
*
*
Hardi menyelimuti tubuh polos istrinya yang telah terlelap setelah kegiatan malam mereka. Mengecup kening Alena agak lama, kemudian mengelus perut istrinya yang didalamnya sedang tumbuh makhluk kecil buah cinta mereka.
"Tidurlah yang nyenyak sayang, kamu pasti kelelahan!!" Hardi tersenyum menatap wajah lelah istrinya.
Diapun merebahkan tubuh tingginya disamping Alena, berniat menyusulnya ke alam mimpi. Matanya sudah terasa berat ingin segera di istirahatkan.
Baru beberapa menit Hardi memejamkan mata, seseorang terasa mengguncangkan tubuhnya.
"Kak." Alena yang tiba-tiba terbangun. "Kak, bangun!!" berbisik di telinga Hardi.
Pria itu membuka matanya, mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya lampu kamar yang entah sejak kapan sudah terang benderang.
"Jam berapa ini, Al? Tidur sana!!" katanya, dengan suara yang parau.
"Bangun, kak!!" Alena merengek.
Hardi mendengus, meraih ponsel diatas nakas, "Jam 12, Al!" keluhnya.
"Aku lapar." Alena dengan polosnya.
"Apa? bukannya tadi sudah makan?" sedikit tak percaya dengan pendengarannya.
Alena mengangguk. "Aku lapar." mengulang perkataannya.
"Ya udah, sana makan!" Hardi berujar, hendak kembali memejamkan matanya.
"Mau spageti." Alena menarik lengan suaminya yang kembali berbaring.
Hardi menatap, "Bikin lah, sana!" katanya.
"Bikinin!!" Alena merengek.
"Al, ..." Hardi mulai kesal.
"Baby nya mau spageti bikinan kakak!!" Alena kembali merengek sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Masa?" Hardi segera terbangun. Kekesalannya menguap entah kemana mendengar rengekan ibu hamil di sampingnya.
Alena mengangguk sambil tersenyum.
Dengan cepat Hardi memakai celana tidurnya, dan segera melangkah ke dapur untuk membuatkan pesanan istrinya.
Setengah jam kemudian, sepiring spageti bolognese ala Hardi tersaji di meja, tempat istrinya menunggu dengan sabar.
Alena bertepuk kegirangan ketika makanan yang diinginkannya sudah berada di hadapannya.
"Makanlah," ucap Hardi, menyerahkan garpu ketangan istrinya.
Alena mengangguk, meraih garpu dari tangan suaminya. Namun dia terdiam sejenak.
"Jus jeruk nya mana?" katanya dengan polosnya.
"Apanya?" Hardi mengerutkan dahinya.
"Kita kan kalau makan spageti suka sama jus jeruk. Kok kakak nggak bikin?" mata bulatnya menatap Hardi dengan kecewa.
"Kamu nggak bilang." Hardi frustasi.
"Aku mau jus jeruk nya!" Alena merengek lagi.
Pria 27 tahun itu melangkah ke arah kulkas berniat mengambil jeruk untuk membuat jus seperti keinginan istrinya. Namun Hardi tertegun saat tak menemukan satu buahpun jeruk di dalam kulkas.
"******!!" gumamnya dalam hati.
"Kenapa malah diam di depan kulkas? Ayo bikin jus jeruknya!!" rengek Alena lagi.
"Ng ... yang lain aja ya? susu gitu?" bujuk Hardi.
Alena menggeleng. "Maunya jus jeruk. Seger."
"Atau yoghurt misalnya, kan sama seger." tawar pria itu, meraih sebotol yoghurt dan memperlihatkannya kepada istrinya.
Alena menggeleng lagi.
"hehe ... jeruknya nggak ada. Habis." menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aaaa... kenapa habis?!" Alena dengan kecewa nya. "Aku mau itu!!"
"Nggak ada, Al. Besok deh aku beli jeruk yang banyak. sekarang yang lain aja ya?" Hardi kembali membujuk.
Alena bangkit dari kursi dan melangkah ke kamar.
"Aku maunya sama jus jeruk!!" katanya, dengan menghentakkan kakinya di lantai.
"Hhh ..." Hardi mendengus kasar. Mengikuti langkah istrinya.
"Katanya lapar?! udah dibikinin makan malah pergi?"
Alena menjatuhkan tubuh nya diatas tempat tidur. Melipat kedua tangannya di dada. Cemberut.
"Aku mau jus jeruk." suaranya bergetar.
"Jeruknya habis, Al." Hardi mengulang kata-katanya.
"Beli dulu lah!"
"Apa? ini tengah malam ,Al! Mana ada tukang buah buka jam segini?" nada suara Hardi mulai naik satu oktaf.
"Mini market bawah buka 24 jam." Alena dengan entengnya.
"Serius kamu nyuruh aku beli jeruk jam segini?" Hardi benar-benar dibuat kesal.
"Bukan aku. Ini baby nya!!" Alena hampir menangis.
Hardi menggelengkan kepalanya, namun tak urung juga dia pergi setelah mendengar ucapan sang ibu hamil yang hampir menangis.
"Kenapa wanita hamil begitu sangat merepotkan!!" gerutunya dalam hati.
Hardi turun ke miniarket sebelah gedung setelah mengenakan jaket. Dan kembali duapuluh menit kemudian setelah mendapatkan apa yang dia cari. Ya, jeruk peras sebanyak dua kilo sekaligus untuk persediaan.
Pria itu langsung membuatkan jus pesanan istrinya begitu sampai di apartemen. Kemudian memutuskan untuk membawa spageti dan jus jeruk tersebut kedalam kamar dimana istrinya tadi merajuk.
Hardi berdiri terpaku di pinggir tempat tidur dengan nampan berisi makanan ketika mendapati Alena sudah tertidur lelap.
Menarik napasnya dalam, menahan kesal bercampur jengkel.
*
*
Hayoooo... siapa yang ngalamin kejadian gini? ... 😂😂