
[Dia masih belum sadar.] Chat balasan dari Raja setelah tiga hari Hardi dimasukkan ke rumah sakit.
Alena menghela napas berat. Ingin rasanya segera pergi mendatangi rumah sakit, namun dirinya takut dengan Arya. Terlebih lagi kedua orang tua Hardi yang melarang dirinya untuk datang selagi keadaan belum kondusif.
Alena mencoba bersikap seperti biasa. Menjalani kegiatan sehari-harinya senormal mungkin walau pikirannya terus tertuju kepada Hardi.
*
*
Arya baru saja sampai dirumahnya. Dia mendapati keadaan rumah yang seolah kembali normal seperti tak pernah terjadi sesuatu keributan sebelumnya. Arya mengerutkan dahi.
Suasana rumah begitu hangat. Tampak Alena yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Dibantu Anna. Sementara sikecil Dilan terlihat tengah bermain diruang keluarga, yang langsung berlari kegirangan menghampirinya.
"Yayah!!!" Katanya, yang segera disambut pelukan hangat dari pria itu.
Alena menghampiri, meraih tas kerja dan jaket yang biasa dipakai Arya saat bekerja. "Cepat mandi, habis itu kita makan." Katanya.
Arya menatapnya heran. Adiknya bersikap seperti dulu sebelum ada kejadian beberapa bulan ke belakang.
"Abang?" Katanya lagi, membuyarkan lamunan Arya. Pria itu menoleh.
"Mandi! Terus makan." Alena sembari berlalu menyimpan tas ke ruang kerja Arya.
Pria itu menurut.
Tak lama mereka telah berkumpul di meja makan. Alena seperti biasa, berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengatur makanan di meja. Mengambilkan nasi dan lauk untuk kedua kakaknya.
Arya menatapnya lekat.
Dia baik-baik saja. Batinnya.
Kegiatan makanpun berlangsung normal. Diselingi canda tawa dan obrolan ringan antara mereka. tawa riang dan celotehan lucu sikecil Dilan membuat suasana makin ceria hingga acara makan malam usai.
"Aku duluan ya, banyak tugas di kantor harus beres malam ini," Anna yang segera bangkit dari posisi duduknya.
"Ya udah, biar aku aja yang beresin." Alena yang juga ikut bangkit, hendak membereskan meja makan.
Anna mengangguk, kemudian pergi ke kamarnya.
Arya menatap adik bungsunya yang sibuk membereskan meja makan. Tak bisa dipungkiri ada sedikit khawatiran di hatinya kepada Alena. Keadaan ini terlalu tenang. Apa adiknya itu sedang merencanakan sesuatu? karena ini terlalu normal baginya. Sedangkan dia tahu dari percakapan kemarin, Alena seperti sangat mengkhawatirkan Hardi.
Arya meraih tangan Alena yang sedang membereskan peralatan makan di meja. Menghentikan kegiatan gadis itu.
Alena menoleh, "Iya bang?" katanya dengan kening berkerut.
"Kamu baik-baik saja?" tanya nya, menatap lekat wajah adik bungsunya itu.
"Iya." jawab Alena yang juga menatap wajah teduh kakaknya.
"Terakhir kali kamu bersikap tenang seperti ini, besok nya kamu pergi dari rumah, dan ditemukan lima bulan kemudian." Arya mengingat kejadian sesaat setelah Alena mengunjungi klinik bersalin ketika dia berencana menggugurkan kandungannya.
"Maksud Abang?" kening Alena berkerut, membuat kedua alisnya bertemu.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" Arya menahan adiknya yang seperti menghindar.
"Aku nggak sedang merencanakan apapun." jawab Alena, masih menatap wajah Arya yang penuh curiga.
"Aku nggak punya rencana apapun. Aku hanya berusaha menjalani semuanya sebaik yang aku bisa."
Arya tertegun.
"Aku nggak akan pergi. Aku sudah memutuskan. Aku akan tetap tinggal dengan keluargaku." katanya, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Arya kembali menatap sosok adiknya. Sepertinya dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
*
*
*
Arya tiba di kafe beberapa menit setelah mendapat panggilan dari Hanna siang itu. Perempuan itu memintanya untuk bertemu. Sudah dapat di tebak, ini pasti mengenai adiknya yang telah dihajarnya beberapa hari lalu.
Arya menghela napas pelan. Ditatapnya perempuan yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Dia tampak cantik dengan stelan kerjanya. Hana memang selalu cantik walau dia berpenampilan biasa.
Hana tersenyum dan melambaikan tangan ketika menyadari kehadiran Arya beberapa meter di depan. Pria itu membalasnya dengan anggukkan. Berjalan menghampirinya, kemudian duduk.
"Mau pesan sesuatu?" katanya setelah berbasa-basi sebentar.
"Kopi hitam." jawab Arya ketika seorang waiters datang nenghampiri, yang kemudian mengangguk dan segera pergi untuk membuatkan pesanannya.
"So, apa kabar adikmu? Apa aku menyakitinya dengan sangat hingga dia meminta kamu untuk datang menemui aku?" Arya memulai percakapan.
Hana menggeleng, menghela napas dalam.
"Aku sudah siap kalau seandainya keluarga kalian akan membawa ini ke jalur hukum. Silahkan." Arya melanjutkan.
Hana tertegun. Pria di depannya ini memang tak kenal takut. Kehidupan telah menempanya dengan sangat baik. Dia benar-benar telah menjelma menjadi pria tangguh, juga sangat keras kepala.
