
*
*
"Kalau dengan cara ini bisa membuat dia memaafkan aku, apa kamu mau ikut denganku?"
Pandangannya mulai kabur. Rasa sakit kian menyebar di seluruh tubuhnya. Hardi mencoba membuat dirinya tetap sadar.
Alena meraih tubuh jangkungnya yang kini tak berdaya. Meletakkan kepala pemuda itu diatas pangkuannya. Hardi melenguh ketika merasakan satu sisi bagian tubuhnya diserang nyeri yang teramat sangat.
"Aku, tak bisa ...." suaranya terputus. Mata coklat itu kini terpejam. Dia tak sadarkan diri.
"Kakak??" Alena berteriak, mengguncang tubuh Hardi, menepuk pipinya beberapa kali, mencoba menyadarkannya. Namun pria itu tak bergeming.
Raja berlari menghampiri mereka sesaat setelah tiba di depan pekarangan itu.
Dia baru saja tiba di apartemennya ketika mendapatkan panggilan dari ibunya Hardi yang panik mendapati putranya yang tak ada diruang perawatan sebuah rumahsakit di Jakarta.
Pikirannya langsung tertuju pada Alena.
Raja segera memacu kendaraannya ke kafe dimana Alena bekerja, namun gadis itu sudah tak ada disana, kemudian dia memutuskan untuk menuju rumahnya.
Dan disinilah dia, mendapati sahabatnya yang terbaring lemah dengan kepalanya yang berada di pelukan Alena.
Raja menghampiri tubuh sahabatnya, sekilas menoleh ke arah Arya yang masih tampak diliputi amarah.
"Hardi,'' Raja mencoba menyadarkan sahabatnya itu. Namun Hardi tak membuka matanya.
Tanpa berpikir panjang, pemuda itu meraih tubuh Hardi, menarik sebelah tangannya, melingkarkan tangannya di pundak, membawanya agar bangkit dengan susah payah. Menyeret tubuh tinggi sahabatnya hingga mencapai mobilnya di depan gerbang.
Alena mengikutinya dari belakang dengan panik.
Raja memasukkan Hardi kedalam mobil, sebentar menoleh kepada Alena, "Lu ikut, kan?" katanya, pada gadis itu yang dijawab dengan anggukkan.
"Alena!!" teriakan Arya menggema, membuat mereka berdua menoleh.
Alena menatap lurus ke arah kakak laki-lakinya itu, air mata tak berhenti mengalir. Dia menggigit bibir bawahnya, menguatkan hati.
Kali ini aku akan membantah!! Sekali ini saja! Batinnya.
Alena segera masuk kedalam mobil, mendampingi Hardi yang telah jatuh dalam ketidaksadarannya.
Sementara Arya, meremas kedua tangannya, menahan kecewa.
*
*
Mereka tiba dirumah sakit dalam duapuluh menit. Raja segera berteriak meminta bantuan begitu mereka sampai di depan UGD.
Dua orang petugas pria segera berlari membawa blankar, menurunkan Hardi dari dalam mobil kemudian membawanya masuk kedalam ruangan penanganan.
*
*
*
Satu jam telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda dokter keluar dari sana. Alena dan Raja duduk terdiam di kursi tunggu dengan gelisah.
Kedua orang tua Hardi tiba. Kepanikan tampak jelas di wajah mereka. Segera menanyakan perihal anaknya yang masih berada di dalam ruang penanganan dokter.
Tak lama berselang, dokter pun keluar. Mereka segera menghampiri.
"Keluarganya saudara Hardi?" tanya nya.
"Orang tuanya, dokter." jawab Raja.
"Bagaimana anak saya?" Linda tak sabar.
"Dia sebenarnya sedang dirawat, dokter. " Linda akhirnya buka suara setelah mendengarkan penuturan dokter.
"Tiga hari lalu dia meminum banyak pil anti depresan dengan minuman keras, entah seberapa banyak." katanya, kemudian tergugu menangisi keadaan putranya.
Alena tersentak. Dia bangkit dari kursi dan segera menghampiri keempat orang yang sedang bercakap-cakap itu.
"Apa?" katanya, membuat semua orang menoleh.
"Sore ini saya tak menemukan dia di kamar rawatnya, dia kabur." Linda kembali tergugu.
