ALENA

ALENA
55. Pertemuan Tak Terduga



Alena membasuh wajahnya di toilet kafe, kemudian memperbaiki riasan yang sempat berantakan karena ulah Hardi. Rambut yang tadi di sanggul kini memilih di biarkan tergerai begitu saja.


Setelah memastikan semuanya telah rapi, gadis itu memutuskan untuk kembali ke ruang resepsi.


"Kamu darimana?" Vania yang telah menyadari keberadaannya, menghampiri.


"Istirahat sebentar, aku capek." katanya, berusah menghindari tatapan menyelidik dari sahabatnya itu.


"Kamu habis nangis? Mata kamu bengkak." Vania mencondongkan wajahnya ke arah Alena.


"Oh iya?"


"Hmmm ..." Vania mengangguk.


"Dilan dimana?" Alena berusaha mengalihkan perhatian. "Sama bang Arya?" tanyanya lagi.


Vania menggeleng, "Tadi dibawa kak Hardi." jawabnya.


"Apa? kemana?" mulai panik.


Vania menggendikkan kedua bahunya bersamaan.


"Kenapa kamu kasih?"


"Dilan nya sendiri yang mau sama kak Hardi." jawab Vania, enteng.


"Aduuuhh ...." keluh Alena dengan paniknya.


Diedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, namun tak dia temukan puteranya. Pikiran buruk memenuhi kepalanya.


Jangan-jangan dibawa kabur kak Hardi! Oh ... tidak! Jangan begitu!!


Alena mencari putranya disetiap kerumunan, namun tak dia temukan. Hingga Arya menghampirinya dan menyadari kepanikan di wajah adik bungsunya tersebut.


"Kamu kenapa?" Arya menepuk pundak Alena.


"Dilan, dibawa kak Hardi," matanya berkaca-kaca.


"Kok bisa?"


"Tadi sama Vania, terus ..." tenggorokkan nya tercekat mengingat peristiwa sebelum Vania menyerahkan putranya kepada Hardi.


"Kamu gimana sih, jaga anak satu aja gak becus!!..." Arya segera ikut mencari disetiap sudut kafe, diikuti Alena dengan kepanikan yang kian mendera.


*


*


Arya tiba-tiba berhenti di area taman di belakang kafe, matanya menangkap kejadian yang cukup mengherankan. Sementara Alena mematung dibelakangnya.


Anaknya itu, tengah bercengkerama dengan kedua orang tua Hardi.


Linda mendudukkan balita tampan itu dipangkuannya, mengusap punggungnya, menciumi kepalanya, sementara suaminya seperti mengajak ngobrol dengan tawa yang ceria. Sementara Hardi, duduk tak jauh dari mereka, dengan senyuman yang tak dapat diartikan.


Arya segera menghampiri keluarga itu. Tawa ceria mereka surut setelah menyadari kehadiran Arya bersama Alena yang mengekor di belakangnya.


Arya meraih tubuh mungil dari pangkuan Linda.


Perempuan paruh baya tersebut menoleh ke arah anaknya yang tak bergeming.


"Lain kali jangan begini sayang, kamu bikin ayah panik!" katanya, memeluk tubuh kecil itu.


"Maaf, bu. Sudah merepotkan." katanya, berusaha sopan dengan meredam kekesalan didadanya.


"Oh,... tidak apa-apa." Linda tergagap.


"Kalau begitu, kami permisi." Arya berusaha menyunggingkan senyum, mengangguk kemudian pergi dari area itu tanpa menoleh lagi. Diikuti Alena yang setengah berlari mengimbangi langkah lebar kakaknya tersebut.


"Apa apaan itu barusan!" gumamnya, setelah mereka tiba di satu sudut ruangan.


"Duduk," perintahnya kepada Alena. Menyerahkan Dilan kepangkuannya, "Kamu disini saja, tak usah kemana-mana, pegang Dilan yang benar! Jangan sampai dipegang orang lain lagi." katanya, nada kesal memdominasi suaranya.


Alena hanya mengangguk, menuruti perkataan sang kakak.


*


*


Hardi menghampiri ibu dan anak tersebut yang tengah asyik menatap layar ponsel di meja. Duduk disalah satu kursi di depan Alena.


Sementara gadis itu menghela napas kasar setelah menyadari keneradan ayah dari anaknya tersebut.


"Kakak jangan seenaknya begitu." Alena dengan raut kesalnya.


"Apa?" Hardi sedikit menyeringai menatap wajah kesal Alena yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Jangan seenaknya bawa Dilan tanpa aku tahu!"


"Dia kan anak aku juga." jawabnya, ringan.


Alena mendelik. "Ya jangan seenaknya gitu. Kan gak ada yang tau." menghela napas dalam, " kakak bisa saja bertindak seenaknya sama aku, tapi kalau ke Dilan jangan lah." katanya.


"Orang tua aku tau kok kalau Dilan anakku. Makannya tadi aku bawa. Kamu lihat sendiri tadi gimana senengnya Mama sama Papa waktu ada Dilan." Hardi dengan bangganya mengingat kejadian di taman tadi.


