
"Geli gue lihatnya." Raja mencibir ketika melihat kelakuan sahabat sekaligus partnernya itu yang selalu menyunggingkan senyum ceria sepanjang hari. Walaupun pekerjaan menumpuk karena hampir tiga minggu dia absen bekerja.
"Lu sirik." Hardi mendelik sambil mengunyah makanan dihadapannya di kantin kantor siang itu.
"Heleh ... ngapain gue sirik." Raja mencebik.
"Jomblo mana ngerti perasaan yang lagi gue rasain sekarang ini." Hardi mengulum senyum, menggoda sahabatnya.
"Sembarangan Lu." Raja melempar tisyu yang di remas ke arah wajah Hardi. Kemudian kedua sahabat itu tergelak bersamaan.
"Sekalian aja lu kawinin tuh anak." Raja yang tiba-tiba memikirkan ide itu.
Hardi berhenti mengunyah, tatapannya tertuju pada wajah sahabatnya itu yang tampak serius.
"Maksud gue, nikahin." Raja kembali tergelak. "Biar halal. Hehe ..."
"Orang tua gue juga bilang gitu kemarin." jawab Hardi mengingat percakapan dirinya dengan ayahnya kemarin siang ditelpon. Yang menyarankannya untuk segera menikahi Alena dalam waktu dekat ini.
"Yaiya. Gak baik tinggal bareng tanpa ikatan pernikahan. Apa yang bakal orang bilang tentang elu sama Alena." Raja mengingatkan.
"Orang yang mana?" Hardi sambil tergelak. "Nggak ada yang tau gue hidup Sama dia dengan atau tanpa ikatan selain lu sama keluarga gue." dia menyeringai.
"Iya sih. Lu kagak punya tetangga yang kepo atau nyinyir sama hidup orang lain." Raja mendelik. Menyadari kehidupan sahabatnya itu seperti apa.
"Tapi tetep aja. Hidup bersama tanpa ikatan itu kurang baik." kali ini Raja serius.
Hardi terdiam.
"Lu pikir Alena bakal mau kalau gue nikahin?" kemudian mengutarakan unek-uneknya, tiba-tiba merasa tak percaya diri.
"Ck!!" Raja berdecak. "Lu pikir kenapa dia datang ke elu setelah abangnya ngusir dia dari rumah?" kekesalan nampak nyata di wajah sahabatnya itu.
Hardi kembali terdiam.
*
*
*
Teriakan Dilan menggema di seluruh ruangan ketika Hardi barusaja memasuki apartemennya petang itu. Bocah itu berlari menghampirinya dengan kegirangan.
"Om Ddiiii!!" katanya, menghambur ke pelukan Hardi yang berlutut mensejajarkan dirinya dengan tubuh kecil Dilan.
Memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan. Menghirup aroma tubuh balita itu yang setiap hari dirindukannya.
"Dari siang dia merengek minta keluar." Alena yang muncul dari dapur, dengan celemek yang melapisi pakaiannya.
"Iya? Kamu mau keluar, hmm...?" menciumi wajah imut anaknya yang menggemaskan.
Kemudian membawanya duduk di sofa depan televisi, tangannya belum kuat menggendong tubuh kecil Dilan karena cedera nya belum benar-benar pulih.
"Mau akelim..." bocah itu dengan mata bulat bening yang berbinar.
Hardi mengerutkan dahinya. Kemudian menoleh ke arah Alena, tak mengerti dengan yang diucapkan anaknya.
"Dia bilang apa?" tanyanya.
"Dilan mau eskrim."
"Kamu mau eskrim?" Hardi mengulang kata-kata anaknya.
"Hu'um ..." bocah itu mengangguk dengan mengerucutkan bibir mungilnya. Menggemaskan.
"Oke. Nanti kita keluar." katanya.
"Sana mandi dulu. Terus makan." Alena yang sudah berada di belakang mereka.
"Oke," mendudukkan Dilan di sofa, bangkit dan berjalan ke kamar. Membuka jas yang dikenakannya, menyampirkannya di kapstock belakang pintu kamar.
Alena baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan air hangat di bak mandinya. Melirik Hardi sekilas, kemudian berjalan melewati pria itu yang sedang membuka pakaian yang dikenakannya. Sebelum akhirnya tangannya di cekal Hardi.
"Apa?" gadis itu menoleh.
"Mandiin." katanya, sambil tersenyum penuh arti.
