita. Tahu kamu ngambek aja udah bikin aku tersiksa." Hardi panjang lebar.


"Kamu harus ikut mendampingi aku, kuta temui Lasya bersama-sama agar dia mengerti posisi kita sekarang."


"Baiklah..." akhirnya Alena mengalah.


*


*


Bersambung ...


Dih ... kenapa itu mantan malah bikin ulah!! 😑😑