
Penyesalan akan selalu datang terlambat.
Makan malam terasa mencekam. Tak ada suara, apalagi canda tawa seperti biasanya. Hanya suara sendok dan garpu yang berdenting.
Tak sesuapun makanan yang masuk ke mulut Alena. Gadis itu hanya mengaduk nya dalam diam.
"Aku selesai." katanya seraya bangkit dari
kursi.
"Duduk." Arya memerintah.
"Tapi aku ..."
.
"Duduk!" Arya mengulangi perkataanya dengan penekanan.
"Besok kamu ke klinik ini." melemparkan selembar kartu nama ke depan Alena. "Alya yang antar." katanya lagi.
"Klinik apa? Bukannya kita sudah ke rumahsakit?" Alya yang tiba-tiba mendapat tugas baru.
"Gugurkan lah janin itu." Arya dengan nada dingin.
Deg!!
Semua mata menoleh padanya yang duduk bersandar. Wajah Alena memucat.
"Maksud abang??"
"Apa kurang jelas? Jarak kita tidak terlalu jauh." Arya balik bertanya.
"Aku? Harus menggugurkan anakku?"
"Kamu mengerti." suaranya semakin dingin.
"Nggak mungkin!" Alena menolak.
"Apa yang kamu harapkan? Pecundang itu juga tidak mengharapkan dia bukan? Bahkan sekedar datang dan melihat keadaan mu saja dia tak mau."
Alena tertegun.
"Jelas dia tidak mau bertanggung jawab. Kamu sendirian."
"Coba kamu beri tahu siapa orangnya, saat ini abang pasti akan menyeret dia dan bisa memaksanya bertanggung jawab. Sayangnya kamu memilih bungkam untuk melindungi dia."
Alena masih terdiam.
"Anak itu akan dihantui cibiran orang. Anak haram. Tak punya ayah. Tak di inginkan. Hidupnya akan menderita."
Air mata mengalir begitu saja.
Semua yang dikatakan Arya benar. Tidak ada yang menginginkan anak ini. Bahkan dirinya pun tidak.
Tapi entah mengapa hatinya terasa begitu perih ketika harus memutuskan akan merelakannya saja.
******
"Kamu yakin??" tanya Alya ketika mereka berada di ruang tunggu sebuah klinik bersalin.
Alena menatap sebentar wajah ayu kakak perempuannya itu, kemudian mengangguk.
Tetesan air lolos dari pelupuk mata Alya, entah apa yang dia tangisi.
"Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini? apa tidak akan memikirkannya lagi?" Alya meyakinkan.
Alena menggeleng.
"Semua yang dikatakan abang benar. Aku bisa apa?" suaranya hampir berbisik.
"Ini anak kamu, Al." kata Alya lagi dengan nada sendu.
"Nggak ada yang menginginkan dia, kak." Alena sesenggukkan.
"Kamu tidak menginginkan dia?" Alya menatap kedalam mata adiknya.
Seketika tangis Alena pecah.
"Aku takut!!"
"Bagaimana aku bisa mengurus dia, sementara aku masih seperti ini kak.?!"
"Tanya hati kamu. Kalau kamu memang tidak menginginkan dia, kita akan membuangnya sekarang." Alya mengelus punggung adiknya dengan lembut.
"Apa aku akan bisa mengurus dia, kak?"
Alya mengangguk pelan. "Pasti bisa!" merengkuh pundak Alena yang masih tergugu. "Kamu akan jadi mama yang cantik." tangis dan senyuman hadir bersamaan.
"Bagaimana abang?" Alena kemudian.
"Kita pikirkan nanti." seraya menarik tangan adik bungsunya keluar dari tempat itu.
*********
Kampus terasa asing. Mungkin rasanya takan sama lagi sekarang. Toh dirinya takan menginjakan kakinya lagi disana. Alena memutuskan untuk berhenti kuliah sebelum kandungan nya membesar.
Dia membereskan loker. Memasukkan semua barang-barang kedalam kotak kardus dan beberapa totebag yang dia bawa.
Vania berlari menghampiri.
"Kamu berhenti kuliah? kenapa?" katanya terengah-engah.
"Aku harus." Alena tanpa menatap matanya.
"Kenapa? Ada masalah apa?" meraih pundak Alena.
"Aku ..."