Dokter mengangguk-angguk. "Baik, kami sudah menanganinya, entah kenapa dia masih bisa bertahan dengan keadaan separah itu. Dia tidak akan sadar untuk beberapa jam kedepan. Karena efek anestesi yang banyak. Semoga saudara Hardi cepat pulih." katanya, kemudian pamit.
Alena masih tertegun menatap ketiga orang didepannya. Menunggu penjelasan.
"Om, Tante?" katanya, berjalan mendekat."Apa yang terjadi.?" tanyanya. Air mata kembali mengalir tanpa bisa dibendung.
Linda menghela napas pelan.
🍃 Flashback On 🍃
Hardi terlihat lebih banyak diam sejak kepulangannya dari Bandung. Padahal sebelum pergi dia sangat ceria dan bersemangat. Hardi pamit ingin menemui Dilan, dan juga Alena tentunya. Dia telah mengutarakan niatnya untuk membawa mereka berdua ke Jakarta.
Namun kini pemuda itu lebih banyak berfikir dan melamun. Terkadang dia terlihat menangis ketika sedang duduk sendiri di teras belakang rumah.
Kedua orang tuanya hanya bisa menyaksikan keadaan putra mereka dengan hati pilu.
Dia tak pernah terlihat serapuh ini.
Sejak kecil Hardi adalah anak yang ceria. Dia selalu menjadi penyemangat bagi orang-orang di sekelilingnya. Pemeriah suasana dimanapun dia berada. Itulah mengapa semua orang bisa dengan mudah menyukainya. Selain karena dia tampan dan pintar.
Tak pernah terlihat lemah ketika memiliki suatu masalah. Dia selalu mampu menanganinya dengan baik. Dia juga selalu fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Tak pernah bisa terganggu dengan masalah apapun yang dia hadapi.
Tapi dia mulai berubah sejak dua tahun belakangan. Hardi mulai tertutup kepada orang-orang di sekelilingnya. Beberapa saat setelah dirinya mengakui telah menghamili seorang gadis dan meminta nya untuk menggugurkan kandungan.
Hardi seperti menarik diri. Dari pergaulan maupun dari lingkungan keluarga. Dia tak pernah lagi mengikuti acara keluarga yang biasa diadakan orang tuanya. Maupun pergi berkumpul dengan teman-temannya.
Dia lebih banyak menyibukkan dirinya dengan belajar dan bekerja. Selalu berdalih ingin segera lulus kuliah dan bekerja di tempat yang dia impikan.
Namun beberapa kali dia ditemukan pingsan dengan obat anti depresan yang berserakan di dekatnya.
Hardi memang pernah mengeluh sering gelisah dan mengidap insomnia akut. Sering mengalami serangan panik juga. Dia bahkan sering berkonsultasi dengan psikiater untuk menangani apa yang tengah diidapnya.
Dan terakhir, tiga hari yang lalu dia ditemukan tak sadarkan diri setelah satu Minggu sebelumnya mengurung diri dikamar.
Lalu, sore ini hanya berselang beberapa saat setelah dia siuman dari pingsannya, kedua orang tuanya tak menemukan dia dimanapun. Hanya ponsel yang tergeletak di ranjang dengan foto sikecil Dilan yang tengah tersenyum ceria terpampang di layar.
🍃 Flashback Off 🍃
Alena jatuh terduduk dilantai. Airmata sudah tak bisa dibendung lagi. Terus saja mengalir deras. Dia menangkupkan kedua tangannya di wajah.
Tak menyangka keadaannya separah itu. Selama ini dia merasakan penderitaan yang teramat sangat.
Mengandung tanpa suami yang bertanggung jawab. Mendapat penolakan atas kehamilannya dari orang-orang di sekelilingnya. Menjalani hidup sendiri di pelarian. Lalu melahirkan tanpa didampingi ayah si bayi.
Kemudian menjalani hidup sebagai ibu tunggal bagi putra semata wayangnya. Seringkali gadis itu mendapat cibiran karena telah hamil tanpa suami. Sering juga mendapat perlakuan tak menyenangkan karena status anaknya yang lahir diluar nikah tanpa ada seseorang yang mau bertanggung jawab.
Dia juga terpuruk. Tapi masih bisa bertahan dengan baik hingga saat ini.
Sedangkan Hardi, pria itu kalah oleh keadaan. Tak kuat menghadapi rasa bersalahnya karena telah membiarkannya sendirian dalam keadaan hamil. Juga karena telah mendapat penolakan dari dirinya.
*
*
*
Bersambung ....