ALENA

ALENA
78. Bencana Mantan



🍁


🍁


Hardi terpaksa harus menahan hasratnya semalaman karena Alena merajuk. Gadis itu tak mau disentuh, tak mau berbicara kepadanya, bahkan dia tidur memunggunginya sepanjang malam. Alena masih ngambek gara-gara kunjungan dadakan Lasya tadi sore. Padahal dia merencanakan banyak hal dalam otaknya untuk melewati malam pengantinnya. Akhirnya buyar sudah semua khayalannya tentang malam pengantin yang indah.


"Al, .." menusuk-nusuk pundak Alena dengan ujung telunjuknya.


"Alena!!" kemudian menepuk lembut.


"Alenaaa ..."


Yang dimaksud tetap tak bergeming. Diam seribu bahasa.


"Al, dosa lho mendiamkan suami seperti ini." katanya, memegang pundak istrinya. Namun kemudian ditepis gadis itu hingga tangan Hardi terlepas.


"Al, jangan ngambek dong!!" katanya lagi, terus berusaha.


"Al, cemburu ya?" menutup mulutnya agar suara tawa tak keluar.


"Ish!!" tiba-tiba Alena bangun, membalikkan badannya hingga mereka berdua berhadapan.


"Terus kenapa kalau aku cemburu? Aku kan istri kakak! Wanita mana yang nggak ngambek kalau melihat suaminya berpelukan dengan perempuan lain?" Alena berapi-api.


Hardi melongo, terkejut dengan reaksi sang istri yang selama ini diketahuinya sebagai pribadi yang pendiam.


"Wajar dong aku cemburu. Suamiku pelukan dengan mantannya!! Didepan mataku lagi!!" katanya lagi.


"Lasya yang meluk aku, Al. bukan pelukan.!" Hardi membela diri.


"Sama aja. Orang kakak diem aja!" Alena balik menuding.


"Aku nggak diem, aku berusaha melepaskan diri tadi." jawab Hardi lagi.


Tak membantah lagi, Alena kemudian memutar badannya hingga kembali memunggungi Hardi, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Al ..."


"Tidur sana!! Aku nggak mood!!" katanya, kemudian terdiam.


"Hhhhh .." Hardi mendengus.


Benar-benar bencana mantan!! Batinnya menggerutu.


Hardi bangun pagi-pagi sekali. Tepatnya dia memang tak tidur semalaman karena sesuatu di bagian bawah tubuhnya yang tak bisa di ajak kompromi. Pria itu gelisah sepanjang malam.


Begitu pagi tiba, dia memutuskan untuk segera bangun dan keluar dari kamar sementara istrinya masih nyenyak bergelung di bawah selimut. Tak menghiraukan orang yang sedang tersiksa disampingnya.


"Udah bangun aja?" Linda yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


"Hmm..." Hardi hanya menggumam. Membuka pintu kulkas dan mengambil susu cair, kemudian menuangkannya ke gelas di atas meja.


"Alena?" Linda bertanya.


"Masih tidur." jawabnya, gusar.


"Wah??"


Putranya mendengus kesal.


"Kenapa?" Linda mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Gagal ya?" ejeknya, kemudian tegelak.


"Mama berisik!!" Hardi menenggak susu cair yang barusan dituangkannya dengan tergesa, kemudian segera keluar dari dapur.


*


*


"Mau kemana?" papanya yang hendak duduk di teras mendapati sang pengantin baru yang tengah memakai sepatu olahraga.


"Joging." jawab Hardi, pendek.


"Memangnya semalam kurang capek, sampai-sampai butuh ditambah sama joging juga??" papanya juga berkelakar, kemudian tertawa.


"HH.. nggak lucu!!" Hardi kembali mendengus. Kemudian segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan papanya yang tengah keheranan.


"Dia kenapa?" bertanya ketika istrinya keluar membawakan secangkir kopi.


"Kayaknya kena bencana mantan," Linda tergelak.


"Masa?" kemudian suami istri itu sama-sama tertawa.


*


*


Alena turun dari kamar setelah tak menemukan suaminya dimanapun. Gadis itu menuju ruang makan, bergabung dengan kedua mertuanya yang tengah menyantap sarapan.


"Aku pikir kak Hardi lagi sarapan??" katanya, kemudian duduk disampingnya Linda.


"Memangnya dia nggak bilang mau pergi joging?" Linda balik bertanya.


Alena menggeleng.


"Yasudah, makan aja duluan. Sebentar lagi dia pulang." katanya.


Pikiran buruk mulai melintas di kepalanya.


Atau jangan-jangan, Kak Hardi menemui kak Lasya?? oh tidak!! Apa yang harus aku lakukan?


Alena berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam kepalanya.


Sudah lewat jam 10 suaminya tak kunjung pulang.


Dih sampai segitunya dia ngambek. Padahal kan yang seharusnya ngambek itu aku. Kenapa keadaannya malah berbalik seperti ini.?


Klek!!


Pintu terbuka dari luar. Alena terdiam. Tampak suaminya yang baru pulang dari kegiatan jogingnya. Terlihat keringat yang masih basah di dahinya.