Alena mendelik lagi. Sementara Hardi tersenyum dengan tidak tahu malunya. Merasa senang dengan ekspresi kesal yang dtunjukkan ibu dari anaknya tersebut.


"Hardi!!" seseorang memanggil dari arah belakang, membuat kedua orang itu menoleh.


Seorang perempuan cantik dengan gaun hitam selutut berjalan kearah mereka. Senyumnya merekah.


"Kak Hana?" Hardi menyapa.


Menatap wajah adik laki-lakinya seperti melontarkan sebuah pertanyaan.


"Oh iya, ini Alena." Hardi memperkenalkan.


Raut wajahnya tampak berubah, agak menegang.


"Oh ... hai. Saya Hana. Kakaknya Hardi." mengulurkan tangannya dan disambut oleh Alena dengan agak canggung.


"Dan ini .... Dilan, anakku." Hardi dengan bangganya, mengusap puncak kepala balita yang tengah asyik melahap camilan dipangkuan ibunya. Sementara Alena membelalakkan matanya merasa tak percaya dengan kelakuan pria di depannya yang selalu terbuka dengan keluarganya.


"Oh ...." mata Hana membulat, seakan tak percaya. "Hai anak ganteng. Apa kabar? Ini tante Hana!" katanya, menyapa dan meraih tangan anak itu, memciuminya dengan lembut. Kemudian menggendongnya, dan herannya tak ada penolakan dari anak itu.


"Kak Hana?!" satu panggilan lainnya terdengar . Mereka bertiga menoleh,


Deg!!


Alena dan Hardi terhenyak, tak menyangka dengan kehadiran gadis cantik di belakang Hana. Sementara Hana baru ingat kalau dia datang tak sendirian ke tempat itu.


"Lasya?" Hardi dengan wajah yang menegang.


"Hey, ... kamu disini." Dengan cerianya segera menghampiri, melingkarkan tangannya di lengan Hardi. Membuat pemuda itu salah tingkah dengan wajah yang memucat.


"Aku kangen!!" Lasya, dengan msnjanya.


Kenapa rasanya seperti ketahuan tengah berselingkuh?? Batin Hardi.


Suasana canggung meliputi. Sementara Alena berusaha menekan perasaan yang entah mengapa tiba-tiba bergemuruh.


Dia barusaja memutuskan akan pergi ketika Arya menghampiri. Dan kejadian yang sama pun berulang.


Raut wajah Arya terlihat kaget mendapati orang yang tengah memangku keponakannya. Sama halnya dengan Hana yang tak menyangka dengan pertemuan ini.


"Hana?"


"Arya?" keduanya bersamaan.


Hardi dan Alena sama-sama mengerutkan dahi.


"Kakak kenal?" Hardi menyela.


Kedua orang ini mematung, masih tak percaya bertemu dalam keadaan seperti ini.


"Abang?!" penggilan Alena membuyarkan lamunan Arya.


"Oh ... iya. Hana, apa kabar." Arya berusaha ramah.


"Abang kenal kak Hana?" Alena penasaran.


"Dulu, kita satu kampus." akhirnya Hana buka suara.


Ketiga orang di depan mereka mengangguk-angguk.


"Wow, surprize!!" Lasya menyela. "Dan kalian ini, ...." menunjuk ke arah Alena dan Arya.


"Dia adik saya, pengantin perempuan juga adik saya." jelas Arya, menetralisir kecanggungan yang dirasakannya.


Lasya menganggukkan kepalanya.


Sementara Hana kembali bungkam. Hanya menatap pria tinggi yang dulu pernah dikenalnya.


"Kalian saudara, Hardi?" Arya mengalihkan pandangannga ke arah Hardi.


"Iya, pak. Kak Hana kakak saya." jawabnya.


"Dan ini, ..." melirik Lasya.


"Tunangan kak Hardi." tiba-tiba Alena menyahut. Membuat pandangan mereka berempat tertuju kepadanya.


"Ya. Aku tunangannya Hardi." sambung Lasya, dengan cerianya.


Hardi menatap wajah Alena yang berubah datar. Perasaan berkecamuk dalam dadanya.


Kenapa harus seperti ini. Hardi.


Dasar brengsek! Bisa-bisanya dia memperlakukan aku seolah-olah dia sangat menginginkan aku tadi, kenyataannya dia tetap saja begitu! . Alena.


Dia merasakan jantungnya seperti diremas.


"Al, Alya manggil kamu." Arya mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Ayo." merasa mendapatkan alasan untuk pergi dari situasi mengagetkan ini.


Mereka berdua pun pamit. Meninggalkan dua orang lainnya dengan pikiran mereka masing-masing.


Sementara Lasya tersenyum ceria karena berhasil menemui kekasihnya setelah beberapa lama.


*


*


*


**Bersambung ....


Like komen sama vote nya selalu aku tunggu ya guys.


I love you full 😘😘😘😘**