
Sudah dua minggu Hardi menjalani kerja magang di perusahan Design Arsitektur yang dia pilih bersama Raja, sahabatnya. Mereka merupakan partner kerja yang memang dipasangkan langsung oleh dosen pembimbing, agar mudah melakukan pekerjaan dalam sebuah tim.
Tidak ada hambatan berarti, mereka mampu menjalani nya secara baik dan profesional sesuai standar kerja di perusahasn tersebut. Tim Hardi dan Raja selalu memberikan hasil yang memuaskan bagi pihak perusahaan walaupun status mereka masih sebagai mahasiswa magang.
Sore itu, sepulang kerja Hardi sengaja mampir ke kampus untuk sekedar melihat keadaan dan tentunya menemui Alena, yang khir-akhir ini hanya bisa berkomunikasi lewat telfon karena kesibukan yang begitu padat.
Hardi sengaja menunggu di halte bis yang beberapa blok dari kampus, tempat biasa Alena menunggu kendaraan. Karena pasti gadis itu takan mau dia jemput langsung ke kampus.
Pintu mobil terbuka. Segera Alena masuk dan duduk di kursi penumpang. Senyuman terkembang dari bibir mungilnya. Wajahnya begitu sumringah.
"Kamu sehat??" sapanya sambil membelai wajah yang begitu dia rindukan beberapa minggu ini.
Alena hanya mengangguk dengan senyuman yang masih mengembang di bibir mungilnya.
Mobil melaju membelah jalanan. Membawa mereka ke sebuah kafe tempat biasa mereka makan bersama saat waktu senggang.
Seperti biasa, dua spageti bolognes dan dua jus jeruk yang mereka pesan sore itu, yang sepertinya telah menjadi menu favorit mereka berdua sejak beberapa bulan bersama.
Alena makan dengan lahapnya hingga piring kosong dalam sekejap. Hardi melongo, takjub dengan cara gadis itu makan, tak seperti biasanya.
"Berapa hari kamu nggak makan?" katanya disela suapan demi suapan yang masuk kedalam mulutnya.
"Aku benar-benar lapar, padahal tadi pas istirahat makan banyak." keluhnya, yang akhir-akhir ini sering merasa lapar di jam yang tak di duga.
"Oh iya? kelihatan."
"Apa? Aku jadi gendut ya?" meraba pipi dan pundaknya sendiri.
"Nggak. Cuma agak berisi aja." mencubit pipi Alena yang memang terlihat agak chubby dari terakhir mereka bertemu.
"Iya, aku gendut." Alena mengeluh.
"Nggak."
"Kakak bohong!"
"Ish ...!! Dibilang nggak juga!" memutar bola matanya, jengah. "Kenapa sih cewek sensitif kalau masalah berat badan? mau gendut, mau kurus yang penting sehat lah." Hardi melanjutkan acara makannya.
Alena mengerucutkan bibirnya.
"Kan bagus kalau kamu agak gemukan dikit."
"Bagus apanya?" Alena bersandar.
"Biar aku nggak ngeri kalau lagi meluk kamu. nggak takut lagi badan kamu remuk." katanya sambil tersenyum jahil.
Alena memukul lengan pemuda itu kesal.
"Iya, tapi habis makan aku suka ngantuk. Aku sering ketiduran dikelas."
"Makannya jangan begadang melulu."
"Boro-boro begadang, dirumah aku juga kebanyakan tidur. kayaknya akhir-akhir ini aku jadi gampang cape." Alena mengeluh lagi.
"Kok bisa?"
Alena menggendikkan bahu.
"Kamu banyak tugas?" Hardi menelisik.
"Lumayan."
"Mungkin karena banyak tugas. Ngga apa-apa, banyak makan sama banyak tidur biar kamu nggak sakit."
"Hu'um ..." Alena menggangguk.
"Mau lagi?" Hardi menyodorkan spageti miliknya ke mulut Alena.
Dengan segera di sambut Alena, kemudian mengunyahnya dengan cepat. Dan terus diulangi hingga beberapa kali Hardi menyuapi gadis itu.
"Kakak juga makan dong!!" Alena yang sedari tadi disuapi.
"Kamu aja dulu... aku udah kenyang dengan cuma liat kamu makan." Hardi tersenyum.
"Ih ... gombal!!" Alena mencibir.
Hardi terkekeh sambil terus menjejalkan makanan kepada Alena, hingga piring didepannya kosong.
"Mau pesan lagi?" Hardi memawarkan.
Alena menggeleng.
"Yakin?"
Alena mengangguk. "Nanti aku paling makan lagi dirumah." tersenyum malu.
