
Hardi membereskan beberapa barang yang akan dia bawa ke Jakarta. Memasukkan beberapa helai pakaian kedalam koper. Hari ini dia dan Raja harus segera berangkat menuju kantor pusat. Menjalani beberapa bulan sisa magangnya disana.
Ada perih yang merayap dalam dada ketika Hardi menjejakkan kakinya di atap kampus. Tempat yang beberapa bulan yang lalu sempat menjadi tempat dirinya dan Alena bertemu sembunyi-sembunyi. Dan di tempat itu pula semuanya berakhir.
Ini hari terakhir dirinya datang dan berharap akan menemukan lagi gadis kesayangan nya yang pergi entah kemana. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, dia tak menemukan siapapun.
Koridor sudah lengang sore itu. Jam kuliah sebagian besar mahasiswa sudah selesai.
Setiap sore sepulang magang Hardi menyempatkan diri datang ke kampus. Selain memang karena ada kepentingan, dirinyapun sengaja hanya karena masih berharap bisa menemukan lagi Alena disana. Walau pada kenyataannya diapun tahu itu takan pernah terjadi.
Vania baru saja keluar dari kelas saat dia bertemu dengan Hardi di koridor. Langkahnya terhenti saat mendapati pemuda itu berdiri mematung di dekat kelasnya.
Mereka berdua berhadapan.
Vania baru saja hendak melewati pemuda itu, keluar dari kampus.
"Kalau dia ketemu, tolong bilang aku sayang sama dia." Hardi dengan lirih.
Vania berhenti, menoleh sekilas, kemudian berlalu tanpa sepatah kata.
Hardi menarik napas dalam. "Dan, maaf." gumamnya.
Vania telah sampai di area parkir ketika bertemu dengan Raja yang tengah duduk di bagian depan mobilnya. Seperti sedang menunggu sesuatu, atau seseorang.
"Lu masih nggak mau bilang sama Hardi?" Raja menatap wajah Vania.
"Bukan aku. Alena yang nggak mau." jawabnya, sambil menoleh ke belakang, takut-takut ada yang mendengar.
"Apa sih maunya tuh anak. Nggak ngerti gue." Menghela napas kesal.
"Biarin ajalah. Kita nggak perlu ikut campur." Vania menghentikan bahu. "Kalian mau pergi?" Vania mengalihkan perhatiannya kedalam mobil yang terlihat di penuhi beberapa barang.
Raja mengangguk. "Harus ke Jakarta. mungkin beberapa bulan."
"Oh ..." Vania mengangguk-angguk.
*****
"Alena belum ketemu?" sang Papa memulai pembicaraan ketika mereka memulai makan malam bersama di rumah.
Magangnya di kantor pusat membuat Hardi kembali kerumah orangtuanya di Jakarta.
Hardi menggeleng. Menghela napas dalam-dalam.
"Sudah dicari ke tempat keluarganya? mungkin dia sembunyi." Mama menimpali.
"Setiap pagi sebelum magang Hardi sempetin nunggu depan rumahnya. Sore juga gitu. Tapi nggak ada tanda-tanda dia ada." Hardi murung.
"Sudah tanya keluarganya?"
"Temennya Alena melarang , kakaknya bisa ngamuk kalau Hardi nekat tanya langsung."
Kedua orangtuanya sama-sama menarik napas kecewa.
"Kira-kira bayinya sudah sebesar apa, ya?" sang Mama yang tiba-tiba termenung.
Hardi dan Papa nya mendongak bersamaan. Menatap ekspresi lain di wajah itu, yang meskipun sudah memasuki usia 50an, tapi tak kehilangan kecantikan nya.
Mama tersenyum.
"Mungkin Alena sudah menggugurkannya, Ma." ucap Hardi yang seketika menghapus senyum di wajah Mamanya.
Pemuda itu tertunduk mengaduk makanannya. Seperti ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokan nya. Sakit dan ngilu sampai ke ulu hatinya.
"Aku selesai." katanya, selera makannya menguap entah kemana.
Dia bangkit, berjalan menuju teras belakang.
Sang Mama mengisyaratkan kepada suaminya untuk menyusul anak bungsu mereka ke teras belakang.
Hardi duduk di kursi taman dibawah pohon Kiara tepat di tengah area taman. Sepi menyelimuti hati. Perih semakin terasa bersamaan dengan penyesalan yang kian menyeruak.
Menyesal? Karena kehilangan? Oh ... tidak. Bukankah aku yang menginginkan ini? Yang menyuruh Alena menggugurkan janin itu? Tapi mengapa aku malah merasa semenyesal ini?
