
Kedua kakak perempuannya berdiri di ambang pintu menyambut kedatangan Alena. Dengan senyum dan sedikit air mata yang meleleh dipipi.
Ketiga perempuan berbeda umur itu saling berpelukan erat. Sama-sama terisak.
"Sudah nyaman?" Arya mampir ketika Alena handak pergi tidur dimalam hari.
"Hu'um ..." gadis itu mengangguk.
"Perlu yang lain? Makanan misalnya.? Katanya kalau ibu hamil suka lapar tengah malam." Arya duduk di tepi ranjang.
Alena menggeleng.
"Oke." Arya bangkit, hendak keluar dari kamar.
"Maaf, Bang." Alena lirih.
Arya berhenti, lalu berbalik. Menatap wajah adiknya yang menunduk.
Alena mendongak.
"Abang udah maafin aku?" tanyanya, mata bulatnya berkaca-kaca.
Arya tertegun, masih menatap wajah di hadapannya.
Kemudian kembali duduk di tepi ranjang disisi Alena.
"Keluarga adalah sebaik-baiknya tempat kamu tinggal. Tidak ada tempat yang lebih baik. Sejauh apapun kamu pergi, kamu pasti kembali ke keluarga. Sebesar apapun kesalahan yang kamu perbuat, keluarga akan selalu memaafkan. Sesusah apapun dirimu keluarga akan selalu berdiri paling depan untuk mendukung dan membelamu." katanya, mengusap puncak kepala gadis itu.
"Jangan pergi lagi." katanya seraya bangkit dan melangkah keluar dari kamar.
***
Pagi-pagi sekali Arya sudah bersiap. Hari ini jadwal pemeriksaan rutin kandungan Alena. Entah kenapa dia lebih bersemangat dari yang lainnya. Bahkan Sang ibu hamil pun tak se bersemangat dirinya, lebih ke malas tepatnya.
"Bukannya Abang selalu banyak kerjaan? kenapa tiba-tiba, hari ini ada waktu luang?" Alena yang enggan mengikuti perintah kakak laki-lakinya itu.
"Jadwal hari ini lumayan longgar." jawabnya, tenang.
"Aku sama kak Alya aja, atau kak Anna."
"Aku sibuk." sahut saudara perempuannya dari arah dapur.
"Vania juga bisa. Pasti mau kalau aku minta. Ibunya juga." Alena merengek.
"Malu merepotkan orang lain." Arya tetap dengan pendiriannya.
"Huhffftthh..." Alena mengeluh.
Akhirnya dia pasrah digandeng kakaknya memasuki rumahssakit untuk pemeriksaan kandungannya.
Alena agak risih sebenarnya, tapi Arya tampak tak terganggu sedikitpun dengan tatapan orang-orag yang mereka temui di dalam rumah sakit.
Ada yang menatap heran, takjub atau mungkin kagum. Melihat sepasang ibu muda bersama seorang pria yang pasti orang-orang menganggap mereka sebagai pasangan suami istri.
"Abang nggak risih apa nganter aku periksa disini?" Alena yang merasa tak nyaman dengan lirikan-lirikan di sekitarnya.
"Risih kenapa?" bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Pasti orang-orang nyangka nya kita suami istri lho." Alena mencibir.
Arya terkekeh.
"Aku sih nggak apa-apa ya. Tapi aku kasian sama Abang"
"Kasian?"
"iya. Tar nggak ada yang mau sama Abang gara-gara disangkanya Abang udah nikah."
"Hmm ... nggak apa-apa." jawabnya ringan.
"Lho, kok nggak apa-apa.?"
"Nggak penting."
"Ibu Alena,!" seorang perawat memanggil. Kini giliran pemeriksaan dirinya. Merekapun bangkit, kemudian masuk ke ruang pemeriksaan.
Seorang dokter kandungan mempersilahkan masuk.
"Bayinya aktif?" tanya dokter yang sedang memindai perut Alena.