Hardi kembali terkekeh. Mengusap kepala gadis itu dengan gemasnya.
Dia perhatikan memang tubuh Alena kini terlihat agak berisi. Pipinya agak chubby. Dada dan bokong nya terlihat lebih besar dari terakhir mereka bersama.
Dada dan bokong.
Hardi menelan ludah kasar. Pikiran kotor baru saja melintas dikepalanya.
"Kamu minum obatnya?" Hardi sambil mendorong piring kosong ke tengah meja. Menarik jus jeruk, menyesapnya kemudian memberikan nya kepada Alena.
"Hu'um.. " Alena mengangguk sambil menyesap jus jeruk milik Hardi. Sepertinya mereka sudah tak sungkan berbagi apapun.
"Yakin?" Hardi memastikan.
"Iya. Tiap hari kan? Tuh tinggal tiga biji lagi." Alena menunjukkan satu strip obat berbentuk bulat kecil-kecil yang dia rogoh dari dalam tas kuliah nya.
"Kayaknya aku banyak makan gara-gara obat ini deh." gadis itu mengeluh.
"Gak aku minum lagi ya. Nanti aku tambah gembul makannya." Alena memohon.
"Jangan!!" Hardi setengah berteriak. Nggak apa-apa jadi banyak makan juga. Yang penting aman!!" katanya, menjejalkan obat tersebut kembali kedalam tas kuliah Alena.
"Nanti aku beli lagi."
"Hmm ..." Alena merengut.
πFlash Back onπ
"Obat apa ini?" Alena mengerutkan dahi ketika Hardi menyodorkan satu strip obat yang tak dikenal nya.
"Minum aja." Hardi menjatuhkan tubuh tingginya di atas kursi semen. Merebahkan kepalanya di pangkuan Alena.
"Vitamin?" Alena bertanya lagi.
"Ish ...!!" Hardi mengeluh.
"Kakak nggak jelas." Alena mencibir.
"Itu pil kb!!" Hardi berbisik seolah takut ada yang mendengar pembicaraan mereka di atap kampus yang sepi itu.
"Maksudnya?" Alena masih belum faham.
"ish ..." Hardi bangkit kemudian duduk mensejajari Alena. "Kalau kamu nggak minum itu nanti kamu hamil, lho." katanya tanpa tedeng aling-aling.
Alena melongo.
Hardi menyandarkan punggung nya di sandaran kursi. "Aku belum siap kalau tiba-tiba saja kamu hamil. Tapi aku nggak bisa ngontrol diri aku sendiri kalau lagi dekat dengan kamu." menarik napas dalam-dalam.
"Ada cita-cita yang harus aku kejar. Dan aku takut fokus aku akan terbelah, dan membuat semua rencana yang sudah aku susun rapi malah jadi berantakan." Hardi panjang lebar.
Alena menunduk, menatap pil-pil kecil di tangannya. "Aku nggak kepikiran sampai sana." gumamnya.
"Aku juga sebelumnya gitu. Tapi bukannya kita harus jaga-jaga kan? Daripada kebablasan." Hardi mengubah posisi duduknya kembali mensejajari Alena.
************
Hari ini Hardi pulang cepat dari kantor. Sengaja bergegas karena ingin menghabiskan waktu bersama Alena.
Ting!!
Notifikasi dari aplikasi pesan masuk di ponselnya.
[Sore ini aku pulang. Bisa ketemu?] dari Lasya, setelah dua minggu tak berkabar akibat syuting stripping sinetron perdananya.
Hardi menghela napas dalam.
[Aku lembur. Mungkin besok siang. Kamu buru-buru?] balasan dari Hardi.
[Nggak. Aku dapat libur dua hari kedepan. Oke aku tunggu.] Lasya membalas.
Hardi tak membalas lagi. Menutup aplikasi pesan, kemudian memasukkan ponsel ke saku celananya.
Tak mungkin dia membatalkan pertemuan dengan Alena yang sejak dua hari yang lalu merengek ingin bertemu. Setelah berusaha membereskan segala pekerjaan agar malam itu dia tak harus lembur. Bersama Raja yang tak kalah bersemangatnya bekerja keras agar segera menyelesaikan deadline mereka minggu itu.
Hardi turun dari mobil menghampiri gadis mungil kesayangannya yang tengah duduk menunggu di kursi halte. Senyum keduanya mengembang ceria.
"Hari ini mau kemana?" Hardi setelah mengencangkan sabuk pengaman di tubuh Alena, hal yang sangat disukainya sejak kebersamaan mereka. Membuat gadis itu aman bersamanya.
