ALENA

ALENA
40. Kontraksi palsu



"Aaaa......!!!!" jeritan di tengah malam buta membangunkan semua orang. Dengan panik mereka berlari menghampiri sumber suara dari kamar Alena.


"Kenapa? Ada apa?" Arya begitu saja menerobos pintu kamar hingga membentur tembok di belakangnya.


"Huuuu.... sakiiitt .." Alena memegangi perutnya dan meringis kesakitan.


Arya berlari menghampiri adiknya yang terbaring di ranjang.


"Apa yang sakit... mana..??" dengan paniknya.


"Ini .... " menunjuk titik dimana sakit yang dirasakan.


"Kamu mau melahirkan?" tanyanya, cemas.


"Dari tadi ada yang muncul-muncul, kayak mau keluar.. disini.." menunjuk perut bagian atas nya.


"Terus disini.." menunjuk perut bagian samping.


"Juga disini." menunjuk perut bagian tengah.


"Kenapa bisa begitu??" tanya Arya menoleh ke dua adik perempuan yang lain, yang sedang berdiri masih terkejut.


Keduanya menggeleng.


"Apa harus ke rumah sakit?" katanya, meminta pendapat.


"Apa dia mau melahirkan?" katanya lagi, kembali panik.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai dirumahnya sakit. Keadaan sepi berubah riuh ketika dengan kepanikannya Arya membawa Alena masuk ke ruang UGD.


Beberapa orang perawat dibuat sibuk oleh kepanikan Arya. Dokter kandungan segera datang beberapa menit setelah dihubungi.


Dokter keluar dari ruangan setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan.


"Bagaimana dokter, apa dia mau melahirkan? apa sudah waktunya?" Arya dengan kepanikannya mencerca sang dokter dengan banyak pertanyaan.


Dokter menghela napas pelan.


"Bapak harus tenang. Ibu Alena baik-baik saja." dokter menenangkan.


"Maksud dokter? Tadi dia kesakitan, terus katanya ada yang mau keluar dari perutnya. Apa itu baik-baik saja?" masih panik.


"Hmm.. itu biasa dialami di kehamilan menjelang kelahiran seperti ibu Alena. Janin memang kadang suka bergerak berlebihan."


"Maksud dokter?" Mengerutkan dahi.


"Janin memasuki usia 34 Minggu dan sedang aktif-aktifnya menyesuaikan posisinya di dalam rahim sebelum hari kelahiran. jadi gerakan seperti tadi itu normal."


"Dokter, saya lihat perut adik saya menonjol-nonjol tadi, apa itu baik-baik saja? sepertinya terjadi sesuatu dengan bayinya...." terus menunjukkan kepanikannya.


Sementara sang dokter agak mengerutkan dahinya ketika mendengarkan Arya berbicara.


"Adik?" dokter penuh tanda tanya.


Arya diam, menghela napas.


"Iya. Dia adik saya."


"Saya fikir ibu Alena itu istri bapak." dokter yang terkejut dengan penuturan pria di depannya.


"Adik saya, dokter."


Sang dokter terkekeh.


"Jadi gimana keadaan adik saya?" Arya bertanya lagi.


"Secara umum, keadaan ibu Alena baik-baik saja. Kandungan nya juga baik. Hanya terkejut saja membuat tekanan darahnya naik. Mungkin istirahat beberapa jam bisa memulihkan keadaannya lagi." dokter dengan senyum yang tak dapat disembunyikan dari semua orang yang ada di area itu.


****


Arya memasuki ruang dimana Alena di rawat. Alya dan Anna sudah menunggu disana. Dia menghampiri mereka bertiga.


"Kamu bikin panik." gumamnya kepada adik bungsunya.


"Aku kira kenapa. Habis rasanya sakit, bang." Alena yang tampak kebingungan.


"Kita memang tak berpengalaman soal beginian." Alya menyela pembicaraan. Mereka berempat kemudian tertawa.


Menertawakan ketidaktahuan tiga orang dewasa yang menghadapi kehamilan adik bungsu mereka.


*******


"Kamu yakin nggak apa-apa kalau ditinggal??" Arya begitu sampai di rumah, "Siang ini Abang ada meeting sama tim baru."


"Nggak apa-apa."


"Kebetulan Alya sama Anna juga nggak bisa bolos kerja hari ini." katanya lagi.


"Iya. ga papa. Nanti aku minta Vania kesini." Alena meyakinkan.


"Oke kalau gitu. Abang berangkat." setelah memastikan semuanya tersedia dikamar Alena agar gadis itu tak perlu turun kebawah sekedar untuk mengambil yang dia butuhkan.


Vania datang tak lama setelah Arya pergi.


"Sebentar lagi wisuda senior." Vania memulai pembicaraan.


"Terus?"


"aku jadi panitia dong." dengan bangga nya.