"Heleh ... mandi aja sendiri." Alena mencibir.
"Kemarin-kemarin mau mandiin." Hardi sedikit cemberut.
"Kemarin-kemarin terpaksa, karena kakak sakit. Jangan kan mandi, makan aja aku suapin."
"Sekarang juga masih sakit." meraba bagian tulang rusuknya yang cedera.
"Kakak bilang udah sembuh."
"Masih sakit, Al." dengan wajah memelas. Sedetik kemudian senyum terbit di sudut bibirnya.
Alena menyadari bahwa dirinya tengah di bodohi.
"Heleh!! Dasar mesum!!" katanya, seraya menyentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Hardi. Berjalan ke arah lemari, bermaksud menyiapkan pakaian ganti untuk pria itu
"Al ..." Hardi mengikutinya ke arah lemari.
"Hmm ..." tangannya sibuk memilih pakaian apa yang akan dikenakan pria di belakangnya sore itu.
"Bagaimana kalau ... kita menikah?" kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Hardi.
Alena terhenyak. Kemudian berbalik. Terpaku menatap wajah pria di hadapannya.
Hardi mendekat. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah.
"Ap-apa?" Alena tak yakin dengan yang di dengarnya.
"Bagaimana kalau kita menikah?" Hardi mengulang kata-katanya.
"Ng ..." matanya bergerak-gerak lincah. Kemudian keningnya berkerut membuat kedua alisnya bertaut.
"Kakak bercanda." Alena tergelak. Kemudian berbalik kembali mencari pakaian ganti untuk Hardi.
Pria itu mendengus kesal. Lalu dia bergegas masuk ke kamar mandi.
Apa itu barusan? Apa dia sedang melamar ku? nggak lucu. Alena menggerutu dalam Hati.
*
*
Suasana meja makan petang itu terasa hangat. Mereka bertiga makan dengan diselingi celoteh riang bocah kecil kesayangan yang tak berhenti bertingkah menggemaskan.
"Sabtu nanti kita ke Jakarta, ya." Hardi setelah selesai dengan makanannya.
"Heuh? Mau apa?" Alena mendongak.
"Mama sama Papa kangen Dilan, mau ketemu. Tapi nggak bisa kesini. Lagi pada sibuk." jawab Hardi, menyeruput air putih di tangannya hingga tandas.
Alena mengangguk pelan. "Oke." katanya.
*
*
Sesuai janjinya, Hardi membawa Alena dan Dilan keluar setelah tiga minggu terjebak di apartemen.
Niat awal pergi ke swalayan dekat apartemen hanya untuk membeli camilan dan eskrim kesukaan Dilan, namun pada kenyataannya gadis itu membeli banyak barang kebutuhan rumah tangga yang memang sudah menipis. Jadinya, troli mereka penuh dengan barang belanjaan.
"Alena?" terdengar panggilan dari arah belakang ketika mereka tengah memasukan barang belanjaan ke dalam mobil. Kedua orang ini segera menoleh.
"Vania?" Alena segera menyadari keberadaan sahabatnya yang berlari menghampirinya.
Mereka berdua berpelukan.
"Kamu sulit dihubungi. Terakhir kamu telpon waktu ngundurin diri, aku lagi ke Malang. Aku nggak tahu kalau ..." perhatian Vania beralih kepada pria dibelakang Alena yang sedang menggendong Dilan.
Hardi melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Kalian bareng?" tanya nya dengan sedikit berbisik.
Alena mengangguk.
"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanyanya, menyelidik.
"Di apartemen kak Hardi." Alena dengan polosnya.
Vania terdiam dengan mulut menganga.
"Serius?" tanyanya, seakan tak percaya.
Alena mengangguk.
"Kalian, ...menikah?" Vania menyelidik lagi.
Alena menggeleng. Vania terdiam.
"Belum. Mungkin sebentar lagi." Hardi menyahut dari belakang, membuat kedua perempuan yang sedang berbincang itu seketika menoleh.
"Serius?" lagi, Vania seakan tak percaya.
"Nggak, ..." Alena.
"Iya..." dan Hardi menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Kemudian saling pandang.
"Jadi mana yang bener?" Vania dengan penasaran.
"Saya mengajak dia menikah, Vania. Tapi dianya nggak percaya." Hardi menyahut dari belakang.
"Kakak!!" Alena menyela.
Vania terdiam menatap kedua orang didepannya.
