ALENA

ALENA
56. Cinta Arya



Suasana hening dalam perjalanan pulang. Tak sepatah katapun keluar dari mulut ketiga bersaudara ini. Anna tertidur pulas di jok belakang, mungkin kelelahan setelah menangani beberapa hal di acara resepsi tadi. Alena sibuk dengan pikirannya yang entah berkelana kemana.


Sementara Arya berusaha agar konsentrasinya tak terpecah antara jalanan dan pikirannya yang kacau.


Mereka sampai dirumah setelah tiga puluh menit berkendara. Memasuki ruangan utama, ada sepi menyelimuti. Rasa kehilangan yang tiba-tiba menyeruak.


Arya terdiam, menatap kosong seluruh isi rumah. Satu adik perempuannya telah pergi meninggalkan keluarga ini untuk bergabung dengan keluarga barunya.


Ada rasa bahagia juga sedih, mengingat perjalanan hidup mereka yang sangat tak mudah. Hidup tanpa orang tua sedari kecil, berjuang sendirian untuk hidup dan menggapai cita-cita, ditambah dengan tanggungjawab mengurus adik-adiknya yang lain.


Arya menghela napas pelan, menjatuhkan tubuh tingginya di sofa depan televisi, tempat favorit mereka dikala melepas lelah setelah seharian penuh berjibaku dengan aktifitas diluar rumah.


"Dua lagi, aku harus bertahan!!" gumamnya dalam hati.


🌹 Flashback on 🌹


Sepasang manusia menghabiskan malam tahun baru di pantai yang disesaki pengunjung. Sama-sama berbagi cerita dan kebahagiaan. Mengikat janji yang entah kapan akan bisa terpenuhi.


Deburan ombak menjadi teman kebersamaan mereka kala itu.


"Kalau nanti aku yang menikah duluan, kamu mau datang?" Hana menatap langit pantai Pangandaran yang bertabur bintang.


Arya tersenyum kemudian mengangguk.


"Tapi kalau kamu yang duluan nikah aku nggak mau datang." ucap Hana, kemudian.


"Kenapa?" Arya menoleh.


"Aku pasti patah hati." wajah cantik itu berubah sendu.


"Dasar licik." Arya terkekeh.


"Jadi, kita sampai disini saja?" Hana meyakinkan keputusan Arya untuk mengakhiri hubungan mereka disaat semua perasaan justru semakin menguat antara keduanya.


Arya menarik napas dalam, "Maaf. Tanggung jawabku sangat besar. Ketiga adikku benar-benar membutuhkan aku. Aku tak mungkin bisa membagi waktu dan pikiranku antara kamu dan mereka." katanya, menyesal.


"Aku akan menunggu." Hana menghiba.


"Nggak segampang itu." Aya menatap kedalam manik bening yang juga tengah menatap wajahnya.


"Perjuanganku masih sangat panjang." katanya lagi.


"Berhentilah merasa bahwa beban seluruh dunia ada di pundak kamu, kita bisa berjalan sama-sama, berbagilah dengan aku!" Hana meraih tangan yang tertumpu di pasir, menautkan jari-jari mereka begitu erat. Saling menyalurkan rasa cinta diantara keduanya.


"Mereka bukan beban, mereka tanggung jawab aku, Han!!" Arya menyela.


"Iya, iya. Tapi, biasakan kita terus bersama-sama? Aku akan mendampingi kamu mengurus mereka." pinta Hana, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu akan melewatkan banyak hal baik kalau tetap dengan aku. Banyak kesempatan bagus yang mungkin menunggu kamu diluar sana." Arya mengeratkan tautan jemari mereka berdua.


"Dengan kamu juga bisa." Hana meyakinkan lagi.


"Waktu kamu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan aku." Arya menyanggah.


"Kamu keras kepala!" Hana memicingkan matanya.


"Aku harus keras kepala demi hidupku dan ketiga adikku, ingat?!" jawab Arya sedikit terkekeh. "Lagipula, kalau memang kita jodoh nggak bakal kemana. Pasti nanti ketemu lagi." katanya, menghibur diri sendiri.


"Kamu percaya peribahasa itu?" Hana terus menatap wajah tampan di sampingnya.


Arya mengangguk, kemudian tersenyum. Getir.


"Mari kita buat perjanjian!" Hana bangkit dari duduknya, berdiri sembari menepuk bagian belakangnya yang dipenuhi pasir pantai.


