ALENA

ALENA
Alena-10



Keempat orang yang sudah Pandu nantikan sedari tadi akhirnya keluar dari ruang BP bersama dengan Bagas yang kala itu berperan sebagai penolong mereka.


Gatra, Rega, Firly dan Zidan hanya cengengesan saat Pandu menatap horor pada mereka berempat.


"Apa sekarang?" tanya Pandu berusaha sabar saat keempat sahabatnya itu hanya saling bertos ria. Pasti hukuman mereka adalah sesuatu yang menyenangkan.


"Diskors." jawab mereka berempat bersamaan.


Pandu menghela nafasnya. "Kenapa bisa, hah? Lo pada sembunyi dimana, tolol?!"


"Gak sembunyi," jawab Firly. "Nyantai aja dibelakang."


"Selonjoran" tambah Gatra.


Rega dan Zidan hanya mengangguk membenarkan.


Pandu menjitak kepala mereka satu-persatu dengan perasaan jengkel. "Mati aja lo berempat!"


"Tega banget!" Firly mengusap kepalanya yang terasa perih akibat jitakan Pandu yang memang sangat kuat.


"Temen apaan nih, nyiksa temen sendiri." Ucap Rega dengan suara yang dibuat sedramatis mungkin.


Pandu berdecak. "Lo berempat yang temen apaan! Berempat diskors, gue sendirian! Anjing, ah bodo!"


Gatra menyengir. "Gapapa lah, sekali-sekali hidup tanpa kita, iya nggak?"


"Yoiiii!" timpal Zidan dan Rega.


"Untung aja lo pada gak ketahuan di kantin punya Mbah Geng," sahut Bagas setelah sekian lamanya hanya menjadi pendengar.


Firly mengangguk dua kali. "Iya tuh, tadi kita hampir kesana ya, Ga? Bawa rokok." Rega langsung mengangguk membalas ucapan Firly.


"Bodo amat!" Pandu mulai melangkah terlebih dahulu dari mereka. "Gue ke kantin, males gue masuk kelas."


Setelahnya mereka berlima yang tersisa disana mulai menyusul Pandu, tak lupa dengan keempat cowok yang baru saja keluar dari ruang BP itu masih berbahagia menantikan hari esok dimana mereka tidak masuk sekolah sampai 2 hari kedepan.


...****************...


Helena menunggu Alena merapikan buku-bukunya diatas meja. Cewek itu melihat kearah jam tangannya sebelum berucap, "Gue duluan, ya? Soalnya mesti bawain Rana makanan, dia udah chat gue tadi."


Alena mengangguk saja, sebab pekerjaannya ini masih lama. Ia masih harus ke perpustakaan lagi mengembalikan buku paket Fisika yang ia pinjam beberapa hari yang lalu sebelum kemah. "Yaudah, duluan aja."


"Nanti gue tunggu di kantin deh, gue gak lama aja anterin punya Rana."


Setelah mendapat anggukan lagi dari Alena, Helena mulai berlari kecil keluar dari kelasnya.


"Anterin buku terus ke kantin," gumam Alena setelah mengambil buku paket itu dari dalam tas. Kemudian dia mulai keluar dari kelasnya menuju perpustakaan.


Padahal sebenarnya istirahat masih 5 menit lagi, tapi koridor bahkan lapangan dan halaman sekolah lainnya sudah begitu ramai. Seakan tidak perlu menunggu bel berbunyi untuk keluar dari kelas.


Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun orang yang menyapa Alena, tidak seperti Helena dan Rana yang sedikit-sedikit selalu disapa. Alena bukan iri, hanya saja, dia bingung. Apa bedanya dia dengan kedua sahabatnya, sama-sama kelas 12, sama-sama hampir tiga tahun di sekolah ini, dan bahkan mereka sekelas.


"Ah, interaksi..." gumam Alena dalam hati begitu mengingat satu bidang yang tidak sama dengan kedua sahabatnya.


Begitu sampai di perpustakaan, Alena langsung mengembalikan buku tersebut, setelah itu langsung menuju ke kantin. Kali ini, Alena harus melakukan sebagaimana biasa yang dilakukan Helena dan Rana. Alena sudah kelas 12, masa ini adalah masa dimana Alena harus membuat banyak kenangan SMA-nya.


Setelah sampai di kantin, mata Alena berkeliling mencari sosok Helena. Namun, sudah beberapa menit Alena sama sekali tidak menemukan cewek itu. Maka dari itu, Alena mulai berjalan ke kantin lainnya yang masih belum ia datangi.


...****************...


Mbah Geng menggelengkan kepalanya saat Gatra memberi tahu bahwa mereka diskors selama tiga hari dan cowok itu hanya tertawa saja seakan hukuman itu adalah surga untuknya.


"Malah seneng," sindir Pandu. "Mereka suka gitu Mbah, Pandu sendiri mulu jadinya."