"Bang Arya tahu kamu yg tinggal dengan kak Hardi?" tanyanya kini agak berbisik.
Alena menghela napas dalam, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Beberapa kali dia datang ke kafe. Tapi nggak ngomong apa-apa. Hanya minum kopi, terus pergi." Vania menerangkan.
"Syukurlah." Alena menggumam.
"Kok syukurlah?" Vania heran.
"Ya syukur. Berarti Bang Arya baik-baik aja." jawab Alena.
"Kamu tahu, dia kelihatannya sedih. Dan lagi, Bang Arya kelihatan kurusan sekarang."
Alena mendongak. Menatap wajah sahabatnya itu.
"Mungkin lagi banyak masalah di kerjaannya dia." menghela napas dalam lagi. "Memangnya apa yang mungkin dia pikirkan? Beban dia kan udah nggak ada." mengalihkan pandangannya jauh kedepan.
Vania terdiam.
Hardi menyimak percakapan kedua perempuan di depannya dengan serius. Ada rasa bersalah yang kemudian muncul dalam hatinya. Dia merasa telah menjadi orang jahat karena menjauhkan Alena dari kakaknya.
"Udah malem, Van. Aku harus pulang." Alena mengakhiri percakapan mereka.
"Oke. Kapan-kapan main kerumah, ya." Vania pun beranjak dari sana.
*
*
Mereka sampai di apartemen saat malam telah larut. Hardi membaringkan Dilan yang sudah terlelap sejak perjalanan pulang. Mengusap Kepala bocah itu dengan lembut, kemudian menciumnya cukup lama.
Sementara Alena sibuk di dapur membereskan barang belanjaan kedalam lemari. Gadis itu tak bicara sedikitpun sejak pertemuannya dengan Vania tadi.
"Besok aja, Al. Udah malem. Tidur gih." Hardi yang menyandarkan tubuh tingginya di pintu kulkas setelah menidurkan putranya.
"Nggak apa-apa. Biar sekalian beres aja. Aku keburu males kalau besok." Alena tanpa menoleh sedikitpun. Suaranya terdengar kalut.
"Kamu mau kesana, Al?" tiba-tiba sesuatu melintas di kepalanya.
"Kemana?" Alena yang masih disibukkan dengan barang belanjaannya.
"Kerumah." jawab Hardi, pendek.
"Rumah siapa?" tak terganggu.
"Rumah kamu." Hardi mendekat.
Alena menghentikan kegiatannya, kemudian menoleh ke arah Hardi. Pria itu menatapnya lekat, mencari jawaban.
"Aku nggak punya rumah, ..." tangannya kembali membereskan barang-barang di hadapannya. Menyusunnya ke setiap tempat yang telah tersedia.
Hardi meraih tangan gadis itu, menghentikannya dari kegiatannya barusan. Alena mendongak.
"Apa aku sudah jadi orang yang kejam?" Hardi menatap kedalam mata bulat yang entah sejak kapan mulai berkaca-kaca itu.
"Maksud kakak?" Alena mengerutkan dahinya.
"Aku sudah memisahkan kamu dari keluarga kamu.?" Katanya lagi.
Alena terdiam. Kemudian menggeleng.
"Nggak ada yang memisahkan aku dari siapapun. Aku pergi atas keinginan aku sendiri." menghela napas lagi, "Lagipula, aku sudah tak diinginkan disana." katanya, melepaskan genggaman tangan Hardi, kembali ke kegiatannya membereskan barang.
Hardi mengulurkan kedua tangannya, meraih pundak gadis itu sehingga mereka berhadapan.
Kini tampak mata Alena yang sudah basah.
"Maaf. Aku nggak bermaksud memisahkan kamu dari mereka. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat dulu." Hardi meraup wajah tirus Alena, memindainya dengan seksama.
"Dan, nggak ada hal lain yang aku inginkan selain hidup bersama kamu dan Dilan." katanya lagi.
Kembali, tetesan air lolos dari kedua sudut mata gadis itu.
Hardi menarik tubuh kecil Alena kedalam pelukannya. Membenamkan kepalanya kepala gadis itu di dadanya.
Kedua lengan Alena melingkar begitu saja di pinggang Hardi. Tubuhnya bergetar. Suara tangis tak mampu lagi di bendung. Alena terisak pilu.
*
*
*
Bersambung ..
like koment sama vote nya dong, Biar aku tau kalo kalian udah mampir.
I love you full 😘😘😘