"Dua hari yang lalu kakak kamu datang, tanya-tanya soal kamu."
Alena mendongak. "Tanya apa?"
"Kakak aku tanya apa?"
"Dia ... tanya apa kamu punya pacar atau teman laki-laki."
"Dan kamu jawab apa?" Alena berbalik.
"Aku nggak tahu. Dan nggak pernah lihat kamu jalan dengan siapapun."
Alena menghela napas.
"Ada apa sebenarnya?"
Alena hanya menggeleng. Buliran air lolos dari kedua matanya.
"Aku akan cerita. Tapi nggak sekarang." Alena mulai berjalan.
"Alena!!" Vania menjegal langkahnya.
"Aku mohon. Aku nggak siap." katanya makin terisak.
Vania membiarkan sahabatnya itu pergi tanpa mendapat keterangan apapun yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
Alena berjalan hingga sampai di tangga menuju atap tempat biasa dia menyendiri. Dan menunggu cinta pertamanya dengan setia.
Rasa sesak segera menyeruak dalam dada. Untuk terakhir kali dia ingin kesana.
Atap masih lengang seperti biasa. Angin berhembus kencang namun menenangkan.
Aku akan rindu tempat ini.
Alena menutup matanya, merasakan angin menerpa wajahnya. Menghirup udara dalam-dalam seolah sedang membekali dirinya kekuatan.
"Kamu datang." terdengar suara berat dari arah belakang. Mengusik keheningan yang tengah dinikmati Alena. Gadis itu berbalik.
Deg!!
Wajah itu. Persis di depan matanya.
"Aku sudah tiga hari nunggu kamu disini." Hardi dengan suara bergetar.
"Kenapa?"
"Aku ...." berusaha meraih tangan Alena, namun segera di tepis oleh gadis itu.
"Alena, aku ....
"Maaf." katanya, sendu.
Alena menutup mulutnya rapat-rapat. Menahan sesuatu yang tengah menyeruak dalam dadanya.
"Bagaimana keadaan kamu. apa kamu ..."
"Aku baik. Semuanya baik." kedua tangan terkepal di samping.
"Aku nggak bisa hubungi kamu."
"Aku blokir."
"Kamu sudah ...." menatap ke arah perut Alena yang terlihat masih rata. Pikirannya bertanya-tanya.
"Sudah periksa?" Hardi hampir menangis.
"Sudah. Umurnya dua bulan. Dan akan aku gugurkan. Seperti keinginan kakak."
Alena memutuskan segera pergi dari sana. Namun saat melangkah tangannya di raih oleh Hardi.
"Aku mau bicara." katanya setengah berbisik.
"Tidak usah."
"Tapi ...
"Tidak usah khawatir. Aku nggak akan menganggu kakak lagi. Hidup kakak nggak akan terhambat lagi. Semuanya akan sesuai rencana kakak." Alena menyentak tangan Hardi hingga terlepas.
"Jadi, ini berakhir?" Hardi hampir terisak.
"Kakak yang membuatnya berakhir."
"Kapan kamu akan melakukannya? Dimana?"
"Itu urusan aku."
"Akan aku antar."
"Tidak usah. Aku bisa sendiri."
"Setidaknya aku mau sedikit bertanggung jawab ..."
Plakk!! Tamparan keras mendarat di pipi Hardi. Membuatnya memejamkan mata.
"Bertanggung jawab!" napas Alena menderu penuh kemarahan. "Tanggung jawab versi Hardi Pradipta!!"
Alena berbalik lagi, melanjutkan langkahnya.
"Alena, aku mohon..." Hardi dengan suara parau mengikuti langkah Alena.
Gadis itu berhenti lagi. Berbalik lagi.
"Aku minta satu hal..."
"Kalau suatu hari kakak ketemu aku dijalan atau dimana saja, aku harap kakak akan mengabaikan aku. Jangan hiraukan aku. Anggap kita nggak pernah mengenal satu sama lain. Anggap kita nggak pernah bersama. Aku akan sangat berterimakasih."
"Aku mohon ..." Hardi meratap.
"Aku pamit." Alena segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
Air mata yang ditahannya sejak tadi kini meluruh membasahi pipinya. Luka dihati terasa semakin menganga. Seperti ada sebuah lubang besar menekan dadanya.
Perih, dan menyesakkan.