"Kakak darimana?" Alena memberanikan diri bertanya.


Hardi menoleh. "Joging." jawabnya. Melepaskan kedua sepatu olahraganya, kemudiam menaruhnya di rak samping pintu.


"Jogingnya dari mana?" tanya Alena lagi.


"Keliling komplek." jawabnya, pendek. meletakan ponsel di nakas, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


Dengan tenang melepaskan sweater dan kaus yang dipakainya. Memamerkan punggung lebarnya yang kokoh.


"Kakak marah, ya?" Alena dengan tiba-tiba, menghentikan kegiatan Hardi di depan pintu kamar mandi.


Hardi terdiam, kemudian menoleh ke arah Alena yang berdiri di samping ranjang. "Marah kenapa?" tanyanya, dengan kedua alis yang bertaut.


"Itu ...karena semalam, ..." Alena menelan ludahnya kasar menatap suaminya yang berbalik, melangkah mendekat ke arahnya. Dengan tubuh bagian atas yang sudah terbuka. Dada bidang dan perut kotak-kotak nya terpampang nyata.


Hardi menatapnya intens. Satu ide muncul lagi di dalam kepalanya.


"Kan kamu yang marah." balas Hardi, dengan seringai yang muncul di sudut bibirnya.


"Aku nggak marah," jawab Alena


"Semalam kamu marah-marah," Hardi makin mendekat.


Alena mundur ke belakang.


"Aku nggak marah-marah, aku cuma ..."


Sedetik kemudian Hardi sudah menyergap tubuh kecil Alena. Meraup wajah gadis itu hingga bibir mereka berdua bertemu. Membungkam ocehan yang barusaja akan keluar dari bibir mungil istrinya itu.


"Hmmm ..." erangan tertahan ketika Hardi berhasil menjelajahi seluruh rongga mulutnya. Menghisap bibirnya kuat-kuat, seperti ingin menghabisinya saat itu juga.


Tangan kecil Alena bertumpu pada pinggang kekar suaminya seakan takut kehilangan keseimbangan.


Hardi meraih pinggang Alena, merapat hingga tubuh mereka kini tak berjarak. Napasnya memburu.


Hardi sejenak menghentikan cumbuannya, menatap kedalam mata bulat Alena, "Kamu cemburu," bisiknya, bibirnya menyeringai.


Alena balik menatap mata coklat sayu suaminya yang mulai tertutupi kabut gairah, juga dengan napas yang terengah-engah.


"Udah aku bilang, jangan marah. Aku nggak tahan kalau kamu marah!!" Katanya lagi, setengah berbisik.


Hardi bergeser, menduduki pinggir tempat tidur, emudian melanjutkan cumbuan yang sempat terhenti. Kembali saling memagut, dan menyesap.


Pria itu menarik tubuh Alena ke pangkuannya, makin menempelkan tubuh mereka berdua.


Kini kedua tangan Hardi merayap di balik pakaian Alena, menyentuh kulit mulus gadis itu dengan lembut. Alena menggeliat, saat tangan suaminya menyusuri tiap lekuk tubuhnya, dari perut, merayap ke pinggang, kemudian ke punggungnya, menghadirkan gelenyar aneh yang pernah dikenalinya dulu.


Ciuman berlangsung semakin dalam, semakin menghanyutkan. Sesekali berpindah ke leher, kemudian menyusuri dada, hingga Hardi menemukan bongkahan menggoda milik istrinya.


Pria itu tak kuasa lagi menahan diri, segera di sesapnya kedua bagian tubuh itu bergantian, meremat ya dengan lembut hingga pemiliknya mengejang tak karuan. Tubuh mungil itu sesekali melengkung indah menerima sentuhan nakal suaminya.


Desahan kecil lolos dari bibir mungil Alena, membuat yang mendengarnya semakin kehilangan kendali.


"Kak??" Alena berbisik saat Hardi membaringkannya di ranjang, mengungkung tubuh mungil Alena yang kini tanpa sehelai benang pun, sama seperti dirinya.


"Sstttt.. diamlah!!"


"Ini siang, kak."


"Aku nggak bisa lagi mengontrol ini." kembali mencumbu tubuh mungil di bawahnya. Kembali membuat desahan-desahan itu lolos dari bibir mungil Alena. Dan malah membuat Hardi semakin menggila.


Sedetik kemudian Alena merasakan sesuatu menyeruak menyelinap kedalam dirinya. Lalu hentakan-hentakan itu terjadi secara berulang dan teratur. Berirama dengan cumbuan yang berlangsung tanpa henti.


Desahan-desahan tertahan keluar dari mulut keduanya, membuat suasana semakin erotis didalam kamar temaram pada hampir tengah hari itu.


Pergumulan itu berlangsung entah berapa lama, hingga akhirnya mereka sampai diambang batas dimana hentakan terjadi kian cepat dan menggila, hingga keduanya merasakan tubuh mereka bergetar. Seperti terlempar ke ketinggian, lalu kemudian kembali terhempas ke dasar.


Kemudian Hardi ambruk di atas tubuh istrinya.


*


*


*


Bersambung ....