Alena menggeleng sambil menatap ke sang pujaan hati.
"Lho? Aku pikir kamu mau pergi kemana gitu." Hardi dengan kening berkerut.
"Aku cuma pengen ketemu sama kakak aja." menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Hardi tersenyum. "Kangen?" bibirnya menyeringai.
"Hu'um .." Alena mengangguk lagi.
Hardi mengusap kepala Alena dengan lembut.
Mobil melesat menuju apartemen tanpa hambatan. Jalanan masih lancar sore itu.
*
*
Alena meringkuk di pelukan Hardi yang duduk di sofa sejak mereka memasuki ruangan apartemen sore itu. Dan tampaknya tak ingin bergerak untuk beberapa saat lagi. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Hardi yang berusaha keras menahan gejolak yang terus mengganggu.
"Kamu kenapa sih? Sakit??" Hardi yang melingkarkan kedua tangan nya di tubuh mungil Alena yang kini agak berisi.
"Aku kangen!!" Alena bergumam.
"Inikan udah ketemu." Hardi terkekeh.
"Aku kangen pokoknya!!" Alena menggeliat, berpindah ke pangkuan Hardi, kemudian bergelung lagi dengan kepala yang masih bersandar di dada bidang itu.
Membuat Hardi menghirup napas dalam-dalam menahan sesuatu yang terbangun di bawah sana.
"Terus aku harus ngapain?" Hardi yang agak berbisik.
"Nggak usah ngapa-ngapain." Alena makin menelusupkan kepalanya ke dada Hardi yang debaran nya makin kencang.
"Gini aja??" Hardi dengan nada kecewa.
"Memangnya kakak mau apa?" Alena mendongak. Mata beningnya berkilauan di terpa lampu kristal di langit-langit. Bibir mungilnya begitu menggoda.
Hardi menelan ludah kasar. Menatap wajah polos yang mengerjap-ngerjap di pelukannya.
"Jangan mesum!! Aku lagi males!" Alena yang kemudian menelusupkan lagi kepalanya ke dada Hardi.
Seketika hatinya seperti kerupuk yang disiram air. Melempem. Hardi menghela napas, merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.
Hanya hembusan napas yang terdengar dari keduanya. Alena tetap tak bergerak di pangkuan Hardi.
"Kakak!!"
"Iya?"
"Kakak sayang sama aku?" katanya, tiba-tiba.
"Iya." tanpa berpikir panjang.
Kemudian diam lagi.
"Kakak!!"
"Iya Al?? Kenapa?" Hardi mulai kesal.
"Gimana hubungan Kakak sama kak Lasya?"
"Ish... !!!" Hardi mendesis.
"Kakak!!"
"Iya Alena!!" Hardi benar-benar dibuat kesal.
"Kak Lasya Udah terkenal ya sekarang."
Hardi mendengus.
"Iya. Terus kenapa?" membelai punggung gadis mungil itu.
"Kakak udah ketemu kak Lasya? Biasanya kakak yang antar jemput kak Lasya ke jakarta." Alena yang masih bergelung di pelukan Hardi.
"Aku kan lagi magang. Nggak bisa ijin seenaknya sekarang."
"Jadi kakak udah jarang ketemu kak Lasya?"
"Hmmm .."
"Kakak!!"
"Ish...!!! Apa sih All!??"
" Boleh aku memiliki kakak seorang saja?" Alena dengan tiba-tiba. Membuat orang yang tengah memeluknya bangkit merubah posisi duduknya.
"Maksud kamu?"
"Apa aku egois kalau aku minta kakak memilih aku daripada kak Lasya?" Alena yang tak berani menatap wajah Hardi yang menegang.
"Apa kamu mulai menuntut?" Hardi balik bertanya.
Alena hanya mengangguk pelan.
"Mau menunggu?" ucapan yang membuat si pendengar bergerak menengadahkan kepalanya menatap manik cokelat yang selalu menghanyutkan itu.
"Tunggulah sampai semuanya normal." Hardi berseloroh.
"Maksud nya?" Alena mengernyit.
"Aku lulus kuliah, terus bekerja. Semua yang aku kerjakan sesuai rencana." Hardi mengeratkan pelukan. Menempelkan kening mereka berdua.
"Kakak janji??" senyum terbentuk di bibir mungil itu.
"Janji. Sampai saat itu tiba, bersikaplah yang manis." mengecup kening Alena yang kemudian kembali menelusup ke dada bidangnya.
Bersambung ...
Hai lagi. Makasih udah mampir. Jangan lupa like komen sama vote. I love you full πππ