"Banyak yang mau ngisi acara."


"Oh iya? Ada artis juga kan ya." Alena menyahut. "Kak Lasya?"


"Iya. salah satunya."


"Pasti seru. Kalau aku nggak keluar, aku pasti ikutan."


"Hmm... "


"Sebentar lagi kamu lahiran.."


"Iya."


"Kamu nggak ada niat gitu kasih tau Kak Hardi." Vania agak ragu.


"Buat apa?" Alena mendongak.


"Yang akan lahir itu kan anaknya. Masa Bapaknya nggak kamu kasih tahu??"


"Nggak usah."


"Kenapa?"


"Dia kan nggak mau anak ini. Dia sendiri yang bilang nggak mau hidupnya terhambat gara-gara anak ini. Cita-citanya, Aku cuma mengabulkan apa yang dia mau." Alena menghela napas.


"Kamu tahu, dia nyari-nyari kamu lho. Aku ketemu kak Hardi sebelum dia pergi ke Jakarta dua bulan lalu." Vania menjeda kata-katanya, melihat reaksi sahabatnya.


"Dia minta aku bilang sesuatu sama kamu."


"Apa?" mengubah posisi duduknya.


"Dia sayang sama kamu." katanya.


Alena tertegun. "Udah basi." memalingkan muka ke arah lain.


"Ck!!" Vania berdecak kesal. "Kamu gak mau gitu ditungguin bapak nya pas lagi ngelahirin?" katanya lagi mencoba mencari celah.


"Aku punya orang-orang yang selalu siaga kalau aku butuh sewaktu-waktu. jadi, aku nggak butuh dia." diam sebentar, "Lagian belum tentu juga dia mau datang, kan."


"Kalau ternyata sebaliknya?" Vania lagi.


"Nggak mungkin. Udah ada Abang ku yang selalu bisa diandalkan."


"Hmm.. " Vania akhirnya mengalah. Kalau sudah berhubungan dengan Arya sudah pasti tak akan ada celah lagi untuk membujuk sahabatnya itu.


Sebaiknya dia cari aman saja kali ini. Biarkan saja takdir yang bertindak sendiri.


"Aku cuma tidak ingin menghambat cita-cita nya. Itu aja."


"Hissstt!!" Alena meringis memegangi perut buncitnya.


"Kenapa? Ada yang sakit?" Vania beringsut mendekati nya.


Ditatapnya perut buncit Alena yang sedang ada aktifitas dari dalam. Permukaan perutnya yang menonjol-nonjol di beberapa bagian. Kadang muncul tonjolan di bagian kanan, kemudian pindah ke sebelah kiri. Bahkan di bagian bawah.


"Astaga!! kenapa begitu?" Vania terkejut sekaligus kagum dengan apa yang sedang dilihatnya. Ini pertama kali dalam hidupnya dia berada begitu dekat dengan wanita hamil.


"Dia lagi aktif. Kadang bisa sangat aktif kalau aku lagi mikirin kak Hardi." Alena tersipu.


"Bahkan dia juga tau ..." Vania terkekeh.


"Apa rasanya sakit?" Vania penasaran.


"Sedikit. Banyakan kagetnya." Alena tergelak.


******


Kandungan Alena sudah memasuki minggu ke 38. Seisi rumah sedang harap-harap cemas. Pasalnya kelahiran sudah lewat jauh dari tanggal perkiraan.


Sudah beberapa kali pula Arya, Alya dan Anna dibuat panik oleh adik bungsu mereka yang mengalami kontraksi palsu.


Pernah di tengah malam buta mereka lagi-lagi dikejutkan dengan jeritan kesakitan Alena.


Setiap orang telah bersiap, beberapa tas perlengkapan kebutuhan melahirkan sudah siap didalam mobil. Mereka baru saja akan pergi ketika si ibu hamil malah berkata sakitnya tiba-tiba hilang.


Dan hal itu terjadi berulang kali.


Sudah beberapa hari Arya memutuskan untuk tidur di sofa dekat pintu kamar Alena. Dia tak ingin kejadian malam-malam sebelumnya terulang.


Arya dan dua adik perempuan yang lain baru saja memejamkan mata ketika terdengar lagi teriakan dari kamar Alena.


Segera pria itu bangkit dan memasuki kamar adik bungsunya tersebut.


Alena tengah duduk di tepi ranjang, memegangi perutnya. Napasnya tersengal. Keringat membasahi keningnya. Raut wajahnya tampak sangat kesakitan.


"Alena ..."


Gadis itu mengulurkan tangannya, dan segera diraih Arya.


"Sakit." napasnya makin tersengal.


Alena merasakan ada sesuatu yang keluar dari selangkangannya.


"Abang ..." menatap ke bawah dan menemukan sesuatu mengalir dikakinya.