"Aku nggak akan membahas itu." jawab Hana, lemah.
"Lantas?"
"Aku hanya akan meminta sedikit belas kasih kamu untuk adikku." ucap Hana, dengan suara bergetar.
Rahang Arya mengeras. Entah kenapa setiap mengingat Hardi amarahnya langsung naik beberapa kali lipat.
"Arya, please. Biarkan mereka bersama." pintanya, dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tidak tahu rasanya melihat adik yang kamu urus dari kecil harus hancur di depan mata kamu sendiri, tanpa tahu harus berbuat apa untuk membalikan keadaannya." Arya mendengus.
"Kamu tidak tahu rasanya menerima cibiran orang ketika mengetahui dia hamil diluar nikah tanpa ada yang mau bertanggung jawab."
"Kamu tidak tahu, ...
"Ya, Arya. Adikku salah. Aku tidak akan memungkiri itu. Dia salah. Tapi dia tidak tahu kalau Alena mempertahankan kandungannya. Yang Hardi tahu, Alena segera menggugurkan kandungannya sesaat setelah mereka berpisah waktu itu." Hana menjelaskan.
"Itu tidak bisa merubah kenyataan bahwa dia memang tak bertanggung jawab!" tukas Arya,
"Dia menyesal." Hana memelas.
"Huh ... terlambat," Arya terkekeh, getir.
"Kamu tidak tahu sehancur apa dia setelah mereka berpisah. Tahu kalau Alena kabur dari rumah dan dia tak bisa menemukannya dimanapun."
"Adikku mencarinya seperti orang gila. Diapun berubah menjadi orang yang bukan dirinya."
Arya menyimak dengan tenang.
"Seandainya aku tahu kalau Alena itu adik kamu, aku pasti sudah mendatangi kamu untuk memperbaiki semuanya."
"Aku tak pernah melihat dia serapuh ini. Rasa bersalah sudah cukup menyiksa dia dalam beberapa tahun ini."
"Tidak kah itu cukup ?" Hana menatap lekat pemilik manik hitam di depannya.
Arya balik menatap.
"Dia laki-laki. Dia bisa bangkit jauh lebih baik dari siapapun. Kebodohannya tidak akan terlalu mempengaruhinya."
Hana kembali menghela napas dalam.
"Kamu keras kepala."
Arya terkekeh.
"Lalu bagaimana dengan Alena?" Hana kembali bertanya.
"Dia ... Baik-baik saja." Meskipun Arya agak ragu.
"Kamu yakin?"
"Dia tampak baik-baik saja. Sebelumnya dia juga baik-baik saja. Sejauh ini dia bisa bertahan dengan baik. Jadi, dia pasti akan baik-baik saja. Dengan atau tanpa adik kamu." Arya berulang menegaskan.
"Bagaimana kalau keadaannya ternyata tak seperti yang kamu lihat.?" Hana sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Maksud kamu?" Arya mengerutkan dahinya.
"Bagaimana kalau yang kamu lihat baik-baik saja itu ternyata tidak baik-baik saja?"
"Bagaimana kalau sebenarnya Alena berusaha terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya dia tidak."
"Mungkin dia berusaha begitu karena dia takut."
"Takut?" Arya semakin tak mengerti dengan rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Hana.
"Aku tak pernah membuat Alena takut. Aku hanya mengingatkan siapa yang selama ini ada bersamanya ketika dia jatuh sendirian." Arya dengan tegas.
"Aku yakin seumur hidupnya Alena takan pernah lupa, Arya." Tukas Hana.
"Mungkin karena itu dia tetap memilih tinggal. Lihat, betapa cintanya dia kepada keluarganya, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri."
"Dia begitu terikat dengan kamu."
"Itu wajar kan? Aku kakaknya. Aku yang mengurus dia dari kecil. Mengusahakan kehidupannya hingga saat ini." Arya menyela.
"Tapi itu tak berarti kamu bisa menentukan apa yang ingin dia pilih."
"Dia adikku!!" Suara Nya naik satu oktaf.
"Tidak ada yang membantahnya, Arya. Walau bagaimanapun keadaannya dia tetap adik kamu. Dan akan selalu jadi adik kamu seumur hidupnya."
"Tapi dia juga harus bisa sendiri suatu saat nanti. Kamu tidak bisa selamanya melindungi dia."
"Lihat lah dia, bukan hanya dengan mata, tapi juga gunakan hati kamu."
Arya kembali mengerutkan dahi.
"Apa ada yang salah dengan cara aku melindungi keluargaku?" Arya tiba-tiba melunak.
"Tidak. Kamu hanya melakukan apa yang harus kamu lakukan sebagai pelindung mereka. Hanya saja kamu harus tahu kapan saatnya kamu harus melepas mereka sendirian." Hana menjeda kata-kata nya.
"Kalau Alena memang ingin lepas dari aku, maka akan aku lepaskan." Arya merasakan seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan nya.
"Dia tidak akan melepaskan dirinya sendiri. Dia sudah terlalu merasa terikat dengan kamu. Rasa sayangnya terhadap kakaknya jauh lebih besar dari apapun." Hana membuat mulut Arya terbungkam.
Pria itu terdiam.
"Kamu yang harus melepaskannya sendiri, baru dia akan pergi." katanya, kemudian bangkit, dan segera berpamitan setelah sebelumnya meletakkan selembar uang berwarna merah di Trey bill.
*
*
Bersambung ...