
*
*
"Aku tidak akan pergi sampai Alena ikut denganku," Hardi masih menatap sosok yang berdiri ditangga.
Arya makin menegakkan tubuh tingginya, menghalau kehadiran Hardi. Sementara Alena, berdiri terpaku dengan pikiran yang terbelah dua.
"Ayolah, ikut dengan aku,Al." mengulurkan tangan kirinya.
Alena tak bergeming. Gadis itu menatap antara Hardi dan kakaknya bergantian.
"Kamu tidak bisa seenaknya mengajak seorang gadis pergi dari keluarganya," Arya menggeram.
"Dia sudah dewasa, dia berhak menentukan apa yang ingin dia lakukan." Hardi tak gentar menghadapi intimidasi dari pria yang berdiri waspada di hadapannya.
"Tapi dia adikku, aku yang mengurus dia dari kecil, tak ada seorangpun yang bisa mengambil dia dari aku."
Hardi menghela napas dalam. Kesabarannya mulai menipis.
"Ayo, Al. ikut dengan aku. Bawa Dilan." katanya lagi, menatap sendu gadis itu yang masih terpaku di tangga.
"Kamu mau ikut dia, Al?" Arya menoleh ke arah adiknya perempuannya. "Ikutlah kalau kamu memang ingin." katanya.
Alena mengerutkan kening, tak menyangka dengan pernyataan kakak laki-lakinya tersebut.
Dia segera berbalik, berniat mengambil putranya yang sedang terlelap dan mengambil beberapa barang di kamar.
"Apa kamu lupa saat kamu kesakitan menanggung semua beban itu sendirian?" Arya menyambung pernyataannya.
Alena berhenti, kembali tertegun.
"Apa kamu lupa saat-saat menyakitkan itu?" Arya melanjutkan.
"Kamu lupa masa-masa sulit itu?
Kamu lupa siapa yang mendampingi kamu melewatinya?" tambahnya lagi.
Seperti deja vu. Memori di kepala Alena memutar rekaman semua peristiwa yang telah terjadi setelah perpisahan dirinya dengan Hardi.
Saat kabur dari rumah, berjuang sendirian dalam keadaan hamil besar.
Saat detik-detik menjelang kelahiran buah hatinya yang begitu menguras emosi dan air mata.
"Siapa yang ada disamping kamu saat itu, Al?" Arya mengingatkan.
Saat kakak laki-lakinya itu dengan panik membawanya ke rumah sakit. Merengkuhnya dalam pelukan agar dia dan bayinya terselamatkan.
Saat-saat paling menyakitkan ketika si bayi akan lahir. Kakak laki-lakinya itu tak bergerak sedikitpun dari sampingnya. Terus mendampingi dan menyemangatinya agar mampu berjuang melahirkan sikecil.
Hanya dia. Yang mencintainya tanpa syarat. Mengurusnya dari kecil sejak kepergian orang tua mereka. Berjuang menghidupi keluarganya agar bisa terus bertahan. Berusaha sangat keras agar adik-adiknya bisa hidup layak seperti orang lain. Berkorban sangat besar agar mereka tak kekurangan apapun, hingga melupakan kehidupannya sendiri demi keluarga yang sangat dicintainya.
"Apa kamu lupa?" usaha terakhir Arya mengingatkan adik bungsunya.
Air mata telah membanjiri pipi gadis itu. Tak ada yang mampu disanggah nya. Semuanya telah dilakukan kakak laki-lakinya tersebut demi kehidupan mereka.
Menjadi ayah dan ibu. Menjadi teman dikala kesepian. Menjadi pembela dikala kesusahan. Menjadi sandaran dikala kesulitan.
Lantas apa yang membuatnya ingin pergi? Karena laki-laki itu? Yang telah membuatnya melewatkan banyak hal. Membuat dirinya memutuskan hal besar dalam hidup, membuatnya berhenti menggapai cita-cita.
"Aku janji akan memperbaiki semuanya. Menggantikan hari-hari yang aku lewatkan. Membayar kesalahan yang pernah aku lakukan." katanya, meyakinkan gadis itu.
"Aku mohon ... ikutlah dengan aku!" Hardi mengiba.
Tetesan air kembali lolos dari sudut mata gadis itu. Dia ingin sekali menghambur ke pelukan pria dihadapannya. Cintanya, tambatan hatinya. Namun dia juga tak tega menyakiti hati kakak laki-lakinya yang telah begitu keras berjuang untuknya. Dia paling tahu sekeras apa perjuangan nya, sebesar apa pengorbanan nya.
"Maaf." akhirnya kata itu lolos dari bibir mungilnya. "Aku nggak bisa." katanya lagi.
"Hh...." Hardi menghela napas kasar.
"Aku nggak bisa pergi."
"Al, ... aku mohon," Hardi kembali mengiba.
Alena menggeleng. "Tempat aku disini. Dengan keluargaku." katanya, setengah berbisik. Menahan tangis sekuat hati.
"Tapi Al, ..."
"Kami baik-baik saja sebelum kakak datang. Dan pasti akan selalu baik-baik saja."
Hardi menahan amarahnya yang siap meledak. Kekecewaan memenuhi benaknya.
"Dengar? Dia bahkan lebih memilih keluarganya karena dia tahu mana yang paling dicintainya. Dan paling mencintanya." Arya menambahkan.
"Pergilah!!"
"Alena?" Hardi dengan usaha terakhirnya.
Gadis itu tak bergeming. Menggeleng perlahan, menolak dirinya.
"Kakak tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami akan baik-baik saja disini."
Kembali, Hardi menghela napas dalam.
Dengan lemah, dia berbalik. Merasakan kekalahan telak.
Sesaat menoleh, menatap wajah Alena, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Kemudian pergi.
Sementara Alena berlari ke kamar, menutup pintu rapat-rapat.
Tubuh mungilnya melorot dibalik pintu. Merasakan kedua tungkainya yang lemas. Gadis itu tergugu.
Ditekannya dadanya yang terasa sesak.
Kamu tidak boleh serakah, Alena!! Keluargamu telah sangat mencintaimu. Tak sepatutnya kamu mengecewakan mereka lagi. Dia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang kebetulan mampir dan menambah cerita hidupmu agar lebih berwarna.
Tapi mengapa rasanya sesakit ini?? Rasanya aku ingin mati saja! Oh Tuhan!! Mengapa semuanya harus berakhir seperti ini? Tidakkah ada pilihan lain agar aku bisa memiliki semuanya? Keluargaku, dan cintaku?
Aku ingin menggenggam keduanya. Memiliki semuanya, tanpa harus ada salahsatunya yang pergi dan tersakiti!?
Aku mohon, Tuhan!!
*
*
Bersambung ...