"Sering ada yang gerak disini, disini, disini ..." Alena menunjuk titik dimana dia selalu merasakan ada gerakan dalam perutnya.
"Oke. Memang normalnya seperti itu. Bayi akan semakin aktif. Dan itu bagus." dokter menjelaskan.
"Tapi aku suka kaget. Kadang tiba-tiba tengah malam dia geraknya keras. Sampai rasanya sakit, dokter."
Dokter hanya tersenyum.
"Beratnya normal, posisinya bagus, air ketuban juga baik." menatap layar dengan serius.
"Janin berusia 32 Minggu. Memasuki trimester akhir. Semuanya terlihat baik. Hanya kondisi ibu yang harus tetap dijaga agar selalu stabil. Tidak boleh kelelahan atau stres berlebih....
Arya hanya manggut-manggut, menatap layar monitor yang menampilkan siluet makhluk yang ada dalam perut Alena.
***
Alena memegang selembar foto hasil USG tadi. Menatapnya lekat. Sekarang gambarnya sudah jelas. Wajah bayi dengan dua tangan yang terkepal di depan mulut.
Mobil melaju melewati area kampus, tempat dulu dia menimba ilmu. Sejenak Alena menatap keluar. Pikirannya mengingat semua hal.
"Harusnya dia ..." Alena bergumam.
"Apa?" Arya menoleh.
"Harusnya dia yang melakukan semua ini. Antar aku check up, dan melakukan semua yang Abang lakukan....
Rahang Arya mengeras. Rasa marah dan benci kembali menyeruak dalam hatinya.
"Kamu mau dia yang melakukan? Mungkin kalau kamu bilang siapa orangnya, saat ini juga Abang bisa membuat dia melakukan apa yang kamu mau." katanya, sedikit menggeram, menahan amarahnya.
Alena kemudian tersadar dengan ucapan nya sendiri. Menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah... aku cuma ..takut."
"Apa yang kamu takutkan. Semua nya telah terjadi. Tak ada waktu untuk takut. Yang ada hanya waktu untuk memperbaiki semuanya."
"Apa aku akan bisa mengurus dia sampai besar nanti? Sendirian ..."
"Dia tidak akan kekurangan kasih sayang." Arya yang sedang menyetir sejenak mengalihkan pandangan nya pada adik bungsu di sampingnya.
Alena balik menatap wajah kakak laki-lakinya itu.
"Abang janji. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang. Dia takkan kekurangan apapun.Abang tidak akan membiarkan apapun terjadi dengan kalian."
Mata Alena mulai berkaca-kaca.
"Harusnya Abang udah nikah, punya keluarga sendiri." Alena menunduk. Menyesali semua hal yang telah terjadi.
"Kalian keluarga Abang." kembali fokus ke jalanan.
"keluarga Abang sendiri. Anak, istri. Bukannya terus memikirkan kami." Arya tersenyum.
"Abang tidak bisa memikirkan hal lain selain kalian. Selama belum ada orang yang tepat, yang bisa menjaga kalian, membahagiakan kalian." Arya menghela napas pelan.
"Kita cuma ber empat, tak punya siapa-siapa lagi di dunia. Kalau bukan Abang yang menjaga kalian, terus siapa lagi?"
"Bagaimana Abang bisa memikirkan diri sendiri sementara kalian masih butuh perlindungan."
"Maaf." Alena dengan suara bergetar. "Selalu jadi beban abang selama ini."
Arya tersenyum sekilas.
"Kalian bukan beban, kalian tanggung jawab Abang."
"Bukankan itu yang dinamakan keluarga.? Saling menjaga." katanya lagi.
"Maaf kalau selama ini Abang terlalu berlebihan menjaga kalian. Abang cuma takut kehilangan lagi. Selain keluarga ini, kita tak punya yang lain."
Bersambung ...
Vote, komen sama like nya selalu ditunggu ya, I love you full 😘😘😘