Arya mengikuti gadis itu bangkit. "Apa?" tanpa melepas tautan jari mereka berdua.


"Kalau suatu hari nanti kita ketemu lagi, dan diantara kita belum ada yang punya pasangan, kita harus langsung menikah!!" Hana bersemangat.


"Perjanjian macam apa itu?" Arya kembali terkekeh.


"Ayo janji!" Hana mengacungkan jari kelingking nya kedepan wajah Arya.


"Kalau kita ketemunya setelah salah satu dari kita sudah punya pasangan bagaimana?" Arya dengan senyum lembut.


"Berarti kita bukan jodoh. Tapi kita harus tetap berteman!!" jawab Hana, mantap.


Arya tersenyum lagi.


Pria itu menautkan jari kelingkingnya dengan milik Hana. Membuat perjanjian pada malam terakhir mereka bersama.


Hana mendekatkan dirinya ketubuh tinggi Arya, mendongakkan wajahnya, kemudian mengecup bibir pria itu dengan lembut. Merasakan manisnya ciuman terakhir mereka sebelum berpisah.


🌹 Flashback off 🌹


*


*


*


Dan kini bertahun-tahun telah berlalu setelah kepergian Hana keluar negri untuk mengambil studi lanjutan nya.


Tanpa ada kabar ataupun berita dari keduanya, mereka mencoba untuk fokus untuk menjalani hidup mereka masing-masing.


Arya melanjutkan perjuangan kerasnya demi menggapai cita-cita dan menghidupi ketiga adik perempuannya.


Menekan ego hatinya, mencoba melupakan mimpi indahnya bersama gadis pujaan hatinya.


"Apa ini artinya kita berjodoh, Hana?" gumam Arya dalam keheningannya.


Mana mungkin!! Sudah tujuh tahun berlalu. Dia pasti sudah menikah dan punya anak yang lucu-lucu!! Sekarang tinggal aku yang masih sendirian. Batinnya.


*********


Hana membolak-balikkan ponsel pintar miliknya. Membuka aplikasi telpon, namun kemudian menutupnya kembali, menaruhnya di nakas samping tempat tidurnya.


Diraihnya kembali ponsel tersebut, membuka aplikasi chat, kemudian mengetik sebuah pesan ketika dilihatnya keterangan di atas nomer yang dituju tengah online.


Bahkan nomer ponsel nya pun masih sama dengan yang dulu. Gumamnya dalam hati.


Setelah bertahun-tahun memutuskan untuk menahan menghubungi, bahkan sekedar mengecek nomer tersebut masih aktif atau tidak.


Hana benar-benar memegang janji mereka sebelum berpisah untuk tak saling berusaha menghubungi atau mencari kabar satu sama lain.


Dan kini, disinilah dia dengan segala kegalauan nya.


Hatinya berdebar, tangannya bergetar ketika jari-jarinya menyentuh tombol di layar ponselnya.


Suara telpon tersambung diseberang sana. Namun tak diangkat. Setelah beberapa kali percobaan, suara itu terdengar di telinganya.


Suara yang dirindukannya selama tujuh tahun belakangan. Yang berusaha dilupakannya untuk dapat menjalani hari-harinya hidup di perantauan di negeri orang. Dan kini, dengan sadar dia kembali mendengar suara itu lagi.


"Aku ingin bertemu!" katanya, dengan isak tangis yang tak dapat ditahannya.


Hana menyambar kunci mobil diatas nakas, kemudian segera keluar dari rumah dinas miliknya. Menuju tempat yang dijanjikan sebelumnya dalam percakapan di telepon.


*


*


*


*


Mereka berdua berdiri mematung. Saling memindai keadaan masing-masing.


"Kamu kemana saja?" Hana memulai percakapan.


"Aku nggak kemana-mana. Rumahku masih di tempat yang sama, ingat?!!" Arya berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celanya.


"Arya, aku .... " tanpa menunggu lama, gadis itu berlari menghambur ke pelukan pria di hadapannya, menangis tergugu diperlukannya.


"Hana?"


"Jangan sekarang!! Biarkan seperti ini untuk sebentar saja!!" katanya, memeluk tubuh tinggi itu dengan erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang Arya.


Pria itu mengalah, melingkarkan kedua tangannya di tubuh semampai Hana yang bergetar mengeluarkan tangis kerinduannya.


Bersambung ....


Like, koment sama vote nya selalu aku tunggu ya .


I love you full😘😘😘