"Kalau begitu, mungkin dia bukan jodohmu." Papa menepuk pundak Hardi, kemudian duduk disampingnya.
"Biarlah begitu."
"Ini bukan masalah jodoh atau bukan, Pa!" Hardi menghela napas dalam.
"Lantas?"
"Aku cuma ..."
"Biarkan Alena dengan keinginannya, mungkin itu bisa membuat dia bahagia. Dan kamu, lanjutkanlah hidupmu. Kejarlah mimpimu. Saatnya memperbaiki apa yang pernah rusak." katanya, menyemangati.
Hardi mendesah frustasi.
"Lasya bagaimana?" Papa mengalihkan pembicaraan.
"Bulan ini belum ketemu. Dia sibuk. Strippingnya lagi naik daun."
Papa manggut-manggut.
"Mungkin dimulai dari Lasya, perbaiki hubunganmu dengan dia. Sejak bertunangan kalian belum pernah bersama lagi."
"Papa serius nyuruh Hardi sama Lasya?"
Papa terkekeh.
"Bukannya kamu memang sebelumnya dengan Lasya?"
"Papa ngaco." Hardi mencibir.
"Lanjutkan lah hubungan kamu dengan dia. Dia gadis yang baik." Papa menyarankan.
"Bukannya ini hanya sementara sampai Lasya sembuh dari depresinya?" mengikuti langkah Papanya yang beranjak kembali kedalam rumah.
Papa hanya tersenyum.
"Sepertinya Lasya sudah sembuh." Hardi agak berteriak.
*********
Arya berdiri di teras rumah Vania setelah pergulatan dalam hatinya dimenangkan oleh kasih sayang yang teramat besar untuk adik kecilnya.
Kemarahan telah menguap seiring langkahnya mencapai rumah minimalis berwarna biru muda itu.
Dadanya berdegup kencang menanti seseorang membukakan pintu untuknya.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah ramah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang mengembang.
"Iya?" sapanya, ramah.
"Saya Arya, saya mencari Alena ..." menatap kedalam ruangan.
"Oh ... silahkan masuk. Alena dikamar, saya panggilkan." katanya.
Arya mengangguk. Mengikuti langkah tuan rumah memasuki area ruang tamu.
Setelah mempersilahkannya duduk, Ibu Vania segera menuju kamar putrinya untuk memanggil orang yang dimaksud.
Setelah beberapa saat dibujuk, akhirnya Alena mengalah, mengikuti Vania dan ibunya menemui sang kakak yang telah menunggu.
Lima bulan tak bertemu, membuat kakak beradik itu canggung. Apalagi Alena dengan keadaannya kandungan yang kini telah membesar.
Rasa takut masih meliputi hati gadis itu. Bayangan kemarahan kakak laki-lakinya tersebut masih melekat di pelupuk mata.
Marah dan benci.
Tanpa sadar kedua tangannya memeluk perut buncitnya dengan posesif. Insting melindungi dirinya muncul begitu saja. Ingat terakhir kali mereka bertemu sebelum pelariannya, Arya menyuruhnya pergi ke sebuah klinik untuk menggugurkan kandungan.
Alena mundur beberapa langkah. Berlindung dibelakang punggung Ibunya Vania, berusaha menyembunyikan dirinya.
Nyali Arya menciut.
Dia bahkan setakut itu untuk bertemu dengan kakaknya sendiri.
"Pulanglah..." katanya dengan nada sendu.
Semua orang di ruangan itu terperangah, tak terkecuali Alena.
"Pulanglah kerumah." pintanya lagi.
"Aku ... nggak apa-apa. Aku disini saja." jawab Alena yang masih berlindung di balik punggung ibu sahabatnya itu.
"Pulanglah, kami menunggu kamu." Arya sedikit memohon.
Alena menatap wajah kakak laki-lakinya itu dengan mata berkaca-kaca.
Tetesan air lolos dari kedua sudut mata Arya. Berjalan menghampiri adik bungsunya.
"Apa Abang harus memohon kepadamu untuk segera pulang? Kami tak tenang membiarkan kamu tinggal diluar rumah." suaranya terdengar getir.
Seorang kakak memohon kepada adik kecilnya untuk pulang.
Alena mengalihkan pandangannya kepada perempuan paruh baya di depannya yang juga tengah menoleh kearahnya.
Dia mengangguk. "Pulanglah." katanya.
Bersambung ...
Like komentar sama vote nya selalu ditunggu ya... biar aku makin semangat..
Ini love you full..😘😘😘