"Eh, ya seneng lah, gak perlu sekolah, gak perlu belajar, apalagi ada pelajaran tambahan, ih ogah!" kata Gatra yang langsung saja disetujui dengan Rega, Firly dan Zidan.


"Mbah bilang juga apa, cari cewek kamu mah biar gak sendirian, udah tau temen-temen kamu ini nggak ada yang beres."


"Pandu belum sempet buat nyari, lagian sekolah lebih penting kali, Mbah." balas Pandu yang langsung dihadiahi lemparan kacang rebus oleh keempat sahabatnya.


"Bangsat!" teriak Pandu dengan kesal.


Sontak Gatra langsung mendorong keempat sahabatnya itu untuk tidak menutupinya. "Awas!"


"Minggir dong kalian, Mas Gatra mau liat sang pujaan hatinya." kata Rega dengan nada menggoda.


Zidan menambahi dengan siulan-siulan menggoda pula.


"Berisik!" balas Gatra datar. Kemudian dia mulai berjalan keluar dari sana dan menemui Alena yang tengah berdiri didepan kantin sambil melihat ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu.


"Alena?" panggil Gatra begitu dia sudah berada dibelakang Alena.


Alena berbalik. "Gatra, kamu ngapain disini?"


"Makan." tunjuk Gatra kearah dimana kantin Gangster terletak.


Alena hanya manggut-manggut.


"Lo sendiri?"


"Aku lagi cari Helen, katanya dia nungguin aku dikantin."


"Kantin ini?" tanya Gatra dan memiringkan sedikit badannya agar Alena dapat melihat seutuhnya wujud kantin Gangster itu.


Alena mengangkat bahunya. "Gak tau, dia cuma bilangnya kantin. Tapi kayaknya bukan yang ini deh, cowok semua gitu isinya mana mau si Helena."


Gatra menggaruk belakang lehernya sebentar. Lalu menarik tangan Alena untuk masuk kedalam kantin favoritnya itu.


"Duduk aja disini," Gatra mendudukan tubuh Alena ditempat yang ia duduki tadi saat makan.


Keempat sahabatnya bersiul-siul menggoda Gatra dan Alena saat Gatra mengambil posisi untuk duduk disamping Alena dengan menyuruh Rega agar segera pindah secara paksa.


"Eh tapi—Helena?" Alena menatap Gatra dengan bingung.


"Udah tenang aja, Helena gak bakal tersesat." lalu, Gatra memanggil Mbah Geng. "Mbah, kasih dia menu paling enak disini."


"Siapa ini? Cantik sekali." Puji Mbah Geng seraya mengelus pipi Alena sebentar.


Alena tersenyum dan mengangguk sopan. "Makasih."


Mbah Geng pun membalas senyuman Alena. "Pacar kamu, ya?" tanya Mbah Geng pada Gatra.


Gatra hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.


"OTW MBAH OTW!" Seru Firly dan Rega. Lalu Pandu dan Zidan tertawa terbahak-bahak saat Gatra melotot pada mereka berempat.


Mbah Geng ikut tertawa. "Yaudah, tunggu sebentar ya, Mbah buatin dulu yang spesial buat si gadis cantik ini."


Alena hanya membalasnya dengan senyuman lagi sampai Mbah Geng kembali berkutat dengan alat memasaknya. Alena mulai memperhatikan suasana kantin tersebut. Kantin itu sangat ramai, dan pengunjungnya rata-rata anak cowok, bahkan untuk saat ini Alena yakin hanya dirinya sendiri berjenis kelamin perempuan selain Mbah Geng yang berada dikantin ini.


"Risih, ya?" tanya Gatra tiba-tiba berbisik ditelinga Alena.


Alena refleks menghadap kearah Gatra dan hal itu hampir membuat Alena terjungkal kebelakang seandainya Gatra tidak menangkap pinggangnya.


Adegan saling tatap menatap itu mulai berlangsung. Saat itu seakan waktu sangat lambat berjalan hingga Alena merasa sudah berjam-jam adegan itu terjadi. Gatra pun tak melepaskan tatapannya dari Alena walau itu hanya sedetik, baginya mata Alena yang teduh itu sangat rugi jika tidak dipandang.


"EHEM!"


"TEMPAT UMUM NIH!"


"ADA WAKTUNYA BUAT KISSINGAN!"


"SABAR KALI BANG GATRA!"


Gatra langsung melepaskan kontak mata antara dirinya dan Alena. Setelah menarik tangan Alena—yang sekarang sedang malu-malu, agar segera duduk sempurna kembali dengan pelan, cowok itu mengalihkan pandangannya kearah Pandu, Rega, Firly dan Zidan. Menatap keempat sahabatnya itu dengan galak lalu berkata tanpa mengelurkan suara.


"ANJING!" setelahnya, makian Gatra hanya dibalas dengan tawa mereka yang sengaja dibesar-besarkan hanya untuk sekedar meledek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...